HOME ABOUT US KESAKSIAN AGENDA GEREJA LINK CONTACT US


 

Derap Remaja Edisi 40
Bahan Pembinaan Remaja Gereja Kristen Indonesia


Pembayaran dapat dilakukan dengan 2 cara :

1. Via Bank:
Tahapan BCA no. 0372999053, an. Wisnu Sapto Nugroho
Segera kirimkan pemberitahuan pengiriman bank.
2. Via Pos Wesel:
dengan cara memakai blangko yang dilampirkan dalam surat pengantar.
Pdt. Wisnu Sapto Nugroho, Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Alamat Sekretariat & Distribusi DERAP REMAJA:
Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Harga per eksemplar Rp. 40.000,-
 

Desember 2016    
Bergumul dengan ODHA: Belajar dari Mandela
Matius 9: 20-22
  1
Santa Claus
Yakobus 1:19-27
  2
Orang Majus: Pengetahuan Menuntun Pada Iman
Matius 2:1-12
  3
Gembala: Berani Mencari Kebenaran
Lukas
2:8-20
  4

 

Santa Claus


 
 Bacaan:
 Yakobus 1:19-27

 Bahan yang
 diperlukan:-


 
 
 

FOKUS



Memasuki Desember, setiap menjelang hari Natal, beberapa toko dan mal mulai menghiasi ruang-ruangnya dengan aneka produk dan aksesoris (barang tambahan) yang khas seperti pohon natal dengan lampu-lampu yang berkelap-kelip, boneka bayi Yesus dengan palungannya dan boneka domba-domba yang putih dan lucu, dan tak lupa juga aneka Sinterklas atau Santa Klaus gendut yang khas dengan topi dan pakaiannya yang berwarna merah. Semua produk dan aksesoris Desember itu menjadi sangat akrab bagi banyak orang, seolah tanpa semua itu pada hari-hari Desember orang merasa kehilangan. Secara khusus kehadiran Santa Klaus yang khas itu belakangan menjadi background atau pendamping yang selalu dipakai untuk berfoto di bulan Desember. Topi Santa Klaus sendiri digunakan di banyak tempat hiburan, toko, kios makan, baik oleh laki-laki maupun perempuan, entah Kristen atau bukan Kristen. Sedemikian akrabnya dengan figur Santa Klaus yang ditampilkan pasar hiburan dan pasar perdagangan, masyarakat luas termasuk warga Kristen tidak lagi tahu - atau memang tak mau tahu - tentang asal-usul sosok gendut yang lucu itu. Padahal jika tahu dan menghayati asul-usul kehadiran Santa Klaus yang dominan merah itu, maka masyarakat akan belajar banyak tentang makna kehadiran seorang Nikholas yang memiliki kasih dan semangat berbagi yang hebat. Kehadiran Nikholas historis dan makna hidupnya itu telah berubah menjadi instrumen bagi banyak produsen dalam rangka menarik perhatian dan keuntungan dari banyak konsumen. Melalui pelajaran ini remaja diajak untuk kembali menghayati kehadiran Nikholas historis dan makna hidupnya agar mereka pun mampu meneladani nilai-nilai Kristen yang dipraktikkan Nikholas. Dari sini remaja pada gilirannya mampu menyambut Natal Kristus dengan lebih baik lagi.
 

PENJELASAN TEKS


Surat Yakobus adalah salah satu dari "Surat-surat katolik" (Yunani: katholike epistole),yang memuat banyak pengajaran moral Kristen bagi kehidupan para pengikut Kristus di perantauan atau dispora. Pembuka Surat Yakobus sendiri menuliskan bahwa surat ini ditulis oleh Yakobus, "hamba Allah dan Tuhan Yesus Kristus, kepada kedua belas suku di perantauan" (Yak. 1:1). Ungkapan 'kedua belas suku di perantauan' di sini menunjuk pada orang-orang Yahudi (yang terdiri atas dua belas suku) di berbagai perantauan atau diaspora. Dengan demikian, warna keyahudian mencuat nampak dari surat ini.Warna keyahudian itu tentu saja sudah bercampur dengan pengajaran Injil Kristus sehingga bagi pembaca atau pendengar surat ini terasa sekali upaya kontekstualisasi Injil Kristus. Bagaimana pun ketika surat ini tetap menjadi bagian dari Kitab Suci umat Kristen - karena Martin Luther pernah mempersalahkan hal ini ketika surat ini dipandang bertentangan dengan ajaran sola fide, hanya oleh iman, manusia dibenarkan, sebagaimana ditegaskan oleh Paulus dalam Roma 3-5 (bandingkan Yak.2:14-26) - maka pengajaran dari Surat Yakobus tetap signifikan dan relevan bagi kehidupan umat Kristen pada masa sekarang ini.

