HOME ABOUT US KESAKSIAN AGENDA GEREJA LINK CONTACT US



 

Derap Remaja Edisi 43
Januari-Juni 2018
Bahan Pembinaan Remaja Gereja Kristen Indonesia


Pembayaran dapat dilakukan dengan 2 cara :

1. Via Bank:
Tahapan BCA no. 0372999053, an. Wisnu Sapto Nugroho
Segera kirimkan pemberitahuan pengiriman bank.
2. Via Pos Wesel:
dengan cara memakai blangko yang dilampirkan dalam surat pengantar.
Pdt. Wisnu Sapto Nugroho, Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Alamat Sekretariat & Distribusi DERAP REMAJA:
Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Harga per eksemplar Rp. 40.000,-

 

Januari 2018
Iman sebagai Visi

 
6
Iman Sebagai Visi
  1
10
Iman Sebagai Trust
  2
16
Iman Sebagai Ketaatan
  3
20
Iman Sebagai Pengakuan
  4

Januari 2018 Minggu 4

Roma 10:4-11
______________
Bahan yang diperlukan: fotokopi lagu KJ 280

 

Fokus
_____________________


Dalam kehidupan agama, seperti Kristen dan Islam, umat mengenal apa yang disebut syahadat atau kredo, atau pengakuan iman. Dalam kekristenan khususnya, gereja mengenal beberapa syahadat atau pengakuan iman Kristen yang berlaku secara luas (universal), yaitu: Pengakuan Iman Rasuli, Pengakuan Iman Nicea-Konstantinopel, dan Pengakuan Iman Athanasius. Dengan adanya syahadat atau pengakuan iman tersebut, umat Kristen memahami dan menghayati bahwa iman atau percaya kepada Tuhan itu adalah suatu sikap atau tindakan yang tak lepas dari pernyataan kata-kata tentang siapa dan apa yang diimani. Kalau begitu, iman sebagai pengakuan - entah menurut Pengakuan Iman Rasuli, atau Pengakuan Iman Nicea-Konstantinopel, atau Pengakuan Iman Athanasius. atau sebuah konfesi gereja tertentu - adalah iman yang berwujud kata-kata (yang suatu waktu diucapkan secara personal atau secara komunal dalam ibadah). Apa sesungguhnya hakikat dari iman sebagai pengakuan? Apa pentingnya iman sebagai pengakuan bagi kehidupan remaja? Hal-hal inilah yang menjadi perhatian dari materi ini. Dengan materi ini, remaja pada gilirannya diajak untuk menyadari arti iman sebagai pengakuan. Remaja juga dipanggil untuk mengungkapkan imannya secara nyata melalui suatu pengakuan.
 

