HOME ABOUT US KESAKSIAN AGENDA GEREJA LINK CONTACT US


 

Derap Remaja Edisi 41
Bahan Pembinaan Remaja Gereja Kristen Indonesia


Pembayaran dapat dilakukan dengan 2 cara :

1. Via Bank:
Tahapan BCA no. 0372999053, an. Wisnu Sapto Nugroho
Segera kirimkan pemberitahuan pengiriman bank.
2. Via Pos Wesel:
dengan cara memakai blangko yang dilampirkan dalam surat pengantar.
Pdt. Wisnu Sapto Nugroho, Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Alamat Sekretariat & Distribusi DERAP REMAJA:
Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Harga per eksemplar Rp. 40.000,-
 

Januari 2017    
1. CIPTAAN TUHAN SUNGGUH AMAT BAIK
Kejadian 1:1-31
 
  1
2. BAIK ... APAKAH SEMPURNA?
Mazmur 74:12-17:104:24
 
  2
3. MANUSIA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN
Kejadian 2:4b-25
 
  3
4. DISABILITAS ADALAH ANUGERAH
yohanes 9:141
 
  4
5. BERAGAMNYA VARIASI CIPTAAN TUHAN
1 Korintus 2:11-12
 
  5

 


2017
Januari
Minggu 1
 



 

 


CIPTAAN TUHAN SUNGGUH AMAT BAIK



Bacaan: Kejadian 1:1-31
Bahan yang Diperlukan: foto-foto pemandangan alam

FOKUS



Di tengah pemandangan alam yang indah, entah di tepian laut atau danau yang luas, entah di bukit atau pegunungan yang sejuk, orang pada umumnya akan merasa betah dan berlama-lama menikmati pemandangan alam itu. Bagi yang baru pertama kali berada di sana, pemandangan dan suasana alam itu mampu membuat diri terpukau. Seolah-olah pemandangan dan suasana alam itu menghisap dan menghanyutkan dia dalam keterpesonaan. Tidak mustahil, keterpesonaan yang menyenangkan itu mendorong diri untuk memuji Yang Ilahi, seperti terungkap dalam refrain KJ 64: "Maka jiwaku pun memuji-Mu, sungguh besar Kau Allahku." Dorongan pujian ini pada hakikatnya adalah gerak iman kepada Allah Pencipta alam semesta.

Pelajaran ini mengajak remaja untuk menyadari bahwa alam dan segala isinya yang diciptakan Allah adalah sungguh amat baik. Kesadaran ini seharusnya mendorong remaja untuk bersyukur kepada Allah dan sekaligus untuk turut mengelola dan memelihara alam dan segala isinya demi kebaikan atau keindahan bersama.
 

PENJELASAN TEKS


Walaupun lebih dari satu kisah Penciptaan dalam Alkitab (lihat misalnya: Mzm. 8; 74:12-17; 77:17-21; 89; Yer. 31:35-37; Am. 4:13; 5:8), banyak orang menganggap kisah Penciptaan dalam kitab Kejadian 1 sebagai paling populer. Sebagaimana dituliskan oleh Robert B. Coote dan David Robert Ord (2011, 22),'"kisah (Penciptaan, pen.) itu menjadi paling tersohor hanya karena ia tampil di bagian awal Alkitab." Kisah Penciptaan dalam Kejadian 1 sendiri merupakan tulisan dari abad ke-5/ 6 sebelum Masehi. Ketika tulisan itu tersusun, umat Yahudi (paling tidak penulis teks itu) sudah mengimani dan menyembah Allah sebagai Pembebas Israel. Dengan demikian, paham (iman) tentang Allah sebagai Pencipta terbentuk baru kemudian. Tak tertutup kemungkinan, paham (iman) tentang Allah sebagai Pencipta dunia berkaitan erat dengan paham (iman) tentang Allah sebagai Pembebas Israel. Gerhard von Hard mengungkapkan bahwa kisah Penciptaan dalam Kejadian 1 menjadi semacam pendahuluan kosmis bagi sejarah Israel, yang ditulis untuk memberikan suatu konteks yang lebih universal pada paham (iman) tentang Allah sebagai Pembebas Israel. Jadi, kisah Penciptaan itu merupakan uraian "kelanjutan" dari paham (iman) tentang Allah sebagai Pembebas Israel, bukan uraian teoretis ilmiah mengenai bagaimana alam semesta ini ada.

