HOME KESAKSIAN DOA ABOUT US CONTACT US LINK

 
















 
Cara mendapatkan Derap Remaja

Pembayaran dapat dilakukan dengan 2 cara :
1. Via Bank:
Tahapan BCA no. 0372999053, an. Wisnu Sapto Nugroho
Segera kirimkan pemberitahuan pengiriman bank.
2. Via Pos Wesel:
dengan cara memakai blangko yang dilampirkan dalam surat pengantar.
Pdt. Wisnu Sapto Nugroho, Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Alamat Sekretariat & Distribusi DERAP REMAJA:
Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281
Telp. (0274) 514721 Fax(0274) 543001

Harga per eksemplar Rp. 40.000,-
 

DERAP REMAJA EDISI 45
Januari - Juni 2019
Bahan Pembinaan Remaja Gereja Kristen Indonesia


Kepedulian Seorang Perwira | Dibebaskan dan Membebaskan | Antara Simpati dan Empati |
Kritik yang Membangun

    Menjadi Berkat
Bagi Banyak Orang

  Dibebaskan dan Membebaskan
 

fokus
Penindasan nnerupakan realita yang terjadi di mana-mana. Penindasan dilakukan oleh kaum yang kuat kepada kaum yang lemah. Walaupun secara umum pasti ada kaum lemah dan kuat, namun penindasan bukanlah sesuatu yang wajar. Penindasan adalah hal yang tidak benar sebab akan mengakibatkan ketidakseimbangan dalam kehidupan. Kaum tertindas akan menjadi kaum yang terbelakang dan menderita, sementara kaum yang menindas dapat menikmati kesejahteraan hidup. Kaum tertindas tidak dapat merasakan manisnya hidup dalam kebebasan sebab kehidupannya terkekang dan terkendali oleh kontrol kaum penindas. Padahal, mereka yang lemah dan tertindas itu mempunyai hak untuk hidup yang layak dan merdeka. Melalui pelajaran hari ini remaja diajak untuk memahami bahwa realitas penindasan terjadi di sekitarnya dan remaja diajak untuk menjadi pembebas, bukan penindas.

penjelasan teks
Perbudakan di Israel telah ada sejak zaman Perjanjian Lama. Alkitab mencatat bahwa para budak berasal dari tawanan perang (Bil. 31:9, I Sam. 4:9), dibeli dari pedagang budak (Kej. 17:13, Pkh. 2:7), anak budak yang lahir di rumah tuannya (Kej. 15:3, Yes. 2:14), sebagai ganti rugi apabila seseorang ketahuan mencuri dan tidak mampu membayar dendanya (Kel. 22:3), orang yang tidak mampu membayar hutang (2 Raj. 4:1, Ul. 15:12-18), korban penculikan (Kej. 37:27-28), atau atas kemauannya sendiri (Im. 25:39-43).

Ada dua golongan budak di Israel, yakni budak berkebangsaan asing (non Ibrani) dan budak Ibrani. Budak yang dimaksud dalam perikop hari ini adalah budak Ibrani. Dr. Christopher Wright menyebutkan dalam bukunya "Living as the People of God"(1989) bahwa istilah "Ibrani" (ay. 12) tidak selalu berarti orang Israel, tetapi merujuk kepada lapisan masyarakat yang tidak mempunyai tanah, tidak mempunyai pijakan, dan sering tidak mempunyai negara di seluruh Timur Tengah Kuno. Jadi, budak Ibrani yang dibebaskan setelah enam tahun bekerja, mereka tidak mempunyai tanah setelah kebebasannya. lni sangat berbeda dengan orang Israel yang menyerahkan dirinya untuk menjadi budak sewaan/orang upahan (sakyir-lbrani atau hired servant-Inggris) sebab mereka mempunyai tanah namun menggadaikannya karena hutang dan kemiskinan, tetapi yang kembali memiliki tanahnya dan kemerdekaannya pada tahun Yobel (Im. 25:39-41).

