HOME KESAKSIAN DOA ABOUT US CONTACT US LINK

 
















 
Cara mendapatkan Derap Remaja

Pembayaran dapat dilakukan dengan 2 cara :
1. Via Bank:
Tahapan BCA no. 0372999053, an. Wisnu Sapto Nugroho
Segera kirimkan pemberitahuan pengiriman bank.
2. Via Pos Wesel:
dengan cara memakai blangko yang dilampirkan dalam surat pengantar.
Pdt. Wisnu Sapto Nugroho, Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Alamat Sekretariat & Distribusi DERAP REMAJA:
Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281
Telp. (0274) 514721 Fax(0274) 543001

Harga per eksemplar Rp. 40.000,-
 

DERAP REMAJA EDISI 45
Januari - Juni 2019
Bahan Pembinaan Remaja Gereja Kristen Indonesia


Kepedulian Seorang Perwira | Dibebaskan dan Membebaskan | Antara Simpati dan Empati |
Kritik yang Membangun

    Menjadi Berkat
Bagi Banyak Orang

  Antara Simpati dan Empati
 

fokus
Sebagai makhluk sosial, seorang remaja membutuhkan orang lain dalam menjalani hidup. Remaja menjalin relasi dengan sesamanya, entah relasi biasa, dekat, atau jauh. Dalam relasi itu remaja pun mengungkapkan rupa-rupa perhatian dan perasaan terhadap sesamanya. Simpati dan empati merupakan bentuk sikap dari ungkapan perhatian dan perasaan itu. Apa perbedaan antara simpati dan empati? Apa kata Alkitab tentang relasi baik antara orang percaya dengan sesamanya? Pelajaran hari ini membahas hal itu dengan tujuan agar remaja dapat mengembangkan kualitas relasi kepada sesamanya sesuai dengan iman Kristen.
 
Materi ini membutuhkan: alat tulis

penjelasan teks
Dalam rangka meneguhkan jemaat Tuhan Yesus di kota Korintus untuk bersaksi bagi kemuliaan Allah, Rasul Paulus mengemukakan nasihat-nasihat pastoral praktis tentang kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat luas (Yahudi, Yunani, dan lain-lainnya). Paulus menegaskan bahwa arah hati kepada Allah merupakan pokok terpenting dalam menjalani hidup keseharian. Untuk menerangkan hal itu, pada bagian awal, Paulus memaparkan kisah nenek moyang bangsa Israel, yang menempuh perjalanan dari Mesir ke tanah Kanaan bersama dengan Musa, sebagai suatu peringatan tentang

bahaya ketidaksetiaan dan ketidaktaatan kepada Allah (I Kor. 10:1-dst; perhatian tentang bahaya itu ditegaskan oleh Paulus pada ayat 5 dengan pernyataan: "mereka ditewaskan di padang gurun"). Paulus rindu agar jemaat Korintus menjalani hidup bukan sebagai penyembah-penyembah berhala (idola, lihat ay. 14), tetapi sebagai pengikut-pengikut Tuhan yang setia dan taat kepada Allah.
Hidup mengarahkan hati kepada Allah bukan berarti menjalani keseharian melulu dengan ritual keagamaan atau kesalehan yang ketat dan kaku. ltu bukan berarti juga orang hidup mengasingkan diri dari dunia keseharian demi nama Tuhan. Bukan mentang-mentang mengarahkan hati kepada Allah, taat dan setia kepada Allah, lantas orang tidak peduli kepada dunia sekitarnya. Bukan! Justru, bagi Paulus, hidup orang yang mengarahkan hatinya kepada Allah (seharusnya) adalah hidup yang menjadi berkat bagi banyak orang lain dan dunia sekitarnya. Dalam ungkapan Paulus, orang itu akan "berusaha menyenangkan hati semua orang dalam segala hal, bukan untuk kepentingan diriku, tetapi untuk kepentingan orang banyak, supaya mereka beroleh selamat" (ay. 33). Jadi, secara praktis mengarahkan hati kepada Allah ditunjukkan dengan "mengungkapkan hati", yakni kasih yang tulus, kepada banyak orang lain dan dunia ini demi kemuliaan Allah.

