HOME ABOUT US KESAKSIAN AGENDA GEREJA LINK CONTACT US


 

Derap Remaja Edisi 41
Bahan Pembinaan Remaja Gereja Kristen Indonesia


Pembayaran dapat dilakukan dengan 2 cara :

1. Via Bank:
Tahapan BCA no. 0372999053, an. Wisnu Sapto Nugroho
Segera kirimkan pemberitahuan pengiriman bank.
2. Via Pos Wesel:
dengan cara memakai blangko yang dilampirkan dalam surat pengantar.
Pdt. Wisnu Sapto Nugroho, Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Alamat Sekretariat & Distribusi DERAP REMAJA:
Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Harga per eksemplar Rp. 40.000,-
 

Januari 2017    
1. CIPTAAN TUHAN SUNGGUH AMAT BAIK
Kejadian 1:1-31
 
  1
2. BAIK ... APAKAH SEMPURNA?
Mazmur 74:12-17:104:24
 
  2
3. MANUSIA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN
Kejadian 2:4b-25
 
  3
4. DISABILITAS ADALAH ANUGERAH
yohanes 9:141
 
  4
5. BERAGAMNYA VARIASI CIPTAAN TUHAN
1 Korintus 2:11-12
 
  5

 


2017
Januari
Minggu 4
 



 

 DISABILITAS ADALAH ANUGERAH


 Bacaan: Yohanes 9:1-41
 Bahan yang diperlukan:
 Alat-alat pembuat poster atau leaflet atau perencanaan kegiatan


 

FOKUS



Istilah "disabilitas" merupakan istilah yang relatif baru, sebagai pengganti istilah "cacat" yang selama ini dipakai. Mengapa harus ada istilah baru? Karena istilah "cacat" berarti tidak lengkap, tidak sempurna. Padahal penyandang disabilitas bukanlah orang yang tidak lengkap dan tidak sempurna. Mereka adalah orang-orang yang lengkap dan sempurna, dengan suatu perbedaan tertentu. Sebelum istilah "penyandang disabilitas" secara resmi dipakai dalam Undang-undang no. 8 tahun 2016, terlebih dahulu dikenal istilah "difabel" yang merupakan singkatan dari bahasa Inggris differently abled (berkemampuan berbeda). Namun istilah differently abled tidak lagi dipakai secara internasional karena setiap orang merasa differently abled. Maka istilah resmi yang dipakai adalah persons with disabilities, yang diterjemahkan menjadi "penyandang disabilitas."

Dalam gereja dan masyarakat seringkali ada pandangan bahwa disabilitas merupakan akibat dari dosa. Apakah ini merupakan pandangan yang benar? Perikop Yohanes 9:1-41 menunjukkan bahwa disabilitas bukanlah akibat dari dosa. Adanya disabilitas merupakan variasi dari ciptaan Tuhan, yang baik adanya. Perikop ini juga menunjukkan bagaimana semestinya sikap yang benar terhadap penyandang disabilitas, sebagaimana yang ditunjukkan Yesus sendiri. Maka melalui pelajaran ini remaja menyadari bahwa disabilitas bukan akibat dosa, melainkan anugerah Tuhan sebagai salah satu variasi ciptaan, sehingga remaja dapat menghargai penyandang disabilitas.
 

PENJELASAN TEKS


Perikop yang sangat panjang ini dapat dibagi beberapa bagian berdasarkan tokoh-tokoh yang bereaksi terhadap orang buta yang disembuhkan Yesus. Urutannya adalah sbb.:

 
  • Murid-murid Yesus (ayat 2-5)
  • Yesus (ayat 6-7)
  • Tetangga-tetangga orang buta (ayat 8-13)
  • Orang-orang Farisi (ayat 14-19)
  • Orang tua dari orang buta (ayat 20-23)
  • Orang-orang Farisi (ayat 24-34)
  • Yesus (ayat 35-39)
  • Orang-orang Farisi dan Yesus (ayat 40-41)

1. Murid-murid Yesus: Siapa yang Berdosa?

Ketika melihat seseorang yang buta sejak lahir, murid-murid Yesus bertanya, "Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?" (ayat 2). Pertanyaan ini menunjukkan pemahaman mereka bahwa dosa dan buta sejak lahir memiliki hubungan sebab dan akibat. Memang pertanyaan ini terasa aneh. Jika orang tuanyalah yang berdosa, tentu lebih mudah dipahami. Bagaimana mungkin seorang janin telah berbuat dosa saat ia masih berada di dalam perut ibunya? Namun inilah pengertian yang dimiliki orang-orang pada zaman Yesus.