Oleh karena itu, budak Ibrani yang dibebaskan setelah enam tahun bekerja tidak boleh dilepaskan dengan tangan hampa, melainkan harus dibekali dengan pemberian-pemberian yang melimpah (ay. 13-14). Kemerdekaan para budak setelah enam tahun pengabdian bukan hanya dalam wujud status, melainkan juga hak-hak lahiriah, seperti harta kekayaan. lni akan menjadi bekal mereka memulai kehidupan sebagai orang merdeka.
Dasar pembebasan para budak itu adalah dibebaskannya orang Israel sendiri atas perbudakan di tanah Mesir oleh Tuhan (ay. 15). Selama 430 tahun Israel diam di Mesir dan menjadi budak di sana (Kel. 12:40). Tentu tidak ada orang Israel yang melupakan pengalaman pahitnya menjadi budak di Mesir. Mereka ditindas dengan kerja paksa untuk membangun kota perbekalan Pitom dan Raamses. Mereka diperlakukan dengan kejam dan dipaksa melakukan pekerjaan berat di berbagai proyek pembangunan dan ladang. Masih belum cukup, raja Mesir juga memerintahkan para bidan untuk membunuh semua bayi laki-laki yang dilahirkan para perempuan Israel, namun itu tidak mereka lakukan. Akhirnya Firaun memerintahkan semua bayi laki-laki Israel dibuang ke Sungai Nil. Semua itu tertulis dalam Kel. 1:11-22. Pada akhirnya Tuhan sendiri membebaskan orang Israel dari perbudakan di Mesir.

Sekarang Tuhan menghendaki supaya bangsa Israel mengingat bahwa mereka telah dibebaskan dan ditebus oleh Tuhan sehingga tidak bersikap semena-mena terhadap para budak mereka (ay. 15). Allah ingin umat-Nya mengingat bahwa kebebasan mereka dari perbudakan di Mesir mereka dapatkan dengan cuma-cuma. Bahkan Tuhan membuat orang Mesir bermurah hati memberikan berbagai pemberian berupa emas, perak, dan kain kepada orang Israel sebagai bekal sebelum mereka meninggalkan Mesir (Kel. 11:2-3, 12:35-36). Hal ini persis seperti yang sekarang harus orang Israel lakukan kepada para budak Ibrani yang mereka bebaskan. Para budak itu harus dibekali dengan kambing domba, gandum, dan anggur (ay. 14, Alkitab BIS). Enam tahun lamanya para tuan telah diuntungkan dengan jasa para budak yang bekerja bagi mereka tanpa dibayar meskipun sebenarnya jasa budak itu setara dengan dua kali upah seorang pekerja harian di Israel (ay. 18). Keuntungan itu tidak selayaknya dinikmati selamanya oleh para tuan. Mereka tidak boleh memperdaya sesamanya demi keuntungan sendiri. Tuhan mengajarkan umat Israel untuk memberdayakan sesama, bukan memperdayakan sesama. Umat Israel dibebaskan untuk membebaskan.

Secara logika, sepertinya mustahil apabila budak yang telah dibebaskan ingin tetap menjadi budak sampai akhir hayatnya. Kenyataannya, ada budak yang ingin tetap mengabdikan diri kepada tuannya meskipun telah dibebaskan. Sesuai hukum yang berlaku, apabila budak yang telah dibebaskan ternyata masih mau bekerja pada tuannya, maka tuannya harus menerima dan mempekerjakannya. Hukum ini menunjukkan bahwa Tuhan menghendaki umat Israel untuk hidup dalam rasa solidaritas dan kepekaan yang dalam terhadap sesamanya, yang diwujudkan melalui sikap simpati dan empati terhadap budak yang tetap ingin mengabdi kepada tuannya.