Menariknya, Rasul Paulus memaparkan hal-hal praktis yang para pengikut Kristus seharusnya lakukan dalam berelasi dengan banyak orang lain di sekitarnya. Secara khusus, relasi yang disinggung oleh Paulus adalah berkaitan dengan undangan makan orang bukan pengikut Kristus (ay. 27 dst). Dalam hal ini Paulus menyoroti bukan tentang makanan yang boleh atau tidak boleh dimakan, tetapi tentang relasi antara pengikut Kristus dan orang yang mengundang makan. Yesus menyampaikan, "Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang. ...Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu yang masuk ke dalam mulut turun ke dalam perut lalu dibuang di jamban? Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang" (Mat. 15:11,17).
Dalam pikiran Rasul Paulus, "pemeriksaan karena keberatan-keberatan hati nurani" sebagaimana dilakukan oleh orang-orang Farisi tentang makanan, akan menyebabkan pihak yang mengundang makan menjadi tidak enak hati, dan pada gilirannya relasi yang terbangun menjadi sangat kaku dan beku. Dengan perkataan lain, Paulus rindu agar para pengikut Kristus tidak terjerat pada kehidupan relasional yang kaku dan beku oleh peraturan-peraturan atau ketetapan-ketetapan yang sebenarnya buatan manusia sendiri. Pengikut Kristus seharusnya mampu merayakan hidup, terutama dalam berelasi dengan orang lain, dengan melampaui segala peraturan atau ketetapan, demi kemuliaan Allah. Ada nilai luhur (virtue) yang seharusnya digapai, yaitu "kasih kepada Allah, sesama manusia dan diri sendiri". Fleksibilitas oleh karena kasih adalah bagian dari iman Kristen!

Perhatian kepada kepentingan orang lain itu menjadi penekanan dalam nasihat Rasul Paulus kepada Jemaat Korintus. Dalam hal undangan makan, hal itu ditunjukkan dengan pernyataan, "Tetapi kalau seorang berkata kepadamu: 'Itu persembahan berhala!' janganlah engkau memakannya, oleh karena
dia yang mengatakan hal itu kepadamu dan karena keberatan-keberatan hati nurani orang lain itu" (ayat 28-29). Tampak jelas, di sini Paulus lebih mengambil sikap berdasarkan kepentingan orang lain, bukan kepentingan diri sendiri. Dengan mengutamakan kepentingan orang lain "supaya beroleh selamat", bagi Paulus, itu adalah melakukan sesuatu untuk kemuliaan Allah. Itu sebabnya Paulus menyampaikan, "Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah" (ay. 31).