Penekanan Yakobus terhadap pentingnya iman dan juga perbuatan atau praktik hidup sudah tampak pada bagian awal suratnya (lihat Yak. 1:2-8). Bagi Yakobus, iman adalah kemantapan hati manusia kepada Allah dan ini menghasilkan hikmat atau pengetahuan dari Tuhan untuk praktik hidup sehari-hari. Tulis Yakobus, "Hendaklah ia memintanya (maksudnya meminta hikmat) dalam iman dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin. Orang yang demikian janganlah mengira bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan" (1:6-7). Jadi, tidak benar jika dikatakan bahwa Yakobus mengabaikan pentingnya iman! Iman menentukan praktik hidup orang Kristen. Iman kepada Allah adalah nafas hidup orang Kristen sehingga dengan nafas itu orang Kristen mampu menempuh perjalanan hidupnya secara benar dan baik di hadapan Tuhan.

Mengutuhkan pemahaman tentang iman kepada Allah, Yakobus selanjutnya menguraikan secara lebih rinci apa-apa saja yang seharusnya orang Kristen praktikkan dalam kehidupannya sehari-hari. Yakobus 1: 19-27 dapat dipandang sebagai uraian yang meringkaskan rincian pandangan moral Kristen menurut Yakobus. Inilah inti yang mau disampaikan Yakobus:"Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri" (ayat ke-22). Ini berarti, dalam pandangan Yakobus, orang sungguh beriman kepada Allah jika ia mempraktikkan firman Allah, bukan hanya mendengarkan firman Allah. Dengan perkataan lain, perbuatan atau praktik hidup sehari-hari yang sesuai dengan firman Allah itu adalah tanda iman seseorang. Iman dibuktikan bukan hanya dengan perkataan atau pendengaran, tetapi juga dengan perbuatan atau praktik hidup!

Dari penegasan itu Yakobus menyinggung praktik beribadah yang dilakukan oleh orang beriman. Pada umumnya orang-orang beriman menganggap praktik beribadah itu sebagai bukti dari iman. Jadi logika yang sering dikemukakan banyak orang beriman adalah sebagai berikut: "Aku beriman, maka aku beribadah." Logika ini tidak salah, tapi juga tidak seutuhnya benar. Alasannya walaupun benar praktik beribadah itu adalah bukti dari iman, praktik beribadah belum tentu merupakan peristiwa perjumpaan dengan Allah yang penuh kasih. Beribadah bisa jadi (untuk tidak mengatakan: seringkali) menjadi praktik yang menghibur dan memuaskan diri orang yang beribadah itu saja. Beribadah (Yunani: threskos) seharusnya menghubungkan realitas surgawi yang bersifat personal dan komunal dengan realitas duniawi yang bersifat sosial (dan enviromental). Benar, beriman itu ditunjukkan oleh praktik beribadah, tapi praktik beribadah itu belum tentu selalu benar. Oleh karena itu, Yakobus menegaskan "Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya. Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia" (ayat 25-27).

Yakobus tampaknya sungguh menghayati pengajaran dan praktik hidup Yesus dari Nazaret. Mungkin terbenam di benaknya perkataan Yesus ini, "Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga. ... Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. ... Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir" (Matius 7:21, 24, 26). Dalam hidup-Nya Yesus menyatakan firman Allah yang hidup, yang terungkap dalam perkataan dan perbuatan-Nya. Dia adalah Firman Allah yang menjadi manusia dan diam di antara manusia (Yoh. 1:14). Atas dasar iman kepada Yesus Sang Firman yang hidup ini, Yakobus berani menyampaikan makna beribadah yang sejati atau murni di hadapan Allah.

