HOME ABOUT US KESAKSIAN AGENDA GEREJA LINK CONTACT US



 

Derap Remaja Edisi 42
Juli-Desember 2017
Bahan Pembinaan Remaja Gereja Kristen Indonesia


Pembayaran dapat dilakukan dengan 2 cara :

1. Via Bank:
Tahapan BCA no. 0372999053, an. Wisnu Sapto Nugroho
Segera kirimkan pemberitahuan pengiriman bank.
2. Via Pos Wesel:
dengan cara memakai blangko yang dilampirkan dalam surat pengantar.
Pdt. Wisnu Sapto Nugroho, Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Alamat Sekretariat & Distribusi DERAP REMAJA:
Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Harga per eksemplar Rp. 40.000,-

 

Agustus 2017
Indonesia Anugerah  Dari Tuhan
   

32 Peran Umat dalam Sejarah GKI
 
1

36 Johannes Leimena
 
2

44 Indonesia Merdeka
 
3

50 Toleransi
 
4
     

Agustus 2017 Minggu I
 


 

Peran Umat dalam Sejarah GKI

Bacaan:
1 Petrus 2:1-10
Bahan yang diperlukan: Buku sejarah jemaat masing-masing
Bahan-bahan untuk membuat "bangunan" yaitu kertas manila atau
koran bekas atau dos-dos kecil, lem, gunting

Fokus


Seringkali sejarah gereja menonjolkan tokoh-tokoh penting atau para pemimpin gereja yang hebat dan terkenal. Sejarah jemaat setempat memuat nama penginjil dan pendeta-pendeta yang pernah melayani di jemaat itu. Sedangkan anggota jemaat jarang sekali ditonjolkan perannya. Padahal bagaimana mungkin suatu jemaat berkembang tanpa partisipasi anggota jemaat? Bisakah seorang penginjil atau pendeta bekerja seorang diri? Melalui pelajaran ini remaja mengetahui peran anggota jemaat dalam sejarah GKI, serta bersedia terlibat dalam kehidupan bergereja di GKI.
 

Penjelasan Teks

Ayat 1-3 menggambarkan kehidupan orang Kristen secara umum: meninggalkan kehidupan lama yang penuh kejahatan, tipu muslihat, kemunafikan, kedengkian, dan fitnah. Diganti dengan kehidupan baru, bagaikan bayi yang baru lahir yang selalu ingin "air susu yang murni dan rohani," yang melambangkan keinginan untuk belajar bertumbuh dalam keselamatan.

Ayat 4-10 menggambarkan kehidupan bersama orang-orang Kristen sebagai persekutuan, yang dilambangkan dengan batu:
• Kristus sebagai batu yang hidup, yang dibuang oleh manusia, tetapi yang dipilih dan dihormati di hadirat Allah. Gambaran ini diambil dari Mazmur 118:22.Ia adalah batu yang terpilih, sebuah batu penjuru yang mahal bagi orang yang percaya; namun bagi yang tidak percaya Ia menjadi batu yang telah dibuang oleh tukang-tukang bangunan, batu sentuhan, dan batu sandungan. Gambaran yang dipakai di sini berasal dari dunia bangunan: untuk mendirikan bangunan harus dimulai dari peletakan batu penjuru, yang menjadi arah dan dasar dari bangunan itu. Kadang ada batu yang dibuang oleh tukang-tukang karena dianggap tak berguna — sama seperti Kristus yang dibuang oleh orang-orang yang tak percaya, namun Allah telah membuatnya menjadi batu penjuru yang berharga.
• Jemaat juga adalah batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani.Artinya jemaat menjadi "batu-batu" yang hidup, bukan benda mati, yang terikat satu sama lain, untuk membentuk sebuah bangunan. Jadi Yesuslah batu penjuru yang menjadi dasar, lalu jemaat menjadi batu-batu yang akhirnya dapat membentuk bangunan. Gambaran ini menunjukkan betapa luar biasanya Tuhan. Ia mau memakai manusia dan mengajak manusia berpartisipasi dalam pekerjaan dan karya-Nya dalam dunia. Sebagai batu-batu hidup, orang-orang percaya selalu berada bersama-sama dengan yang lain dalam persekutuan, tidak ada yang menyendiri.
• Jemaat adalah imamat kudus, yang mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah. Gambaran yang dipakai berasal dari Perjanjian Lama, yaitu saat imam-imam (dari suku Lewi) bertugas mempersembahkan berbagai macam kurban persembahan. Dalam Yesus seluruh jemaat bagaikan imam-imam yang mempersembahkan dirinya sebagai persembahan rohani kepada Allah.

