HOME ABOUT US KESAKSIAN AGENDA GEREJA LINK CONTACT US



 

Derap Remaja Edisi 42
Juli-Desember 2017
Bahan Pembinaan Remaja Gereja Kristen Indonesia


Pembayaran dapat dilakukan dengan 2 cara :

1. Via Bank:
Tahapan BCA no. 0372999053, an. Wisnu Sapto Nugroho
Segera kirimkan pemberitahuan pengiriman bank.
2. Via Pos Wesel:
dengan cara memakai blangko yang dilampirkan dalam surat pengantar.
Pdt. Wisnu Sapto Nugroho, Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Alamat Sekretariat & Distribusi DERAP REMAJA:
Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Harga per eksemplar Rp. 40.000,-

 

Agustus 2017
Indonesia Anugerah  Dari Tuhan
   

32 Peran Umat dalam Sejarah GKI
 
1

36 Johannes Leimena
 
2

44 Indonesia Merdeka
 
3

50 Toleransi
 
4
     

Agustus 2017 Minggu II
 


Johannes Leimena

Bacaan:
Roma 13:1-7
Bahan yang diperlukan:
Fotokopi gambar dan biografi Johannes Leimena,
kertas karton putih ukuran F4, alat untuk melukis/mewarnai.

 

Fokus


Turut berpartisipasi dalam kehidupan bangsa dan negara merupakan panggilan setiap warga negara. Namun, tak dapat dielakkan, tidak semua warga menyambut secara positif panggilan ini. Beberapa menganggap kehidupan bangsa dan negara sebagai urusan besar yang tak terjangkau oleh mereka. Mereka menganggap itu sebagai urusan penguasa atau pemerintah saja, bukan urusan aku. Adapula warga negara yang memandang bahwa perkara iman dan ritual keagamaan adalah urusan utama yang lepas dari urusan kehidupan bangsa dan negara. Dengan perkataan lain, mereka menjadikan perkara iman dan ritual keagamaan sebagai sesuatu yang tak bersambung dengan dunia-kehidupan.

Pada dasarnya Injil Tuhan Yesus Kristus mempersaksikan bahwa Allah di dalam Yesus Kristus bekerja secara aktif dan kreatif di tengah dunia-kehidupan demi damai sejahtera. Dalam suratnya kepada jemaat di Roma, Rasul Paulus mengungkapkan bahwa Allah turut bekerja dalam kehidupan bangsa dan negara melalui kehadiran pemerintah. Pemerintah adalah "hamba Allah." Oleh karena itu, panggilan untuk turut berpartisipasi dalam kehidupan bangsa dan negara menjadi tak terpisahkan dari hidup setiap murid Kristus. Materi Minggu ini akan menegaskan pemahaman dan penghayatan tentang panggilan itu. Melalui kisah Johannes Leimena, materi ini ingin mengajak remaja untuk mengenal peran tokoh Kristen dalam kehidupan bangsa dan negara di Indonesia, sehingga remaja menyambut panggilan untuk turut ambil bagian dalam kehidupan bangsa dan negara Indonesia.
 

Penjelasan Teks

Dalam suratnya kepada jemaat di Roma — selain menegaskan keyakinannya akan Injil Tuhan Yesus Kristus sebagai kekuatan Allah yang menyelamatkan semua orang yang beriman kepada-Nya, baik bangsa Yahudi maupun bangsa-bangsa bukan Yahudi — Rasul Paulus juga menyampaikan beberapa nasihat agar jemaat (para pembaca) hidup selalu untuk kemuliaan Allah. Paulus menuliskan, "Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama¬lamanya!" (Rm. 11:36). Hidup untuk kemuliaan Allah adalah hidup dengan "mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah" (Rm. 12:1). Secara praktis, itu menunjuk pada hidup dalam kasih dan perdamaian dengan Allah dan semua orang, termasuk dengan para penganiaya (Rm. 12:9-21). Dalam kaitan itu Paulus menyinggung hal relasi jemaat dengan pemerintah, tentang apa yang seharusnya mereka lakukan kepada pemerintah?