Yesus tidak setuju dengan pandangan ini, sehingga dengan tegas Ia berkata, "Bukan dia dan bukan juga orang tuanya...." Jika Yesus tidak setuju dengan pemahaman bahwa dosa sebagai penyebab disabilitas, maka bagian kalimat selanjutnya ("tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia") juga bukan penyebab disabilitas. Sangat tidak masuk akal jika Allah membuat seseorang memiliki disabilitas agar pekerjaan-pekerjaan-Nya dinyatakan. Disabilitas merupakan kenyataan yang ada di dalam dunia, yang penyebabnya tidak selalu dapat dijelaskan. Memang ada sebagian disabilitas yang dapat dijelaskan, misalnya karena pada masa kehamilan ada upaya menggugurkan, namun sebagian yang lain tetap tidak dapat dijelaskan. Kenyataan yang sudah ada inilah yang dipakai oleh Allah untuk menyatakan pekerjaan-pekerjaan-Nya, yaitu melalui Yesus Kristus.

2. Yesus Memulihkan Penglihatan

Disabilitas tidak sama dengan penyakit. Penyakit dapat disembuhkan dengan obat, namun disabilitas tidak dapat disembuhkan. Dalam Yohanes 9 dikatakan Yesus "memelekkan" dan bukan "menyembuhkan" mata orang yang buta sejak lahir. Dengan perkataan lain: Yesus memulihkan penglihatan orang itu. Istilah-istilah ini penting untuk diperhatikan, sebab seringkali orang mengira disabilitas sama dengan penyakit yang bisa disembuhkan.

Cara yang dipakai Yesus untuk menyembuhkan bukanlah sesuatu yang mengherankan, melainkan hal yang biasa dilakukan para tabib pada zaman itu. Yesus meludah ke tanah, dan mengaduk ludahnya itu dengan tanah, lalu mengoleskannya pada mata orang buta tadi dan berkata kepadanya: "Pergilah, basuhlah dirimu dalam kolam Siloam" (ayat 6-7). Penggunaan tanah mengingatkan pada penciptaan, saat Tuhan mengambil debu tanah, membentuk manusia, dan menghembuskan nafas kepadanya. Setelah orang itu membasuh diri, ia pun dapat melihat.

Pada zaman Yesus seorang penyandang disabilitas hanya dapat mengemis. Mereka tidak dapat bekerja seperti orang-orang lain. Bahkan tetangga dan orang-orang yang mengenalnya tidak menyebutnya sebagai "orang yang buta sejak lahir" melainkan sebagai "pengemis" (ayat 8). Dengan restorasi penglihatan yang dilakukan Yesus, semestinya orang yang sudah melek itu dapat diterima oleh masyarakat dan dapat bekerja mencari nafkah, sehingga ia mengalami pemulihan sosial. Namun harapan ini tidak terwujud. Orang yang sudah melek itu ditolak oleh orang-orang lain. Bahkan Yesus yang sudah memelekkan orang itu juga ditolak. Ada tiga kelompok orang yang menolak orang yang sudah melek itu: tetangga, orang-orang Farisi, dan orang tuanya sendiri.

3. Tetangga-tetangga: Bagaimana Ia Bisa Melek?

Tetangga dan orang-orang yang mengenalnya sebagai seorang yang lahir buta heran bagaimana ia dapat melek. Rupanya tidak biasa terjadi orang yang lahir buta dapat dimelekkan. Setelah orang itu menceritakan bagaimana Yesus memelekkannya, mereka ingin tahu di mana Yesus. Tidak dijelaskan mengapa mereka ingin berjumpa dengan Yesus: apakah sekedar ingin tahu, atau ingin melihat Yesus memulihkan orang-orang lain juga, atau mereka ingin menguji dari manakah kemampuan Yesus itu? Karena orang yang sudah melek itu tidak tahu di mana Yesus, orang-orang itu kemudian membawa orang yang sudah melek itu kepada orang-orang Farisi.

