HOME ABOUT US KESAKSIAN AGENDA GEREJA LINK CONTACT US



 

Derap Remaja Edisi 42
Juli-Desember 2017
Bahan Pembinaan Remaja Gereja Kristen Indonesia


Pembayaran dapat dilakukan dengan 2 cara :

1. Via Bank:
Tahapan BCA no. 0372999053, an. Wisnu Sapto Nugroho
Segera kirimkan pemberitahuan pengiriman bank.
2. Via Pos Wesel:
dengan cara memakai blangko yang dilampirkan dalam surat pengantar.
Pdt. Wisnu Sapto Nugroho, Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Alamat Sekretariat & Distribusi DERAP REMAJA:
Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Harga per eksemplar Rp. 40.000,-

 

Agustus 2017
Indonesia Anugerah  Dari Tuhan
   

32 Peran Umat dalam Sejarah GKI
 
1

36 Johannes Leimena
 
2

44 Indonesia Merdeka
 
3

50 Toleransi
 
4
     

Agustus 2017 Minggu III

Indonesia Merdeka

Bacaan:
Ulangan 24:19-22
Bahan yang diperlukan: alat tulis
 

Fokus


Pada 17 Agustus 1945 Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia. Peristiwa ini disadari sebagai rahmat atau anugerah Allah. Pembukaan UUD 1945 menuliskan,"Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya." Dengan menyatakan kemerdekaan sebagai rahmat atau anugerah Allah, maka bangsa Indonesia menyakini bahwa Allah turut bekerja dalam setiap perjuangan rakyat Indonesia untuk menggapai kemerdekaan Indonesia. Dengan ini pula, sebagai ungkapan syukur kepada Allah, setiap rakyat Indonesia, tidak terkecuali remaja Kristen, dipanggil untuk menghidupi kemerdekaan bangsa dengan sikap yang baik dan benar menurut kehendak Allah. Salah satu sikap yang baik dan benar menurut kehendak Allah itu adalah hidup saling berbagi dengan sesama dalam kerendahan hati. Melalui refleksi kitab Ulangan 24:19-22, materi Minggu ini mengajak remaja untuk menghayati kemerdekaan Indonesia sebagai anugerah Allah, dan untuk ikut menghidupi kemerdekaan itu dengan sikap saling berbagi dengan sesama dalam kerendahan hati.

Penjelasan Teks

Sebelum lengser sebagai pemimpin umat Israel dan menyerahkan tugas kepemimpinan itu kepada Yosua (lihat Ul. 31:1-9), Musa berusaha untuk mengingatkan agar umat Israel benar-benar taat dan setia kepada TUHAN dan perjanjian-Nya. Musa berkata kepada umat Israel,"Sebab aku akan mati di negeri ini dan tidak akan menyeberangi sungai Yordan, tetapi kamu akan menyeberanginya dan menduduki negeri yang baik itu. Hati-hatilah supaya jangan kamu melupakan perjanjian TUHAN, Allahmu, yang telah diikat-Nya dengan kamu" (UI. 4:22-23). Selanjutnya Musa menyampaikan pengajaran tentang praktik ketaatan dan kesetiaan kepada TUHAN dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai ketetapan dan peraturan pun disampaikan Musa, mulai dari hal-hal yang berkaitan dengan relasi antara umat (baik secara personal maupun komunal) dengan TUHAN, sampai kepada hal-hal yang berkaitan dengan relasi antara umat dan sesamanya. Dengan demikian, melalui pengajaran Musa itu, TUHAN sungguh mempersiapkan umat-Nya untuk menjadi pribadi dan bangsa yang baik, yang menjadi berkat bagi sesama dan dunia demi kemuliaan-Nya.
Kitab Ulangan 24:19-22 merupakan salah satu bagian dari pengajaran Musa tersebut. Pengajaran ini disampaikan Musa kepada seluruh umat Israel sebelum memasuki dan menduduki tanah Kanaan di seberang sungai Yordan, suatu negeri yang dijanjikan TUHAN bagi umat-Nya. Isinya berkaitan erat dengan relasi antara umat dengan sesamanya. Musa menyampaikan panggilan agar umat dapat saling menaruh perhatian dan kasih kepada sesamanya. Lebih tepatnya, Musa ingin mengajak agar umat Israel mau hidup saling berbagi dengan sesamanya.