Kisah Penciptaan dalam Kejadian 1 menuturkan bahwa Allah 'menciptakan' (Ibrani: bara) segala sesuatu (ditunjukkan dengan istilah 'langit dan bumi' pada ayat 1) melalui suatu rangkaian proses dalam waktu (ditunjukkan oleh penyebutan hari pertama, hari kedua, dst.)- Dalam rangkaian proses itu, peran firman Allah bersifat menentukan (decisive) untuk tujuan dari adanya yang dijadikan Allah itu. Firman Allah selalu mendahului proses terjadinya segala ciptaan. Sebagai contoh, pada ayat 3 dituliskan, "Berfirmanlah Allah: 'Jadilah terang.' Lalu terang itu jadi." Demikian selanjutnya hal yang sama ditemukan pada ayat-ayat berikutnya.

Pembaca Kejadian 1 dapat menemukan bahwa pada "final" beberapa rangkaian proses penciptaan, Penulis teks Kejadian 1 memberikan sebuah pernyataan yang khas, yaitu: "Allah melihat bahwa semuanya itu baik" (lihat: ayat 10, 12, 18, 21, 25). Kata 'baik' di sini (Ibrani: tobh) memuat makna etis dan estetis (baik juga berarti 'indah' - lihat pemakaian kata kalos, artinya: indah, dalam Alkitab Septuaginta). Menarik Alkitab LAI Bahasa Indonesia Masa Kini (BIMK) menerjemahkan kata tobh sebagai 'senang', sehingga pernyataan "Allah melihat bahwa semuanya itu baik" menjadi: "Allah senang melihat hal itu." Dengan demikian, kita dapat menyimpulkan bahwa pernyataan 'baik' dari Allah menunjuk pada tercapainya tujuan dari rangkaian proses adanya yang dijadikan Allah.

Kini mari kita lihat masing-masing dari rangkaian proses penciptaan Allah dalam urutan waktu itu. Pada hari pertama Allah menciptakan terang atau cahaya. Allah pun memisahkan terang itu dari gelap yang memang sudah ada. Allah menamai terang itu sebagai siang dan gelap sebagai malam. Perhatikan di sini, Penulis Kejadian ini menyatakan: "Allah melihat bahwa terang itu baik" (ayat 4) sebelum terjadinya siang dan malam. Jadi, tampaknya yang dilihat tercapainya tujuan penciptaan di sini bukan tentang siang dan malam, melainkan tentang terjadinya terang. Titik. Hanya itu saja.

Pada hari kedua Allah menciptakan cakrawala atau langit. Di sini Penulis Kejadian tidak terhindar dari pengaruh gambaran tentang dunia (kosmologi) pada zamannya. Kosmologi pada zaman itu memahami cakrawala (firmament) sebagai semacam "terpal kemah" yang terbentang dan yang memisahkan antara air atas dan air bawah (lihat gambar di bawah). Tampak Penulis Kejadian tidak memberikan pernyataan 'baik' dari Allah tentang rangkaian proses penciptaan ini. Alasannya, oleh karena ini bukanlah tujuan atau "final" dari proses yang dikerjakan Allah. Tujuan dari penciptaan cakrawala atau langit pada hari kedua tampaknya berkaitan erat dengan rangkaian proses penciptaan pada hari ketiga.
Pada hari ketiga rangkaian proses penciptaan yang telah dimulai pada hari kedua, yaitu dengan cakrawala atau langit, berlanjut. Dalam hal ini, subjek yang "diolah" oleh Allah adalah bagian yang dipisahkan oleh cakrawala atau langit itu. Bagian air di bawah langit yang dikumpulkan pada satu tempat dan kering disebut darat. Bagian air di bawah langit yang tersisa disebut laut. Di sini, Penulis Kejadian tidak menyinggung perihal bagian air di atas langit. Hanya Penulis menyatakan bahwa "Allah melihat bahwa semuanya itu baik" (ayat 10).