Dalam paparannya tentang ibadah yang sejati atau murni, Yakobus menyatakan pentingnya praktik "mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia". Kata 'mengunjungi' (Yunani: episkeptomai) tentu saja dipahami bukan saja sebagai tindakan perkunjungan biasa, yang sekadar datang atau melawat, tetapi tindakan perjumpaan yang membawa dampak signifikan dan relevan bagi orang-orang yang dikunjungi. Ini berarti tindakan itu memuat praktik-praktik yang lebih menyentuh pergumulan hidup dari orang-orang yang dikunjungi. Mungkin di sini tepat jika kita mengingat tindakan dari Orang Samaria yang murah hati dalam perumpamaan Yesus sebagaimana tertulis di Injil Lukas 10:25-37. Singkat kata, tindakan 'mengunjungi' di sini dipahami sebagai tindakan memberi diri atau aksi berbagi kepada orang-orang "dalam kesusahan mereka". Walaupun dituliskan "mengunjungi yatim piatu dan janda-janda", itu tidak berarti bahwa tindakan berbagi itu ditujukan melulu kepada yatim piatu dan janda-janda. Pemahaman yang menegaskan bahwa tindakan berbagi tertuju hanya kepada mereka yang dituliskan Yakobus akan mempersempit"ruang ibadah yang murni" itu sendiri. Oleh karena itu, lebih baik kita memperhatikan ungkapan "dalam kesusahan mereka" untuk menyebutkan kepada siapa seharusnya orang beriman "mengunjungi", yaitu tidak lain kepada mereka yang sedang mengalami kesusahan, misalnya orang-orang miskin, orang-orang tertindas, dan orang-orang terasing atau diasingkan.

Tidak boleh diabaikan, Yakobus pun menegaskan bahwa ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah itu adalah juga "menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia". Praktik hidup ini agaknya bersifat personal, walaupun tentu konsekuensinya berdampak bagi orang lain. Orang yang "menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia" adalah orang mampu mengelola dan mengendalikan dirinya sendiri sesuai dengan nilai-nilai Injil Tuhan Yesus Kristus. Orang ini pada gilirannya memancarkan kemuliaan Allah melalui praktik-praktik kehidupannya sehingga orang-orang lain yang melihat, mendengar, dan merasakannya, mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Bukankah dengan begitu ibadah pun berlangsung di tengah kehidupan sehari-hari?
 

PENGENAAN
 


Rupanya Nikholas historis, yang kemudian dikenal sebagai Santa Klaus dalam dunia modern, menghayati dan mempraktikkan apa yang dituliskan Yakobus. Oleh karena itu, melalui pengenalan dan pemahaman yang benar akan sosok Nikholas, remaja sebenarnya dapat terbantu untuk menghayati pentingnya iman dan perbuatan seperti dituliskan oleh Yakobus. Remaja masa kini tak terhindar dari dunia hiburan dan dunia perdagangan yang memperkenalkan Nikholas dalam sosok Santa Klaus. Bersama dengan banyak orang dewasa masa kini, remaja Kristen seringkali hanyut ke dalam arus konsumtivisme (sikap dan aksi berbelanja yang berlebihan) dan hedonisme (sikap dan aksi bersenang diri yang keterlaluan) sehingga seolah-olah seperti Santa Klaus yang berbaju merah itu, mereka menjadi pribadi-pribadi yang tampil hanya untuk kesenangan diri dalam pasar pertunjukan dan pasar perdagangan. Iman mereka pun mengalami kemerosotan, menjadi iman yang menghibur dan takabur (merasa diri mulia atau saleh). Iman yang takabur tidak pernah memperjumpakan Tuhan kepada orang lain. Iman yang takabur adalah iman yang egois, yang tak pernah menghasilkan "ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah". Pentingnya memahami dan menghayati iman yang benar perlu ditegaskan kepada orang-orang Kristen, termasuk remaja Kristen. Seperti dinyatakan Yakobus, iman yang benar akan menghasilkan ibadah yang murni dan ibadah yang murni itu menghasilkan tindakan yang benar, yaitu tindakan berbagi kasih kepada banyak orang "dalam kesusahan mereka", seperti dilakukan oleh Nikholas historis.
 

LANGKAH-LANGKAH PENYAMPAIAN
 


1. Awali dengan Kegiatan.
2. Masuklah pada penegasan tentang siapa sebenarnya Santa Klaus dan Nikholas historis (lihat Lampiran).
3. Untuk memahami dan menghayati dalam terang iman Kristen praktik hidup Nikholas yang suka berbagi itu,jelaskan bacaan Yakobus 1:19-27 (lihat Penjelasan Teks).
4. Sebagai penutup ajak remaja mendiskusikan tindakan-tindakan apa saja yang paling tepat dan baik dalam rangka menyambut Natal Yesus Kristus.

                                                                                                   
KEGIATAN


1. Ajak remaja membaca cerita asal mula tokoh Santa Klaus (lihat Lampiran)
2. Mintalah mereka menyebutkan tanggapan mereka tentang cerita rakyat itu (dengan metode brainstorming atau curah pendapat).

