HOME ABOUT US KESAKSIAN AGENDA GEREJA LINK CONTACT US



 

Derap Remaja Edisi 42
Juli-Desember 2017
Bahan Pembinaan Remaja Gereja Kristen Indonesia


Pembayaran dapat dilakukan dengan 2 cara :

1. Via Bank:
Tahapan BCA no. 0372999053, an. Wisnu Sapto Nugroho
Segera kirimkan pemberitahuan pengiriman bank.
2. Via Pos Wesel:
dengan cara memakai blangko yang dilampirkan dalam surat pengantar.
Pdt. Wisnu Sapto Nugroho, Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Alamat Sekretariat & Distribusi DERAP REMAJA:
Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Harga per eksemplar Rp. 40.000,-

 

Juli 2017    
8 Sabat
 
  1
14 Sobat
 
  2
18 Educare
 
  3
22 Life Skill
 
  4
26 I am Malala
 
  5

 Juli 2017

Minggu 1


Sabat
Bacaan: Keluaran 20:8-11
Bahan yang diperlukan: -

Fokus


Kesempatan belajar, baik formal maupun tidak formal, adalah anugerah dari Tuhan.Tujuan dari belajar adalah peningkatan kualitas kehidupan yang menjadi lebih baik dan bermartabat. Namun bila seseorang belajar tanpa henti, dari hari Senin sampai Minggu, demi mengejar prestasi maka semua proses pembelajaran itu menghilangkan tujuan belajar. Belajar tiada henti bisa menjadi beban yang menindih, menyiksa, dan memperbudak seseorang. Dalam suasana belajar yang memperbudak itu hidup terasa suram dan martabat kemanusiaan menjadi hilang. Manusia butuh istirahat. Kita bersyukur karena Tuhan menyediakan waktu untuk beristirahat. Karena waktu istirahat sangat istimewa maka perlu dipergunakan dengan balk. Perintah mengingat dan menguduskan hari Sabat, yang disampaikan Tuhan kepada Israel, merupakan ajakan Tuhan bagi umat-Nya agar tidak terlampau terbebani oleh pekerjaan. Seorang remaja juga dapat terbebani oleh belajar yang tidak mengenal istirahat. Melalui bahan ini, remaja diajak memahami makna Sabat. Remaja juga diharapkan dapat menghargai Sabat sebagai hari istirahat setelah belajar selama enam hari lamanya.
 

Penjelasan Teks

Keluaran 20:8-11 merupakan bagian dari Dasa Titah. Dalam Perjanjian Lama, Dasa Titah dituliS dalam dua kitab yaitu Keluaran 20:2-17 dan Ulangan 5:6-21. Dari kedua kitab itu, Dasa Titah dimulai dengan pengantar yang sama yaitu, "Akulah Tuhan, Allahmu, yang telah membawa kamu keluar dari Mesir, tempat perbudakan." Dari pengantar ini terlihat bahwa relasi antara Tuhan dan Israel adalah relasi antara Sang Pembebas dan yang dibebaskan. Sang pembebas adalah Allah dan yang dibebaskan adalah Israel. Tuhan yang sudah membebaskan itu berprakarsa membangun kesatuan hati dengan Israel. Melalui Dasa Titah, Tuhan meminta agar Israel setia secara mutlak. Kesetiaan Israel diwujudkan dalam hidup sehari-hari dengan cara menjadikan Allah sebagai pusat kehidupan, sekaligus berusaha menghadirkan masyarakat secara adil, beradab, dan tidak mengabaikan norma¬norma dalam masyarakat.

