HOME ABOUT US KESAKSIAN AGENDA GEREJA LINK CONTACT US



 

Derap Remaja Edisi 44
Juli-Desember 2018
Bahan Pembinaan Remaja Gereja Kristen Indonesia


Pembayaran dapat dilakukan dengan 2 cara :

1. Via Bank:
Tahapan BCA no. 0372999053, an. Wisnu Sapto Nugroho
Segera kirimkan pemberitahuan pengiriman bank.
2. Via Pos Wesel:
dengan cara memakai blangko yang dilampirkan dalam surat pengantar.
Pdt. Wisnu Sapto Nugroho, Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Alamat Sekretariat & Distribusi DERAP REMAJA:
Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Harga per eksemplar Rp. 40.000,-

 

Desember 
Hal-hal Akhir

 

•Kebangkitan Tubuh: Tubuh yang Mana?• Harmagedon • Antikristus •Pengharapan Kedatangan Anak Manusia • Langit Baru, Bumi Baru

 

Fokus
_____________________

 
Langit baru dan bumi baru menggambarkan sebuah masa depan indah yang disediakan Tuhan bagi manusia. Masa depan itu bukanlah sebuah masa yang terputus dari masa sekarang. Oleh karenanya melalui pelajaran kali ini remaja diajak untuk memiliki pemahaman yang benar mengenai langit yang baru dan bumi yang baru. Namun masa depan yang indah bukan untuk sekadar ditunggu kedatangannya saja, melainkan dipersiapkan dengan peran serta aktif untuk turut mewujudkannya.
 

Penjelasan Teks
_____________________


Perikop hari ini merupakan sedikit intipan akan masa depan yang didapatkan Yohanes lewat penglihatan yang diberikan Allah kepadanya di pulau Patmos (Yohanes 1:1,9). Intipan itu adalah mengenai:

Langit yang baru dan bumi yang baru (ayat 1)
Istilah "Iangit yang baru dan bumi yang baru" seringkali memunculkan pertanyaan apakah itu merupakan langit dan bumi yang sama sekali baru dan berbeda atau sama dengan langit dan bumi yang sudah ada saat ini? Joas Adiprasetya (dalam tulisan berjudul "Langit yang Baru dan Bumi yang Baru" yang dibawakan pada pra sidang raya wanita PGI. 13 Maret 2000) mengatakan bahwa kata asli (Yunani) untuk kata -baru" adalah kainos yang artinya "sesuatu yang menjadi baru" bukan"sesuatu yang lain". Kata itu mengandung sekaligus kontinuitas dan diskontinuitas. Langit dan bumi baru adalah langit dan bumi yang sama yang diciptakan Allah (kontinuitas), namun dicipta ulang atau diperbarui (diskontinuitas).Ada proses re-kreasi. Itulah sebabnya disebutkan di ayat 1 bahwa langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu dan lautpun tidak ada lagi.Artinya pembaruan langit dan bumi ini memberikan wajah yang sama sekali baru kepada langit dan bumi yang pertama.

Senada dengan itu W.A.Chriswell (1909-2002, seorang pendeta Gereja Baptis di Amerika, pendiri Chriswell College, serta penulis buku dan editor Chriswell Study Bible) mengatakan bahwa yang dimaksud dengan "langit dan bumi yang pertama telah berlalu" tidak berarti bahwa langit dan bumi yang sudah ada ini dimusnahkan dan diganti dengan yang baru, melainkan diubah secara luar biasa atau direnovasi secara luas. Ia menjelaskan bahwa kata "berlalu" (parerchomai) bukan berarti pemusnahan melainkan diubah dari satu kondisi ke kondisi yang lain (baru). (lihat: https://www.wacriswell.com/sermons/1963/the-new-heaven-and-new-earth/)

Yerusalem yang baru (ayat 2)
Yohanes melihat"kota yang kudus,Yerusalem yang baru, turun dari sorga...." Bagian ini dijelaskan oleh Joas Adiprasetya bahwa kota (polis) dalam teologi Wahyu selalu berarti orangnya bukan wilayah atau bangunannya.Artinya bukan hanya alam semesta saja yang diperbarui, melainkan juga manusia yang ada di dalamnya. Lalu,"turun dari sorga" berarti manusia-manusia baru tersebut adalah manusia-manusia baru yang "turun dari sorga" atau berasal dari Allah. Mereka adalah manusia yang mendiami "kota Allah" di mana Allah memerintah dan berdiam di sana, dan manusia yang ada di dalamnya hidup sepenuhnya memuliakan Allah.