4. Orang-orang Farisi: Ini Hari Sabat

Orang-orang Farisi, yang merupakan pemimpin agama Yahudi, tidak mempermasalahkan meleknya orang yang lahir buta. Mereka mempermasalahkan hukum hari Sabat yang dilanggar Yesus. Dalam peraturan orang-orang Yahudi, menyembuhkan merupakan hal yang dilarang dilakukan pada hari Sabat. Sebagian dari orang-orang Farisi berpendapat bahwa orang yang melanggar peraturan hari Sabat tidak berasal dari Allah. Namun sebagian lagi berpendapat kalau tidak berasal dari Allah bagaimana Yesus dapat memelekkan mata orang yang buta sejak lahir. Perbedaan pendapat tidak diteruskan karena mereka membawa orang yang sudah melek itu kepada orang tuanya.

5. Orangtua: Ia sudah Dewasa...

Orang tua mengakui bahwa orang yang sudah melek itu adalah anak mereka yang lahir buta. Namun mereka tidak mau terlibat lebih lanjut, sehingga mereka menyerahkan hal itu kepada anak mereka yang sudah dewasa. Sikap orang tua ini dipicu ketakutan mereka terhadap orang-orang Yahudi yang akan mengucilkan setiap orang yang mengaku Yesus sebagai Mesias (ayat 22).

Penolakan dari tiga kelompok tersebut (tetangga, orang-orang Farisi, orang tua) menunjukkan kegagalan pemulihan secara sosial. Sekalipun sudah melek, orang itu tetap tidak diterima oleh rakyat, pemimpin, bahkan orang tuanya sendiri. Ia tetap terpinggirkan dan terusir dari kehidupan sosial.

Pengalaman seperti ini masih terjadi hingga saat ini. Penyandang disabilitas seringkali ditolak oleh masyarakat, gereja, bahkan orang tuanya sendiri. Penolakan oleh masyarakat terwujud dalam berbagai kenyataan: dalam pergaulan (misalnya penyandang disabilitas dihina, dan mengalami bullying)-, dalam pendidikan (tidak semua sekolah mau menerima siswa penyandang disabilitas); dan juga dalam pekerjaan (sekalipun Undang-undang no. 8 tahun 2016 menyatakan bahwa setiap perusahaan harus mempekerjakan minimal satu penyandang disabilitas di antara 100 pekerja, pelaksanaannya tidak diawasi, dan pelanggaran terhadap peraturan ini juga tidak diikuti sanksi). Akibatnya masih ada penyandang disabilitas yang hanya tinggal di rumah sekalipun ia memiliki kemampuan tertentu untuk bekerja.

Bagaimana dengan gereja? Seringkali terjadi jemaat tidak memiliki data anggotanya yang menyandang disabilitas. Gedung gereja tidak menyediakan fasilitas untuk penyandang disabilitas (misalnya akses kursi roda ke dalam gedung gereja dan toilet; Alkitab Braille atau audio; penerjemahan ke dalam bahasa isyarat). Ada yang beralasan: tidak ada anggota jemaat yang merupakan penyandang disabilitas. Padahal bisa saja yang terjadi kebalikannya: karena tidak ada fasilitas penyandang disabilitas, tidak ada penyandang disabilitas yang datang ke gereja. Memang ada orangtua yang membawa anak mereka yang merupakan penyandang disabilitas; namun bagaimana penerimaan orang-orang lain di gereja? Apakah anak itu diterima dengan baik, atau dihina dan di-bully? Apakah penyandang disabilitas intelektual dapat mengikuti katekisasi dan menerima sakramen baptis dewasa atau sidi dan perjamuan kudus? Bagaimana gereja membaca perikop Alkitab yang mengisahkan penyandang disabilitas? Apakah masih ada yang melihat penyandang disabilitas sebagai alat atau obyek untuk tujuan tertentu, demi kepentingan seseorang atau suatu kelompok?

Bagaimana dengan orang tua? Ada orang tua yang malu memiliki anak penyandang disabilitas, sehingga mereka menyembunyikan anak itu di dalam rumah.