Secara gamblang, Rasul Paulus menegaskan,"Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya" (Rm. 13:1). Alasannya, menurut keyakinan Paulus, adalah karena Allah turut bekerja dalam mengadakan dan menetapkan pemerintah. Bagi Paulus, pemerintah tidak lain adalah alat atau instrumen — atau dalam bahasa metafor Paulus: "hamba Allah" — yang berperan demi kebaikan rakyat, termasuk kebaikan jemaat Tuhan. Dengan peraturan dan hukum yang ditegakkan, pemerintah pada gilirannya menjadi "hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat" (Rm. 13:4). Jadi, Paulus mengimbau agar jemaat tidak usah takut kepada pemerintah selama mereka berbuat baik. Dengan mengerjakan apa yang baik, orang justru akan memperoleh pujian dari pemerintah. Lebih dari itu, Paulus berharap agar jemaat sungguh mengerjakan kebaikan, bukan karena takut akan murka Allah yang akan terjadi melalui pemerintah, tetapi karena kesadaran diri oleh karena suara hati (Rm. 13:5).

Di sini kita sebagai pembaca mungkin bertanya: apakah pandangan Paulus terhadap pemerintah yang ada itu sedemikian positif sehingga pemerintah dipandang sebagai hamba Allah yang benar dan baik dalam mengerjakan kehendak Allah? Di satu sisi kita memang dapat menganggap bahwa Paulus memandang positif hal kehadiran pemerintah di dunia, yaitu sebagai "hamba Allah." Di sisi lain kita pun dapat mengatakan bahwa Paulus sedang mengimbau pemerintah agar berlaku sebagai "hamba Allah" yang mengerjakan kebaikan bagi kehidupan rakyat. Sebagai "hamba Allah," pemerintah tidak kebal murka Allah, jika mereka tidak mengerjakan kehendak Allah yang baik bagi kehidupan rakyat. Bagi Paulus, pemerintah yang ada di dunia itu bukanlah Allah, melainkan "hamba Allah" yang mesti taat dan setia kepada kehendak Allah.

Kita tidak tahu pasti, apakah di kota Roma pada masa Rasul Paulus ada orang Kristen yang bekerja di pemerintahan? Kalau kita memandang bahwa pada masa awal pemberitaan Injil, orang-orang yang menjadi murid Kristus berasal tidak hanya dari kalangan Yahudi. tetapi juga dari kalangan Yunani dan kalangan Romawi, maka tidak tertutup kemungkinan, ada pegawai atau pejabat pemerintah yang Kristen. Kepada mereka itu, Rasul Paulus mau mengingatkan agar mereka sungguh berperan sebagai "pelayan-pelayan Allah" yang taat dan setia mengerjakan kehendak Allah.

Dalam suratnya ini Paulus menasihatkan agar jemaat Tuhan di Roma ikut ambil bagian dalam kehidupan bangsa dan negara. Kewajiban setiap warga bagi kehidupan bangsa dan negaranya harus dikerjakan dengan baik dan benar. Kewajiban membayar pajak dan cukai kepada pemerintah, misalnya, semua itu harus dikerjakan dengan baik dan benar (Rm. 13:6-7).

Ada dugaan, di tengah jemaat Tuhan di Roma, ada warga yang tidak menunaikan kewajiban membayar pajak. Dengan perkataan lain, mereka tidak ikut ambil bagian dalam kehidupan bangsa dan negara. Kita tidak tahu apa alasan mereka.Yang kita tahu, Paulus sedang memproklamasikan panggilan kepada setiap murid Kristus untuk turut berpartisipasi dalam kehidupan bangsa dan negara. Paulus pun mengajak jemaat untuk tidak takut kepada pemerintah tetapi memandang pemerintah sebagai "pelayan-pelayan Allah" yang bersama-sama dengan seluruh rakyat turut mengerjakan kebaikan bersama untuk kemuliaan Allah.
 

Pengenaan


Pada kenyataannya tidak ada seorang pun di dunia ini yang terhindar dari kehidupan berbangsa dan bernegara. Setiap orang adalah warga bangsa atau warga negara tertentu. Namun, soal partisipasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, tidak semua orang melakukan itu. Padahal setiap warga bangsa atau warga negara dipanggil untuk berpartisipasi dalam kehidupan bangsa dan negaranya. Di sini yang dimaksud "berpartisipasi" adalah upaya aktif seseorang melibatkan diri dalam membangun kehidupan bangsa dan negaranya, misalnya dengan menjadi pegawai negeri atau pejabat pemerintah, dengan menunaikan kewajiban sebagai warga negara, antara lain menaati hukum atau peraturan dan membayar pajak.

