HOME KESAKSIAN DOA ABOUT US CONTACT US LINK

 
















 
Cara mendapatkan Derap Remaja

Pembayaran dapat dilakukan dengan 2 cara :
1. Via Bank:
Tahapan BCA no. 0372999053, an. Wisnu Sapto Nugroho
Segera kirimkan pemberitahuan pengiriman bank.
2. Via Pos Wesel:
dengan cara memakai blangko yang dilampirkan dalam surat pengantar.
Pdt. Wisnu Sapto Nugroho, Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Alamat Sekretariat & Distribusi DERAP REMAJA:
Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281
Telp. (0274) 514721 Fax(0274) 543001

Harga per eksemplar Rp. 40.000,-
 

DERAP REMAJA EDISI 45
Januari - Juni 2019
Bahan Pembinaan Remaja Gereja Kristen Indonesia


Juruselamat Semua Bangsa | Sengsara Dunia: Sengsara Yesus | Korban Menjadi Kurban | Benar, Ia Bangkit!

   

Kemenangan
Yesus
 


  Sengsara Dunia : Sengsara Yesus
 

fokus
Sengsara (KBBI: kesulitan dan kesusahan hidup atau penderitaan) adalah bagian dari hidup manusia sesehari. Di dunia ini, semua orang pasti pernah mengalami penderitaan sebab penderitaan singgah tanpa memilah. Bencana, penyakit, kedukaan, masalah finansial, masalah keluarga, dan berbagai persoalan hidup lainnya adalah rupa-rupa penderitaan yang datang silih berganti dalam hidup manusia. Banyak orang mengeluh dan meratap akibat penderitaan.
Bagaimana umat Allah menyikapi penderitaan sesamanya? Umat Allah dipanggil untuk tidak tinggal diam dan membiarkan saja sesamanya yang mengalami penderitaan. Allah sendiri tidak dapat berpangku tangan terhadap manusia yang menderita. Alkitab memberi kesaksian bahwa sepanjang sejarah umat manusia, Allah senantiasa berupaya dengan berbagai macam.cara untuk solider terhadap penderitaan umat manusia. Puncak dari solidaritas Allah mewujud nyata dalam diri Yesus Kristus yang menderita disalib, wafat, dan bangkit. Tindakan Allah melalui Yesus Kristus itulah yang menjadi dasar bagi umat Allah untuk bertindak seperti Yesus Kristus, yakni melibatkan diri dalam penderitaan sesama.
Melalui pelajaran hari ini remaja diajak untuk meyakini bahwa penderitaan Yesus adalah wujud kepedulian-Nya terhadap penderitaan dunia dan mengajak remaja peduli terhadap penderitaan dunia.

 

penjelasan teks
Yesus telah tiba pada tahap akhir pelayanan-Nya di dunia. Salib sudah semakin dekat Yohanes tidak menceritakan pergumulan Yesus di Taman Getsemani sebagaimana Injil Matius dan Markus.
Yohanes tidak menceritakan doa Yesus agar Allah membiarkan cawan ini berlalu dari diri-Nya dan membiarkan kehendak Bapa yang jadi. Yohanes menceritakan pergumulan Yesus dengan cara berbeda. Yohanes menuliskan bahwa Yesus berkata "jiwaku terharu" (ay. 27) atau psuche mou tetaraktai (dari kata Yunani psuche = jiwa, tempat perasaan, dan terasso = gelisah, susah). Yesus juga berkata, ".... apakah yang akan Kukatakan? Bapa, selamatkanlah Aku dari saat ini?Tidak, sebab untuk itulah Aku datang ke dalam saat ini" (ay. 27). Yohanes menceritakan pergumulan Yesus dengan memberi gambaran sosok Yesus yang memang merasakan kegentaran menghadapi penderitaan salib yang sudah di depan mata, namun yang juga memastikan diri bahwa Ia tidak akan menghindar dari penderitaan itu. Yesus tahu benar bahwa hanya itulah satu-satunya cara untuk melepaskan manusia dan penderitaan akibat dosa, yakni dengan menanggung penderitaan itu pada pundak-Nya sendiri. Itulah puncak solidaritas Allah kepada manusia.