Realitas pembebasan bagi budak Ibrani setelah bekerja enam tahun lamanya dan juga penerimaan bagi para budak yang ingin terus mengabdi kepada tuannya dengan demikian jelas merupakan realitas yang sangat berbeda dengan realitas perbudakan yang pada umumnya terjadi di zaman itu. Pada zaman itu perlakuan semena-mena terhadap para budak dianggap wajar. Para budak diperlakukan sebagai mesin kerja tanpa peri kemanusiaan. Para budak tidak mempunyai hak apapun lagi atas dirinya sendiri. Tidak ada hukum yang menjanjikan perlindungan atau kelayakan perlakuan bagi para budak. Namun tidak demikian di Israel. Wright (1989) mendukung kenyataan tersebut dengan menyebutkan bahwa para budak memiliki lebih banyak hak dan perlindungan hukum di Israel daripada di masyarakat lain sezamannya, dan mereka diperlakukan lebih manusiawi, sesuai yang dituntut oleh hukum Allah. Realitas ini menegaskan penindasan bukanlah agenda bangsa Israel dalam menikmati kebebasannya, melainkan rahmat yang boleh dinikmati dan dibagikan kepada sesamanya kaum tertindas.

pengenaan
Ada banyak contoh penindasan yang terjadi di masyarakat, misalnya penindasan oleh kaum elit kepada masyarakat yang tingkat sosialnya rendah, penindasan kepada perempuan oleh norma¬norma tertentu dalam masyarakat, penindasan oleh kaum penguasa kepada rakyat jelata, dan sebagainya.Itu semua benar dan nyata, namun remaja juga perlu tahu bahwa penindasan bukanlah sebuah realitas yang terjadi jauh di luar diri remaja. Penindasan bahkan dapat dilakukan oleh remaja sebab pada dasarnya penindasan dilakukan oleh kaum yang kuat (atau menganggap diri kuat) terhadap kaum yang lemah (atau yang dianggap lemah).

Contoh penindasan yang paling nyata dalam kehidupan remaja misalnya bullying. Bullying adalah suatu tindakan negatif yang dilakukan oleh seseorang ataupun sekelompok orang terhadap orang lain secara berulang-ulang. Tindakan negatif yang dimaksud meliputi tindakan-tindakan menyakiti, melukai, atau membuat seseorang merasa tidak nyaman. Suatu perilaku dapat dikatakan sebagai bullying apabila terdapat ketidakseimbangan kekuatan antara pihak yang melakukan bullying dengan pihak yang mendapat perlakuan bullying. Artinya pihak pelaku memiliki kekuatan yang lebih besar dibandingkan dengan korban. Para pelaku bullying memiliki hasrat yang disengaja dan disadari untuk menyakiti seseorang dan membuatnya mengalami tekanan. Mereka melakukan bullying dengan beragam cara seperti penindasan fisik (menyandung, mendorong, memukul, menjambak, hingga melempari dengan benda-benda), penindasan verbal (memberi julukan, mengucapkan kata-kata menyakitkan atau merendahkan, melontarkan ucapan yang tidak pantas), pengucilan (memusuhi dan mengabaikan), atau penindasan dunia maya (menyebar gosip di media sosial dengan menggunakan akun palsu).

Jadi, penindasan bukanlah sesuatu yang mustahil dilakukan oleh remaja. Kapan saja remaja merasa diri sebagai pihak yang kuat lalu melakukan tekanan kepada pihak yang dianggap lemah, maka penindasan telah terjadi. Padahal Tuhan menghendaki umat-Nya untuk tidak melakukan penindasan, melainkan pembebasan. Sebagaimana umat Israel diperintahkan Allah untuk membebaskan budaknya sesuai dengan hukum Tuhan dan secara manusiawi, demikian pula remaja Kristen dipanggil untuk menjadi pembebas bagi sesama yang tertindas. Tentu bukan dengan cara yang salah kaprah, misalnya dengan memukuli orang yang sudah mengejek sahabatnya, melainkan dengan cara¬cara yang sesuai hukum Tuhan dan menghargai kemanusiaan.