Rangkaian proses penciptaan berlanjut. Kini Allah "mengolah" bagian di bawah langit yang disebut darat itu. Allah berfirman agar dari tanah bertumbuhlah segala jenis tunas-tunas muda, tumbuhan yang berbiji, dan segala jenis pohon. Proses penciptaan ini berlangsung sedemikian rupa sehingga pada bagian di bawah langit yang disebut darat itu ditumbuhi oleh segala jenis tumbuh-tumbuhan dan segala jenis pohon. Tujuan dari proses penciptaan pun berhasil. Penulis Kejadian menyatakan, "Allah melihat bahwa semuanya itu baik" (ayat 12).

Pada hari keempat Allah mulai mengurusi bagian cakrawala atau langit. Di sini ibarat pelukis, Allah memberikan kelengkapan pada langit, yaitu benda-benda penerang. Selain sebagai penerang bumi, benda-benda penerang itu berperan sebagai penanda malam (yaitu dengan benda-benda penerang yang lebih kecil - bulan dan bintang-bintang) dan penanda siang (yaitu dengan benda penerang yang lebih besar - matahari), dan sekaligus sebagai penanda masa-masa yang tetap, hari-hari, dan tahun-tahun. Tidak disebutkan apakah kelengkapan berupa benda-benda penerang ini menempel atau melayang di langit. Yang jelas, proses penciptaan benda-benda penerang ini berjalan dengan baik, dalam arti mencapai tujuannya (ayat 18).
 

Pada hari kelima bagian air di bawah langit yang disebut laut mendapat perhatian Allah. Allah tidak membiarkan laut itu kosong begitu saja, melainkan dihidupi oleh rupa-rupa makhluk air, yakni binatang-binatang laut, baik yang besar maupun yang kecil. Demikian pula Allah tidak membiarkan bagian antara darat dan langit itu kosong. Lalu Allah menciptakan segala jenis burung yang mampu terbang untuk menghiasi bagian antara darat dan langit. Rangkaian proses penciptaan ini berjalan dengan baik (ayat 21). Menarik di sini, Penulis Kejadian menuliskan bahwa Allah mcmberkati makliluk yang diciptakan-Nya itu, suatu berkat untuk melangsungkan kehidupan dan memenuhi laut - bagi makhluk air - dan bumi - bagi segala jenis burung yang mampu terbang di antara darat dan langit.

Pada hari keenam Allah mengurusi bagian di bawah langit yang disebut darat. Seperti yang Allah kerjakan pada bagian yang disebut laut, Allah pun tidak membiarkan bagian yang disebut darat itu kosong begitu saja.

Pembaca tentu ingat bahwa pada hari ketiga Allah tclah mengurusi bagian yang disebut darat itu dengan menjadikan segala tumbuh-tumbuhan dan segala jenis pohon. Kini Allah melengkapi bagian darat itu dengan segala jenis makhluk darat, seperti: ternak, binatang melata, dan binatang liar. Penulis Kejadian menyatakan bahwa Allah mengerjakan semua itu dengan baik (ayat 25).

Setelah proses penciptaan segala jenis makhluk darat berlangsung, masih pada hari keenam, Allah juga mengerjakan penciptaan pada bagian yang disebut darat itu. Di sini Allah seolah mcmantapkan diri-Nya sebelum melanjutkan proses penciptaan. Dia menghendaki agar seluruh proses penciptaan-Nya itu, baik yang berkaitan dengan darat, laut, maupun udara (bagian antara bumi dan langit), dapat bekerja dengan baik alias mencapai tujuan-Nya, melalui keterlibatan aktif dan kreatif suatu ciptaan tertentu. Allah pun memutuskan untuk menciptakan makhluk darat tertentu itu menurut rupa dan gambar-Nya. Makhluk darat itu - laki-laki dan pcrempuan -disebut manusia. Kepada manusia, Allah memberikan berkat untuk melangsungkan kehidupan dan memenuhi bumi, dan kepercayaan untuk mengurusi segala ciptaan-Nya baik di darat, laut, maupun udara. Lalu Penulis Kejadian pun menyatakan, "Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu sungguh amat baik (tobh me'odh)" (ayat 31); dalam bahasa Alkitab LAI BIMK, "Allah memandang segala sesuatu yang telah dibuat-Nya itu dan Ia sangat senang."
 

