HOME ABOUT US KESAKSIAN AGENDA GEREJA LINK CONTACT US



 

Derap Remaja Edisi 43
Januari-Juni 2018
Bahan Pembinaan Remaja Gereja Kristen Indonesia


Pembayaran dapat dilakukan dengan 2 cara :

1. Via Bank:
Tahapan BCA no. 0372999053, an. Wisnu Sapto Nugroho
Segera kirimkan pemberitahuan pengiriman bank.
2. Via Pos Wesel:
dengan cara memakai blangko yang dilampirkan dalam surat pengantar.
Pdt. Wisnu Sapto Nugroho, Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Alamat Sekretariat & Distribusi DERAP REMAJA:
Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Harga per eksemplar Rp. 40.000,-

 

Januari 2018
Iman sebagai Visi

 
6
Iman Sebagai Visi
  1
10
Iman Sebagai Trust
  2
16
Iman Sebagai Ketaatan
  3
20
Iman Sebagai Pengakuan
  4

Januari 2018 Minggu 3

Kejadian 22:1-1
___________________________
Bahan yang diperlukan: - kertas
- alat tulis untuk menulis indah

 

Fokus
_____________________


Sebagaimana yang telah dijelaskan minggu sebelumnya, iman itu berarti percaya dan mempercayakan diri kepada Tuhan, Sang sumber iman. Karena iman bermakna mempercayakan hidup, maka ketaatan adalah salah satu bentuk iman yang paling konkrit. Tanpa ketaatan, iman hanya berhenti pada pernyataan belaka. Dalam hidup yang penuh dengan dinamika, ketaatan manusia berulang kali diuji oleh keadaan. Ada orang yang semakin taat di kala derita datang. Orang itu jadi makin mendekatkan diri pada Tuhan dalam doa dan ibadah. Ada juga orang yang semakin taat di kala suka datang. Merasa Tuhan baik dan mensyukuri kebaikan Tuhan lewat hal-hal yang bermanfaat, seperti aksi sosial atau persembahan. Sebaliknya kerap juga terjadi. Orang dapat menjadi tidak taat, saat mengalami penderitaan. Atau tidak taat justru saat mengalami kesenangan atau keberhasilan. Pelajaran ini dirancang agar remaja menyatakan imannya lewat ketaatan kepada Tuhan, baik saat menghadapi suka maupun duka.
 

Penjelasan Teks
_____________________


Kejadian 22:1-19 terkenal sebagai narasi tentang kesetiaan Abraham yang diuji kepercayaannya oleh Tuhan. Pembaca cerita segera saja dibawa masuk dalam pergumulan berat yang dihadapi Abraham. Ishak adalah anak yang dinantikan. Anak itu dapat disebut sebagai anak perjanjian, yang diberikan Tuhan sebagai pemenuhan janji-Nya. Pembaca cerita paham bahwa Ishak lahir di tengah usia Abraham dan Sara yang sudah tua, yang tidak memungkinkan mereka memiliki anak. Penutur cerita mengawali ceritanya dengan kalimat: "Setelah semuanya itu Allah mencoba Abraham" (ay 1 ). Kejelasan pernyataan pencerita bahwa Allah akan mencobai Abraham tentu tidak mengherankan. Berulang kali Abraham telah melewati berbagai macam pergumulan. Namun pembaca langsung merasakan ketegangan ketika melanjutkan pembacaan: "Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu" (ay 2). Pencerita memberi tekanan bahwa anak itu adalah anak yang dikasihi Abraham. Tentu saja, pembaca tahu Ishak dinanti-nantikan begitu lama. Menariknya, pencerita tidak menyampaikan bagaimana perasaan Abraham. Segera saja pencerita menuturkan, "keesokan harinya pagi-pagi bangunlah Abraham..." (ay 3). Imaginasi pembaca seakan dibiarkan liar. Pembacaan yang baik (close reading) akan segera merasakan betapa heningnya persiapan ritus korban bakaran. Keheningan yang menyiratkan kegundahan Abraham. Bagaimana tidak? Anak satu-satunya, yang dinanti lama, akan dikorbankan.

Membaca cerita ini, pembaca masa kini dapat segera saja membuat kesimpulan tentang kekejaman Allah yang tega menjadikan manusia sebagai korban bakaran. Namun tidak demikian dengan pembaca di masa lalu. Ada penafsir yang mengatakan bahwa upacara pengorbanan anak adalah hal yang biasa pada dunia sekitar Israel. Jadi persoalannya bukan permintaan Allah yang melebihi batas, tetapi ketahanan manusia mengikuti kehendak-Nya. Ketegangan inilah yang hendak dibangun oleh si pencerita. Ketegangan yang disampaikan kepada pembaca lewat pertanyaan Ishak, "Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?" (ay 7). Menjawab pertanyaan itu, pembaca diajak masuk dalam keyakinan iman Abraham yang menjadi pokok penting cerita ini. Kata Abraham, "Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku" (ay 8). Ungkapan "Allah yang akan menyediakan" mengandung keyakinan iman Abraham. Namun pembaca tetap dibuat berdebar-debar. Sebab, ketegangan tetap dilanjutkan dengan pernyataan: "Abraham mengulurkan tangannya, lalu mengambil pisau untuk menyembelih anaknya" (ay 10). Debaran ketegangan pembaca segera berakhir dengan seruan malaikat yang memuji iman Abraham. Keyakinan Abraham bahwa Tuhan akan menyediakan benar adanya. Itulah sebabnya oleh Abraham tempat itu diberi nama "Tuhan menyediakan" (ay. 14, dikenal dengan: Yahwe Yireh).

