HOME ABOUT US KESAKSIAN AGENDA GEREJA LINK CONTACT US



 

Derap Remaja Edisi 43
Januari-Juni 2018
Bahan Pembinaan Remaja Gereja Kristen Indonesia


Pembayaran dapat dilakukan dengan 2 cara :

1. Via Bank:
Tahapan BCA no. 0372999053, an. Wisnu Sapto Nugroho
Segera kirimkan pemberitahuan pengiriman bank.
2. Via Pos Wesel:
dengan cara memakai blangko yang dilampirkan dalam surat pengantar.
Pdt. Wisnu Sapto Nugroho, Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Alamat Sekretariat & Distribusi DERAP REMAJA:
Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Harga per eksemplar Rp. 40.000,-

 

Januari 2018
Iman sebagai Visi

 
6
Iman Sebagai Visi
  1
10
Iman Sebagai Trust
  2
16
Iman Sebagai Ketaatan
  3
20
Iman Sebagai Pengakuan
  4

Januari 2018 Minggu 1

Bilangan 13:25-14:10
_____________________
Bahan yang diperlukan: -

 

Fokus
_____________________


Selama hidup di dunia ini, hampir setiap orang menghadapi persoalan dan tantangan. Pada kenyataannya persoalan dan tantangan dapat menjadi ujian iman. Iman kepada Tuhan dan laku hidup, termasuk visi hidup di dalamnya, tampaknya saling berelasi. Iman mampu memengaruhi visi seseorang terhadap dunia kehidupan ini. Demikian pula sebaliknya, visi dapat memengaruhi iman seseorang kepada Tuhan. Melalui pelajaran ini, remaja diajak ,untuk menyadari bahwa iman dan visi berkaitan erat. Lebih dari itu, Remaja diajak untuk menghayati iman kepada Tuhan sebagai visi yang berbuah kepada cara pandang yang positif dan memberdayakan atas dirinya dan dunia kehidupannya.
 

Penjelasan Teks
_____________________


Teks Bilangan ini menceritakan 12 kepala suku Israel yang disuruh Musa untuk mengintai negeri Kanaan sebelum umat Israel masuk ke sana. Setelah lewat 40 hari, ke-12 pengintai itu kembali dengan membawa beberapa hasil bumi dari Kanaan. Mereka melaporkan kepada Musa dan segenap umat Israel bahwa negeri yang mereka intai itu adalah negeri yang berlimpah-limpah susu dan madu. Namun, bangsa yang diam di negeri itu kuat-kuat dan kota-kotanya berkubu dan sangat besar. Laporan seperti ini dapat dikatakan cukup lengkap. Ada informasi tentang hal-hal yang berkaitan dengan kondisi negeri yang subur. Ada pula informasi tentang hal-hal yang dapat menjadi persoalan, tantangan, dan ancaman. Mendengar laporan dari para pengintai itu, umat Israel menjadi gelisah. Hal itu terjadi karena pandangan mereka lebih terarah kepada informasi tentang hal-hal yang menjadi persoalan, tantangan, dan ancaman. Kaleb, salah seorang pengintai itu, menentramkan hati mereka dengan berkata, "Tidak! Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya!" (Bil. 13:30). Para pengintai lain menanggapi, "Kita tidak dapat maju menyerang bangsa itu karena mereka lebih kuat dari pada kita." Bahkan mereka juga mulai menyampaikan kabar busuk kepada orang Israel bahwa negeri yang mereka intai itu adalah suatu negeri yang memakan penduduknya dan semua orang di negeri itu adalah orang-orang yang tinggi perawakannya. Umat Israel pada gilirannya menjadi semakin gelisah dan takut. Mereka meratap dan menangis pada malam itu. Mereka mulai bersungut-sungut kepada Musa dan Harun dan menyesali perjalanan keluar dari Mesir. Mereka ingin kembali ke Mesir. Mereka berencana untuk memberontak terhadap Musa. Yosua dan Kaleb, dua orang pengintai itu, mengoyakkan pakaiannya dan berkata kepada segenap umat Israel:

 

Negeri yang kami lalui untuk diintai itu adalah luar biasa baiknya. Jika TUHAN berkenan kepada kita, maka la akan membawa kita masuk ke negeri itu dan akan memberikannya kepada kita, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya. Hanya, janganlah memberontak kepada TUHAN, dan janganlah takut kepada bangsa itu, sebab mereka akan kita telan habis. Yang melindungi mereka sudah meninggalkan mereka, sedang TUHAN menyertai kita; janganlah takut kepada mereka. (Bil. 14:7-9).

