HOME ABOUT US KESAKSIAN AGENDA GEREJA LINK CONTACT US



 

Derap Remaja Edisi 43
Januari-Juni 2018
Bahan Pembinaan Remaja Gereja Kristen Indonesia


Pembayaran dapat dilakukan dengan 2 cara :

1. Via Bank:
Tahapan BCA no. 0372999053, an. Wisnu Sapto Nugroho
Segera kirimkan pemberitahuan pengiriman bank.
2. Via Pos Wesel:
dengan cara memakai blangko yang dilampirkan dalam surat pengantar.
Pdt. Wisnu Sapto Nugroho, Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Alamat Sekretariat & Distribusi DERAP REMAJA:
Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Harga per eksemplar Rp. 40.000,-

 

Februari 2018
Allah Bapa

 
26 Bapa Kami Yang di Surga   1
32 Bapa Yang Mahakasih   2
36 Bapa Pemelihara   3
40 Bapa Yang Mahatahu   4

Februari 2018 Minggu 3

Lukas 12:22-32
Bahan yang diperlukan: lembar fotokopi tabel

 

Fokus
_____________________


Dalam khazanah teologi, ada istilah dalam bahasa Latin: Providentia Dei. Apa itu? Kata Dei berarti: Allah. Sementara Providentia merupakan turunan kata providere. Secara harfiah providere diartikan: memandang ke depan, melihat terlebih dahulu terjadinya sesuatu, terlebih dulu mengambil tindakan atau menyediakan sesuatu. Dalam bahasa Inggris kita mengenal kata to provide yang berarti: menyediakan, mengadakan, memberikan. Karenanya, secara umum dipahami providentia Dei sebagai karya Allah yang menyediakan segala yang dibutuhkan ciptaan dalam rangka memelihara seluruh ciptaan-Nya. Itu berarti dalam istilah providentia Dei, ada pengakuan dan kepercayaan bahwa Allah Bapa bekerja memelihara umat manusia dengan kasih dan kuasa-Nya. Ia adalah Bapa yang Mahatahu apa yang menjadi kebutuhan kita dan Ia juga Bapa yang Mahakuasa untuk memenuhi apa yang kita butuhkan. Melalui pelajaran ini remaja meyakini dan mensyukuri pemeliharaan Allah Bapa dalam hidupnya.
 

Penjelasan Teks
_____________________


Perikop kali ini merupakan rangkaian pengajaran Yesus yang masih berkait dengan bagian sebelumnya yang berbicara mengenai mengumpulkan harta dan tidak menggantungkan hidup pada kekayaan. Pada bagian ini, Yesus memulainya dengan kalimat, "Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai...". Kata yang dipakai dalam bahasa Yunani untuk kata "kuatir" di sini adalah merimna, artinya bukan kuatir yang wajar, tapi kuatir yang amat sangat atau kuatir yang berlebihan. Yesus tidak ingin, anak-anak Allah hidupnya dipenuhi dengan kekuatiran yang berlebihan hanya pada hal-hal materi sehingga tidak dapat melihat dan mensyukuri pemeliharaan Allah yang penuh kasih dalam hidup rnereka. Karenanya Yesus mau mengajak para murid untuk hidup dalam keyakinan penuh pada pemeliharaan Allah.
Pertama-tama, Yesus mengajak para murid untuk memerhatikan pemeliharaan Allah dalam tiga hal yang tampak kecil dan kerap tak terperhatikan, yaitu:
- burung-burung gagak yang tidak menabur, menuai dan tidak punya lumbung untuk menyimpan makanan pun diberi makan sehingga hidupnya terpelihara (ay. 24)
bunga bakung yang tidak memintal dan menenun tapi bisa tumbuh dengan cantiknya sebagai pertanda ia diperhatikan Allah demikian rupa (ay. 27)
- rumput di ladang yang hidupnya sebentar saja didandani dan dipedulikan Tuhan (ay, 28)
Kalau Allah begitu memerhatikan dan memelihara hal-hal yang kelihatan kecil dan tidak berharga itu, terlebih lagi Ia memerhatikan kebutuhan dan hidup anak-anak-Nya yang dikasihi-Nya.
Kedua, Yesus mengingatkan soal kekuatiran yang justru hanya menambah masalah hidup. Ayat 27
menyatakan: "Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta pada jalan hidupnya?" Di sini Tuhan Yesus menantang para pengikut-Nya untuk menunjukkan apakah ada gunanya kita kuatir berlebihan di dalam hidup ini. Memperpanjang umur adalah obsesi banyak orang dari masa ke masa. Banyak cara dilakukan supaya umur bisa panjang. Yesus ingin mengingatkan bahwa kekuatiran tidak akan memperpanjang usia seseorang, bahkan walau untuk menambah sehasta saja (45 cm). Yang punya hidup adalah Allah, karenanya para murid diminta untuk percaya dan mempercayakan hidup pada pemeliharaan-Nya.
Ketiga, Yesus mengajak para murid untuk mencari kerajaan Allah maka semua yang dibutuhkan akan ditambahkan pada mereka (ay. 31 ).