Suasana di langit dan bumi yang baru

Gambaran tentang langit dan bumi baru serta Yerusalem baru di atas menunjukkan bahwa ada relasi yang intim dan indah antara manusia dengan Allah. Hal itu ditegaskan juga di ayat 3 bahwa "mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka. Relasi manusia dengan alam semestapun dipulihkan dengan wajah baru langit dan bumi. Relasi antar manusia akan terjalin dengan indah.Tidak ada manusia yang akan menyebabkan penderitaan kepada sesamanya . Di langit yang baru dan bumi yang baru manusia akan hidup dalam suasana surgawi sebab semua rasa sakit manusia seperti tangisan, maut, perkabungan, ratapan, atau dukacita tidak ada lagi (ayat 4).

Pengenaan
____________________


Penglihatan Yohanes menyingkapkan adanya masa depan yang indah. Ini menjadi pengharapan yang pasti bagi para pembacanya juga umat Allah yang hidup di zaman sekarang.Walaupun tidak diketahui kapan datangnya langit dan bumi baru tersebut, namun yang terpenting bukanlah kapan melainkan apa yang harus dipersiapkan umat Allah (termasuk remaja) untuk menyongsongnya. Umat Allah dapat berpanduan pada gambaran suasana relasi yang indah antara manusia dengan Allah, sesama, dan alam semesta dalam mempersiapkan diri dan berperan serta aktif untuk turut mewujudkannya.
 

Langkah-langkah Penyampaian
___________________________


1 . Mintalah remaja menyampaikan pendapatnya mengenai ungkapan "langit yang baru dan bumi yang baru".
2. Jelaskanlah pemahaman yang benar tentang langit yang baru dan bumi yang baru. Jelaskanlah pula apa makna Yerusalem yang baru (lihat Penjelasan Teks).
3. Jelaskan bagaimana suasana di langit dan bumi yang baru: relasi yang indah antara manusia dengan Allah, sesama, dan alam semesta (lihat Penjelasan Teks).
4. Sampaikanlah Pengenaan: bahwa remaja patut mempersiapkan diri dengan berperan aktif turut mewujudkan langit yang baru dan bumi yang baru. Peran aktif tersebut secara sederhana dapat dilakukan melalui berbagai hal yang sifatnya membawa pemulihan, rekonsiliasi, meniadakan dukacita-tangisan, dsb (menghadirkan suasana langit baru dan bumi baru). Misal: menjadi perantara perdamaian dari dua orang teman yang sedang berseteru, mengunjungi teman yang sakit, menjadi teman curhat yang bisa dipercaya bagi teman yang sedang mengalami pergumulan berat, peduli dan berbagi dengan orang yang membutuhkan pertolongan. menggunakan media sosial dengan bijak: tidak menyebar berita hoax atau negatif lain, tidak berkomentar nyinyir terhadap status orang lain, tidak membuat status yang bernada mendiskreditkan suku/agama/kelompok tertentu, dsb.
5. Sampaikan Ilustrasi. Beri keterangan bahwa kegiatan tersebut adalah salah satu contoh peran serta remaja dalam menghadirkan langit yang baru dan bumi yang baru.
6. Akhiri dengan Kegiatan.

Kegiatan
_____________________

Membuat video pendek tentang peran serta remaja menghadirkan suasana langit baru dan bumi baru
• Minta remaja membentuk 4 kelompok
• Minta tiap kelompok membuat video pendek dengan HP tentang peran serta remaja menghadirkan suasana langit baru dan bumi baru di 4 lingkungan: rumah, sekolah, gereja, dan masyarakat.Tiap kelompok memilih 1 lingkungan saja.
• Minta remaja mengunggahnya di youtube agar menjadi pesan positif bagi masyarakat yang melihatnya.
 

Ilustrasi
_____________________

 
Santri dan Remaja Gereja sebagai Duta.
Perdamaian Posted by pelitaadm in on April 5, 2017

Pesantren babakan ciwaringin memiliki historisitas yang gemilang, bagaimana peran dan kontribusinya dalam membentuk peradaban Indonesia. Ia hadir bersama nila-nilai keislaman yang tumbuh dan berkembang, seturut karakter dasar bangsa Indonesia: terbuka terhadap nilai nilai keragaman. Sebagaimana prinsip ini di kembangkan oleh dunia pesantren selama ini, bahwa cita-cita terbesar adanya pesantren adalah keislaman santri yang sepenuhnya berwawasan nusantara."
 

Pesantren merupakan salah satu tempat pendidikan agama Islam tertua di Indonesia. Dilihat dari sejarahnya, pesantren mengalami perkembangan yang begitu dinamis dalam menghadapi permasalahan zaman.
Dalam konteks saat ini, Indonesia sedang dirongrong oleh gerakan-gerakan intoleransi yang secure masif muncul ke permukaan, terkhusus di Jawa Barat, sebagaimana laporan dari beberapa lembaga survei terkait kasus intoleransi di Indonesia, dalam beberapa tahun terakhir Jawa barat menempati posisi pertama. Dan pesantren dalam hal ini, pesantren Bapenpori menjawab permasalahan tersebut dengan terbuka dan berani untuk menerima "Nyantri" pemuda-pemudi gereja.