langkah-langkah penyampaian
1. Tunjukkan gambar budak (Ilustrasi 1). Minta remaja memberikan pendapat mereka tentang apakah budak itu dan bagaimanakah perlakuan terhadap para budak yang mereka ketahui.
2. Sampaikan pengantar bahwa penindasan dalam bentuk perbudakan telah terjadi sejak zaman dahulu kala, termasuk di dalam masyarakat Israel.
3. Jelaskan bagaimanakah orang bisa menjadi budak di Israel dan siapa sajakah yang menjadi budak itu. Lalu jelaskan tentang budak lbrani dan bagaimana hukum Tuhan mengatur hak bagi budak Ibrani (lihat Penjelasan Teks).
4. Sampaikanlah Pengenaan dengan terlebih dahulu menanyakan kepada remaja apa sajakah bentuk-bentuk penindasan yang mereka ketahui terjadi di sekitarnya. Lalu jelaskan bahwa penindasan bukanlah sebuah realitas yang jauh dari kehidupan remaja, seperti contoh-contoh yang mungkin tadi disebutkan, melainkan dekat dan sangat mungkin dilakukan remaja sendiri.
5. Ceritakanlah Ilustrasi 2. Sampaikanlah bahwa Sanita telah menggunakan kebebasannya dengan sebaik-baiknya untuk memperjuangkan kebebasan bagi orang lain:
6. Akhiri dengan Kegiatan.

kegiatan
Remaja menginspirasi anggota jemaat untuk mengumpulkan dana bagi anak-anak sekolah yang menunggak uang sekolah karena tidak mampu (miskin).
Teknis pelaksanaan:
• Hubungi dan bekerja samalah dengan salah satu sekolah yang akan diberikan dana. Gali informasi yang diperlukan terkait kegiatan ini, misalnya berapa jumlah anak yang menunggak dan berapa jumlah uang tunggakan SPP.
• Hubungi majelis jemaat untuk menginformasikan adanya kegiatan ini dan meminta dukungan majelis jemaat untuk memberikan dukungan terkait yang diperlukan, seperti misalnya memasukkannya dalam warta tulisan dan lisan dalam kebaktian umum.
• Membuat publikasi yang menarik dengan multi media untuk ditayangkan di kebaktian umum (bisa ditayangkan pada saat disampaikan warta lisan, khusus warta lisan kegiatan ini mungkin akan lebih menginspirasi jika disampaikan oleh wakil dari remaja).
• Mengkoordinir dana yang terkumpul sampai memberikannya kepada wakil dari sekolah yang bersangkutan.
Pelajaran dari kegiatan ini adalah remaja diajak untuk mensyukuri kebebasan memperoleh pendidikan yang dimilikinya dan terpanggil untuk bersolidaritas dengan mereka yang belum terbebas dari persoalan biaya sekolah mereka.

ilustrasi 1
 

ilustrasi 2
Sungguh Menginspirasi, Wanita Hebat Ini Selamatkan Anak Indonesia dari Pernikahan Dini

(Ditulis oleh Ellisa Gunawan)

Sumber.com — Sanita namanya. Wanita asal Jawa Tengah ini tumbuh dalam keluarga yang kekurangan. Sanita di kala itu masih berusia 12 tahun dan duduk di bangku sekolah; namun Sanita mengerti mengapa orang tuanya berencana untuk segera menikahkannya. Ayah Sanita bekerja sebagai tukang kayu dan ibunya pedagang. Keuangan yang serba pas¬pasan membuat orang tua Sanita berencana menikahkan anaknya, kendati usianya masih belum cukup umur, guna mengurangi beban ekonomi keluarga. Kisah hidup Sanita ini sempat dimuat oleh media asing Huffington Post.
 

Sanita lantas bertanya kepada orang tuanya, "Berapa harga saya?" Sanita yang lebih mementingkan pendidikan percaya, bahwa pendidikan itu penting. Menurutnya, pendidikan dapat memberikannya sebuah kesempatan untuk melakukan sesuatu yang berarti di hidupnya. Hal inilah yang dikatakan Sanita kepada orang tuanya. Sanita juga berjanji, bahwa jika orang tuanya melupakan ide tersebut, kelak Sanita akan membayar semua biaya yang telah dikeluarkan orang tuanya untuk Sanita. Orang tua Sanita akhirnya menyerah dan tidak lagi memaksakan anaknya menikah di usia dini.
 