Dalam pergumulan-Nya, Yesus menyatakan pula, "Bapa, muliakanlah nama-Mu" (ay. 28). Pernyataan itu lebih dari sekadar penyerahan diri terhadap kehendak Allah. Hal itu menggambarkan bagaimana Kristus mempersembahkan penderitaan-Nya bagi kemuliaan Allah. Kesalahan dan dosa manusia terhadap Allah merupakan penghinaan terhadap kemuliaan Allah. Untuk itu manusia patut dan pasti binasa sebab manusia tak akan mampu menanggung hukuman Allah atas dosanya. Tetapi, Yesus turun tangan untuk mengembalikan kemuliaan Allah yang telah tercemar oleh dosa manusia. Ia menanggung penghinaan yang tak harus Ia terima. Dia menyangkal dan mengosongkan diri-Nya dari kemuliaan yang layak diterima-Nya sebagai Anak Allah. Ia menjelma menjadi manusia dan taat kepada kehendak Bapa-Nya. Ia menyangkali semua keinginan manusia-Nya demi menaati dan memuliakan Bapa-Nya.
Pengurbanan Kristus di kayu salib akan membuat penguasa dunia ini dilemparkan keluar (ay. 31). Yang dimaksud dengan penguasa dunia ini adalah kerajaan maut yang mau menyeret semua manusia yang hidup di dalam perbudakan dosa untuk masuk ke dalamnya. Melalui kematian dan kebangkitan Kristus, kerajaan maut dikalahkan. Manusia bebas dan tidak lagi hidup dalam perbudakan dosa. Yesus telah menjadi Mesias, yang diurapi untuk menjadi juruselamat manusia. Sayangnya sosok Mesias dalam diri Yesus tak terlihat di mata orang banyak yang mendengarkan-Nya pada waktu itu. Mata mereka lebih tertuju pada salib, simbol penderitaan dan kehinaan. Bagi mereka, alangkah tidak masuk akalnya apabila Mesias menyelamatkan mereka dengan jalan menempuh penderitaan, kehinaan, bahkan kematian. Dalam benak mereka, Mesias tidak mungkin bisa mati, melainkan hidup selama-lamanya (ay. 34).

Mata orang banyak itu sebenarnya telah melihat Mesias, namun kenyataannya mereka tidak melihat-Nya karena digelapkan oleh gambaran Mesias yang ada dalam benak mereka sendiri. Meski demikian, Yesus tidak berhenti solider kepada orang banyak. Ketidakpercayaan orang banyak tidak lantas membuat-Nya undur dari jalan salib. Ia tidak egois dan mencari keselamatan-Nya sendiri, melainkan keselamatan manusia. Yesus tahu persis jika Ia tidak menderita, maka manusia yang akan masuk dalam penderitaan kekal karena terus mengikuti gelapnya pikiran mereka sendiri. Itulah sebabnya Yesus memberi nasihat agar waktu yang hanya sedikit lagi yang mereka miliki, mereka pergunakan sebaik-baiknya untuk percaya kepada-Nya, Sang Terang, supaya kegelapan jangan menguasai mereka (ay. 35).

pengenaan
Remaja masa kini hidup di zaman modern yang memiliki beberapa tantangan. Di antaranya, masyarakat modern cenderung menyukai hal-hal yang instan atau serba cepat. Hal itu menunjukkan bahwa orang zaman modern tidak mau repot, tidak mau sulit. Kadang demi tidak repot orang mau menempuh jalan pintas yang tidak benar. Sikap tidak mau repot dan tidak mau sulit ini tentu sangat berbeda dengan sikap Tuhan Yesus yang justru mau repot-repot menderita bagi manusia. Kalau dulu di zaman Yesus orang banyak berpendapat bahwa jalan penderitaan tidaklah keren (menggunakan istilah remaja masa kini) bagi sosok Mesias, maka tidak mustahil di zaman sekarang orang juga menganggap tidak perlu menderita bagi orang lain sebab itu tidak keren. Yang keren di zaman ini bukanlah mengosongkan diri seperti Yesus, melainkan eksis atau diakui. Menjadi sosok yang eksis itu keren. Itulah sebabnya orang berlomba-lomba untuk eksis di media sosial. Bahkan dalam konteks penderitaan orang lain, bahaya yang harus diwaspadai adalah saat orang mau terlibat di dalamnya bukan benar-benar sebagai wujud kepedulian atau solidaritas pada sesama, melainkan demi kepentingan eksis, misalnya demi bisa mengunggah foto-foto keikutsertaan sebagai relawan bencana. Tentu saja orang perlu eksis, dalam arti berani unjuk diri dalam hal-hal positif, misalnya memberi inspirasi baik bagi orang lain; namun bila eksis hanya bertujuan menonjolkan diri demi mendapatkan pengakuan, maka eksis itu sebenarnya tidak bermakna. Tuhan Yesus jelas mau menderita bukan untuk eksis, melainkan demi melepaskan manusia dari penderitaan kekal.