Jika memerhatikan tiga ayat pertama dari kitab Ulangan 24:19-22, maka kita akan mendapatkan pesan yang pada intinya sama, yaitu nasihat untuk hidup berbagi kepada orang lain, secara khusus kepada orang-orang yang susah. Ayat 19-21 memuat pesan agar umat yang menuai atau memanen hasil, balk itu hasil (gandum?) di ladang (ayat 19), hasil pohon zaitun (ayat 20), maupun hasil kebun anggur (ayat 21), tidak bersikap serakah dengan mengambil hasil secara tuntas, melainkan ia harus mengingat orang-orang lain, yaitu orang asing, anak yatim, dan janda. Apa yang disampaikan oleh Musa ini memang dapat dipahami sebagai nasihat agar orang tidak lupa mengambil semua hasil di ladang (ayat 19), atau agar orang memukul secara kuat-kuat pohon zaitun supaya hasilnya maksimal (ayat 20), atau agar orang benar-benar teliti ketika memetik hasil kebun anggur supaya tidak ada yang tertinggal. Namun, pemahaman seperti ini sungguh menunjukkan niat penolakan untuk berbagi hasil kepada orang lain. Justru Musa mengatakan semua ini agar umat sungguh mengingat orang lain ketika mereka menuai hasil (keuntungan) dari ladang dan kebun. Jadi, di balik pesannya itu, Musa berharap agar umat TUHAN memiliki semangat cukup dalam menuai hasil (keuntungan) dari ladang dan kebun, dan agar umat hidup berbagi hasil (keuntungan) kepada orang lain yang susah (dalam hal ini: orang asing, anak yatim, dan janda).

Ayat 22 merupakan klimaks dari pesan Musa kepada umat Israel. Di sini Musa menegaskan bahwa hidup berbagi kepada orang lain yang susah seharusnya bertolak dari kesadaran akan anugerah Allah berupa kebebasan atau kemerdekaan umat TUHAN dari perbudakan di tanah Mesir.

Musa berkata, "Haruslah kauingat bahwa engkau pun dahulu (adalah) budak di tanah Mesir; itulah sebabnya aku memerintahkan engkau melakukan hal ini." Di tanah Mesir, umat Israel telah mengalami kesusahan. Mereka hidup dalam tekanan di bawah kekuasaan bangsa Mesir. Allah telah turut bekerja bagi umat-Nya sehingga mereka sekarang ini mengalami kebaikan, yaitu berupa kemerdekaan. Anugerah Allah itu patut disyukuri oleh umat. Musa mendorong umat untuk sungguh-sungguh menghayati anugerah kemerdekaan itu dengan cara hidup menurut kehendak-Nya, yaitu saling berbagi di antara mereka dan orang lain, dalam kerendahan hati mereka.

Pengenaan


Tidak ada satu orang pun mau hidup dalam sangkar atau penjara.Walaupun sangkar atau penjara itu terbuat dari emas, semua tidak berarti apa-apa tanpa kemerdekaan. Sangkar atau penjara menjadikan hidup sedemikian terbatas. Setiap orang merindukan kemerdekaan. Dengan kemerdekaan, orang dapat menentukan dan menggapai cita-citanya dengan leluasa atau tanpa tekanan, secara kreatif dan berdaya, dalam hidupnya. Demikian juga tidak ada satu bangsa pun di dunia ini mau hidup dalam tekanan atau penjajahan dari bangsa lain. Kemerdekaan menjadi syarat mutlak bagi suatu bangsa untuk menentukan dan menggapai cita-citanya sendiri. Oleh karena itu, Pembukaan UUD 1945 menyatakan,"Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan."

Sebagaimana kisah umat Israel pada masa Musa yang mengalami kemerdekaan atas perbudakan dari bangsa Mesir, demikian juga bangsa Indonesia mengalami kemerdekaan atas penjajahan dari bangsa asing (Belanda dan Jepang). Tentu kisah umat Israel tidak sama dengan kisah bangsa Indonesia. Namun, kita meyakini bahwa kemerdekaan bangsa Indonesia merupakan rahmat atau anugerah dari Allah (lihat Pembukaan UUD 1945). Dengan iman kita mengatakan bahwa Allah turut bekerja dalam perjuangan rakyat Indonesia demi menggapai kemerdekaannya. Oleh karena itu, seluruh rakyat Indonesia, tidak terkecuali remaja Kristen, sepatutnya bersyukur untuk anugerah dari Allah itu.
Melalui pengajaran Musa dalam kitab Ulangan 24:19-22, remaja diajak untuk menghidupi anugerah Allah berupa kemerdekaan bangsa Indonesia itu dengan sikap hidup saling berbagi kepada orang lain, secara khusus kepada orang-orang yang susah. Yang dapat remaja lakukan untuk itu adalah: pertama, menanamkan pengajaran tentang semangat hidup cukup alias bersikap tidak serakah, secara khusus ketika remaja memperoleh hasil atau keuntungan atau rejeki dalam hidupnya. Kebebasan atau kemerdekaan acapkali mendorong orang untuk hidup semaunya alias tidak peduli kepada orang lain. Kalau ini terjadi, maka ini jelas-jelas bertentangan dengan pengajaran firman Tuhan sebagaimana disampaikan oleh Musa.

Dalam kemerdekaan yang dialami dan dinikmati, justru remaja seharusnya menghayati kemerdekaan itu sebagai anugerah Allah sehingga ia hidup bersyukur dan hidup cukup atau tidak serakah. Kedua, jika semangat cukup atau tidak serakah sudah menjadi bagian hidupnya, maka selanjutnya remaja dapat hidup berbagi kepada sesamanya. Kehadiran sesama yang mengalami kesusahan seharusnya menggerakkan remaja untuk menghidupi kemerdekaannya dengan praktik berbagi kepada mereka yang susah itu. Dengan demikian, anugerah kemerdekaan dari Allah bukan saja menjadi berkat bagi kita, tetapi juga bagi mereka.