Penjelasan Teks
_____________________


Surat Paulus kepada jemaat Kristen di kota Roma memuat pemikiran Rasul Paulus yang kaya dan mendalam tentang kebenaran Allah melalui Tuhan Yesus Kristus. Menurut Paulus, kebenaran Allah melalui Yesus Kristus merupakan kebenaran yang hidup, dalam arti kebenaran yang bukan hanya memberi hidup bagi yang mengenal, memahami, dan mengimaninya, tetapi juga menjadi bagian hidup sehari-hari. Kebenaran Allah seperti ini tidak seperti yang diimani dan diungkapkan oleh kebanyakan orang Yahudi, terutama para ahli Taurat dan orang Farisi, sebab kebenaran Allah melalui Yesus Kristus adalah kebenaran yang membebaskan dan memberdayakan orang untuk secara realistis dan biasa-biasa menempuh perjalanan hidup di dunia ini. Sebaliknya "kebenaran Allah" yang diungkapkan oleh kebanyakan ahli Taurat dan orang Farisi adalah kebenaran yang justru membelenggu orang dan menjadikan orang berbeban berat dan letih lesu dalam menempuh perjalanan hidup di dunia. Menurut Paulus - berdasarkan pengalaman hidupnya sendiri sebagai orang Farisi - pada dasarnya kebenaran yang diungkapkan oleh ahli Taurat dan orang Farisi itu bukanlah kebenaran Allah, tetapi "kebenaran mereka sendiri" (Rm. 10:3).
Hidup dan karya Yesus Kristus yang menggenapi hukum Taurat, bagi Paulus, adalah kebenaran Allah yang sejati - yang dapat dijumpai secara biasa-biasa, bukan secara luar biasa - dalam kehidupan di dunia ini. Oleh karena itu, Paulus mengingatkan orang-orang Kristen, khususnya di kota Roma, pada apa yang ditegaskan oleh Musa dalam kitab Ulangan 30:12-14, bahwa firman atau kebenaran Allah itu sangat dekat dengan hidup manusia, yaitu di dalam mulut dan hati manusia - bukan di atas langit atau di seberang laut — untuk dilakukan. Dalam bahasa Paulus sendiri, firman atau kebenaran Allah yang disinggung Musa dalam kitab Ulangan itu adalah Yesus Kristus. Itulah sebabnya Paulus menulis, "Jangan katakan di dalam hatimu: `siapakah akan naik ke surga (langit)?', yaitu untuk membawa Yesus (firman atau kebenaran Allah) turun, atau: 'siapakah akan turun ke jurang maut (bandingkan Musa: seberang laut)?', yaitu untuk membawa Kristus naik dari antara orang mati. Tetapi apakah katanya? Ini: `Firman itu dekat kepadamu yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu.' Itulah firman iman, yang kami beritakan" (Rm. 10:6-8).
Dalam uraiannya, Paulus menyebut istilah 'firman iman'. Dengan istilah ini, Paulus tampak mau mengaitkan secara erat antara firman atau kebenaran Allah dan hal iman. Oleh karena acuannya itu jelas pada hidup dan karya Yesus Kristus, maka firman atau kebenaran Allah yang dimaksudkan di sini menyangkut hal praktis tertentu yang mesti dilakukan orang dalam hidupnya. Hal praktis itu tidak lain adalah iman sebagai sikap percaya kepada Allah yang berkarya di dalam Yesus Kristus, dan iman sebagai pengakuan kepada Yesus Kristus.
Paulus memandang iman sebagai sikap percaya itu sebagai perkara hati — sesuatu yang batiniah, yang tak kelihatan karena 'berada di dalam', dan iman sebagai pengakuan itu sebagai perkara mulut — sesuatu yang lahiriah, yang kelihatan karena 'berada di luar' (perhatikan Rm. 10:9-10). Dengan pandangan seperti ini, pada dasarnya Paulus sedang menunjukkan pemahaman dan penghayatan iman yang bersifat lebih utuh, bahwa iman itu bukan hanya perkara batiniah atau rohaniah, tetapi juga perkara lahiriah atau jasmaniah.
Secara khusus tentang iman sebagai pengakuan, yang menyangkut perkara lahiriah atau jasmaniah itu, Paulus mempersaksikan Yesus Kristus sebagai teladan iman yang seharusnya diikuti oleh orang-orang Kristen. Artinya, hidup dan karya Yesus yang mengasihi dan melayani dunia ini adalah perwujudan nyata dari iman kepada Allah.

Dengan perkataan lain, kalau orang mau mewujud-nyatakan imannya kepada Allah, maka lihat dan teladanilah Yesus dalam pikiran-Nya, perkataan-Nya, dan perbuatan-Nya. Itu berarti, iman sebagai pengakuan adalah iman yang menjadikan hidup dan karya Yesus Kristus sebagai aku yang hidup dan berkarya dalam kehidupan sehari-hari.
Paulus menegaskan iman sebagai pengakuan itu berkaitan erat dengan mulut, organ tubuh di mana kata-kata keluar. Kata-kata yang keluar ini dapat dipahami dengan baik hanya jika sesuai dengan konteksnya, baik sesuai dengan bahasanya maupun pokok pembicaraannya. Demikianlah juga iman sebagai pengakuan, iman yang diwujudnyatakan melalui praktik hidup aku dalam keseharian (dengan pikiran, perkataan, dan perbuatan aku). seharusnya bersifat kontekstual. Artinya, bahasa dan pokok pembicaraannya sambung dengan konteks hidup sehari-hari.


Pengenaan
_____________________


Entah dari ibadah gereja, atau pelajaran agama Kristen di sekolah, atau pelajaran katekisasi. remaja mengenal beberapa pengakuan iman dalam kekristenan. Salah satu pengakuan iman yang sering diucapkan secara bersama-sarna (komunal) dalam ibadah Kristen adalah Pengakuan Iman Rasuli. Pengucapan secara bersama-sama Pengakuan Iman Rasuli ini adalah salah satu bentuk nyata dari iman sebagai pengakuan. Masih banyak bentuk nyata lainnya dari iman sebagai pengakuan. Tidak berhenti dengan kata-kata yang diucapkan atau dinyanyikan secara komunal dalam ibadah, bentuk nyata iman sebagai pengakuan berlanjut dalam kehidupan sehari-hari, dalam pikiran dan perbuatan kita yang meneladani hidup dan karya Yesus Kristus. Jadi, remaja seharusnya mewujudnyatakan iman sebagai pengakuan tidak terbatas hanya di dalam gereja, tetapi juga meluas dalam kehidupan di luar gereja. Dengan demikian, apa yang di-aku-i secara iman itu sambung dengan kehidupan sehari-hari.
 