Tantangan hidup di zaman modern yang lain adalah masyarakat modern memiliki kecenderungan bersikap individualistis, di mana kepedulian terhadap diri sendiri lebih dipentingkan daripada kepedulian terhadap orang lain. Contoh sederhana sikap tidak peduli dalam kehidupan remaja masa kini adalah saat seseorang begitu asyik bermedia sosial hingga lupa waktu sehingga tidak peduli apakah orang tua atau anggota keluarga lain di rumah membutuhkan perhatian dan bantuannya. Contoh dalam masyarakat misalnya saat orang memberikan komentar negatif di media sosial tanpa memedulikan apakah komentarnya melukai perasaan orang lain atau tidak. Juga ketika sadar atau tidak anak-anak Tuhan kadang ikut menyebarkan berita hoax karena sekadar meneruskan dan tidak menyaring dengan teliti berita-berita yang diterimanya. Jangankan peduli pada penderitaan orang lain, orang kadang malah tidak peduli jika orang lain menderita gara-gara berita hoax yang disebarkannya, baik dengan sengaja maupun tidak.
Yesus peduli kepada penderitaan manusia, bahkan Ia rela mati demi manusia. Umat percaya, termasuk remaja di dalamnya, telah menerima kepedulian Allah, oleh karenanya umat percaya dipanggil untuk meneladan Kristus. Remaja diminta untuk tidak tinggal diam dan membiarkan saja saat ada seseorang yang menderita atau membutuhkan pertolongan sebagaimana Kristus tidak tinggal diam menyaksikan kebinasaan manusia. Remaja dipanggil untuk peduli dan berani berkurban bagi sesama.

langkah-langkah penyampaian
1. Awali dengan menceritakanlah Ilustrasi 1. Jelaskanlah bahwa di sekitar kita selalu ada kemungkinan orang-orang yang menderita dan orang percaya tidak mernedulikannya.
2. Sampaikan bahwa Allah selalu peduli pada pendertiaan manusia. Dalam sepanjang sejarah manusia Allah senantiasa solider dengan penderitaan manusia dengan berbagai macam cara (lihat Fokus).
3. Sampaikan bahwa puncak solidaritas Allah terhadap penderitaan manusia adalah dengan merelakan Yesus mati disalib demi menebus dosa manusia. Sampaikan bahwa Yesus bergumul dengan penderitaan-Nya namun taat pada kehendak Bapa-Nya. Yesus memilih untuk berkurban bagi manusia supaya manusia tidak mengalami penderitaan kekal (lihat Penjelasan Teks).
4. Sampaikan kecenderungan manusia di zaman modern ini yang tidak mau repot apalagi peduli pada penderitaan orang lain, juga kecenderungan untuk bersikap individualistis. Sampaikan bahwa remaja Kristen dipanggil untuk tidak peduli hanya kepada dirinya sendiri, melainkan kepada sesama juga. Sampaikan bahwa remaja Kristen dipanggil untuk meneladan Kristus yang peduli dan rela berkurban bagi sesama yang menderita (lihat Pengenaan).
5. Sampaikan Ilustrasi 2. Beri tantangan: "Jika Charlie Simpson yang berusia 7 tahun saja bisa peduli pada penderitaan sesama, mengapa kita tidak?"
6. Akhiri dengan Kegiatan.

