HOME ABOUT US KESAKSIAN AGENDA GEREJA LINK CONTACT US



 

Derap Remaja Edisi 43
Januari-Juni 2018
Bahan Pembinaan Remaja Gereja Kristen Indonesia


Pembayaran dapat dilakukan dengan 2 cara :

1. Via Bank:
Tahapan BCA no. 0372999053, an. Wisnu Sapto Nugroho
Segera kirimkan pemberitahuan pengiriman bank.
2. Via Pos Wesel:
dengan cara memakai blangko yang dilampirkan dalam surat pengantar.
Pdt. Wisnu Sapto Nugroho, Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Alamat Sekretariat & Distribusi DERAP REMAJA:
Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Harga per eksemplar Rp. 40.000,-

 

Januari 2018
Iman sebagai Visi

 
6
Iman Sebagai Visi
  1
10
Iman Sebagai Trust
  2
16
Iman Sebagai Ketaatan
  3
20
Iman Sebagai Pengakuan
  4

Januari 2018 Minggu 2

Matius 14: 22-33
________________
______________
Bahan yang diperlukan: -tayangan teknik berenang Uitemate
-lirik lagu KJ 409, atau PKJ 251, atau NKB 123

 

Fokus
_____________________

Tidak keliru jika iman dipahami sebagai sikap percaya. Namun, pemahaman iman seperti itu masih perlu ditambah atau diperjelas lebih lagi. Iman mestinya juga menunjuk pada sikap mempercayakan diri. Jika orang beriman kepada Tuhan, maka itu berarti orang tersebut percaya kepada Tuhan dan juga mempercayakan dirinya kepada Tuhan. Dalam istilah Latin, sikap mempercayakan diri ini disebut fiducia, atau dalam bahasa Inggris: trust. Bagaimana iman sebagai trust ini diungkapkan dalam kehidupan remaja? Apa yang remaja seharusnya lakukan untuk memiliki iman sebagai trust? Hal itulah yang menjadi pembahasan dalam materi ini. Melalui materi ini, remaja diajak untuk menghayati imannya kepada Tuhan, bukan saja sebagai tindakan percaya, tapi juga sebagai tindakan mempercayakan diri (trust) kepada Tuhan dalam kehidupannya sehari-hari.
 

Penjelasan Teks
_____________________


Injil Matius 14:22-33 berisi kisah Yesus berjalan di atas air. Walaupun tidak ditulis oleh Penulis — berdasarkan ayat selanjutnya (lihat: Mat. 14:34) yang menuliskan "mereka mendarat di Genesaret" — pembaca dapat  menentukan bahwa peristiwa ini terjadi di Danau Galilea. Di danau yang dikelilingi oleh bukit-bukit ini, angin kencang seringkali berhembus sehingga ombak menjadi besar. Ombak yang besar mampu mengombang-ambingkan perahu-perahu. Itu tentu membuat susah, gelisah, dan bahkan takut para penumpang perahu.
Jika membaca perikop sebelumnya, yaitu Matius 14:1-21, maka pembaca akan mengetahui bahwa kisah Yesus berjalan di atas air ini berlangsung di tengah hati yang gundah setelah peristiwa Yohanes Pembaptis dibunuh dengan cara dipenggal kepalanya oleh Herodes. Suasana hati gundah penuh kecamuk — rasa sedih, marah, dan takut — tentu saja melanda murid-murid Yohanes Pembaptis. Oleh karena itu, setelah menguburkan jenasah gurunya, mereka pergi kepada Yesus, dan memberitahukan apa yang telah terjadi. Dengan pemberitahuan itu,
Yesus dan murid-murid-Nya turut berdukacita dan masuk ke dalam suasana hati yang susah. Seperti tertulis dalam pembuka kisah Yesus memberi makan lima ribu orang (lihat: Mat. 14:13), "Setela Ia dari situ, dan hendak mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi." Dengan menuliskan Yesus "menyingkir" dan "hendak mengasingkan diri," Penulis Injil Matius mau menggambarkan betapa peristiwa pembunuhan Yohanes Pembaptis memengaruhi perasaan dan pikiran (suasana hati) Yesus. Berita pembunuhan itu, seumpama angin kencang yang berhembus, menerpa dan mengguncangkan Yesus. Bagaimanapun Yesus terguncang oleh karena Dia mengasihi Yohanes Pembaptis, dan karena Dia menghadapi kuasa kejahatan yang mematikan sebagaimana ditunjukkan oleh Herodes.