6. Yesus: Penerimaan dan Persahabatan

Setelah mengetahui bahwa orang itu dikucilkan dari kehidupan sosial, Yesus menemuinya dan memperkenalkan diri kepadanya. Apa yang dilakukan Yesus merupakan pemulihan penglihatan, pemulihan sosial (namun gagal karena ditolak orang-orang), dan pemulihan diri dengan menjadi sahabat orang yang sudak melek itu. Yesus tidak ingin orang itu mengenal-Nya sekedar sebagai seorang yang sudah memelekkannya. Yesus ingin orang itu sungguh-sungguh mengenal-Nya dengan benar. Yohanes 9 menunjukkan pengenalan yang semakin mendalam dari orang yang sudah melek itu terhadap Yesus. Pada ayat 11, saat ditanya oleh tetangga dan orang-orang yang mengenalnya, ia mengatakan Yesus adalah seorang yang telah memelekkan matanya ("Orang yang disebut Yesus itu..."). Pada ayat 17, saat ditanya oleh orang-orang Farisi, ia mengatakan bahwa Yesus adalah seorang nabi. Pada ayat 35, saat Yesus bertanya percayakah ia kepada Anak Manusia, orang itu balik bertanya siapa Anak Manusia itu. Ini menunjukkan keterbukaan orang itu untuk mengenal Anak Manusia dan percaya kepada-Nya. Akhirnya, setelah Yesus menyatakan diri sebagai Anak Manusia, ia berkata, "Aku percaya, Tuhan!" (ayat 38). Lalu ia pun sujud menyembah-Nya, sebagai pernyataan imannya.
Pengenalan orang yang sudah melek itu kepada Yesus mengalami proses: mulai dari Yesus adalah seorang yang memelekkan mata, menjadi Yesus adalah nabi, dan akhirnya Yesus adalah Anak Manusia. Berarti orang itu mengalami pertumbuhan iman kepada Yesus. Dengan mengenal siapa Yesus dan percaya kepada-Nya, orang yang sudah melek itu mengalami keutuhan diri. Ia tidak hanya mengalami pemulihan penglihatan fisik, tapi juga pemulihan penglihatan spiritual. Sedangkan orang-orang Farisi, yang tidak memerlukan pemulihan penglihatan fisik, menolak pemulihan penglihatan spiritual.

Sekalipun secara sosial orang yang sudah melek itu gagal mengalami pemulihan, namun pemulihan spiritual yang dialaminya memberikan keutuhan diri baginya. Alangkah indahnya jika ia pun mengalami pemulihan sosial. Inilah tugas gereja untuk memberikan ruang dan penerimaan para peyandang disabilitas. Dengan demikian setiap orang dapat mengalami keutuhan diri dan dipulihkan penglihatan imannya.

Sudahkah gereja mempraktekkan model solidaritas, dengan mengembangkan keramahtamahan atau persahabatan (hospitality atau friendship) dengan penyandang disabilitas, baik di dalam gereja maupun di luar gereja?

Tahukah Anda?

Pada persidangan Dewan Gereja-gereja se Dunia (WCC) kedelapan di Harare, Zimbabwe, tahun 1998, disadari pentingnya membentuk suatu jejaring ekumenis yang bergerak dalam isu disabilitas. Maka dibentuklah EDAN (Ecumenical Disability Advocates Network) dengan koordinator Dr. Samuel Kabue dari Kenya. Di Indonesia, Perhimpunan Sekolah-sekolah Teologi di Indonesia (Persetia) telah dua kali mengadakan semiloka tentang pengarusutamaan teologi disabilitas dalam kurikulum pendidikan teologi (tahun 2011 dan 2013). Hasilnya antara lain adanya matakuliah Teologi Disabilitas di UKSW dan UKDW. Dalam lingkup gereja Lembaga Pembinaan dan Pengaderan Sinode (LPP Sinode) GKJ dan GKI SW Jawa Tengah mengadakan pertemuan studi Pembinaan Warga Gereja (PWG) pada akhir April 2014 membahas teologi disabilitas dalam kehidupan bergereja. Sedangkan Komisi Pengkajian Teologi GKI SW Jabar mengadakan diskusi teologi dengan tema Gereja dan Disabilitas pada pertengahan November 2016.
 