Sebagai warga bangsa atau warga negara, orang Kristen, termasuk remaja, seharusnya menyambut panggilan untuk berpartisipasi dalam kehidupan bangsa dan negaranya. Alasannya, panggilan itu berkaitan erat dengan penghayatan iman, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu, termasuk dalam kehidupan bangsa dan negara, untuk mendatangkan kebaikan bagi seluruh ciptaan-Nya. Teks surat Rasul Paulus kepada jemaat Roma menegaskan hal itu, bahwa Allah menjadikan pemerintah suatu bangsa atau negara sebagai hamba-Nya untuk melakukan kehendak¬Nya. Dengan demikian, bagi seorang remaja Kristen, kehidupan iman dan rohani (spiritualitas) itu seharusnya tidak lepas dari kehidupan sehari-hari sebagai warga bangsa atau warga negara.

Sejalan dengan nasihat Rasul Paulus, bentuk partisipasi dalam membangun bangsa dan negara, yang tentu mampu dikerjakan oleh remaja, adalah berbuat baik sebagai warga bangsa dan warga negara. Tulis Rasul Paulus,"Perbuatlah apa yang baik dan kamu akan beroleh pujian dari padanya" (Rm. 13:3).
 

Tentu raja Rasul Paulus tidak sedang mengajak jemaat untuk mencari pujian dari pemerintah.Yang ditegaskan adalah panggilan untuk berpartisipasi dalam kehidupan bangsa dan negara, yaitu dengan berbuat baik di tengah kehidupan sehari-hari. Untuk remaja yang masih menjalani studi di sekolah, perbuatan baik yang menunjukkan partisipasi dalam membangun bangsa dan negara adalah dengan belajar sebaik-baiknya di sekolah, mengisi waktu luang secara kreatif-positif, menyatakan kebenaran dan keadilan bagi keutuhan seluruh ciptaan.
Untuk memantapkan sambutan terhadap panggilan berpartisipasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, remaja dapat mempelajari tokoh-tokoh Kristen yang telah menunjukkan peranan aktifnya bagi bangsa dan negara Indonesia. Salah satu tokoh tersebut adalah Johannes Leimena. Putra kelahiran Ambon 6 Maret 1905 ini telah melakukan pekerjaan-pekerjaan baik bagi bangsa dan negara Indonesia. Dia melakukan semua itu berangkat dari penghayatan imannya kepada Tuhan Yesus. Pada Johannes Leimena, iman dan kehidupan rohani Kristen menjadi bersambung dengan kehidupan sehari-hari, termasuk kehidupan politik bangsa dan negara Indonesia.

 

Langkah-langkah Penyampaian


1. Awali dengan menjelaskan bahwa orang-orang Kristen dipanggil untuk turut berpartisipasi dalam kehidupan bangsa dan negaranya. Banyak, tokoh Kristen Indonesia yang menjadi teladan dalam partisipasi di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara. Salah satu tokoh yang patut dikenal dan dapat dijadikan teladan adalah Johannes Leimena (lihat Fokus).
2. Kemukakan secara singkat dan jelas riwayat hidup Johanes Leimena (lihat Ilustrasi).
3. Jelaskan pandangan Rasul Paulus dalam suratnya kepada Jemaat Roma tentang partisipasi aktif murid-murid Yesus dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Tegaskan bahwa panggilan untuk berpartisipasi dalam pembangunan kehidupan bangsa dan negara merupakan hal tak terpisahkan dari kehidupan setiap murid Kristus (lihat Penjelasan Teks).
4. Kemukakan satu contoh tentang bentuk partisipasi aktif seorang Kristen dalam pembangunan kehidupan bangsa dan negara di Indonesia (lihat Pengenaan).
5. Akhiri dengan Kegiatan.