Jadi kehidupan dan pelayanan jemaat adalah kurban yang hidup. Dengan demikian jemaat adalah bangsa yang terpilih (seperti Israel pada Perjanjian Lama), imamat yang rajani (imam yang sekaligus raja — tidak hanya secara rohani tapi juga dalam hidup sehari-hari), bangsa yang kudus (yang disendirikan dari dunia), umat kepunyaan Allah sendiri.
• Jemaat diutus untuk memberitakan perbuatan¬perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib: yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan. Inilah tugas pengutusan jemaat. Jemaat tidak menikmati keselamatan hanya bagi diri sendiri, namun dipanggil untuk memberitakannya kepada orang-orang lain.

Imamat am orang percaya merupakan salah satu hal yang diutamakan dalam gerakan reformasi gereja pada abad 16. Gereja bukan hanya para kaum religius (pemimpin gereja), namun juga anggota jemaat. Peran umat dan kaum religius sama pentingnya dan sederajat. Maka ditekankan bahwa semua anggota jemaat membentuk imamat am orang percaya.

Pengenaan


Remaja adalah bagian dari jemaat, yang terpanggil untuk menjadi batu-batu yang hidup, yang terhubung dengan Yesus batu penjuru yang sejati, untuk membentuk kesatuan. Maka remaja belajar untuk mengalami menjadi bagian utuh dari gereja — bukan cuma masa depan, tapi juga masa kini gereja. Remaja terpanggil untuk berpartisipasi secara penuh dalam kehidupan berjemaat, untuk bersekutu, bersaksi, dan melayani. Diri dan pelayanan remaja menjadi persembahan yang kudus kepada Allah,
 

Langkah-langkah Penyampaian


1. Tanyakan kepada remaja apakah mereka mengetahui sejarah jemaat setempat. Kapankah jemaat didewasakan? Atau: tanggal berapakah ulang tahun jemaat? Berapakah usia jemaat? Lebih lanjut, tanyakan kepada remaja apakah mereka mengenal nama para "pendiri" jemaat. Mungkin ada remaja yang merupakan cucu atau cicit anggota jemaat atau majelis jemaat pertama. Jika mungkin pakailah foto-foto pendewasaan jemaat, atau foto-foto majelis jemaat pertama.
2. Jelaskan kepada remaja sejarah jemaat (pakailah buku sejarah jemaat masing-masing). Tunjukkan kepada remaja peran dari anggota jemaat mulai dari masa penginjilan, pendewasaan, hingga kini. Sejarah gereja tidak hanya menceritakan peran para pendeta, namun juga peran anggota jemaat dan majelis jemaat.
3. Ajak remaja membaca I Petrus 2:1-10. Jelaskan tentang Kristus sebagai batu penjuru dan jemaat sebagai batu-batu hidup untuk membangun kesatuan. Tunjukkan peran jemaat sebagai imamat yang kudus, yang dipanggil untuk bersekutu, bersaksi, dan melayani. (Pakailah Penjelasan Teks)
4. Tanyakan kepada remaja, setujukah mereka jika dikatakan bahwa remaja adalah masa depan gereja? Semestinya remaja bukan hanya masa depan gereja, mereka juga adalah masa kini gereja. Ajak remaja membicarakan apakah yang dapat dilakukan remaja untuk berperan serta dalam kehidupan bergereja pada masa kini.
5. Lakukan kegiatan.
 