Demikianlah penegasan iman Yosua dan Kaleb menjadi visi mereka terhadap negeri Kanaan. Yosua dan Kaleb berharap agar segenap umat Israel mengarahkan hati kepada TUHAN yang baik. Dalam pengalaman hidup mereka dan pengalaman hidup umat Israel di sepanjang perjalanan keluar dari Mesir, bersama dengan Tuhan tidak ada perkara yang mustahil. Yosua dan Kaleb telah mengecap dan melihat betapa baiknya TUHAN. Yosua dan Kaleb tentu saja melihat apa-apa dan siapa¬siapa di negeri Kanaan itu dengan kasat mata sebagai suatu realitas. Mereka melihat negeri Kanaan sebagai negeri yang berlimpah susu dan madu, alias subur dan menguntungkan. Mereka juga melihat orang-orang yang tinggal di negeri itu kuat-kuat dan kota-kota di sana berkubu dan sangat besar. Semua yang dilihat oleh Yosua dan Kaleb itu adalah suatu realitas nyata.

Lalu mereka pun melihat realitas nyata negeri Kanaan itu dengan janji TUHAN dan masa depan Israel. Di sinilah peran iman bersifat menentukan untuk langkah-langkah berikutnya: apakah umat Israel jadi maju atau tidak ke negeri Kanaan itu? Dalam ingatan akan perjalanan bangsa Israel yang berat dan peristiwa-peristiwa pertolongan Allah hingga tiba di tempat itu, Yosua dan Kaleb pada gilirannya melihat realitas nyata negeri Kanaan dengan kekuatan yang menggerakkan atau memberdayakan. Mereka melihat realitas nyata itu sebagai ujian menuju puncak masa depan yang dijanjikan oleh TUHAN bagi umat-Nya.

Pengenaan
_____________________


Secara sederhana visi adalah gambaran tentang keadaan di masa mendatang. Dengan visi kita berusaha menentukan apa yang akan kita capai di masa depan. Di dalam visi selalu ada harapan dan keyakinan. Dengan demikian, di dalam visi terdapat keyakinan iman. Seorang remaja perlu belajar membuat visi dengan membayangkan apa yang akan dicapainya dalam 5, 10, atau 20 tahun ke depan. Dalam rangka mencapai visi dibutuhkan strategi. Di dalam strategi pengalaman menjadi bahan rujukan yang amat berharga. Belajar dari Andar Ismail — yang menyampaikan dalam kaitan dengan pengharapan — seorang yang memiliki visi harus belajar 3 hal berikut ini:
Pertama, visi harus mempunyai dasar. Tanpa dasar, visi hanya menjadi untung-untungan, tak ubahnya seperti judi.
Kedua, visi itu harus disertai dengan usaha yang nyata dan tepat. Tanpa kerja keras, pengharapan hanya menjadi ilusi.
Ketiga, visi harus berpijak pada batas-batas kewajaran. Di luar batas kewajaran, visi tak mungkin tercapai, hanya membuat kita menjadi frustasi.
Lewat cerita dalam Bilangan 13:25-14:10, remaja dapat belajar melihat tantangan dan rintangan selalu ada di depan mereka. Dengan memiliki visi, pandangan mereka mampu melihat melampaui tantangan dan rintangan yang ada. Mereka punya dasar berharap, sebab pengalaman bersama dengan Tuhan selama ini membuat mereka tahu karya ajaib Tuhan yang amat luar biasa dalam hidup mereka.
 