Langkah-langkah Penyampaian


1. Awali dengan menyampaikan bahwa setiap orang, termasuk remaja, dan setiap bangsa di dunia ini merindukan kemerdekaan (lihat bagian awal dari Pengenaan).
2. Kemukakan isi Pembukaan UUD 1945 yang menyatakan bahwa kemerdekaan bangsa Indonesia merupakan rahmat atau anugerah Allah Yang Maha Kuasa. Jelaskan arti kemerdekaan sebagai anugerah Allah, yakni menunjuk pada iman bahwa Allah turut bekerja dalam perjuangan rakyat Indonesia untuk menggapai kemerdekaan bangsa (lihat Fokus).

3. Kemukakan secara singkat bahwa Musa mengimani kemerdekaan umat Israel dari perbudakaan di tanah Mesir sebagai anugerah Allah (lihat Penjelasan Teks).
4. Jelaskan kitab Ulangan 24:19-22 sebagai pengajaran Musa tentang bagaimana seharusnya umat Israel menghayati dan menghidupi kemerdekaannya, yaitu dengan semangat cukup atau bersikap tidak serakah dan dengan hidup saling berbagi kepada orang lain dalam kerendahan hati (lihat Penjelasan Teks dan Pengenaan).
5. Ceritakan kisah Oseola McCarty sebagai sebuah kesaksian tentang seorang yang menghidupi kemerdekaannya dengan hidup berbagi dalam kerendahan hati (lihat Ilustrasi).
6. Akhiri dengan Kegiatan.

Kegiatan

                                                          Proyek Berbagi kepada Sesama

1. Buatlah kelompok yang terdiri dari atas 7- 10 orang remaja.
2. Dalam kelompok, remaja mendiskusikan sebuah proyek berbagi kepada sesama. Beberapa hal yang perlu didiskusikan:
• Tentukan sesama yang akan dituju proyek berbagi ini; misalnya teman sekolah atau tetangga yang mengalami kesusahan.
• Tentukan apa yang akan diberikan kepada sesama itu; misal uang, pakaian, peralatan sekolah.
• Tentukan bagaimana cara mendapatkan apa yang akan diberikan kepada sesama itu; misalnya dengan cara menyisihkan uang jajan (ingat semangat cukup).
3. Akhiri kegiatan dengan menyerahkan proyek yang telah disepakati bersama itu kepada Tuhan di dalam doa bersama.
Ilustrasi

                                                                       OSEOLA MCCARTY

Pada 7 Maret 1908 di Wayne County, Mississipi, lahir seorang bayi perempuan di tengah keluarga yang miskin. Oseola McCarty, demikian nama bayi itu, bertumbuh sebagai anak yang baik. Ia memiliki cita-cita ingin menjadi seorang perawat. Namun pada umur 8 tahun ia berhenti sekolah karena harus mengurus bibi dan neneknya yang sakit-sakitan. Sejak itu ia harus bekerja sebagai tukang cuci pakaian untuk menghidupi keluarga.

Sejak kecil Oseola suka bekerja keras. Setiap hari ia bekerja sebagai tukang cuci; mulai dari mengambil pakaian kotor, merendam pakaian kotor itu pada air panas, mencuci, menjemur, dan menyetrika pakaian. Dalam seminggu ia mendapatkan upah sekitar US$1-2. Oseola menjalani hidupnya dalam semangat cukup. Ia membelanjakan uangnya hanya untuk sesuatu yang dibutuhkan saja. Ia menabungkan sisa uangnya di sebuah bank. Selesai bekerja, pada waktu luang, Oseola giat membaca Alkitab.Pada 26 September 1999 Oseola meninggal dunia dengan meninggalkan tabungan sebesar US$ 250.000.

Sebelum meninggal ia sudah berpesan pada bank dan pengacaranya bahwa ia ingin menyumbangkan uang tabungannya sebesar US$ 150.000 ke Universitas Southern Mississipi dan US $100.000 ke saudara-saudaranya dan gereja. Pada masa itu banyak warga Amerika keturunan Afrika sulit melanjutkan sekolah. Namun sumbangan dari Oseola telah menggerakkan hati para pengusaha dan politikus untuk berbuat hal yg sama. Tidak lama kemudian berdirilah sebuah lembaga swadaya masyarakat bernama The Oseola McCarty Endowed Scholarship yang membantu anak-anak melanjutkan kuliah.
Oseola McCarty mendapatkan banyak penghargaan dan gelar kehormatan dari pemerintah AS dan universitas ternama di AS, antara lain dari Presiders Bill Clinton, Harvard Univercity, dan Universitas Southern Mississippi.

Disadur dari: https://en.wikipedia.org/wiki/Oseola_McCarty
                                                       

                                                                                                      


 

Sahabat Surgawi,
 Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja antar denominasi OnLine
www.sahabatsurgawi.net - webmaster@sahabatsurgawi.net, Copyright 1999