kegiatan

Proyek Peduli Sesama yang Menderita
1. Setiap remaja memiliki tugas untuk memberikan satu nama orang yang menurutnya layak dipedulikan dan apa alasannya.
2. Dari setiap nama yang terkumpul, pilihlah satu atau dua orang yang akan menjadi subjek kepedulian (sesuai kondisi gereja masing-masing)
3. Laksanakan proyek itu dalam waktu yang disepakati

ilustrasi

1. Kisah Marilyn Manson
Brian Warner adalah seorang remaja Kristen yang pemalu, minder, dan kurang PD. Tubuhnya kurus seperti penggaris dan wajahnya berjerawat .Dalam gerejanya, ia termasuk remaja yang tidak pernah mendapat perhatian. Puncaknya ketika kaum muda di gerejanya mengadakan acara refreshing bersama di sebuah taman hiburan, lagi-lagi Brian harus sendirian, terkucilkan dari lingkungannya. Tak satupun orang yang menemaninya atau mengajaknya bicara. Seakan-akan Brian tak pernah ada di situ. Hal itu terlalu menyakitkan baginya sehingga tiga bulan kemudian Brian mundur dari gerejanya.
 

Bertahun-tahun kemudian remaja yang penuh sakit hati terhadap gereja ini tumbuh menjadi seorang pria yang sangat populer. Ia mengganti nama BRIAN dengan nama seorang cewek yang bunuh diri, yaitu MARILYN, kemudian nama WARNER ia ganti menjadi MANSON, yang merupakan nama seorang pembunuh bertopeng. Ia membuat suatu grup band yang sekarang memiliki jutaan fans di seluruh dunia. Ia adalah Marilyn Manson, seorang yang menyebut dirinya "maha bintang antikris". Marilyn Manson merupakan salah satu bintang rock terheboh abad ini. Prestasinya sebagai pengikut antikris mulai terlihat ketika lagu¬lagunya membuat dua penggemarnya membunuh teman-temannya di SMU Columbine Colorado, dan masih banyak pengaruh Manson yang lain yang merusak generasi muda.

Kalau saja ada orang yang cukup peduli dengan Brian saat di taman hiburan itu.
Kalau saja ada orang yang mau berteman dengannya, paling tidak menyebut namanya.
Kalau saja ada orang yang mengasihinya.
Kalau saja ada orang yang cukup perhatian dengannya, tentu saja hidup Marilyn Manson tak pernah seperti hari ini.

Pesan:
Ini harus menjadi renungan buat kita semua yang mengaku diri sebagai orang Kristen yang penuh kasih. Apakah selama ini kita sudah peduli dengan sesama kita? Jangan sampai kita dikejutkan dengan Marilyn Manson yang baru, yang ternyata adalah bekas anggota gereja kita yang tidak kita pedulikan.

(Sumber: http://renunganmotivasi.blogspot.com/2009/10/pemuda-kristen-kisah-marilyn¬manson.html )

2. Kisah Charlie Simpson
Bocah 7 Tahun yang Bersepeda Keliling Kota untuk Mengumpulkan Sumbangan bagi Para Korban Gempa Haiti

Charlie mengawali usahanya dengan pesan singkat, "Namaku Charlie Simpson, aku sedang berusaha mengadakan kegiatan sponsor bersepeda untuk Haiti karena di sana sedang terjadi gempa dan banyak orang kehilangan nyawa karenanya. Aku ingin mengumpulkan uang untuk membeli makanan, air, dan tenda bagi seluruh korban Haiti".
Charlie berharap untuk mengumpulkan uang sebanyak 500 euro dengan bersepeda sejauh 15 mil di sekitar taman kota. Namun usahanya telah menyentuh hati banyak orang dan membuatnya mengumpulkan 120.000 euro bagi korban Haiti.

(Sumber: http://infounik-pintar.blogspot.com/2014/03/5-bocah-cilik-yang-rela-berkorban¬demi.html)
 


 

A R S I P  
| derap desember 0118 | derap desember 0218 | derap desember 0318 |
| derap desember 0418 | derap desember 0518 | derap januari 0119 | derap januari 0219 | derap januari 0319 | derap januari 0419 |
| derap februari 0119 | derap februari 0219 | derap februari 0319 | derap februari0419 |
| derap maret 0119 | derap maret 0219 | derap maret 0319 | derap maret 0419 | derap maret 0519 |
| derap april 0119 |
 


Sahabat Surgawi
,
 Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja antar denominasi OnLine
www.sahabatsurgawi.net - webmaster@sahabatsurgawi.net, Copyright © 1999