HOME ABOUT US KESAKSIAN AGENDA GEREJA LINK CONTACT US



 

Derap Remaja Edisi 42
Juli-Desember 2017
Bahan Pembinaan Remaja Gereja Kristen Indonesia


Pembayaran dapat dilakukan dengan 2 cara :

1. Via Bank:
Tahapan BCA no. 0372999053, an. Wisnu Sapto Nugroho
Segera kirimkan pemberitahuan pengiriman bank.
2. Via Pos Wesel:
dengan cara memakai blangko yang dilampirkan dalam surat pengantar.
Pdt. Wisnu Sapto Nugroho, Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Alamat Sekretariat & Distribusi DERAP REMAJA:
Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Harga per eksemplar Rp. 40.000,-

 

Agustus 2017
Indonesia Anugerah  Dari Tuhan
   

32 Peran Umat dalam Sejarah GKI
 
1

36 Johannes Leimena
 
2

44 Indonesia Merdeka
 
3

50 Toleransi
 
4
     

Agustus 2017 Minggu IV

 

Toleransi

Bacaan:
Matius 5:43-48
Bahan yang diperlukan:
 

Fokus


Perbedaan merupakan kenyataan yang tak terelakkan dalam dunia-kehidupan. Di tengah bangsa Indonesia, kenyataan perbedaan berkaitan dengan banyak hal, antara lain: suku bangsa, agama atau kepercayaan, sosial-ekonomi, sosial-politik, dan sosial-budaya.Tidak jarang, kenyataan perbedaan itu menjadi persoalan dan mampu mendorong perselisihan dan permusuhan. Pada hakikatnya bukan perbedaan, melainkan manusia yang tidak dapat menghargai perbedaan itulah yang menyebabkan persoalan. Oleh karena itu, sikap toleran manusia dalam dunia-kehidupan yang penuh keragaman ini menjadi hal yang relevan dan signifikan (penting). Sesuai dengan pengertian Kamus Besar Bahasa Indonesia, toleran adalah "sikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dan sebagainya) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri". Dengan perkataan lain, toleran merupakan sikap yang mau memandang perbedaan sebagai suatu kekayaan, bukan suatu persoalan, bagi kehidupan manusia. Sebagai murid Kristus, remaja seharusnya memahami, menghayati, dan menghidupi sikap toleran. Itulah sebabnya materi minggu ini membahas hal toleransi agar remaja mengetahui arti toleransi sesuai dengan Injil Tuhan Yesus dan menghayati, serta menghidupi (mempraktikkan) toleransi dalam dunia-kehidupan yang penuh keragaman.

Penjelasan Teks

Injil Matius 5:43-48 merupakan bagian dari khotbah Yesus di bukit. Pada kenyataannya yang disebut "khotbah Yesus di bukit" adalah kumpulan pengajaran Yesus Kristus tentang bagaimana seharusnya hidup keagamaan itu — iman, pengharapan, dan kasih kepada Allah — ditunjukkan dalam duniaČkehidupan sehari-hari. Dalam uraian Matius,Yesus menyampaikan nasihat tentang ketidakterpisahan antara "altar" (berkaitan dengan kehidupan surga) dan "pasar" (berkaitan dengan kehidupan dunia sehari-hari). Keterpisahan antara "altar" dan "pasar" mendorong orang untuk berlaku munafik, yakni berpura-pura percaya, taat, dan setia kepada ajaran iman (agamanya), tetapi sebenarnya tidak; atau berlaku picik, yakni bertindak sesuai dengan pengetahuan dan kepentingannya yang sempit. Baik yang munafik maupun yang picik, keduanya mengacu kepada kebenarannya sendiri sehingga tidak jarang keduanya sulit bersikap toleran kepada orang lain yang berbeda dari dirinya. Melalui "khotbah di bukit" itu,Yesus menegaskan kepada orang banyak bahwa kemunafikan dan kepicikan seharusnya tidak menjadi bagian dalam hidup keagamaan mereka. Kata Yesus, "Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga" (5:20).Yesus mendorong setiap orang untuk berjuang menggapai kesempurnaan, sama seperti Allah Bapa adalah sempurna: "Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna" (5:48).
Teks Injil Matius 5:43-45 menyinggung secara khusus hal relasi manusia dengan sesamanya. Pada intinya Yesus menegaskan agar orang mengasihi sesamanya, termasuk musuhnya. Tidak dibenarkan orang-orang yang membenci dan menganiaya kita itu dibalas dengan tindakan kebencian atau kejahatan. Sebaliknya mereka itu harus dikasihi dan didoakan. Jadi, dalam relasi dengan sesamanya, setiap orang seharusnya mengacu bukan lagi pada hukum "mata ganti mata dan gigi ganti gigi" (perhatikan Mat. 5:38-39), tetapi pada hukum kasih sebagaimana Allah mengasihi semua orang. Dalam kaitan itu, Yesus mengungkapkan bagaimana Allah mengasihi semua orang, yaitu dengan tindakan-Nya menerbitkan matahari dan menurunkan hujan "bagi prang yang jahat dan orang yang baik," "bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar." Dengan demikian, tampak jelas, dalam bertindak, Allah bersikap tidak diskriminatif atau tidak membeda-bedakan orang, melainkan bersikap "toleran" (dalam arti yang seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya) oleh karena kasih-Nya yang berlimpah-ruah dan yang tanpa syarat.
Di sini kita seharusnya memahami dan menghayati bahwa oleh karena Allah Bapa itu sempurna, maka "toleransi"-Nya kepada seluruh ciptaan, secara khusus kepada manusia, merupakan tindakan aktif Allah yang tidak hanya "menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dan sebagainya) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian" (kehendak) diri-Nya," tetapi juga mau merangkul setiap pribadi (manusia) demi karya kasih-Nya yang menyelamatkan.