PENGENAAN
 


Mungkin ada di antara remaja sendiri, atau anggota jemaat, yang merupakan penyandang disabilitas - berapapun usianya dan jenis disabilitasnya. Mungkin remaja yang merupakan penyandang disabilitas merasa malu atau rendah diri dengan keadaannya. Melalui pelajaran ini remaja penyandang disabilitas belajar untuk menerima diri bahwa disabilitas bukanlah akibat dosa, sehingga ia tidak perlu malu. Sebaliknya, disabilitas adalah anugerah, karena di dalamnya kasih Allah dinyatakan dalam persahabatan-Nya dengan manusia. Kesadaran ini mendorong remaja untuk belajar menerima dan bersahabat dengan penyandang disability, baik yang ada di keluarganya, gereja maupun masyarakat.
 

LANGKAH-LANGKAH PENYAMPAIAN
 

1. Tanyakan kepada remaja apakah mereka mengenal istilah disabilitas. Jelaskan istilah disabilitas dibandingan dengan difabel dan cacat (lihat Fokus). Tunjukkan gambar-gambar atau video kegiatan positif penyandang disabilitas. Misalnya ada yang menjadi atlet, penyanyi, penari, karyawan/karyawati perusahaan, dosen, pendeta, fotografer dll. (lihat ilustrasi)
2. Jika memungkinkan, tanyakan kepada remaja apakah ada di antara mereka yang termasuk penyandang disabilitas (namun jika hal ini belum tentu dapat diterima dengan baik, tak perlu dilakukan). Tanyakan kepada remaja apakah mereka mengenal seseorang penyandang disabilitas dan apa jenis disabilitasnya. Tanyakan pula bagaimana sikap orang-orang di sekitarnya terhadap penyandang disabilitas: apakah menerima atau menolak/ mem-bully.
3. Ajak remaja membaca Yohanes 9:1 -41 (pakailah Penjelasan Teks).
4. Tanyakan kepada remaja: apakah yang akan mereka lakukan?
5. Masuk dalam Kegiatan

                                                                                                   
KEGIATAN


1. Remaja masuk dalam kelompok kecil untuk merencanakan aksi.
2. Aksi itu ditulis dan digambar dalam poster. Misalnya memperkenalkan istilah disabilitas dan bagaimana seharusnya sikap orang-orang di sekitarnya; kampanye anti diskriminasi terhadap penyandang disabilitas; mengunjungi dan belajar dari penyandang disabilitas.
                                    

ILUSTRASI


Acara Kick Ancly: Fotografer tanpa tangan dan kaki
https://www.youtube.com/watch?v=fRkMgoGOJsO (versi pendek)
https://www.youtube.com/watch?v=4bm6KHQPMLU (versi panjang)

Ni Nengah Widiasih mendapat medali perunggu Rio Paralympic 2016
https://www.youtube.com/watch? v=Euml6_olPXs

Penyanyi penyandang disabilitas netra: Stevie Wonder
Komponis penyandang disabilitas rungu: Ludwig van Beethoven                                                                                                                                   
                                                                

                                                                                                                


A R S I P
| derap desember 0415 | derap januari 0116 | derap januari 0216 | derap januari 0316 |
| derap januari 0416 | derap januari 0516 | derap februari 0116 | derap februari 0216 | derap februari 0316 |
| derap februari 0416 | derap maret 0116 | derap maret 0216 | derap maret 0316 | derap maret 0416 |
 | derap april 0116 | derap april 0216 | derap april 0316 | derap april 0416 | derap mei 0116 |

 | derap mei 0216 | derap mei 0316 | derap mei 0416 |derap mei 0516 |derap juni 0116 | derap juni 0216 |
 | derap juni 0316 | derap juni 0416 |derap juli 0116 | derap juli 0216 | derap juli 0316 | derap juli 0416 |  |derap juli 0516 | derap agustus 0116 | derap agustus 0216 | derap agustus 0316 | derap agustus 0416 |
| derap september 0116 | derap september 0216 | derap september 0316 | derap september 0416 |
| derap oktober 0116 | derap oktober 0216 | derap oktober 0316 | derap oktober 0416 |
| derap oktober 0516 | derap nopember 0116 | derap nopember 0216 | derap nopember 0316 |
|derap nopember 0416 | derap desember 0116 | derap desember 0216 | derap desember 0316 |
| derap desember 0416 | derap januari 0117 | derap januari 0217 | derap januari 0317 |

 

Sahabat Surgawi,
 Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja antar denominasi OnLine
www.sahabatsurgawi.net - webmaster@sahabatsurgawi.net, Copyright 1999