PENGENAAN
 


Kisah Penciptaan memberikan gambaran tentang Allah yang mengerjakan proses penciptaan segala sesuatu dengan baik atau indah. Baik atau indah (tobh) ini berkaitan erat dengan tujuan yang dicapai Allah melalui firman-Nya dalam proses penciptaan segala sesuatu. Jika kita memakai bahasa Alkitab LAI BIMK, maka kita dapat mengatakan bahwa baiknya atau indahnya segala ciptaan Allah itu menunjuk pada rasa senang dari Allah Pencipta. Jadi, dalam kebaikan atau keindahan segala ciptaan Allah, ternyata tersemat senyum senang Allah Sang Pencipta, bukan hanya senyum kita yang menikmatinya. Bukankah jika kita menikmati kebaikan dan keindahan alam dan segala isinya, maka kita pun tergerak untuk memuji dan memuliakan Allah?

Sebetulnya, selain tergerak untuk memuji dan memuliakan Allah, ketika kita menikmati alam yang baik atau indah, kita pun terpanggil untuk turut mengelola dan memelihara kebaikan atau keindahan alam tersebut. Sebagai manusia, baik laki-laki maupun perempuan, kita adalah ciptaan Allah yang khas, yang diciptakan menurut gambar Allah (imago Dei). Kekhasan kita (sebagai manusia) pada dasarnya ditunjukkan oleh berkat dan kepercayaan dari Allah - sejak penciptaan - untuk turut ambil bagian dalam pencapaian tujuan penciptaan, yaitu mengurusi segala ciptaan Allah, baik yang berada di darat, laut, maupun udara. Yang dimaksud 'mengurusi' di sini tentu saja dalam arti positif, yaitu bertindak aktif dan kreatif mengelola dan memelihara alam dan segala isinya (tumbuh-tumbuhan dan segala jenis pohon, segala ternak dan binatang, dan alam lingkungan yang lain) demi kebaikan atau keindahan bersama.

Dalam kehidupan masa kini, remaja seringkali tidak dapat lagi menikmati alam sekitarnya oleh karena hanyut dalam aktivitas-aktivitas yang cenderung mengasingkan dirinya, misalnya aktivitas bermain gadget. Walaupun di hadapannya terbentang pemandangan alam yang indah, yang lebih dicari dan dinikmati adalah "sinyal koneksi" (wifi) dan dunia gadget-nya. Oleh karena itu, remaja pada masa kini seharusnya diajak untuk kembali mampu menikmati kebaikan atau keindahan alam. Dengan menikmati kebaikan atau keindahan alam, remaja pun mampu bersyukur kepada Allah, memuji dan memuliakan Allah. Dari sini, remaja juga diundang untuk mengelola dan memelihara alam dan segala isinya demi kebaikan atau keindahan bersama.
 

LANGKAH-LANGKAH PENYAMPAIAN
 


1. Awali dengan melakukan Kegiatan.
2. Sampaikanlah bahwa pemandangan alam dan suasananya mampu membuat diri terpukau atau terpesona. Tidak mustahil, keterpesonaan yang menyenangkan itu mendorong diri untuk memuji dan memuliakan Allah (lihat Fokus).
3. Ajaklah remaja memahami kisah Penciptaan dalam Kejadian 1:1-31, dengan menunjukkan bahwa Allah menciptakan segala sesuatu itu baik adanya (lihat Penjelasan Teks).
4. Kemukakanlah bahwa remaja seharusnya mampu menghayati kebaikan atau keindahan alam sekitarnya, mampu mengungkapkan syukur kepada Allah atas alam sekitarnya, dan mampu mengelola dan memelihara alam di sekitarnya demi kebaikan atau keindahan bersama (lihat Pengenaan).
5. Akhiri dengan Ilustrasi. Berikan ulasan kisah KJ 64 yang memuat pujian penulis syair tentang kebesaran Allah dalam menciptakan alam dan segala isinya dengan baik atau indah.