                                                                                                                                                              

ILUSTRASI

                                                  
                                                    
     Cerita Rakyat "Santa Klaus"

"Ayah, bangun! Seseorang memanjat terali jendela kita!" Sang ayah yang sedang gundah pun terjaga. Terhuyung-huyung, masih setengah sadar, menghampiri kamar tidur putrinya dan memandang ke luar. Seseorang sedang memanjat terali dengan diam-diam. "Apa-apaan ini? Sepertinya tidak cukup kesusahan yang kuhadapi," kata sang ayah. "Akan kutangkap banjingan itu." Ayah mengambil sebatang kayu api yang besar panjang di sisi perapian dan merayap ke luar.

Sang ayah beberapa hari ini tidak dapat tidur nyenyak. Pikirannya berputar dari satu persoalan ke persoalan lainnya. Tiga orang anak perempuan yang sudah layak menikah tidak menikah karena dia tidak memiliki mas kawin yang dapat disediakannya walau hanya untuk satu calon menantu saja. Kemiskinan telah menguras kekuatannya. Ia tidak sanggup lagi menyediakan makan yang cukup bagi mereka keluarga besarnya. Ia berpikir untuk menjual gadis-gadisnya ke tempat pelacuran lokal ~ tampaknya itu jalan keluar satu-satunya. Namun ia tidak tentram dengan keputusan itu. Sekarang ada lagi persoalan lain. Seorang pencuri masuk rumah. Entah apa yan ingin diambil pencuri itu dalam keluarga miskinnya.

Ketika ia membuka pintu, didengarnya suara berdebuk. Pengacau itu melemparkan sesuatu ke dalam kamar putri-putrinya dan sekarang menuruni terali. Ayah yang marah ini mengejar pengacau itu. Sekejab mereka terjatuh, terengah-engah, berhadapan dengan dinding batu. Sang ayah juga kehabisan napas untuk mengangkat gadanya. Dalam cahaya yang minim, ia melihat pengacau itu. Ternyata seorang pemuda yang juga kehabisan napas.

Putri yang tertua lari menghampiri. "Lihat ayah!," ia menjelaskan, "lihat apa yang dilemparkannya ke jendela kita." Tangannya memegang sebuah tas kulic penuh dengan uang.

"Apa arti semua ini?" tuntut sang ayah.Tawanannya menjelaskan bahwa ia seorang Kristen dan orang tuanya baru saja meninggal dengan mewariskan kekayaan yang besar. "Tuhan mengatakan," pemuda ini menjelaskan, "bahwa kita harus menjual harta kita dan memberikannya kepada orang miskin, kemudian mengikut-Nya. Saya ingin mengikut Yesus, maka ketika saya mengetahui kesulitanmu dan rencanamu. Apa yang dapat saya perbuat? Jika seseorang memiliki segala harta dunia ini dan melihat saudaranya membutuhkan, kemudian mengeraskan hati terhadap saudaranya itu dan tidak memberikannya, bagaimana kasih Allah bisa tinggal dalam orang ini?"

Ayah yang bingung, tetap mencurigai adanya suatu permainan, bertanya, "Mengapa engkau menyelinap ke rumah kami pada malam hari? Apa maumu? Siapa namamu?"

"Nama saya Nikholas. Saya datang secara sembunyi karena Yesus memerintahkan ketika engkau memberi kepada orang miskin dengan tangan kananmu, tangan kirimu tidak perlu tahu. Simpan pemberianmu sebagai rahasia. Simpanlah uang itu, tetapi saya mohon sesuatu sebagai imbalannya. Jangan beritahu siapapun mengenai hal ini. Jaga rahasia ini." Ayah itu berjanji dan untuk bertahun-tahun tidak menceritakan bagaimana ia mendapatkan mas kawin untuk gadis-gadisnya.

Sang Ayah mengingat terus nama pemuda baik hati itu, Nikholas. Dia ingin menceritakan kebaikan hati Nikholas kepada orang lain yang juga mendapat pertolongan. Namun, dia ingat janjinya pada Nikholas. Dia pun tetap diam membisu ketika tetangganya bercerita misteri hadiah yang ditinggalkan pada malam hari.
                                                                                                                   

LAMPIRAN



                                                          Mengenai Nikholas

Nikholas dilahirkan pada abad ketiga di Patras, kota pelabuhan di Laut Mediterania. Ia tinggal di Myra, Lycia (sekarang bagian dari Demre, Turki). Ia adalah anak tunggal dari keluarga Kristen yang saleh dan kaya raya bernama Epiphanius dan Johanna atau Theophanes dan Nonna menurut versi lain. Setelah mereka meninggal, ia menjadi penerus harta warisan dari orangtuanya yang sangat banyak itu.

