HOME KESAKSIAN DOA ABOUT US CONTACT US LINK

 
















 
Cara mendapatkan Derap Remaja

Pembayaran dapat dilakukan dengan 2 cara :
1. Via Bank:
Tahapan BCA no. 0372999053, an. Wisnu Sapto Nugroho
Segera kirimkan pemberitahuan pengiriman bank.
2. Via Pos Wesel:
dengan cara memakai blangko yang dilampirkan dalam surat pengantar.
Pdt. Wisnu Sapto Nugroho, Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Alamat Sekretariat & Distribusi DERAP REMAJA:
Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281
Telp. (0274) 514721 Fax(0274) 543001

Harga per eksemplar Rp. 40.000,-
 

DERAP REMAJA EDISI 45
Januari - Juni 2019
Bahan Pembinaan Remaja Gereja Kristen Indonesia


Kepedulian Seorang Perwira | Dibebaskan dan Membebaskan | Antara Simpati dan Empati |
Kritik yang Membangun

    Menjadi Berkat
Bagi Banyak Orang

  Kritik yang Membangun
 

fokus
Kritik merupakan hal yang biasa terjadi dalam hidup sehari-hari. Orang dapat mengritik makanan yang dirasa kurang enak, atau tempat yang kurang bersih/rapi. Dalam kehidupan bergereja juga banyak kritik sering terlontar, misalnya mengritik Majelis Jemaat, komisi, atau orang-orang tertentu. Ada kritik yang membangun, yaitu yang menyadarkan orang akan kesalahannya, sehingga ia memperbaikinya. Namun ada kritik yang tidak membangun, yang justru membuat orang menjadi patah semangat atau kurang percaya diri. Melalui pelajaran ini remaja memahami pentingnya kritik yang membangun, agar mereka belajar melakukan kritik yang membangun.
Materi ini membutuhkan:
- Video dari https://www.youtube.com/watch?v=HVIcOGWQjO4&t =4s
- Alat-alat untuk membuat poster: kertas gambar, crayon atau cat air

penjelasan teks
Keistimewaan kitab Wahyu terletak pada jenis kitabnya, yaitu sebagai satu-satunya kitab Perjanjian Baru yang memakai model sastra "apokaliptik." Kata "wahyu" pada Wahyu 1:1 dalam bahasa Yunani adalah "apokolupsis," yang berasal dari kata "apo" (= keluar dari) dan "kalupsis" (= selubung). Jadi apokalupsis berarti keluar dari
 

selubung, atau penyingkapan. Sastra apokaliptik merupakan jenis sastra yang sudah ada di kalangan orang-orang Yahudi sejak zaman Perjanjian Lama. Kitab Wahyu merupakan satu-satunya kitab apokaliptik Kristen dalam Alkitab. Keistimewaannya dibandingkan kitab-kitab apokaliptik lain adalah Yesus Kristus menjadi tokoh kemenangan pada akhir zaman.

Saat itu bangsa Israel ada di bawah kekuasaan kaisar Roma yang bernama Domitianus (memerintah 81-96 M) yang sangat kejam terhadap orang Kristen. Kaiser Domitianus mengangkat diri sebagai Tuhan, sehingga seluruh rakyat, baik bangsa Romawi maupun jajahan-jajahan, harus menyembahnya sebagai Tuhan. Setelah itu jika mereka mau menyembah dewa-dewi lain, silahkan. Yang jadi masalah dengan orang Kristen adalah mereka tidak mau menyembah kaisar sebagai Tuhan. Maka Domitianus bertindak sangat kejam terhadap orang Kristen. Saat itulah kitab Wahyu ditulis.Kitab Wahyu diawali dengan penjelasan tentang wahyu yang diterima Yohanes di pulau Patmos (1:9). Siapakah Yohanes? Dia menyebut diri sebagai nabi. Jadi bukan rasul Yohanes atau penulis Injil Yohanes (yang tidak menyebut nama) atau penulis surat-surat Yohanes (yang menyebut diri Penatua). Pulau Patmos adalah tempat kerja paksa untuk pertambangan pada waktu itu. Jadi Yohanes adalah seorang yang sedang dipaksa bekerja di pulau itu, lalu mendapatkan penglihatan. Ia bukan seorang yang sedang berlibur atau melancong ke pulau eksotis dan romantis lalu berkhayal.

Setelah pembukaan yang menggambarkan kitab Wahyu sebagai sastra apokaliptis (1:1-3), selanjutnya pasal 1:4-6 menggambarkan Wahyu sebagai surat. Sama seperti surat model Romawi, surat Wahyu memiliki urutan: dari, kepada, salam, isi, penutup. Surat Wahyu menyatakan: dari  Yohanes kepada tujuh jemaat di Asia kecil; kasih karunia.....Setelah isi yang panjang, pasal 22:21 merupakan salam penutup. Jadi format surat ada pada kitab Wahyu.
 