Kegiatan

1. Bentuklah kelompok-kelompok kecil yang terdiri atas 3-5 remaja.
2. Bagikan selembar kertas karton ukuran F4 pada setiap kelompok kecil.
3. Ajak remaja dalam kelompok masing-masing untuk mendiskusikan tiga bentuk tindakan nyata yang dapat mereka lakukan sebagai wujud partisipasi dalam pembangunan kehidupan bangsa dan negara.
4. Hasil diskusi kelompok masing-masing, yaitu tentang tiga bentuk tindakan nyata partisipasi aktif remaja Kristen dalam pembangunan kehidupan bangsa dan negara, disampaikan melalui• poster mini yang kelompok buat pada kertas karton yang telah dibagikan.
5. Tentukan tiga poster kreatif dan menarik untuk dipasang pada tempat yang sudah disediakan.
 
Ilustrasi

                                                          DR. JOHANNES LEIMENA
Johannes Leimena (anak kedua dari empat anak pasangan Dominggus Leimena dan Elizabeth Sulilatu) lahir pada 06 Maret 1905 di Ambon. Ia adalah keturunan keluarga besar Leimena dari Desa Ema di Pulau Ambon dan dikenal dengan nama panggilan "Oom Jo." Ia adalah seorang Kristen yang  berbudi luhur. Ayahnya seorang guru, dengan demikian ia terhitung keturunan golongan menengah (pada saat itu). Pada usia lima tahun Johannes telah menjadi yatim. Kemudian ibunya menikah lagi, dan ia diasuh oleh pamannya.
Johannes kecil pada awalnya bersekolah di Ambonsche Burgerschool di Ambon karena paman yang mengasuhnya menjadi kepala sekolah di sana. Kemudian pamannya dipindahkan ke Cimahi. Keberangkatannya ke Cimahi merupakan titik balik dan kisah tersendiri bagi Johannes. Sebenarnya ibunya bersikeras tidak mengizinkan Johannes pergi, namun ia nekat menyelinap ke kapal dan baru menampakkan diri ketika kapal hendak bertolak.Tindakan nekatnya itu membuat ibunya pasrah dan berpesan agar pamannya mau menjadi pelindung baginya. Didikan pamannya yang penuh disiplin berhasil menempa Johannes dan menjadikannya murid yang berprestasi.

Pada 1914 Johannes hijrah ke Batavia bersama pamannya. Di Batavia Johannes melanjutkan studi di Europeesch Lagere School (ELS), namun studinya itu hanya beberapa bulan saja, lalu ia pindah ke sekolah menengah Paul Krugerschool (sekolah untuk anak asli orang Belanda, kini PSKD Kwitang), dan tamat pada 1919. Setelah menyelesaikan sekolah dasarnya, Johannes memilih sekolah campuran dari berbagai golongan, yaitu MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) dan tamat pada 1922.

Setelah menyelesaikan studinya Johannes yang mencari pekerjaan menemui kesulitan karena kursus¬kursus yang dia masuki hanya dikhususkan untuk anak Indo-Belanda. Oleh sebab itu, Johannes menempuh pendidikan tinggi di sekolah kedokteran STOVIA (School Tot Opleiding Van Indische Arisen) pada 1930. Johannes mulai bekerja sebagai dokter sejak 1930.
Pertama kali ia diangkat sebagai dokter pemerintah di CBZ Batavia (kini RS Cipto Mangunkusumo). Beberapa waktu kemudian ia ditugaskan di Karesidenan Kedu saat Gunung Merapi meletus. Setelah itu dipindahkan ke Rumah Sakit Zending Emmanuel Bandung. Di rumah sakit inilah, saat bertugas dari 1931 sampai 1941, ia bertemu dengan gadis pujaan hatinya yang kemudian menjadi istrinya (Wijarsih Prawiradilaga). Ia adalah putri seorang wedana yang kala itu menjadi kepala asrama putri. Mereka menikah di Gereja Pasundan pada 19 Agustus 1933 dan dikaruniai 8 putri.
Setelah bekerja selama 11 tahun sebagai dokter swasta, Johannes melanjutkan studi dan mendalami ilmu penyakit dalam. Pada 17 November 1939 dengan dipandu oleh dekan sekolahnya, Prof. J.A.M. Verbunt, dan panitia pembimbing yang diketuai Prof. Siegenbeek van Heukelom, Dr. Leimena mempertahankan disertasi Ph.D.- nya dan meraih gelar doktor di GHS (Geneeskunde Hogeschool — Sekolah Tinggi Kedokteran), Batavia.  
 