Alkisah ketika menjadi dewasa, Nikholas membuat perjalanan perubahan hidup ke Tanah Suci. Di Betlehem ia melihat tempat kelahiran Kristus. Ia berdiri di Bukit Zaitun di mana Kristus mengajar. Ia juga berdoa di kubur kosong, tempat kebangkitan Kristus. Perjalanan ini meneguhkan pikirannya bahwa Kristus sesungguhnya Allah beserta kita. Keyakinan teguh ini membentuk karir masa depannya.
Ketika ia berlayar pulang, kapalnya memasuki kancah badai besar. Nikholas berjuang bersama para kelasi mengikat layar dan menguasai kayuh. Dalam terpaan badai itu Nikholas dan para kelasi menyerahkan keselamatannya kepada Allah, ia pun bernasar untuk pergi ke gereja mengucap syukur setibanya kapal itu di daratan. Kapal Nikholas terdampar menjelang fajar dan membawa mereka tiba di tujuan. Secepatnya ia turun dan langsung pergi gereja untuk mengucap syukur karena dibebaskan dari badai.

Pada saat yang bersamaan, uskup di Myra meninggal dunia. Pemimpin gereja berdebat tentang penggantinya. Setelah melalui perdebatan panjang, seseorang menyarankan, "Kita tunggu keputusan Allah; orang yang pertama datang melalui pintu gereja besok pagi akan menjadi uskup yang baru." Ketika pintu gereja di buka, para pemimpin gereja menyambutnya di pintu gerbang dengan topi dan tongkat jabatan uskup. Tampaklah Nikholas berdiri di depan pintu. Maka ia pun disambut dan diangkat menjadi uskup termuda di dalam sejarah.

Tidak lama setelah itu, Uskup Nikholas menghadapi konflik dengan otoritas pemerintah. Peristiwa itu terjadi ketika bencana kelaparan melanda Myra. Hasil panen layu dan kering di ladang. Tidak ada makanan di manapun juga. Jemaat mencari Uskup Nikholas untuk melepaskan mereka dari kelaparan. Nikholas bersama dengan utusan jemaat berjuang mencari gandum. Terdengar kabar bahwa ada kapal yang membawa gandum di pelabuhan. Segera mereka pergi untuk membeli gandum. Namun, ternyata kapal gandum sudah dikuasai pemerintah. Eustathios, gubernur propinsi, menyita beberapa kapal berisi gandum di pelabuhan Andriaki. Pejabat yang korup itu menyembunyi gandum-gandum itu dan merencanakan untuk menahan gandum itu sampai tawaran tertinggi atas gandum itu tercapai. Nikholas meyingkapkan timbunan gandum itu dan mempermalukan gubernur sehingga melepaskan kapal-kapal itu. Semangat Nikholas membela rakyat membuat Nikholas harus berhadapan dengan Eustathios. Hubungan itu menjadi lebih buruk lagi ketika ia mempelajari proposal hukuman mati dari tiga tawanan politik. Nikholas mendesak Eustathios untuk membebaskan ketiga orang yang tidak bersalah itu. Namun, permintaan itu ditolak Eustathios. Nikholas mengambil inisiatif dan berlari ke alun-alun untuk menyelamatan para tawanan. Nikholas merebut pedang yang sedang terayun turun dari tangan algojo. Ia memotong ikatan tangan para tawanan dan membebaskan mereka.