Kitab ini merupakan surat yang ditujukan kepada tujuh jemaat di Asia kecil, yaitu Efesus, Smirna, Pergamus, Tiatira, Sardis, Filadelfia, dan Laodikia. Kota-kota ini merupakan kota-kota besar dalam kekaisaran Romawi pada waktu itu. Efesus merupakan kota terbesar kedua setelah Roma, dengan penduduk lebih dani 250.000 orang. Pada masa sekarang, ketujuh kota ini terletak di wilayah negara Turki. Tapi tidak semua kota tersebut masih ada hingga saat ini; banyak yang tinggal sisa-sisa reruntuhannya: Efesus, Laodikia, Smirna (sekarang bernama Izmir), Tiatira (sekarang namanya Akhisar), Pergamus (sekarang namanya Bergama), Filadelfia (Alasehir), Sardis (Salihli). Keadaan jemaat penerima surat Wahyu di kota-kota itu berbeda satu sama lain, sehingga berita yang disampaikan juga tidak sama. Tiap kota mendapatkan beritanya sendiri-sendiri.

Perikop yang dipakai dalam pelajaran ini, Wahyu 2:1-7, merupakan wahyu yang ditujukan kepada jemaat di Efesus: "Tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Efesus" (2:1). Yang dimaksud dengan "malaikat jemaat" adalah pemimpin jemaat. Sedangkan isi wahyu itu berasal dari "Dia, yang memegang ketujuh bintang itu di tangan kanan-Nya dan berjalan di antara ketujuh kaki dian emas itu" (ay. 1). Siapa Dia? Tidak lain Yesus Kristus, sang Anak Manusia yang telah diperkenalkan pada Wahyu 1:12-16.

Selanjutnya isi dari wahyu itu (ay. 2-3) diawali dengan pujian terhadap jemaat Efesus yang merupakan jemaat yang:
1. telah berjerih payah (dalam bahasa Yunani 'jerih payah' = kopos yang berarti kerja keras), dan penuh ketekunan (dalam bahasa Yunani, hupomone yang berarti ketabahan) dalam melakukan pekerjaan Tuhan yang sering berat dan penuh penderitaan
2. tidak sabar terhadap orang-orang jahat, yaitu orang-orang yang ingin membawa kembali jemaat ke bawah kuk hukum Taurat; atau orang-orang yang mengajarkan kebebasan untuk berbuat semaunya; atau orang-orang yang mengincar dana bantuan sosial dari jemaat
3. menguji ajaran orang-orang yang menyebut dirinya rasul, padahal sebenarnya mereka pendusta; secara khusus disebutkan nama kelompok itu, yakni pengikut-pengikut Nikolaus (ay. 6). Tidak ada penjelasan langsung tentang kelompok Nikolaus. Namun pada perikop untuk jemaat di Pergamus kelompok Nikolaus (ay. 15) disejajarkan dengah kelompok Bileam (ay. 14) yang melegalkan perzinahan, dan makan makanan yang dipersembahkan kepada berhala. Apa yang dilakukan kelompok Bileam juga dilakukan kelompok Izebel di Tiatira (ay. 20).
4. sabar dan menderita oleh karena nama Yesus, dengan tidak mengenal lelah; penderitaan ini terjadi di bawah kekuasaan kaisar Domitianus yang kejam terhadap orang-orang Kristen.
Namun demikian, jemaat Efesus juga memiliki kelemahan, sehingga dicela atau mereka telah meninggalkan kasih yang semula. Dan itu adalah kejatuhan yang dalam. Rupanya sebelum ini mereka hidup dalam kasih, baik kepada Tuhan maupun satu sama lain. Namun kemudian mereka tidak lagi hidup dalam kasih. Mungkin terjadi permasalahan dalam jemaat, yang menyebabkan mereka tidak lagi saling mengasihi. Atau tantangan dari luar, yang menyebabkan jemaat menderita, membuat mereka kehilangan kasih kepada sesama.
Kitab atau surat Wahyu tidak berhenti hanya pada kritikan terhadap jemaat Efesus. Setelah kritikan, ada ajakan untuk bertobat, yaitu dengan melakukan kembali apa yang semula sudah dilakukan jemaat, yakni mengasihi.
Ajakan bertobat bisa dipatuhi, namun bisa juga tidak dipatuhi. Maka wahyu ini memberikan reward and punishment: jika melakukannya, jemaat akan diberi makan oleh Tuhan dari pohon kehidupan yang ada di Taman Firdaus Allah (artinya: jemaat akan menerima kehidupan yang kekal); sebaliknya, jika tidak melakukannya, jemaat akan hancur (ditandai dengan diambilnya kaki dian — artinya jemaat itu tidak ada lagi).
Dengan semua ini, diharapkan jemaat Efesus yang dikritik menyadari kesalahannya, bertobat, dan berubah ke arah yang benar, yaitu mengasihi. Kritikan ini tidak bermaksud menjatuhkan atau menakut-nakuti, melainkan untuk menyadarkan. Maka kritikan ini merupakan kritik yang membangun.