Perintah ke-4 dari Dasa Titah adalah: ingat dan kuduskanlah hari Sabat. Dalam bahasa Ibrani, kata ingat adalah zakor yang bermakna: mengingat. Semangat mengingat Sabat berarti menguduskan hari itu. Sabat sendiri adalah hari pemberhentian atau hari beristirahat. Perihal Sabat sebagai pemberhentian kerja sebelumnya juga sudah diperintahkan oleh Tuhan sebagaimana tertulis dalam Keluaran 16:22-30. Pada bagian ini umat diminta berhenti memungut roti manna di hari Sabat, sebab selama enam hari mereka sudah memungut roti itu. Ingat dan kuduskanlah hari Sabat yang terdapat dalam Keluaran 20:8 merupakan penegasan kembali pada umat Israel, supaya setiap satu hari dalam seminggu, setiap orang berhenti dari bekerja. Hidup tidak hanya bekerja, dan kehidupan tidak hanya terdiri dari pekerjaan. Dunia bukan tempat di mana setiap orang menghasilkan produksi tanpa henti. Setiap orang membutuhkan waktu untuk mengistirahatkan diri dari pekerjaan. Dengan beristirahat dari kerja, setiap orang diajak untuk mengendurkan urat-syaraf, ambisi, serta berbagai kekuatiran. Enam hari lamanya hidup dijalani dengan rutinitas yang melelahkan dan pada hari ketujuh segala aktivitas rutin itu harus diistirahatkan. Beristirahat dari segala aktivitas keseharian merupakan penghormatan kepada Tuhan yang memerintahkan umat mengingat dan menguduskan hari Sabat. Hari itu adalah pemberian Tuhan, supaya umat-Nya menghayati Dia,Tuhan Sang pemberi hidup.

Perintah berhenti pada hari Sabat yang disampaikan Tuhan berlaku juga bagi setiap orang dalam sebuah rumah. Seisi rumah harus mengingat dan menguduskan Sabat. Anak-anak, hamba-hamba, orang-orang asing, juga hewan. Setiap orang laki-laki dan perempuan dalam sebuah rumah harus menghentikan kerja. Motif perintah Sabat dalam Keluaran 20:8-11 mengacu pada Kejadian 2:1-3. Sebagai peringatan pada Tuhan, yang juga beristirahat setelah karya penciptaan. Pada waktu penciptaan, enam hari lamanya Tuhan bekerja menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya. Pada hari ketujuh, Ia beristirahat. Hari Sabat dimaksudkan sebagai hari istirahat mingguan yang dikhususkan dan dikuduskan bagi Tuhan. Istirahat yang dilakukan oleh Tuhan pada saat penciptaan adalah untuk menata irama waktu. Tuhan yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, melakukan istirahat untuk memberkati dan menguduskan semua hasil karya-Nya. Sabat Allah itu menjadi model Sabat bagi manusia. Karena Tuhan beristirahat maka Israel juga harus beristirahat. Manusia diciptakan sebagai makhluk yang butuh istirahat. Sebagaimana Tuhan beristirahat pada waktu yang tepat, demikian juga umat-Nya harus beristirahat pada waktu yang tepat.
 

Dalam perkembangan kehidupan bangsa Israel, perintah Tuhan agar umat beristirahat pada hari Sabat dijadikan aturan yang legal-formal. Hukum lisan memuat sebuah sistem yang rumit tentang pelaksanaan hari Sabat. Dalam buku peraturan Mishnah, yaitu peraturan-peraturan atas interpretasi Taurat, disebut ada 39 jenis pekerjaan terlarang dilakukan pada hari Sabat. Selain 39 aturan baku larangan hari Sabat yang tertulis, masih terdapat larangan-larangan lain yang lebih terperinci, baik yang tertulis maupun Iisan.Akibatnya Sabat bukan lagi menjadi sarana pembebasan namun menjadi aturan yang mengungkung.Tuhan Yesus mengembalikan hakikat Sabat dengan mengatakan bahwa hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat (Mrk. 2:27)

Artinya, ritus apapun yang dilakukan di hari Sabat sesungguhnya adalah untuk kepentingan manusia, dan bukan manusia untuk ritus Sabat. Dengan pernyataan itu, Tuhan Yesus mengajak umat untuk menghargai Sabat sebagai anugerah Allah yang harus dinikmati dengan penuh syukur.
 