Kekuatiran yang berlebihan pada dasarnya adalah ketidakpercayaan kepada Allah. Ketidakpercayaan kepada kuasa dan kasih-Nya yang sanggup untuk memelihara dan memenuhi segala kebutuhan manusia, termasuk makanan, minuman, pakaian dan kebutuhan¬kebutuhan lainnya. Kekuatiran yang berlebihan secara tidak langsung berarti menyangsikan Allah dan segala kekuatan-Nya. Untuk mengatasinya, Yesus , meminta para murid untuk percaya dan berserah penuh kepada Allah karena Allah Bapa tahu yang mereka perlukan (ay. 30: "Bapamu tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu"). Yang diminta dari para murid juga adalah mencari Kerajaan-Nya. Kerajaan Allah adalah keadaan di mana kehendak Allah diberlakukan. Itu berarti para murid diminta untuk menghadirkan keadaan seperti yang dikehendaki Allah. Salah satu caranya adalah dengan tidak memusatkan perhatian hanya kepada kepentingan dan pemuasan kebutuhan diri. Sebaliknya dengan menjadikan kehendak Allah Bapa sebagai pusat hidupnya.


Pengenaan
_____________________


Kuatir adalah satu hal yang mudah sekali menghampiri remaja di masa kini. Selain karena sedang dalam masa pubertas yang menimbulkan banyak gejolak perasaan dan ketidakpastian, banyaknya keinginan dan kebutuhan hidup yang makin kompleks, membuat remaja di masa kini kerap dipenuhi kekuatiran, contoh: kuatir tidak cantik, kuatir tidak punya teman, kuatir tidak bisa punya gadget yang paling mutakhir, kuatir tidak bisa masuk sekolah yang diinginkan. Dengan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi dan peradaban, tingkat kekuatiran seseorang bukannya menurun, malah makin meningkat. Kuatir sebenarnya bisa dipandang sebagai sesuatu yang positif dalam diri seseorang. Kuatir justru membuat orang jadi berpikir, menganalisa dan bertindak hati-hati.
Yang jadi masalah jika kuatir itu bertumbuh menjadi kuatir yang berlebihan. Di tengah kondisi seperti itu, remaja diajak untuk memaknai kehadiran Allah Bapa sebagai pemelihara kehidupan mereka. Jika ayah mereka di dunia begitu rupa bekerja keras sekuat tenaga mencoba memenuhi apa yang menjadi kebutuhan anak-anaknya, terlebih lagi Allah yang Mahakasih dan Mahakuasa itu akan menyediakan dan memenuhi apa yang mereka butuhkan karena Ia Mahatahu akan keperluan umat-Nya. Bahkan pemeliharaan Sang Bapa juga tampak dan terasa dalam keadaan yang tidak mengenakan, misalnya saat remaja mengalami kegagalan, kesulitan, persoalan studi dan beratnya pergumulan hidup. Dalam keadaan tak mengenakkan itu justru kasih sayang dan pemeliharaan Bapa makin nyata, membuat remaja dapat kuat bertahan, tak jatuh putus asa dan menemukan jalan keluar dari persoalan yang ada.
 

Langkah-langkah Penyampaian
___________________________


1. Awali dengan menanyakan kepada beberapa remaja siapa Allah dalam hidup mereka? Tanyakan juga apakah mereka pernah mendengar istilah "providentia Dei"? Jelaskan secara singkat tentang Allah yang memelihara dan menyediakan apa yang kita butuhkan (Lihat bagian Fokus)
2. Masuk pada Penjelasan Teks. Tekankan soal kata merimna, yaitu kuatir berlebih-lebihan yang bisa membuat seseorang tidak dapat melihat, merasakan dan mensyukuri pemeliharaan Tuhan. Ingatkan tiga poin dari ajaran Yesus tentang bukti nyata pemeliharaan Allah dalam hal-hal kecil, kekuatiran tidak bisa menambah apa-apa dalam hidup kecuali menambah masalah, dan mengatasi kekuatiran dengan memercayakan hidup pada Bapa yang tahu kebutuhan anak-anak-Nya.
3. Untuk Pengenaan, ajak peserta masuk dalam Kegiatan (1). Berikan waktu 5 menit untuk mereka merenungkan bentuk-bentuk pemeliharaan Allah dalam hidup mereka.
4. Sampaikan Ilustrasi untuk memberi contoh bentuk pemeliharaan Allah yang nyata dalam hidup anak-anak-Nya. Pemeliharaan Allah itu tidak datang langsung dari surga, tapi datang pada saat yang tepat sesuai dengan kebutuhan dan melalui banyak pihak yang mau dipakai menjadi kepanjangan tangan Tuhan.
5. Berikan waktu 10 menit untuk melakukan Kegiatan (2), peserta membagikan pengalaman paling berkesan yang mereka miliki dalam kelompok kecil (3-4 orang) supaya saling mengingatkan dan membuat mereka peka akan pemeliharaan Allah dan mensyukurinya.
6. Akhiri dengan penengasan bahwa Allah Bapa yang penuh kasih itu peduli dan menyediakan apa yang menjadi kebutuhan, bukan sekadar memenuhi keinginan anak-anak-Nya. Ingatkan soal pemeliharaan Allah kerap tak dilihat dan dirasakan karena berbeda dengan yang diinginkan oleh remaja. Yang pasti pemeliharaan Bapa tepat waktu dan sesuai dengan kebutuhan anak-anak-Nya.