Kegiatan

1. Remaja masuk dalam kelompok kecil 5-6 orang. Kepada tiap kelompok diberikan bahan-bahan untuk membuat "bangunan" yaitu kertas manila atau koran bekas atau dos-dos kecil, lem, gunting.
2. Minta tiap kelompok membuat bangunan sesuai kreativitas tiap kelompok.
3. Minta setiap remaja menunjuk di bagian mana dirinya berada pada bangunan itu, dan menjelaskan apa perannya dalam kehidupan berjemaat.
 
Ilustrasi

Contoh peran anggota jemaat dalam kehidupan bergereja:
(diambil dari buku peringatan 75 tahun GKI Ngupasan, tahun 2009):

Karena semangat penginjilan, orang-orang Jawa yang bertemu dan berteman dengan orang-orang Tionghoa (terutama melalui perdagangan) mulai menginjili orang-orang Tionghoa. Mereka yang kemudian percaya kepada Yesus dibaptis dan menjadi anggota GKJ. Di antaranya Go Liong Tjwan dan Sie Oen, keduanya dibaptis tanggal 9 April 1905; kemudian Tan Boe Tjan, Kiem Nio, Go Kian Nio, dan Tiong Ping dibaptis tanggal 7 Februari 1907; sedangkan Wat Kong dibaptis tanggal 7 November 1915; Ko Tjoe King dan Ho Tjin Kwat dibaptis tanggal 3 November 1917; Sie Tian Hoo dan Kwik Sian Nio pada tanggal 4 Agustus 1918 (lih. Laporan Menyeluruh tentang GKI Yogya, p.1 .). Mereka dapat disebut sebagai pionir orang-orang Kristen Tionghoa peranakan di Yogyakarta.
Orang-orang Tionghoa yang menjadi anggota GKJ Yogya ada juga yang kemudian menjadi "Pengetua." Dalam daftar Pengetua GKJ Gondokusuman dari permulaan sampai 1953 terdapat nama-nama Ko Tjoe Kiang dan Sie Kee Tjie Laporan Menyeluruh tentang GKI Yogya, p. I .
Penulis catatan ini menggali dari "Buku Peringatan 40 Tahun" GKJ Gondokusuman dan "Handboek dari Classis Djokdja tahun 1941."). Sdr. Sie Kee Tjie ikut berperan aktif saat cikal bakal GKI dikembangkan. Pasti pengalamannya menjadi Pengetua GKJ sangat berharga. Bahkan Ko Tjoe Kiang banyak membantu Guru Injil Go Tiang Lioe memberitakan Injil di kalangan orang Tionghoa. Beberapa nama lain yang mula-mula menjadi anggota GKJ lalu ikut bergabung dengan cikal bakal GKI adalah Go Kay Liong dan Go Swie Ling. Memang tidak ada data pasti berapa jumlah orang Tionghoa yang menjadi anggota GKJ dari tahun 1905 sampai pertengahan 1930an; namun pasti lebih banyak daripada nama-nama yang sudah disebutkan di atas. Mereka ini sedikit banyak dapat berbahasa Jawa, sebab bahasa yang dipakai dalam kebaktian adalah bahasa Jawa kromo/kromo inggil. Sedangkan pada umumnya orang-orang Tionghoa di Yogya waktu itu hanya dapat berbahasa Jawa ngoko. Faktor bahasa ini menjadi salah satu kendala besar dalam pemberitaan Injil di kalangan orang Tionghoa. Inilah yang ikut mendorong berdirinya gereja untuk orang-orang Tionghoa, dengan bahasa pengantar bahasa Melayu (bahasa Indonesia).

                                            

                                                                                                      


 

Sahabat Surgawi,
 Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja antar denominasi OnLine
www.sahabatsurgawi.net - webmaster@sahabatsurgawi.net, Copyright © 1999