Namun, Yesus tidak tenggelam dalam suasana hati yang susah, gelisah, atau takut. Buktinya, ketika orang banyak tetap mengikuti-Nya, Yesus tidak abai dan tidak lalai melayani mereka dengan penuh kasih dan berkat. Yesus tetap menyembuhkan mereka yang sakit (Mat. 14:14), dan juga memberi mereka makanan yang mengenyangkan (Mat. 14:15-21). Dengan demikian, peristiwa pembunuhan Yohanes Pembaptis tidak mampu menghalangi kasih Yesus kepada banyak orang, dan tidak mampu menutupi damai sejahtera yang terpancar dari diri-Nya. Betul, Yesus mengalami guncangan suasana hati yang berkecamuk, tetapi Dia mampu melampaui semua itu. Yesus berharap, murid-murid-Nya pun mampu berbuat itu.
Setelah memberi makan banyak orang, Yesus memerintahkan murid-murid-Nya pergi ke seberang danau dengan perahu dan menyuruh orang banyak pulang. Lalu Penulis Injil menuliskan, "Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri." Yesus benar-benar menjalani waktu sendirian di atas bukit sampai malam pun tiba (Mat. 14:22-23).

Sementara itu. perahu murid-murid sudah beberapa mil jauhnya dari daratan. Murid-murid Yesus mengalami angin sakal, angin kencang yang mengakibatkan ombak besar dan yang mengombang¬ambingkan perahu mereka. Sungguh itu adalah peristiwa yang sangat mengguncang. Kecamuk alam melanda bagian danau tempat perahu murid-murid berada, dan itu menjadi kecamuk suasana hati dan diri masing-masing murid Yesus di perahu. Di tengah kecamuk seperti itulah, pada pukul tiga malam. Yesus mendatangi perahu mereka. Yesus berjalan di atas air Danau Galilea yang sedang bergelombang karena angin sakal. Jika teks Injil Matius ini menuliskan bahwa di atas air, Yesus itu berjalan, bukan melayang atau terbang, maka pembaca seharusnya segera memandang air sebagai jalan yang dijejaki kaki Yesus. Kalau begitu, maka perjalanan Yesus di atas air bukanlah perjalanan yang lurus-mulus. Yesus berjalan di atas jalan (walaupun itu adalah air) yang bergelombang karena angin sakal. Yesus datang dan mau menenangkan kecamuk yang mengguncangkan perahu dan murid-murid-Nya.

Melihat sosok yang tidak jelas karena kondisi gelap di atas air, murid-murid Yesus terkejut dan berseru, "Itu hantu!" Penulis Injil Matius menuliskan bahwa setelah berseru seperti itu, murid-murid Yesus "berteriak-teriak karena takut" (Mat. 14:26). Dapat dibayangkan, di perahu yang terbatas tempatnya, murid-murid bergumul dengan bahaya angin sakal dan ombak, dan kini mereka melihat sosok yang berjalan di atas air. Sungguh kekacauan dan ketakutan melingkupi mereka. Oleh karena itu, Yesus segera berkata, "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!" Yesus Segera menenangkan orang-orang yang di dalam perahu, bukan segera menenangkan angin kencang!
Namun, salah seorang murid Yesus di perahu, yaitu Petrus, berseru kepada sosok yang dilihatnya di atas air. "Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air." Di sini pembaca dapat menduga bahwa bagi Petrus, identitas diri Yesus yang disapa Tuhan itu ditunjukkan bukan hanya dengan wajah dan tubuh, tetapi juga (yang terutama) dengan kuasa yang diberikan dan dialami oleh dirinya. Dengan menyatakan, "Datanglah!," Yesus pada hakikatnya adalah Tuhan yang pemurah, yang mengaruniakan kuasa agar Petrus mampu berjalan di atas air. Lalu Petrus pun turun dan berjalan di atas air. Perhatikan di sini baik-baik: "Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus" (Mat. 14:29).
Petrus mampu berjalan di atas air oleh karena kuasa yang dikaruniakan Tuhan. Namun, kemampuan itu berlangsung tidak lama. Ketika merasakan tiupan angin, Petrus mengalami ketakutan dan mulai tenggelam. Dia pun berteriak, memohon pertolongan Tuhan. Yesus segera menolong dan berkata, "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?"

Yesus menyebut Petrus sebagai orang yang kurang percaya dan orang yang bimbang. Kata 'kurang percaya' (oligo-pistos) di sini menunjuk pada sikap kurang mempercayakan diri. Artinya, Petrus tidak sungguh memberi dirinya dalam lingkup kuasa Tuhan yang menolong dan menyelamatkan. Jadi, oleh Petrus, karunia kuasa yang diterima dari Tuhan itu diperlakukan lebih kecil daripada rasa takut yang muncul dari dirinya karena tiupan angin yang menerpa dan ombak yang mengguncang. Seandainya Petrus mempercayakan dirinya kepada Tuhan, atau sungguh memberikan dirinya dalam lingkup kuasa Tuhan, maka karunia kuasa dari Tuhan itu niscaya menolong dan menyelamatkannya dalam menempuh perjalanan di atas air yang secara natur tak mungkin sanggup dijejakinya.Memang, tak mudah orang mempercayakan dirinya atau memberikan dirinya kepada pribadi yang lain. Sikap itu membutuhkan pengenalan yang akrab, dan pengenalan yang akrab membutuhkan relasi yang dekat penuh kasih. Pertanyaannya, apakah Petrus sudah mengenal Yesus secara dekat?