pengenaan
Remaja perlu belajar untuk mengritik dan dikritik dengan kritik yang membangun. Jika mereka melontarkan kritik, semestinya orang yang dikritik tidak menjadi putus asa, tidak percaya diri, atau marah, melainkan menjadi sadar akan kesalahan mereka dan mau kembali ke jalan yang benar. Demikian pula remaja perlu belajar untuk mau dikritik, dan menerima kritikan itu sebagai kritik yang membangun. Setiap kritikan dijadikan masukan untuk introspeksi, kemudian memperbaiki diri. Janganlah remaja menjadi marah dan tersinggung saat dikritik.

langkah-langkah penyampaian
1. Pakailah Ilustrasi di bawah ini. Tanyakan kepada remaja bagaimana tanggapan mereka terhadap cara mengritik, dan bagaimana menanggapi kritik.
2. Jelaskan bahwa ada kritik yang menjatuhkan, namun ada pula kritik yang membangun (pakailah bagian Fokus dan Pengenaan di atas).
3. Ajak remaja membaca Wahyu 2:1-7. Jelaskan latar belakang kitab/surat Wahyu, dan isi dari Wahyu 2:1-7. Tunjukkan bagaimana kritik terhadap jemaat Efesus diikuti ajakan untuk bertobat dan janji kehidupan jika jemaat benar-benar bertobat (pakailah bagian Penjelasan Teks).
4. Tanyakan kepada remaja apakah selama ini mereka sering mengritik atau dikritik; bagaimanakah sikap mereka saat mengritik atau dikritik? Apakah kritikan yang mereka berikan atau yang mereka terima merupakan kritik yang membangun? Ajaklah remaja untuk mengritik dengan kritik yang membangun, dan terimalah setiap kritik sebagai kritik yang membangun (pakailah pengenaan).
5. Masuk pada kegiatan.

kegiatan
1. Minta remaja masuk dalam kelompok kecil 5-6 orang.
2. Minta tiap kelompok menyusun kalimat kritik terhadap suatu isu yang terjadi di gereja, masyarakat, atau kehidupan remaja, dengan kritik yang membangun.
3. Kemudian minta tiap kelompok menuliskannya dalam bentuk poster, atau meme jika memungkinkan.

ilustrasi
Acara televisi Mata Najwa pada hari Rabu, 7 Februari 2018 mengambil tema "Kartu Kuning Jokowi" yang menghadirkan beberapa mahasiswa yang merupakan ketua/ presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dari beberapa perguruan tinggi (UI, Universitas Trisakti, IPB, ITB dan UGM). Yang melatarbelakangi tema ini adalah pemberian kartu kuning dari ketua BEM Universitas Indonesia, Zaadit Taqwa, kepada Presiden Joko Widodo sebagai bentuk kritik dan tuntutan. Permasalahannya adalah apakah cara mengritik seperti itu wajar atau tidak wajar, atau justru kreatif. Di akhir acara, tiap mahasiswa diminta untuk memberikan closing statement atau pernyataan penutup. Rekamannya dapat diunduh di
https://www.youtube.com/watch?v=HVIcOGWQjO4&t=4s.

Pada saat berbicara tentang kinerja pemerintah terhadap gizi buruk di Asmat yang tak kunjung selesai, presides BEM UGM, Obed Kresna Widya Pratisha, menyampaikan opininya yang sangat kuat dan netral. Obed meminta masyarakat, khususnya mahasiswa, untuk tetap mengapresiasi kinerja pemerintah soal penanganan gizi buruk tersebut. Namun Obed juga tak menyalahkan tindakan Zaadit beberapa waktu lalu. Ketua BEM UI tersebut ia nilai mewakili suara masyarakat dan mahasiswa yang menyuarakan kritik terhadap kinerja pemerintah. Dan sebagai closing statement Obed mengatakan bahwa masyarakat yang mengritik pemerintah tak selamanya mereka anti pemerintah. Juga sebaliknya, masyarakat yang mendukung pemerintah belum tentu orang yang pro pemerintah. Pernyataan ini menuai banyak pujian dari netizen. Inilah contoh kritik yang membangun.

 

 


 

A R S I P  
| derap desember 0118 | derap desember 0218 | derap desember 0318 |
| derap desember 0418 | derap desember 0518 | derap januari 0119 | derap januari 0219 | derap januari 0319 | derap januari 0419 |
| derap februari 0119 | derap februari 0219 | derap februari 0319 |
 


Sahabat Surgawi
,
 Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja antar denominasi OnLine
www.sahabatsurgawi.net - webmaster@sahabatsurgawi.net, Copyright 1999