                                Gerakan Kekristenan dan Kebangsaan
Perhatian Dr. Leimena pada pergerakan nasional kebangsaan berkembang sejak pertengahan tahun 1920-an. Bermula di Bandung, ia acapkali mendengar pidato Presiden Soekarno. Saat itu Dr. Leimena belum akrab dengan Presiden Soekarno. Kedekatannya dengan Presiden Soekarno bermula di rumah sakit tempatnya bekerja. Waktu itu kesehatan Presiden Soekarno kurang baik setelah berkunjung ke Akademi Militer di Tangerang, kemudian ia diperiksakan di rumah sakit tersebut. Sejak ini hubungan mereka semakin erat.
Keprihatinan Dr. Leimena atas kurangnya kepedulian sosial umat Kristen terhadap nasib bangsa merupakan hal utama yang mendorong niatnya untuk aktif pada Gerakan Oikumene. Jiwa oikumene dan nasionalis yang melekat pada dirinya tidak hanya mendorongnya terlibat pada tugas profesionalnya (dokter) tetapi juga terlibat dalam aktivitas politik. Sejak menjadi mahasiswa, ia sudah aktif di kalangan nasional dan masuk organisasi politik Sarekat Ambon (Serikat Ambon). Sejak 1925 ia aktif dalam perkumpulan pemuda Jong Ambon sebagai ketua umum serta turut dalam persiapan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928.

Pada zaman Jepang dan revolusi kemerdekaan Dr Leimena pun sudah ikut berjuang dan mengabdi penuh kepada Republik Indonesia. Pada 1926, ia ditugaskan untuk mempersiapkan Konferensi Pemuda Kristen di Bandung. Konferensi ini adalah perwujudan pertama Organisasi Oikumene di kalangan pemuda Kristen. Selama di STOVIA, ia benar-benar menunjukkan nilai kekristenan sekaligus kebangsaannya, yakni dengan aktif di berbagai gerakan.
Setelah lulus studi kedokteran STOVIA, Dr. Leimena mendirikan sekaligus menjadi ketua CSV (Christelijke Studenten Vereeniging) yang pertama ketika ia masih menginjak tahun ke-4 di bangku kuliah. CSV merupakan organisasi ekstra kemahasiswaan yang merupakan cikal bakal berdirinya GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia) pada 1950. Selain itu, ia juga terpilih sebagai ketua umum Partai Kristen Indonesia (PARKINDO) pada 1950-1957, lima tahun setelah organisasi ini dibentuk. Hal ini pula kemudian mengantarkannya ke berbagai jabatan penting di pemerintahan.

Kepribadiannya yang sederhana dengan iman Kristen yang sejati dan teguh membuat Dr. Leimena diterima oleh semua golongan. Sebagai pemimpin Partai Kristen Indonesia (PARKINDO), ia selalu mendapat tempat dalam berbagai kabinet karena pendiriannya untuk kepentingan negara di atas segala-galanya. Selain di PARKINDO, ia juga berperan dalam pembentukan DGI (Dewan Gereja¬gereja di Indonesia, kini PGI) pada 1950. Di lembaga ini ia pernah dipilih sebagai wakil ketua yang membidangi komisi gereja dan negara.
Sebagai seorang tokoh politik, Dr. Leimena pernah menduduki berbagai jabatan. Dr. Leimena pernah menjabat pada 18 kabinet yang berbeda (1946-1966). Selain menjadi Menteri Kesehatan Indonesia yang pertama, ia juga menjabat sebagai Menteri Kesehatan Indonesia yang terlama (selama 21 tahun atau delapan kali masa jabatan) dari 1945-1966. Ia menjadi pejabat Presiden RI tujuh kali. Bahkan menurut seorang saksi sejarah, Roeslan Abdulgani, Soekarno yang seorang sekuler hendak menyiapkan Leimena menjadi calon presiden. Menurut Roeslan Abdulgani, "Soekarno adalah Fenomeen Nasional yang mempunyai Zesde Zintuig (indera keenam); tujuh kali Leimena ditunjuk oleh Bung Karno sebagai Pejabat Presiden; tidak terdengar suatu keberatan atau anti".