Paulus menghubungkan antara mengungkapkan rasa perhatian dan perasaan kepada banyak orang lain dengan memuliakan Allah. Baginya, berelasi dengan orang lain itu seharusnya berlangsung dalam kedamaian yang sejati pada diri sendiri, orang lain, dan dunia sekitarnya. Oleh karena itu, relasi antara aku dengan orang lain seharusnya tidak menimbulkan syak dalam hati orang lain itu: "Janganlah kamu menimbulkan syak dalam hati orang, baik orang Yahudi atau orang Yunani, maupun Jemaat Allah" (ay. 32). Kata 'syak' berarti 'rasa kurang percaya (sangsi, curiga, tidak yakin, raguČragu)'. Dalam bahasa Yunani dan juga terjemahan Alkitab NRSV, ayat 32 ini merupakan kalimat positif: "Give no offense (bahasa Yunani: aproskopoi) to Jews or to Greeks or to the church of God". Kata 'aproskopoi' atau 'no offense' yang dalam terjemahan bahasa Indonesia dikaitkan dengan kata 'syak' sebenarnya berarti 'ketidaktersinggungan'. Jadi, Paulus jelas menegaskan agar pengikut-pengikut Kristus, dalam berelasi dengan orang lain, tidak menimbulkan ketersinggungan pada orang lain itu. Sebaliknya, seperti dinyatakan pada ayat 33, relasi dengan orang lain seharusnya dalam upaya "menyenangkan hati semua orang untuk kepentingan orang banyak, supaya mereka beroleh
selamat." Di sini pengikut Kristus seharusnya berelasi dengan sesamanya dalam sikap empati, yaitu sikap "di dalam (en) perasaan atau penderitaan (pathos)" orang lain. Ini berbeda dari sikap simpati yang ditunjukkan dengan sikap "bersama (syn) perasaan atau penderitaan (pathos)" orang lain.
Perlu dikemukakan di sini, pernyataan ayat 33: "berusaha menyenangkan hati semua orang dalam segala hal" sangat mungkin untuk disalahartikan sebagai sikap yang tak berpendirian. Padahal jika dibaca secara utuh sampai dengan I Kor. 11:1, pernyataan itu merupakan sebuah panggilan untuk hidup sebagai pengikut Kristus yang berusaha mengasihi Allah dan sesamanya.

pengenaan
Ketidakpedulian kepada orang lain masih dijumpai dalam hidup kita sehari-hari. Masih banyak orang hidup mengutamakan kepentingannya sendiri daripada kepentingan banyak orang lain. Tak dapatdisembunyikan, ini pun terjadi pada kehidupan remaja Kristen. Relasi antar remaja tak jarang terjalin hanya sebatas kepentingan egoistis. Ketika seorang remaja mengalami pergumulan yang berat, remaja yang lain bersikap cuek, tak peduli. Kalau juga menaruh perhatian, maka perhatian itu diberikan asal-asalan, tidak sepenuh hati.
Remaja dapat memulai relasi dengan sesamanya dengan sikap simpati atau sikap empati. Sikap simpati adalah sikap bersama perasaan atau pergumulan orang lain. Di sini remaja berusaha memahami perasaan atau pergumulan orang lain. Ia tidak cuek, melainkan peduli kepada orang lain. Ia dapat menunjukkan rasa perhatian dan perasaannya dengan kata-kata yang memberi pengharapan kepada orang lain. Sikap empati jauh lebih aktif daripada sikap simpati. Empati adalah sikap di dalam perasaan atau pergumulan orang lain. Jadi, remaja yang bersikap empati akan berusaha turut merasakan perasaan, penderitaan, atau pergumulan orang lain. Ia menyampaikan bukan hanya kataČkata pengharapan, tetapi juga kesediaan diri untuk menjadi sahabat bagi orang lain itu dalam penderitaan atau pergumulannya.

langkah-langkah penyampaian
1. Awali dengan melakukan Kegiatan.
2. Ajaklah remaja memahami nasihat Rasul Paulus kepada Jemaat Korintus tentang relasi yang baik antara para pengikut Kristus dan sesamanya. Sampaikan bahwa hal relasi dengan sesama manusia dan ciptaan Allah berkaitan erat dengan memuliakan Allah (lihat Penjelasan Teks).
3. Jelaskan secara lebih khusus hal relasi dengan orang lain dengan sikap simpati dan sikap empati. Berikan contoh (lihat Pengenaan).
4. Akhiri dengan menyampaikan kisah Valery Moniaga melalui Celengan.org (lihat Ilustrasi).

kegiatan
1. Remaja masuk ke dalam beberapa kelompok.
2. Setiap kelompok akan mendiskusikan pertanyaan berikut ini:
• Apa perbedaan antara simpati dan empati?
• Mana yang jauh lebih sulit dilakukan: simpati atau empati? Mengapa?
3. Kelompok mempresentasikan hasil diskusi dalam kelompok mereka.