Melihat fakta ini, akhirnya Pelita perdamaian berihtiar untuk menggeliatkan kembali proses dialog¬partisipasif dalam isu perdamaian, khususnya anak muda untuk saling terbuka dan toleransi antar umat beragama, sebagaimana asas berdirinya bangsa ini dibangun atas keberagamaan dan persatuan.
Melalui program yang bertajuk Living Value Education (LVE) atau pesantren lintas iman, GKI Klasis Cirebon (GKI Pamitran Cirebon & GKI Jatibarang) bersama Pelita bekerjasama dengan Pesantren Bapenpori untuk melakukan kegiatan bersama yaitu, pemuda-pemudi gereja belajar mengenai Islam selama 3 hari dua malam pada tanggal 31 maret sampai tanggal 2 april di pesantren Bapenpori Babakan.

Beragam motivasi dan tujuan dari peserta untuk mengikuti acara ini, sebagaimana yang dikatakan oleh Jonathan Bagus Wicaksono (ketua remaja gereja pamitran), yaitu ingin menambah wawasan soal keilmuan islam di pesantren, dan juga persahabatan.Acara ini juga hendak mencairkan sebuah ketegangan antar umat beragama dalam hal ini Islam dan Kristen. Dan mengubah cara pandang mereka terhadap relasi antar agama yang lebih harmonis.

Menurut penuturan dari Cahyaning Tyas (salah satu peserta dari GKI Pamitran) ketika kami wawancara terkait persepsi dia sebelum dan sesudah mengikuti acara ini ialah:
"Ketika di sekolah kebanyakan temen temen muslim itu membanding bandingkan antara agama Islam dengan agama saya, terkadang itu menyakiti hati saya, tapi ketika saya mengikuti acara ini ternyata tidak semua orang muslim itu suka membanding-bandingkan agama, di sini temen-temen muslim itu yang pertama, mereka welcome banget orang-orangnya, dulu di sekolah negeri, pertama kita masuk orang orang pada ngeliatin kita karena seragam kita beda sendiri, pakai rok pendek,gak pakai kerudung, tapi disini kita gak pakai kerudung, lengan pendek, dan mereka tetep senyum dan welcome."

Begitupun menurut Agustin (peserta LVE yang masih SMP) "orang-orang di sini welcome banget, sampe berbagi kasur mereka tidurnya di selimut, pokoknya baik banget."

Pandangan Para Santri di Pesantren
Dalam prosesnya, peserta secara perlahan memahami bahwa perbedaan bukan menjadi penghalang untuk mereka berteman. Suasana ini mereka perlihatkan pada setiap jeda kebersamaan saat melakukan aktivitas di pesantren, di antaranya: ketika makan bersama, diskusi bersama, bahkan tak jarang dari mereka yang sengaja tidur pada larut malam untuk saling berbagi dan bertukar -baik dari pengalaman, kebiasaan, dan bahkan soal yang paling personal mengenai keyakinan.

Karena salah satu yang menjadi prinsip dari Pelita ialah menghadirkan ruang dialog dan pembelajaran serta pemahaman sebuah agama dan kepercayaan melalui sumbernya secara langsung. Misalnya ketika para santri ingin mengetahui secara mendalam tentang apa itu kristen, maka Pelita menghadirkan langsung penganut kristen, begitupun sebaliknya.
Pola ini yang terus kita jaga, sehingga peserta mendapatkan pemahaman secara utuh, yang kami sebut dengan pola interrelijius. Sehingga dari segi materi lebih menekankan pada pengetahuan pengetahuan dasar dan mendalam dari komunitas yang dituju dalam hal ini Pesantren, seperti sejarah pesantren babakan, Pengajian Sorogan, peran NU dan Pesancren dalam menghadapi permasalahan Bangsa, dan juga soal spritualitas agama-agama.
Dari kegiatan ini lahirlah harapan harapan baru, bahwa anak anak bangsa hari ini sedikitnya 50 orang telah berhasil membuka kesadaran dan pikirannya tentang pentingnya toleransi dan persatuan. Selama tiga hari acara ini berlangsung ikatan emosional dan persaudaraan antar mereka sudah terjalin.
Di akhir perjumpaan mereka, satu sama lain saling mengucapkan salam perpisahan dan pesan perdamaian, mereka saling mengucapkan "selamat menjadi duta perdamaian di Indonesia"

http://www.pelitaperdamaian.org/santri-dan-remaja-gereja-sebagai-duta-perdamaian/
 


 

Sahabat Surgawi,
 Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja antar denominasi OnLine
www.sahabatsurgawi.net - webmaster@sahabatsurgawi.net, Copyright © 1999