Pada Mat. 5:46-47, Yesus mau menyatakan bahwa tindakan mengasihi seharusnya dilakukan tanpa syarat. Oleh karena itu, bukan saja kepada orang yang mengasihi kita, kasih itu diarahkan, tetapi juga kepada orang yang membenci atau menganiaya kita, kasih itu diberikan. Pemungut cukai dan orang yang tidak mengenal Allah mampu mengasihi orang yang mengasihinya. Yesus mendorong agar setiap orang mengasihi sesamanya jauh melampaui dari apa yang pemungut cukai dan orang yang tidak mengenal Allah mampu lakukan.

Pengenaan


Yesus mengingatkan bahwa Allah Bapa di surga adalah sempurna, termasuk dalam hal kasih-Nya kepada seluruh ciptaan.Allah menyatakan kasih-Nya tanpa syarat bagi semua orang, termasuk orang yang jahat atau orang yang tidak benar. Selalu ada ruang persekutuan pada Allah bagi setiap pribadi yang dipandang sebagai anak-anak-Nya. Dengan demikian, bukan hanya menenggang, Dia juga mau "memegang" setiap pribadi demi kasih-Nya yang menyelamatkan. Kasih-Nya yang sempurna selalu mendorong Dia bekerja secara aktif kepada semua orang, tanpa diskriminatif atau tanpa membedaČbedakan, demi karya keselamatan bagi seluruh ciptaan-Nya.

Sebagai orang-orang yang mengenal Allah, kita dipanggil untuk mengasihi sesama kita sebagaimana Allah yang sempurna itu mengasihi seluruh ciptaan-Nya. Dengan perkataan lain, inilah panggilan kita: mengasihi sesama, termasuk juga musuh kita. Kita dapat melakukan tindakan kasih itu mulai dengan sikap toleran terhadap orang-orang di sekitar kita, yakni terhadap mereka yang tidak hanya sama suku bangsa (etnis), sama iman, atau sama status sosialČekonomi (miskin atau kaya), tetapi juga benarČbenar berbeda dari kita.Toleransi ini sungguh perlu dan penting dalam dunia-kehidupan yang penuh keragaman demi mewujudkan persekutuan yang damai sejahtera.

Secara khusus bagi remaja, sikap toleran seharusnya dapat ditunjukkan di lingkup pergaulan sehariČhari, baik di lingkungan rumah maupun di lingkungan sekolah. Antara lain dengan menjalin persahabatan dengan sebanyak mungkin orang, tanpa membedakan suku, status sosial, dan sebagainya.
 