ilustrasi

Valery Moniaga: Aksi Kasih lewat Celengan.org
 

Valery Moniaga, adalah nama yang diberikan oleh kedua orang tuanya kepadanya. Tumbuh dalam lingkungan rumah yang mengajarkan empati pada sesama, Valery menjadi pribadi yang senang membantu orang lain. Valery dididik untuk menjadi anak yang peduli dan mau melakukan sesuatu untuk menolong orang lain.
Semasa kuliah di luar negeri, Valery bersama sejumlah temannya dari Indonesia, turut aktif di dalam kegiatan yang bersifat kemanusiaan atau sosial, yakni sebagai sukarelawan. Ketika pulang ke Indonesia, keinginan untuk membantu orang lain terus ada di dalam hatinya. Bersama dengan kedua temannya yang kuliah di luar negeri, Michelle Chandra dan Adam Mulyani, mereka pun sepakat untuk membuat usaha di bidang baju, yang di dalamnya tetap ada aksi sosial.

Setelah mencari, akhirnya mereka sepakat untuk memberi nama usaha mereka, yaitu Celengan.org.Mereka menyisihkan 10-20 persen hasil penjualan baju untuk membantu anak-anak yang kehilangan kasih sayang dari orang tua mereka (anak-anak panti asuhan). "Awalnya, ngerasa ini kok kayak arisan, tapi lama kelamaan, kayaknya seru juga, ngebantu orang. Something giving you, happiness yang beda," ajar Valery.
Berjalan waktu, Valery dan kawan-kawan menyadari bahwa uang dan makanan yang mereka berikan kepada anak-anak di panti asuhan tidaklah cukup untuk memberikan dampak yang berarti kepada anak-anak di panti asuhan tersebut. Mereka tidak mau diam dan acuh pada keadaan ini meskipun mereka sudah memberi bantuan. Mereka mencari cara lain untuk dapat membantu anak-anak panti asuhan dengan maksimal. Akhirnya, tercetuslah di pemikiran Valery dan kawan-kawan untuk mengajarkan pelatihan kreativitas kepada anak-anak panti asuhan yang mereka bantu saat itu.
Cara ini diwujudkan ketika Celengan.org mengunjungi kepada Panti Asuhan Agape. Dengan bantuan Bokumi, salah satu pihak yang kreatif dalam merancang ulang boneka, anak-anak Panti Asuhan Agape diajarkan cara membuit boneka 3 dimensi.
Bagi Valery dan kawan-kawan, aksi yang mereka lakukan ini bukan sekadar untuk memberikan pengetahuan, tetapi juga membuka jalan bagi anak-anak tersebut untuk menemukan passion mereka. Meski sudah cukup banyak anak panti asuhan yang dibantu, Valery dan kawan-kawan memiliki harapan untuk memiliki panti asuhan sendiri. Bagi mereka, dengan memiliki panti asuhan sendiri, mereka dapat memberikan bantuan dan pendampingan konseling jika ada anak-anak yang membutuhkan bantuan secara moril dan spiritual. Jalan untuk mewujudkan hal tersebut mungkin masih panjang, tetapi bagi Valery itu pasti bisa terjadi.

(Sumber:
https://www.jawaban.com/read/article/id/2018/01/01/9/170417131208/hidup_untuk_menolong_orang_lainini_
jalan_yang_diambil_valery_moniagamenginspirasi)
 

 


 

A R S I P  
| derap desember 0118 | derap desember 0218 | derap desember 0318 |
| derap desember 0418 | derap desember 0518 | derap januari 0119 | derap januari 0219 | derap januari 0319 | derap januari 0419 |
| derap februari 0119 | derap februari 0219 |
 


Sahabat Surgawi
,
 Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja antar denominasi OnLine
www.sahabatsurgawi.net - webmaster@sahabatsurgawi.net, Copyright ę 1999