                                                                                                   
KEGIATAN


1. Remaja dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil. Satu kelompok terdiri atas 3-5 orang.
2. Setiap kelompok diberikan dua foto pemandangan alam. Foto dapat diunduh di: • http://infounik.org/tempat-terindah-di-dunia.html
• http://infounik.org/35-foto-gambar-pemandangan-alam-indah-di-indonesia.html
• http://infounik.org/pemandangan-alam-menakjubkan.html
3. Kelompok mendiskusikan foto-foto tersebut dengan menjawab pertanyaan sebagai berikut:
• Apa perasaanmu saat melihat foto-foto tersebut?
• Apa keunikan dari pemandangan alam dalam foto-foto tersebut?
• Apakah kamu memiliki ide kreatif untuk mengembangkan lokasi pemandangan dalam foto-foto tersebut?
4. Masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusi mereka.
                                            

ILUSTRASI


KJ 64 Bila Kulihat Bintang Gemerlapan

Lagu ini terinspirasi oleh suara halilintar yang mcnakutkan dan sinar mentari yang cerah yang dialami Pendeta Carl Booberg. Setelah itu ia mendengar kicauan burung bernyanyi yang begitu tenang pada sebuah pohon. Semua itu membuat Pendeta Carl Booberg bertelut dan memuji Tuhan, mengagumi alam ciptaan Tuhan. Ia mulai menulis syair dalam bahasa Swedia "O Store Gud".

Kemudian seorang misionaris Inggris di Ukraina bagian barat, Stuart K. Hine, menerjemahkan lagu itu ke dalam bahasa Inggris dan memberi judul "How Great Thou Art". Lagu itu pun mulai terkenal setelah dinyanyikan pada KKR yang diadakan oleh Billy Graham.

Bila ditelusuri, lirik lagu bagian pertama sungguh menceritakan tentang pengalaman-pengalaman memandang hutan pegunungan Rumania yang begitu indah. Keagungan alam ini membuat ia tertunduk di hadapan Allah yang maha besar.
 
  Bila kulihat bintang gemerlapan
dan bunyi guruh riuh kudengar,
Ya Tuhanku, tak putus aku heran
melihat ciptaan-Mu yang besar.

Refrain:
Maka jiwaku pun memuji-Mu:
"Sungguh besar Kau, Allahku!"
Makajiwaku pun memuji-Mu:
"Sungguh besar Kau, Allahku!"
                                                                   
               

                                                                                                                                  


A R S I P
| derap desember 0415 | derap januari 0116 | derap januari 0216 | derap januari 0316 |
| derap januari 0416 | derap januari 0516 | derap februari 0116 | derap februari 0216 | derap februari 0316 |
| derap februari 0416 | derap maret 0116 | derap maret 0216 | derap maret 0316 | derap maret 0416 |
 | derap april 0116 | derap april 0216 | derap april 0316 | derap april 0416 | derap mei 0116 |

 | derap mei 0216 | derap mei 0316 | derap mei 0416 |derap mei 0516 |derap juni 0116 | derap juni 0216 |
 | derap juni 0316 | derap juni 0416 |derap juli 0116 | derap juli 0216 | derap juli 0316 | derap juli 0416 |  |derap juli 0516 | derap agustus 0116 | derap agustus 0216 | derap agustus 0316 | derap agustus 0416 |
| derap september 0116 | derap september 0216 | derap september 0316 | derap september 0416 |
| derap oktober 0116 | derap oktober 0216 | derap oktober 0316 | derap oktober 0416 |
| derap oktober 0516 | derap nopember 0116 | derap nopember 0216 | derap nopember 0316 |
|derap nopember 0416 | derap desember 0116 | derap desember 0216 | derap desember 0316 |
| derap desember 0416 |

 

Sahabat Surgawi,
 Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja antar denominasi OnLine
www.sahabatsurgawi.net - webmaster@sahabatsurgawi.net, Copyright 1999