Atas keyakinan iman itu, Abraham diberi anugerah yang berlimpah dari Tuhan (ay 16-18). Selesaikah cerita itu? Ternyata tidak. Pencerita menutup kisahnya dengan pernyataan penuh misteri: "Kemudian kembalilah Abraham kepada kedua bujangnya, dan mereka bersama-sama berangkat ke Bersyeba; dan Abraham tinggal di Bersyeba" (ay 19). Mengapa disebut misteri? Cobalah baca baik-baik. Nama Ishak tidak disebutkan di sana. Kemanakah Ishak? Kita memang tidak perlu tahu, sebab cerita ini pertama-tama adalah cerita Abraham. Abraham yang taat hingga merelakan yang terbaik bagi Tuhan. Namun misteri dalam cerita ini juga membuat membuat pembaca memandang Ishak yang taat melakukan apa yang dikatakan ayahnya.


Pengenaan
_____________________


Pada diri manusia, termasuk remaja di dalamnya, ada tiga tingkat pengertian ketaatan yang perlu dipahami.
Pertama, Ketaatan Tingkat Biologis. Ketaatan ini ada hubungannya dengan cara kerja tubuh. Secara otomotis tubuh memberi perintah kepada kita. Misalnya, saat mengeluarkan banyak keringat karena olah raga, tubuh memberi sinyal agar kita segera minum, agar tidak menjadi dehidrasi. Begitu juga, ketika belajar terlalu malam, kita bisa saja tertidur sambil duduk. Dibutuhkan ketaatan pada kebutuhan tubuh sebagaimana yang diperintahkan otak.
Kedua, Ketaatan Tingkat Sosial. Manusia itu adalah makhluk social, yang hidupnya tidak bisa lepas dari komunitas masyarakat. Kehidupan bersama pastilah membawa aturan tersendiri dan kita dididik serta diberi teladan menaatinya. Tanya ketaatan pada aturan masyarakat (biasanya tidak tertulis), kita akan dijauhi.
Ketiga, Ketaatan Tingkat Rohani. Sebagai makhluk religius, manusia juga hidup dalam aturan yang dipercaya berasal dari Tuhan. Ketidaktaatan pada Tuhan memberikan ketidaknyamanan hidup. Ketika kita melanggar perintah Tuhan -sebagaimana yang kita imani - pastilah hati kita resah dan gelisah.

Ketaatan adalah keniscayaan. Semua orang pada dirinya sendiri membutuhkan ketaatan. Tanpa ketaatan tak hanya diri sendiri dirugikan, tetapi juga orang lain, khususnya yang berelasi dengan kita. Kesadaran ini penning bagi remaja yang kerap hanya berpikir untuk dirinya sendiri.

Sumber:
http://www.kompasiana.com/sukowaspodo_99/tiga-tingkat-pengertian- ketaatan_54f7bcbfa33311c5198b498b
 

Langkah-langkah Penyampaian
___________________________


1. Tunjukkan gambar dalam ilustrasi di bawah. Diskusikan model ketaatan pada gambar tersebut.
2. Menjadi pribadi yang taat memang tidak mudah. Masuklah dalam penjelasan teks. Berikan tekanan betapa tidak mudahnya Abraham taat kepada Tuhan dan Ishak taat kepada Abraham.
3. Tanyakan: apa yang membuat Abraham dan Ishak tetap taat? Kesadaran bahwa Tuhan akan menyediakan menjadi penting bagi perilaku yang taat.
4. Ketaatan adalah panggilan hidup manusia. Masuklah pada pengenaan.
5.Masuklah dalam kegiatan.
                                  

Kegiatan
_____________________

 

Minta remaja mendiskusikan pertanyaan di bawah ini. Setelah itu minta mereka menyampaikan hasil pertanyaan 3 dalam bentuk tulisan indah.
1. Apakah ketaatan manusia harus membabi buta? Kapan seseorang boleh tidak taat?
2. Ketaatan semacam apakah yang Anda kehendaki?
3. Apa alasan untuk ketaatan Anda. (Jika aku taat itu karena: ...)
4. Minta remaja menuliskan alasan ketaatan ini pada selembar kertas dengan tulisan indah. Jika memungkinkan tulisan ini dipajang menjadi dekorasi ruang remaja untuk beberapa waktu.

Ilustrasi
_____________________




 

                                                                           


 

Sahabat Surgawi,
 Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja antar denominasi OnLine
www.sahabatsurgawi.net - webmaster@sahabatsurgawi.net, Copyright 1999