Pengenaan

Semua orang harus bekerja. Baik tuan, hamba, laki-laki, perempuan, orang dewasa, remaja maupun anak-anak. Dalam porsi masing-masing, pekerjaan harus dijalankan dengan sebaik-baiknya. Belajar baik di sekolah, di rumah maupun tempat les merupakan pekerjaan yang rutin dilakukan oleh remaja. Tujuan dari belajar adalah hidup yang lebih baik. Namun sayang tujuan itu sering diganti dengan ambisi tertentu. Demi mendapat ranking baik, prestasi memuaskan, pujian, dan sebagainya, membuat banyak remaja menjadi "gila" belajar dan melupakan aspek lain yaitu istirahat. Kerja dan istirahat pada dasarnya dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Ketika beristirahat terdapat pembaruan hidup, agar kerja yang dilakukan di masa sesudah istirahat menjadi lebih baik.
 

Sebagaimana Tuhan beristirahat setelah enam hari bekerja, itu pula yang mesti dilakukan oleh remaja, "... hari ketujuh adalah hari Sabat Tuhan, Allahmu; maka jangan melakukan suatu pekerjaan. Sebab enam hari lamanya Tuhan menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya Tuhan memberkati hari Sabat dan menguduskannya." Waktu istirahat adalah sebuah waktu yang istimewa. Karena itu perlu diisi dengan hal yang istimewa. Hal yang patut disayangkan adalah bila hari istirahat itu justru dihabiskan dengan melakukan hal-hal yang dianggap memuaskan diri semata, seperti main games seharian atau menghambur-hamburkan waktu dan uang demi kenikmatan sendiri.Apa yang bisa dilakukan di hari istirahat itu? Selain mengistirahatkan diri dari rutinitas, waktu istirahat diisi dengan berkumpul bersama keluarga, juga refreshing.

Pada hari peristirahatan ini remaja perlu berefleksi diri melalui persekutuan dengan Tuhan dan sesama.
Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat. Selain untuk beristirahat, hari ini juga dijalani dengan peribadatan. Kebiasaan berhenti bekerja pada hari Sabat serta beribadah pada hari itu dikemudian diteruskan dalam tradisi Kristen dengan menjalani ibadat pada hari Minggu. Hari Minggu (dari bahasa Portugis, Dominggo, yang berarti "Tuhan") dipahami sebagai hari Tuhan. Orang Kristen beribadat hari Minggu karena kebangkitan Yesus yang adalah "Tuhan atas hari Sabat" (Mrk. 2:8). Sabat dan Minggu tidak tepat sama. Orang Kristen mengambil alih pekan (tujuh hari) dari orang Israel, tetapi tidak mengambil alih hari Sabat sebagaimana yang dipahami oleh orang Israel. Dalam istirahat di hari Sabat semua dimensi disentuh: fisik, emosi, jiwa yang lelah diistirahatkan. Spiritualitas disegarkan kembali dengan refleksi diri dan peribadatan. Saat merayakan hari Minggu, orang kristen perlu juga belajar mengistirahatkan fisik, emosi, dan jiwa lewat kegiatan-kegiatan yang menyegarkan spiritualitas.
 

Langkah-langkah Penyampaian


1. Mintalah remaja menceritakan rutinitas apa yang dilakukan selama enam hari (Senin — Sabtu). Remaja dapat diminta membuat daftar harian.
2 Ajak remaja berdiskusi tentang dampak hidup yang dijalani dengan rutinitas dan tanpa istirahat.
3. Pembimbing remaja mengajak membaca Keluaran 20:8-11 dan sampaikan penjelasan teks.
4. Ajak remaja merefleksikan makna Sabat bagi kehidupan masa kini. Sampaikan juga bahwa antara kerja dan istirahat tidak dapat dipisahkan [lihat pengenaan]. Berikan ilustrasi tentang "burn out" seperti dalam ilustrasi.
5. Akhiri dengan kegiatan.
 
Kegiatan

Diskusi dengan menggunakan cerita dalam ilustrasi.
• Keprihatinan apa yang muncul dalam diri pada remaja setelah membaca kisah anak umur 6 tahun yang tertekan karena harus mengikuti berbagai les?
• Apa yang akan dilakukan para remaja supaya dapat menggunakan waktu secara baik?
 
Ilustrasi

Keinginan agar anaknya menguasai berbagai bidang pelajaran sejak usia dini menimbulkan malapetaka. Hal inilah yang terjadi pada seorang bocah berusia enam tahun yang sedang hangat dibicarakan kalangan netizen.