Langkah-langkah Penyampaian
___________________________


1. Awali dengan melakukan Kegiatan.
2. Sampaikanlah bahwa pengalaman bersama Tuhan seharusnya mengokohkan iman (lihat Fokus).
3. Ajaklah remaja memahami kisah para pengintai. Tekankan tentang iman Yosua dan Kaleb pada Tuhan sehingga mereka mendorong umat Israel untuk maju dan merebut tanah Kanaan (lihat Penjelasan Teks).
4. Kemukakanlah bahwa remaja seharusnya memiliki iman seperti Yosua dan Kaleb sehingga mereka terus bergerak meskipun ada tantangan besar di hadapan mereka (lihat Pengenaan).
5. Ingatkan seperti ditegaskan dalam pengenaan, penting visi dalam hidup manusia.
                                        

Kegiatan
_____________________

 

1. Buatlah kelompok yang terdiri dari 5-10 orang remaja.
2. Ajak Remaja membaca Ilustrasi dan mendiskusikan pertanyaan berikut:
a. Mengapa Asa terus bertanya kepada Bapaknya?
b. Apa makna pertanyaan-pertanyaan Asa itu?

Ilustrasi
_____________________


Seorang Bapak mengajak Asa, putrinya yang berusia 7 tahun pergi ke sebuah museum. Sudah lama Asa ingin mengunjungi museum. Bapaknya pun mengambil cuti dan sengaja mengantar anaknya ke tempat yang sudah lama diimpikan Asa. Mereka pergi berdua itu tanpa didampingi Ibu. Ini adalah pengalaman pertama mereka berlibur hanya berdua.

Baru beberapa menit perjalanan dimulai, Asa mulai bertanya kepada bapaknya, "Papa sudah tahu alamat museum, kan?", tanya Asa yang duduk di samping kemudi Ayah. "Tahu, jangan kuatir," jawab Ayah sembari tersenyum. Asa diam sejenak dan bertanya kembali, "Papa tahu kan itu di mana?" Si bapak menjawab, "Papa sudah tahu, jangan kuatir ..." Asa langsung menimpali, "Benar, tidak kesasar Papa?" Papa menjawab dengan sabar, "Benar, jangan kuatir

Asa pun duduk dengan tenang. Namun, itu tidak berlangsung lama, "Nanti kalau air minum Asa habis, bagaimana, Pa?" Bapak itu menjawab, "Tenang, nanti Papa beli air mineral ..." Belum selesai kalimat si bapak, Asa sudah bertanya kembali, "Terus kalau lapar?"Si bapak melirik tenang ke arah Asa, "Tenang, Papa ajak Asa mampir ke restoran ..." Asa bertanya dengan nada curiga, "Emang Papa tahu restoran di sekitar museum?" Papa mengusap kepala Asa, "Tahu, sayang ..." Asa diam sejenak, "Papa bawa uang, kan?" Papa tertawa, "Papa bawa yang cukup, sayang ..."

Asa mengambil botol minumnya dan menegak air. Tiba-tiba dia bertanya kembali, "Kalau Asa pengin ke kamar kecil, gimana Pa?" Si bapak tertawa, "Ayah antar sampai depan pintu toilet perempuan." Si bapak menjawab sembari membelokkan mobilnya masuk ke sebuah gang karena jalanan di depannya macet. "Kok Papa ke jalan yang jelek gini?" Papa menjelaskan bahwa ini adalah jalur alternatif karena jalanan macet. Asa langsung bertanya, "Papa yakin jalan ini sampai ke museum?" Lalu si bapak menjawab, "Papa yakin. Asa percaya sama Papa. Papa akan membawa Asa ke museum".

Sumber: https://konseling.bpkpenaburjakarta.or.id/tag/renungan/page/3 (diakses pada 22 Mei 2017)
 

                                                                           


 

Sahabat Surgawi,
 Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja antar denominasi OnLine
www.sahabatsurgawi.net - webmaster@sahabatsurgawi.net, Copyright © 1999