Apakah Petrus menjalin relasi dekat penuh kasih dengan Yesus? Barangkali jawabannya adalah: "Sedang dalam proses!" Ya, pada kenyataannya Petrus sedang berproses dalam pengenalan akrab dengan Yesus. Petrus sedang berproses dalam menjalin relasi dekat penuh kasih dengan Yesus. Proses itu terus berlangsung sampai pada saatnya tiba Petrus sungguh mampu memberikan dirinya kepada Yesus, yaitu pada saat dia mampu menjalani hidupnya demi pemberitaan Injil Tuhan Yesus Kristus. Jadi, kisah berjalan di atas air ini adalah salah satu bagian saja dari proses pengenalan akrab Petrus dengan Yesus.
Setelah peristiwa Petrus di atas air itu, dan setelah semua, termasuk Yesus, berada di dalam perahu, angin kencang pun reda. Orang-orang yang ada di perahu itu menyembah Yesus sambil berkata, "Sesungguhnya Engkau Anak Allah." Inilah ekspresi iman yang ditunjukkan oleh orang¬orang yang telah mengalami keselamatan dari bahaya dan kekacauan.
 

Pengenaan
_____________________


Iman atau percaya (Yunani: pistis) pada hakikatnya diungkapkan tidak cukup hanya dengan kata¬kata, tetapi juga dengan sikap atau perbuatan. Melalui kisah Injil Matius 14:22-33 ini, orang diajak untuk mengungkapkan iman kepada Tuhan dengan sikap mempercayakan diri atau memberikan diri kepada Tuhan. Sikap ini mudah dibicarakan tetapi sesungguhnya sulit dilakukan. Alasannya, sikap mempercayakan diri seringkali gagal dilakukan karena orang ternyata suka terjerat pada pikiran dan perasaannya sendiri. Sikap mempercayakan diri atau memberikan diri kepada Pribadi yang lain berarti membebaskan pikiran dan perasaannya sendiri, lalu menempatkan pikiran dan perasaannya itu pada Pribadi lain yang dipercayai. Tentu saja, sikap itu membutuhkan proses pengenalan yang akrab dengan Pribadi lain tersebut, dan proses pengenalan yang akrab itu mengandalkan relasi yang dekat penuh kasih dengan Dia. Jadi, untuk belajar iman sebagai sikap mempercayakan diri kepada Tuhan, remaja mesti memelihara hubungan yang dekat, yang penuh cinta, dengan Tuhan. Proses mempercayakan itu berada dalam lingkup keseharian kita. Hal Itu tentu dapat dilakukan remaja, misalnya dengan rajin berdoa. beribadah, dan membaca firman Tuhan. Dengan relasi yang dekat dengan Tuhan, remaja pada gilirannya mampu mengenal Tuhan secara akrab.

Dari pengenalan akrab itulah iman sebagai sikap mempercayakan diri kepada Tuhan muncul dan diungkapkan. Ketika menghadapi kekacauan, kegalauan, dan ketakutan dalam menjalani hari-hari menuju masa depannya, remaja yang beriman dengan sikap memercayakan diri kepada Tuhan akan merasa tenang dan sanggup melangkah sejejak demi sejejak menuju masa depannya. Apa yang remaja pikirkan dan rasakan sebagai tidak mungkin sanggup dijejaki, semua itu ditempatkan pada lingkup karunia kuasa Tuhan. Dalam iman yang memercayakan diri kepada Tuhan, apa yang tidak mungkin terjadi akan menjadi mungkin.
 

Langkah-langkah Penyampaian
___________________________


1. Awali dengan melakukan Kegiatan.
2. Ajak remaja memahami kisah Yesus berjalan di atas air sebagaimana tertulis dalam Injil Matius 14:22-33. Fokuskan penjelasan kepada peristiwa Yesus dan Petrus di atas air untuk menunjukkan pelajaran tentang iman sebagai sikap mempercayakan diri atau memberi diri kepada Tuhan (lihat Penjelasan Teks).
3. Untuk memperjelas arti iman sebagai sikap mempercayakan diri, sampaikan Ilustrasi.
4. Kemukakan hal apa saja yang seharusnya remaja lakukan untuk memiliki iman sebagai sikap mempercayakan diri kepada Tuhan (lihat Pengenaan).
5. Akhiri dengan nyanyian dari KJ 409. PKJ 251, atau NKB 123.