Provokasi negatif tentang tindakan diskriminatif atau tindakan membeda-bedakan orang lain, yang sering beredar dan diperdengarkan di tengah masyarakat majemuk seperti di Indonesia ini, seharusnya membuat remaja tidak mundur dan tidak putus asa untuk menyatakan kasih sebagaimana yang Yesus ajarkan. Memang, dalam praktik toleransi, remaja dipanggil untuk keluar dari zona kenyamanan mereka, bahkan keluar dari zona ketakutan mereka. Namun, remaja mestinya ingat bahwa "Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan" (1 Yoh. 4:18). Allah Bapa di surga yang sempurna itu akan turut bekerja menolong remaja untuk berjuang mempraktikkan kasih yang dimulai dengan sikap toleran bagi sesamanya.

Langkah-langkah Penyampaian


1. Awali dengan menyampaikan kisah Apipa, seorang remaja Muslim, yang tinggal di rumah keluarga Tionghoa Kristen (lihat Ilustrasi). Jika memungkinkan, tayangkan film pendek (3.5 menit) tentang kisah Apipa tersebut.
2. Masuklah dalam Kegiatan: Diskusi tentang Perjumpaan dengan Yang Berbeda.
3. Kemukakan bahwa perbedaan dan keragaman merupakan suatu realitas atau kenyataan yang tak terelakkan bagi manusia dalam dunia-kehidupan. Dalam konteks Indonesia, realitas perbedaan dan keragaman itu sangat kentara, misalnya melalui keragaman suku bangsa, agama, budaya, dsb Di tengah dunia-kehidupan yang penuh keragaman, toleransi atau sikap toleran sungguh diperlukan untuk persekutuan yang damai (lihat Fokus).
4. Jelaskan makna "toleransi" atau "sikap toleran", baik menurut makna leksikal (Kamus Besar Bahasa Indonesia) maupun menurut pengertian Injil Matius 5:43-48 (Iihat Penjelasan Teks).
5. Sampaikan bagaimana remaja dapat mempraktikkan toleransi di tengah lingkungan rumah dan sekolah (lihat Pengenaan).

Diskusi tentang Perjumpaan dengan Yang Berbeda
1. Buatlah beberapa kelompok kecil yang terdiri atas 3-5 orang remaja.
2. Dalam kelompok, masing-masing remaja berbagi cerita tentang pengalamannya atas orang lain. Di bawah ini pertanyaan yang dapat menjadi panduan:
• Pengalaman apa yang kudapatkan ketika aku berjumpa atau bersahabat dengan orang yang berbeda (etnis atau agama atau lainnya) dengan aku?
• Bagaimana pandanganku sebelum aku mengalami perjumpaan atau persahabatan itu?
• Bagaimana pandanganku setelah aku mengalami perjumpaan atau persahabatan itu?
3. Akhiri kegiatan dengan membuat kesimpulan kelompok dan mempresentasikannya dalam kelompok besar (pleno).
4. Jelaskan makna "toleransi" atau "sikap toleran", baik menurut makna leksikal (Kamus Besar Bahasa Indonesia) maupun menurut pengertian Injil Matius 5:43-48 (Iihat Penjelasan Teks).
5. Sampaikan bagaimana remaja dapat mempraktikkan toleransi di tengah lingkungan rumah dan sekolah (lihat Pengenaan).

Kegiatan

Diskusi tentang Perjumpaan dengan Yang Berbeda
1. Buatlah beberapa kelompok kecil yang terdiri atas 3-5 orang remaja.
2. Dalam kelompok, masing-masing remaja berbagi cerita tentang pengalamannya atas orang lain. Di bawah ini pertanyaan yang dapat menjadi panduan:
• Pengalaman apa yang kudapatkan ketika aku berjumpa atau bersahabat dengan orang yang berbeda (etnis atau agama atau lainnya) dengan aku?
• Bagaimana pandanganku sebelum aku mengalami perjumpaan atau persahabatan itu?
• Bagaimana pandanganku setelah aku mengalami perjumpaan atau persahabatan itu?
3. Akhiri kegiatan dengan membuat kesimpulan kelompok dan mempresentasikannya dalam kelompok besar (pleno).
Ilustrasi