                           

Kegiatan
_____________________

1. Mengisi tabel: Bentuk Pemeliharaan Allah
 
Dalam Keluarga Di Sekolah Di Lingkungan Tempat Tinggal
Di Gereja
 
       
       
       

2. Sharing pengalaman: remaja saling menceritakan pengalaman paling berkesan tentang pemeliharaan Allah dalam hidupnya.
 

Ilustrasi
_____________________


Temanku Ingram Shia

Ingram Shia adalah teman Andar Ismail yang pernah menjadi rektor STT Taiwan di Taipei. Ia mengalami masa kecil yang susah. Ayahnya yang pendeta meninggal saat Ingram berusia 13 tahun. Untuk membiayai hidup, ibunya menerima rupa-rupa panggilan kerja. Tiga tahun kemudian, ibunya menjadi sakit dan semakin lemah, lalu meninggal dunia. Tinggallah Ingram yang berusia 16 tahun yang bertanggung jawab atas 3 orang adiknya yang masih kecil.
Pada hari-hari pertama setelah kematian ibunya, banyak anggota gereja yang mengirimkan makanan. Tetapi setelah itu, kiriman makanan makin langka, sementara itu Ingram belum juga mendapatkan pekerjaan. Akibatnya keempat anak ini tidak mempunyai persediaan makanan lagi. Pada malam hari, adik bungsu Ingram yang berusia empat tahun sering terbangun dan menangis karena lapar. Untuk menahan lapar itu, Ingram mengenyangkan adiknya dengan beberapa gelas air putih. Setelah kenyang dengan air. adiknya itupun tertidur lagi.
Namun pada suatu malam, adik bungsu itu tetap saja menangis karena lapar. Ingram bingung, ia tidak tahu apa yang harus diperbuatnya. Tiba-tiba seorang adiknya yang lain berkata,"Kakak berdoa untuk dia". Tetapi Ingram tidak tahu harus berdoa apa. Lalu seorang adiknya yang lain mengusulkan,"Doa Bapa kami saja". Kalau doa Bapa Kami memang mereka hafal. Lalu mereka pun mengucapkan doa Bapa Kami. Tetapi ketika mereka sampai pada kalimat, "...berikanlah kami pada hari ini makanan.,." keempat anak itu tiba-tiba menangis dengan meraung-raung sampai akhirnya mereka tertidur dalam isak tangis.
Keesokan paginya Ingram dikejutkan oleh bunyi ketukan pintu. Ternyata itu pendeta mereka yang datang membawa sebuah karung. "Tadi malam kami mendapat ubi. Ini untuk kalian. Dan saya membawa kabar. Ada lowongan kerja untuk kamu. Mulai sebentar lagi, pukul delapan..."
Langsung keempat anak itu sibuk membuat api untuk merebus ubi dan Ingram siap untuk pergi bekerja. Dua minggu kemudian Ingram mendapat pembayaran upahnya yang pertama. Uang itu diterimanya pada hari yang sungguh tepat, sebab pada hari itu ubi yang terakhir dari karung habis.
Mengenang peristiwa itu, Ingram berkata, "Saya tidak tahu harus berkata apa dalam doa pada malam itu... yang ada hanya harapan... harapan Tuhan menolong saya dan adik-adik... Walaupun begitu, Tuhan memberi apa yang kami perlukan."

(Dikutip dari Andar Ismail, Selamat Pagi, Tuhan!, Jakarta: BPK Gunung Mulia)


 

                                                                           


 

Sahabat Surgawi,
 Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja antar denominasi OnLine
www.sahabatsurgawi.net - webmaster@sahabatsurgawi.net, Copyright © 1999