Menjadi Pembela Hak Asasi Perempuan
Sepuluh tahun kemudian, Sanita kini telah menjadi aktivis yang memperjuangkan hak asasi perempuan. Sanita bertekad untuk membantu semua perempuan mencapai tujuan dan cita-cita hidup yang sepenuhnya.
Bulan Mei 2017 silam, Sanita mewakili Indonesia di Asian Development Bank, Forum Tahunan Pemuda Asia yang ke-5. Dalam acara internasional ini, Sanita mendesak para pemimpin dunia untuk melibatkan kaum pemuda dalam upaya mereka menghadapi berbagai penindasan yang dialami oleh pemuda di Asia dan Pasifik, khususnya kaum perempuan.

Apa yang ingin disampaikan Sanita kepada kaum perempuan muda, khususnya di Indonesia?
"Katakan tidak pada pernikahan (dini) dan bersikaplah berani. Satu-satunya solusi agar remaja perempuan muda dapat menghindari pernikahan adalah melalui pendidikan... Saya hampir menjadi korban dari pernikahan di bawah umur, dan saya telah melihat bagaimana perempuan lainnya menjadi korban dalam hal ini, jadi saya pikir,`hidup remaja muda seharusnya tidak seperti ini. Saya harus melakukan sesuatu'."
Sanita kini berhasil membayar uang kuliah sendiri. Sanita juga bisa pergi ke Jepang untuk bertemu dengan pihak Asian Development Bank dan berkesempatan untuk memperjuangkan hak remaja perempuan.
Persepsi yang Secara Perlahan Berubah
Ketika orang tua Sanita ditanya mengapa belum ada pria yang melamar Sanita, mereka menjawab, karena Sanita itu terlalu berharga. Bahkan kini, saat Sanita mengunjungi daerah asalnya di Jawa Tengah, para orang tua menasehati anak-anak mereka untuk menjadi seperti Sanita yang pintar, berani dan bahkan berkuliah di universitas.

Bagaimana cara Sanita menghentikan pernikahan anak bawah umur? Menurutnya, masyarakat perlu mengubah pemikiran dari pemimpin masyarakat dan agama. Masyarakat juga perlu mendorong kaum remaja perempuan dan wanita dengan pendidikan, pelatihan dan pengembangan perempuan. Menurut Sanita, perempuan yang tidak mengenyam pendidikan atau tidak memiliki kemampuan apa pun akan berpikir bahwa pernikahan adalah satu-satunya jalan keluar. Lain, Sanita juga percaya bahwa peraturan perlu ditegakkan dengan benar. Sanita juga menyampaikan bahwa pemerintah Indonesia harus lebih peduli lagi dengan kaum pemuda. Kaum pemuda termasuk perempuan perlu dilibatkan dalam perencanaan, implementasi, pemantauan dan evaluasi seluruh program yang berkaitan dengan pemuda.

"Program-program yang dirancang untuk membantu remaja seringkali dipimpin oleh orang dewasa. Mengapa kami tidak dilibatkan?"Kini, Kemenpora Indonesia akhirnya melibatkan organisasi pemuda untuk mengembangkan strategi guna memperjuangkan dan melindungi hak asasi anak.
Sanita pun membentuk sebuah koalisi untuk pemuda di tahun 2016: Youth Coalition for Girls dengan bantuan Plan International. Koalisi ini didirikan untuk memperjuangkan hak asasi perempuan dan kesetaraan gender. Sanita kini menjadi wakil presiden di koalisi tersebut.

(Sumber: https://www.sumber.com/edukasi/berita-terkini-edukasi/sumber/sungguh-menginspirasi,wanita-hebat-ini-selamatkan-anak-indonesia-dari-pernikahan-dini.html)
 

 


 

A R S I P  
| derap desember 0118 | derap desember 0218 | derap desember 0318 |
| derap desember 0418 | derap desember 0518 | derap januari 0119 | derap januari 0219 | derap januari 0319 | derap januari 0419 |
| derap februari 0119 |
 


Sahabat Surgawi
,
 Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja antar denominasi OnLine
www.sahabatsurgawi.net - webmaster@sahabatsurgawi.net, Copyright © 1999