Hari ini saya berkunjung ke sebuah rumah sakit, membesuk anak teman saya yang sedang sakit. Teman saya ini seorang wanita karier lulusan S-2 dari sebuah universitas ternama. Anaknya adalah seorang anak perempuan yang cantik, umurnya baru 6 tahunan. Tak lupa saya membawakan sebuah boneka sebagai buah tangan.
Waktu saya datang dia langsung mengenali saya sebagai teman mamanya
"Bu Siti ya?"
Iya"jawab saya, agak terharu karena dia mengenali saya
"Ayoo... Bu Siti... 42:6 berapa?"
"Kalau doa masuk kamar mandi?"

Kemudian dia menirukan gaya mengajar bu gurunya di kelas, ada senam bersama, lalu dia menirukan gerakan senam versi dia, kemudian menyanyikan lagu 5x5=25, setelah itu dia melafalkon doa sebelum makan.
"Bu Siti,Ayo buat kalimat. Saya pergi ke sekolah setelah itu pulangnya ke mall, bisa?"
Lucu?? Pintar?? Cerdas??.. mungkin itu juga yang ada di benak teman-teman saat mengikuti celoteh anak perempuan teman saya itu.

Namun selama soaya hadir di situ sang bunda terus menerus menyeka air matanya.Ya... saya turut prihatin dengan penyakit yang sedang diderita oleh anaknya. Penyakit apakah itu? Yang pasti bukan sembarang penyakit seperti anak-anak biasa, bukan demam, bukan batuk, dan bukan pilek.
Jangan terkejut teman-teman karena saya berkunjung bukan di rumah sakit biasa, saya sedang berada di sebuah Rumah Sakit jiwa di kawasan Jakarta Timur.

Apa yang sebenarnya terjadi??
Minggu-minggu terakhir ini sang anak sangat suka menangis. Kalau ditanya apa saja, jawabnya sering ngelantur, "7" "24:6= 4''"how are you", dan jawaban lain seperti huruf hijaiyah, kemudian menirukan gaya gurunya mengajar.
Menurut psikolog , anak ini terlalu diforsir, dia mengikuti les matematika & k**** yang target tugasnya satu buku harus selesai 10 menit, kemudian les bahasa inggris, terus PR sekolah, les mengaji dan lain-lain shg mengakibatkan anak terlalu jenuh.

Si anak hanya mau bercerita sama psikolognya,tetapi kalau ditanya oleh orang lain jawabannya angka¬angka, bahasa inggris atau pelajaran mengaji. "apa ini? huruf hijaiyyah" jadi dia menirukan gaya gurunya dan jika bertemu orang yang memakai baju guru dia langsung tertekan.
Yang lebih mengharukan lagi, saat melihat sang bunda menangis, si anak cuma bilang "Bunda jangan nangis, aku kan pinter, tapi aku enggak mau tidur sama bunda yaa, aka maunya sama dokter ganteng atau cantik aja."

Dia memang tinggal di kamar VIP, jadi memang ada dokter yang menemani sehari-hari.
Dan ternyata ada lima anak kecil yang masuk rumah sakit jiwa itu, tapi dia yang paling kecil, sisanya umur 12 tahunan karena broken home.
Hanya dia sendiri yang mengalami gangguan akibat terlalu banyak tekanan belajar. Sungguh kasihan.
Pelajaran berharga untuk para orang tua agar tetap memperhatikan tahapan perkembangan anak, usia TK adalah usia bermain, belajarpun harus melalui permainan dan jangan korbankan anak-anak kita karena AMBISI kita sebagai orangtua.
Biarkan mereka bermain dan berikanlah kenangan masa kecil yang terindah untuk mereka.
Hingga saat ini, belum diketahui identitas orangtua bocah malang tersebut"

Sumber: http://news.okezone.com/read/2016/07/21/338/1443742/bocah-ini-alami-gangguan-jiwa¬karena-kehanyakan-les

 

                                                                                                   


 

Sahabat Surgawi,
 Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja antar denominasi OnLine
www.sahabatsurgawi.net - webmaster@sahabatsurgawi.net, Copyright © 1999