Penganiayaan yang terus menerus

Pada 23 Februari 303, Kaisar Diokletianus mengeluarkan satu peraturan yang menjadi awal penganiayaan yang paling sistematis dan panjang atas gereja Kristen. Penganiayaan Diokletianus ditandai dengan serangan pertama yang terorganisir atas Alkitab. Eusebius, seorang saksi mata mengatakan, "Kata-kata tidak dapat menjelaskan penderitaan mengenaskan yang ditanggung oleh para martir ... mereka dicabik dari kepala sampai kaki dengan pecahan beling seperti cakar, sampai mati melepaskan mereka. Wanita-wanita diikat sebelah kakinya dan dipacang tinggi ke udara dengan kepala di bawah, tubuh mereka telanjang tanpa secarik pakaian pun ... aku berada di tempat itu dan melihat sendiri mereka dihukum mati ... pesta gila- gilaan itu berlangsung lama, pisau pembunuh itu menjadi muntul dan rusak sendiri. Pelaksana hukuman mati itu sendiri kehabisan nafas dan bergantian melaksanakan tugas." Uskup Nikholas mengambil bagian dalam perlawanan terhadap pemerintah yang kejam ini. Ia tertangkap di awal penganiayaan dan ditawan. Mereka memukulinya. Mereka mencap kulitnya. Mereka menggunakan tang-tang besi untuk menjepit berbagai bagian tubuh mereka. Kemudian dibiarkan sendiri di selnya sampai cukup kuat untuk mulai disiksa lagi.


Penganiayaan berlangsung bertahun-tahun. Namun, Nikholas tidak menyangkal bahwa Yesus adalah pribadi Ilahi.

Kaisar Diokletianus telah meninggal. Ia digantikan oleh Konstantinus. Konstantinus menghentikan penganiayaan. Namun, bagi Nikholas sekarang ia diperhadapkan dengan bahaya yang lebih besar, yang merusak Kekristenan secara perlahan-lahan. Saat itu berembang banyak pengajaran sesat. Arius, pengkhotbah terkenal dari Alexandria, mulai mengajarkan bahwa Kristus lebih rendah dari Allah, Ia mengajarkan bahwa Yesus bukan Allah menjadi manusia, tetapi sebagai roh ciptaan yang menjadi pengantara yang didagingkan ~ bukan Allah tetapi juga bukan manusia saja. Arius menyebarluaskan idenya dengan memasukkan dalam musik peminum yang terkenal di kalangan penyembah berhala. Nikholas melawan pengajaran palsu itu dengan berkhotbah dan menjelaskan kepada orang-orang mengenai Yesus, menunjukkan ayat Alkitab seperti Kolose 2:9: "Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan keAllahan.";Yohanes 14:9: "Yesus berkata: "Barang siapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa.";Yohanes 1:1,14: "Pada mulanya adalah Firman: Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah ... Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita ..."; Ibrani 1:3: "Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah."

Nikholas menghabiskan sisa hidupnya di Myra untuk memperhatikan yang sakit, merawat yatim piatu, melindungi orang miskin dari pemeras-pemeras dan mempertahankan hak-hak legal orang Yahudi. Ia sering bermain dengan anak-anak. Ia mengijinkan anak-anak jalanan memakai topi bishop supaya mereka memiliki kebanggaan. Ia meninggal pada 343 M dan dijadikan orang suci, Santa. Kemurahan hati dan kasihnya kepada anak-anak terus berkembang sehingga tidak hilang dalam legenda Santa Klaus. Kisah Santa Klaus menjadi bagian dari tradisi Natal di dunia barat, Jepang, dan beberapa bagian Asia Timur, dan dirayakan pada 6 Desember.

Sumber:
http://reformed.sabda.org node/102 dan https://id.m.wikipedia.org/wiki/Sinterklas


A R S I P
| derap desember 0415 | derap januari 0116 | derap januari 0216 | derap januari 0316 |
| derap januari 0416 | derap januari 0516 | derap februari 0116 | derap februari 0216 | derap februari 0316 |
| derap februari 0416 | derap maret 0116 | derap maret 0216 | derap maret 0316 | derap maret 0416 |
 | derap april 0116 | derap april 0216 | derap april 0316 | derap april 0416 | derap mei 0116 |

 | derap mei 0216 | derap mei 0316 | derap mei 0416 |derap mei 0516 |derap juni 0116 | derap juni 0216 |
 | derap juni 0316 | derap juni 0416 |derap juli 0116 | derap juli 0216 | derap juli 0316 | derap juli 0416 |  |derap juli 0516 | derap agustus 0116 | derap agustus 0216 | derap agustus 0316 | derap agustus 0416 |
| derap september 0116 | derap september 0216 | derap september 0316 | derap september 0416 |
| derap oktober 0116 | derap oktober 0216 | derap oktober 0316 | derap oktober 0416 |
| derap oktober 0516 | derap nopember 0116 | derap nopember 0216 | derap nopember 0316 |
|derap nopember 0416 | derap desember 0116 |

 

Sahabat Surgawi,
 Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja antar denominasi OnLine
www.sahabatsurgawi.net - webmaster@sahabatsurgawi.net, Copyright 1999