Langkah-langkah Penyampaian
___________________________


1. Awali dengan menyanyikan lagu KJ 280 (lihat Kegiatan).
2. Sampaikan bahwa lagu KJ 280 merupakan sebuah pengakuan iman yang dinyanyikan. Lanjutkan dengan menerangkan bahwa dalam kehidupan agama, seperti Kristen dan Islam, umat mengenal syahadat atau kredo atau pengakuan iman. Secara khusus, dalam kekristenan, gereja mengenal beberapa pengakuan iman yang berlaku.secara universal (lihat Fokus).
3. Ajaklah remaja memahami hakikat iman sebagai pengakuan berdasarkan Roma 10:4-11. Tunjukkan juga pentingnya iman sebagai pengakuan dalam kehidupan sehari-hari dari pengikut Kristus (lihat Penjelasan Teks).
4. Kemukakanlah bahwa remaja seharusnya mampu mengungkapkan imannya secara nyata melalui suatu pengakuan. Selain itu, sampaikan juga pentingnya iman sebagai pengakuan bagi kehidupan remaja (lihat Pengenaan).
5. Untuk memperjelas praktik iman sebagai pengakuan, sampaikanlah Ilustrasi.
6. Akhiri dengan melakukan Kegiatan.
                                  

Kegiatan
_____________________

 

Diskusi Lagu "Aku Percaya" - KJ 280

1. Bagikan teks lagu "Aku Percaya" - KJ 280.
2. Ajaklah remaja menyanyikan lagu ini secara bersama-sama.
3. Bentuklah kelompok-kelompok kecil (terdiri atas 4-5 orang) yang sudah ditentukan. Tugas kelompok adalah mendiskusikan lagu ini dengan panduan pertanyaan berikut ini:
a. Sebutkanlah tiga pokok isi dari pengakuan iman Kristen berdasarkan lagu KJ 280.
b. Sebutkan hal.hal apa yang dapat dipraktikkan dalam kehidupan remaja sehari-hari sebagai refleksi dan aplikasi dari tiga pokok isi dari pengakuan iman itu.
4. Setelah diskusi kelompok kecil selesai, minta masing-masing kelompok menyampaikan hasil diskusinya.
5. Akhiri dengan doa bersama.

Ilustrasi
_____________________


Kisah Polikarpus
 

Polikarpus adalah penilik gereja di Smirna, salah seorang murid dari Rasul Yohanes. Setelah mendengar bahwa para prajurit mencarinya, ia berusaha melarikan diri. Seorang anak menemukan Polikarpus dan melaporkannya kepada para prajurit. Polikarpus pun ditangkap.
Polikarpus meminta waktu satu jam untuk berdoa kepada para penjaga yang menangkapnya, setelah ia memberi makan mereka. Permintaan ini dikabulkan. Ia berdoa dengan begitu khusuk sehingga akhirnya para penjaga terpaksa mengakhiri Polikarpus berdoa. Mereka meminta maaf kepada Polikarpus karena mereka ditugaskan untuk segera membawa ke pengadilan Romawi di Smirna. Di hadapan gubernur Romawi di Smirna, Polikarpus diadili. Setelah putusan hukuman ditentukan, yaitu dibakar di tengah pasar. sang gubernur berkata kepadanya, "Celalah Kristus dan aku akan melepaskan kamu."

Polikarpus menjawab dengan pengakuan imannya secara mantap, "Delapan puluh enam tahun aku telah melayani Kristus; Ia tidak pernah berbuat salah kepadaku. Bagaimana mungkin aku mengkhianati Rajaku yang telah menyelamatkan aku?"
Hukuman kepada Polikarpus pun dilaksanakan. Di tengah pasar, Polikarpus diikat di tonggak dan tidak dipaku seperti kebiasaan pada saat itu karena ia menjamin mereka bahwa ia akan berdiri tanpa bergerak dalam nyala api dan tidak akan melawan mereka. Pada saat kayu-kayu kering yang diletakkan di sekitarnya dinyalakan, nyala api itu berkobar dan menyelubungi tubuhnya tanpa membakarnya. Oleh karena itu, pelaksana hukuman diperintahkan untuk menusuknya dengan pedang. Ketika Polikarpus ditusuk, darah yang sangat banyak menyembur keluar dan memadamkan api itu. Meskipun teman-teman Kristennya memohon agar tubuhnya diberikan kepada mereka supaya mereka dapat menguburkannya,.musuh-musuh Injil bersikeras agar tubuhnya dibakar dengan api. Polikarpus mati karena pengakuan imannya yang mantap. Tubuhnya menjadi abu.

Sumber:
http://www.sarapanpagi.org/kisah-para-martir-vtl226.html (diakses 19 Juli 20 17).
 

                                                                           


 

Sahabat Surgawi,
 Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja antar denominasi OnLine
www.sahabatsurgawi.net - webmaster@sahabatsurgawi.net, Copyright 1999