                                     

Kegiatan
_____________________

 

Diskusi tentang Teknik Berenang Uitemate
1. Ajak remaja menyaksikan tayangan tentang teknik berenang dari Jepang, yaitu teknik Uitemate (lihat https://www.youtube.com/watch?v=mnVGbglc-Lo untuk informasi lebih lanjut tentang uitemate, lihat paparan: http://www.tribunnews.com/internasiona1/2014/07/31/prof-hidetoshi¬saito-promosikan-ide-uitemate-mengapung-di-air)
2. Dalam kelompok-kelompok kecil yang sudah dibuat, diskusikan dua pertanyaan ini:
a. Apakah teknik berenang ini mudah untuk dipraktikkan? Jelaskan alasannya.
b. Apa yang menyebabkan teknik ini gagal untuk dipraktikkan?

Ilustrasi
_____________________


Air Terjun Niagara
Oleh: Parlindungan Marpaung

Pada suatu kali diadakan sebuah lomba spektakuler yaitu menyeberangi air terjun Niagara. Pada peserta diharuskan menyeberangi air terjun tersebut dengan menggunakan seutas tali baja yang direntangkan di atas air terjun dan diikat di kedua ujung air terjun. Sementara peserta hanya dibekali sebatang tongkat panjang sebagai alat keseimbangan dan tali pengaman.
 

Sejak lomba dimulai sudah banyak peserta yang mencoba. Ada yang gagal sesaat menapaki tali baja, ada yang lebih jauh untuk kemudian tergelincir karena tali baja menjadi licin terkena uap air, ada yang membatalkan diri karena ngeri melihat air terjun yang sangat besar dengan tebing yang curam di bawahnya.
Akan tetapi, ada seorang peserta yang dengan pengalaman dan kepiawaiannya perlahan berjalan dengan mantap menapaki tali baja tersebut. Penonton mulai takjub ketika ia sampai di tengah-tengah karena sedari tadi belum ada peserta yang bisa sampai di sana. Periahan tapi pasti peserta ini menapaki tali baja tersebut hingga akhirnya sampai dengan diiringi tepuk tangan gemuruh dari penonton.
Tak berapa lama kemudian, panitia memberikan tantangan kepada sang pemenang. "Pak, Bapak berani tidak kembali ke tempat asal tadi? Karena jangan-jangan Bapak berhasil sampai di sini karena keberuntungan saja.."
Penonton terdiam.

Pria tersebut juga terdiam. Kemudian menjawab sambil tersenyum, "Baiklah, dengan senang hati." Dan tepuk tangan penonton pun bergemuruh lagi.
"Apakah Anda semua percaya bahwa saya akan dapat melakukannya lagi?" tanya pria itu kepada penonton. Dan serentak penonton menjawab,"Percayaaaaaaaaaaaa..!"
"Kalau Anda semua percaya kepada saya, siapa diantara Anda yang mau melintasi air terjun ini bersama saya?"
Penonton terdiam. Sebagian melongok ke arah air terjun dan mencoba menaksir ketinggiannya. Debur air, angin yang bertiup dan tingginya air terjun membuat para penonton kecut hatinya. Semuanya terdiam. Tidak ada yang berani mengangkat tangan.
"Ayo, siapa yang mau melewatinya bersama saya? jangan takut, nanti saya gendong. Dijamin aman."

Penonton masih terdiam.
Tiba-tiba seorang anak kecil menyeruak dari kerumunan penonton dan mengangkat tangannya sambil berkata,"Saya."
Dengan diiringi sorak sorai akhirnya kedua orang tersebut melintasi kawat baja kembali. Karena menggendong seorang anak kecil dipundaknya, maka perjalanan kali ini memakan waktu lebih lama. Ketika sampai di seberang, tepuk tangan penonton jauh lebih riuh rendah dibanding saat pertama lelaki itu menyeberang. Mereka salut kepada keberanian anak kecil itu.
Dengan rasa penasaran, ketika anak kecil itu naik ke panggung seorang panitia bertanya,"Kok kamu berani sih menyeberang bersama Bapak itu?" Kemudian anak kecil itu menjawab,"Karena dia Ayah saya.

Sumber:
http://quickstart-indonesia.com/air-terjun-niagara/ (diakses 19 Juli 2017).
 

                                                                           


 

Sahabat Surgawi,
 Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja antar denominasi OnLine
www.sahabatsurgawi.net - webmaster@sahabatsurgawi.net, Copyright © 1999