                 KISAH APIPA, REMAJA MUSLIM, YANG TINGGAL DI KELUARGA TIONGHOA KRISTEN

SEBUAH video yang menceritakan tentang pelajar Muslim yang tinggal di keluarga Tionghoa Kristen terpilih sebagai kisah baik tahun ini dari Indonesia dalam jajak pendapat yang diadakan oleh organisasi nirlaba Singapura, Our Better World. Video ini mengangkat satu cerita dari program keluarga asuh lintas-agama yang dijalankan oleh organisasi SabangMerauke — yang ditujukan untuk memberikan contoh nyata toleransi.
Apipa, seorang pelajar Muslim, berkesempatan untuk tinggal di keluarga etnis Tionghoa yang beragama Kristen.'"Dua tiga hari itu (setelah menginap) Apipa mau minta pindah, terus Apipa ngomong dengan kakak pembina Apipa, namanya Kak Mustaf. Kata saya, Apipa tidak betah tinggal di keluarga Kristen, sebab Apipa takut diajak ke gereja, tidurnya gelap lampunya dimatikan," ceritanya dalam video tersebut.

Keluarga Tionghoa yang menerima Apipa di rumahnya, Raymond Lim dan Ratna Megasari, awalnya merasa patah arang karena Apipa tidak mau makan.Tetapi ketika mereka mulai mengenal satu sama lain, dua pihak merasakan kedekatan dan akhirnya belajar satu sama lain. Raymond dan Ratna juga memfasilitasi Apipa untuk shalat dan mengantarnya ke masjid. "Tadinya kita pikir, kita yang kedatangan tamu jadinya dia yang belajar dari kita, tapi sesungguhnya kami sebagai tuan rumah, kami juga belajar dari Apipa," kata Ratna.

Dalam program SabangMerauke, anak-anak yang menjalani program tinggal di keluarga asuh ini akan menjadi duta perdamaian bagi teman-temannya.
Dalam video itu Apipa mengatakan bahwa, "Ternyata apa yang saya alami tidak seperti yang saya pikirkan, mereka baik."
Salah satu pendiri SabangMerauke, Ayu Kartika Dewi, kepada wartawan BBC Indonesia, Christine Franciska, mengatakan bahwa cerita ini adalah satu dari sekitar 55 kisah lainnya yang telah terbangun dari program keluarga asuh SabangMerauke.
"Ada lagi pengalaman anak Muslim yang ditempatkan di keluarga Hindu. Hari-hari pertama, anak ini susah makan. Keluarga Hindu yang tentu tidak makan daging sapi, selalu menyediakan tahu tempe. Setelah ditanya, ternyata anak ini dari Sumatera seringnya makan rendang (daging sapi).Tapi keluarga Hindu ini luar biasa sekali, akhirnya menyediakan rendang di rumah walau mereka di rumah tidak makan daging sapi," ceritanya.
Bagi Ayu dan SabangMerauke, toleransi tidak bisa dideskripsikan dengan sempit karena itu adalah sesuatu yang harus dialami dan dirasakan, bukan hal yang bisa diajarkan."Kita biasanya takut pada hal yang kita tidak tahu," kata Ayu.

"Jangan-jangan kita sendiri yang membatasi makna toleransi itu. Banyak sekali cerita-cerita tentang toleransi dari kawan-kawan ketika mereka jadi minoritas. Saya sendiri waktu kuliah di Amerika misalnya, di kampus saya tidak ada masjid, masjidnya jauh di kota. Bagaimana anak-anak shalat Jumat? Shalat Jumatnya di Katedral. Dikasih tempat shalat di Katedral. Hal seperti ini kan sesuatu yang indah. Bahkan ketika orang lain membantu kita, mereka tidak melihat sekat agama," tutur Ayu.
"Ada banyak stereotype yang membuat kita punya prasangka terhadap orang yang berbeda," lanjut Ayu. "Kita biasanya takut pada hal yang kita tidak tahu. Sama seperti Apipa yang belum pernah ketemu orang Kristen seumur hidupnya. Dikira kalau ketemu, diajak ke gereja dan di-Kristen-kan. Tapi setelah dia tahu, jadi tidak apa-apa."

Sumber:
www.batamtoday.com/berita-83075-Kisah-Apipa,-Anak-Muslim-yang-Tinggal-di-Keluarga-ChinaČKristen.html (diakses pada 15 Maret 2017).
Film Pendek (3.5 menit) tentang Apipa (Our Better World) dapat diunduh di: https://www.youtube.com/watch?v=sj52y2O1_vc
                                                                

                                                                                                      


 

Sahabat Surgawi,
 Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja antar denominasi OnLine
www.sahabatsurgawi.net - webmaster@sahabatsurgawi.net, Copyright ę 1999