Ketika Orde Baru berkuasa, Dr. Leimena mengundurkan diri dari tugasnya sebagai menteri, namun ia masih dipercaya Presides Soeharto sebagai anggota DPA (Dewan Pertimbangan Agung) hingga 1973. Usai aktif di DPA, ia kembali melibatkan diri di lembaga-lembaga Kristen yang pernah ikut dibesarkannya, seperti PARKINDO, DGI, UKI, STT Jakarta, dan lain-lain. Ketika Parkindo berfusi dalam PDI (Partai Demokrasi Indonesia, kini PDI-P), ia diangkat menjadi anggota DEPERPU (Dewan Pertimbangan Pusat) PDI, dan pernah pula menjabat Direktur Rumah Sakit DGI Cikini.
Riwayat Karir
• Menteri Muda Kesehatan Kabinet Sjahrir II (1946)
• Wakil Menteri Kesehatan Kabinet Sjahrir III (1946-1947) Menteri Kesehatan Kabinet Amir Sjarifuddin I (1947)
• Menteri Kesehatan Kabinet Amir Sjarifuddin II 1947-1948) Menteri Kesehatan Kabinet Hatta I (1948-1949) Menteri Negara Kabinet Hatta II (1949)
• Menteri Kesehatan Kabinet Republik Indonesia Serikat (1949-1950)
• Menteri Kesehatan Kabinet Natsir (1950-1951)
• Menteri Kesehatan Kabinet Sukiman-Suwirjo (1951-1952)
• Menteri Kesehatan Kabinet Wilopo (1952-1953)
• Menteri Kesehatan Kabinet Burhanuddin Harahap (1955-1956)
§ Menteri Sosial Kabinet Djuanda (1957-1959)
• Menteri Distribusi Kabinet Kerja I (1959-1960)
• Wakil Menteri Utama merangkap Menteri Distribusi Kabinet Kerja II (1960-1962)
• Wakil Menteri Pertama I Kabinet Kerja III (1962-1963)
• Wakil Perdana Menteri II Kabinet Kerja IV (1963-1964)
• Menteri Koordinator Kabinet Dwikora I(1964-1966)
• Wakil Perdana Menteri II merangkap Menteri Koordinator, dan Menteri Perguruan Tinggi & Ilmu Pengetahuan Kabinet Dwikora II (1966)
• Wakil Perdana Menteri untuk urusan Umum Kabinet Dwikora III (1966)

Terlepas dari sikap nasionalis sekuler, Dr. Leimena adalah seorang Kristen sejati. Kedekatan hatinya pada Tuhan terlihat dari sikap tulus dan berani, yang tampak dari berbagai sikap dan perilakunya, misalnya pada peristiwa Gerakan 30 September 1965. Ia meminta Soekarno untuk meninggalkan Halim yang disebut-sebut sebagai Markas PKI menuju Istana Bogor. Ini merupakan langkah besar yang menyelamatkan Indonesia. Contoh lainnya adalah ketika dia memprotes sikap Soeharto yang kasar kepada Presiden Soekarno pada 02 November 1965. Padahal pada saat itu Soeharto memegang tampuk tertinggi militer. Juga, dengan kebesaran hatinya ia berusaha membujuk Kolonel Kawilarang untuk segera bertindak agar korban peristiwa RMS di Maluku tidak semakin banyak.
Bagi Dr. Leimena, agama Kristen yang dianutnya tidak menghalangi dirinya untuk menjadi seorang nasionalis Indonesia. Demikian juga ke-negarawan-annya sebagai seorang nasionalis Indonesia tidak menghalangi dirinya menjadi pengikut Kristus.
Dr. Johannes Leimena meninggal dunia pada 29 Maret 1977 di Jakarta.

Disunting dari:
http://biokristi.sabda.org/drjohannes_leimena (diakses pada 7 November 2016).

                                                                                                      


 

Sahabat Surgawi,
 Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja antar denominasi OnLine
www.sahabatsurgawi.net - webmaster@sahabatsurgawi.net, Copyright © 1999