HOME ABOUT US KESAKSIAN AGENDA GEREJA LINK CONTACT US


 

Derap Remaja Edisi 40
Bahan Pembinaan Remaja Gereja Kristen Indonesia


Pembayaran dapat dilakukan dengan 2 cara :

1. Via Bank:
Tahapan BCA no. 0372999053, an. Wisnu Sapto Nugroho
Segera kirimkan pemberitahuan pengiriman bank.
2. Via Pos Wesel:
dengan cara memakai blangko yang dilampirkan dalam surat pengantar.
Pdt. Wisnu Sapto Nugroho, Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Alamat Sekretariat & Distribusi DERAP REMAJA:
Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Harga per eksemplar Rp. 40.000,-
 

juli 2016    
Refreshing
Mazmur 104:10-15
 
  1
Gaya Belajar
Lukas 2:46-47
 
  2

Menata Waktu
I Petrus 4:1-5
 
  3
Multiple Intelligences
Amsal 14:15-18
 
  4
The Seekers
Matius 7:7-11

 
  5

  Gaya Belajar



 
Bacaan: Lukas 2:46-47
 Bahan yang diperlukan: 
 - Fotokopi tabel Gaya   
   
Belajar


-
 

FOKUS



Belajar merupakan suatu proses seumur hidup yang ditempuh oleh setiap orang. Di dalam belajar, orang mengetahui, menyerap, dan mengolah informasi. Kemampuan seseorang dalam mengetahui, menyerap, dan mengolah informasi berbeda-beda. Oleh karena itu, gaya belajar setiap orang juga berbeda-beda. Menurut Bobbi De Porter dan Mike Hernacki dalam bukunya Quantum Learning, ada tiga macam gaya belajar, yakni gaya belajar visual, gaya belajar auditorial, dan gaya belajar kinestetik. Jika seseorang mengenal gaya belajarnya, maka ia akan dapat belajar dengan lebih cepat dan mudah. Hasil belajarnya pun menjadi maksimal. Melalui pelajaran hari ini, dalam terang Injil Lukas, remaja diharapkan dapat mengenali gaya belajar yang dimilikinya.
 

PENJELASAN TEKS


Lukas 2:46-47 berlatar belakang kedatangan keluarga Yusuf dan Maria ke Yerusalem dalam rangka perayaan Paskah. Paskah merupakan perayaan pembebasan Allah atas orang Israel dari perbudakan Mesir. Menurut tradisi Yahudi, ada keharusan bagi setiap laki-laki Yahudi yang telah dewasa untuk pergi ke Yerusalem sebanyak tiga kali dalam setahun, yakni pada hari raya Paskah, hari raya Tujuh Minggu, dan hari raya Pondok Daun (lihat Ulangan 16:16).

Yesus yang telah berusia dua belas tahun diajak serta oleh orang tuanya. Menurut tradisi Yahudi, usia dua belas tahun adalah usia akil balig, usia yang dianggap telah dewasa. Pada usia ini anak sudah harus disiapkan untuk menjadi seorang Bar Mitzvah atau Anak Hukum Taurat. Mereka mulai wajib menjalankan peraturan-peraturan agama, misalnya berpuasa. Itulah sebabnya Yesus diajak oleh orang tuanya untuk mengikuti perayaan Paskah.

Ketika tiba waktunya pulang ke rumah, Yesus sengaja tinggal di Bait Allah untuk bercakap-cakap dengan para alim ulama. Bait Allah sangat terkenal di wilayah Yudea sebagai tempat belajar. Para peserta yang hadir di Bait Allah umumnya para rabi terkenal. Rasul Paulus juga belajar di tempat tersebut di bawah bimbingan gurunya Gamaliel (Kis. 22:3). Pada masa Paskah biasanya topik yang didiskusikan adalah kedatangan Mesias. Orang Yahudi merindukan kedatangan Mesias mengingat kerajaan Romawi yang menjajah mereka begitu lama.

Istilah 'alim ulama' dalam bahasa aslinya didaskalos. Mereka adalah guru atau pengajar agama Yahudi. Yesus duduk di antara mereka, tidak berdiri seperti biasanya orang yang sedang menguasai percakapan atau seperti seorang calon baptisan/ calon pengaku iman (sidi) yang sedang diuji. Yesus memposisikan diri sebagai seorang murid yang memiliki kehausan dan hasrat belajar yang kuat. Ia belajar dengan cara mendengarkan dan bertanya, serta berdiskusi (ayat 46). Yang menarik adalah bahwa Yesus masih betah berdiskusi sampai tiga hari (ayat 46). Hal ini menunjukkan bukan saja hasrat belajar-Nya sangat kuat, tetapi juga bahwa Ia sangat menikmati belajar.
 

Para alim ulama menjadi kagum akan kecerdasan Yesus (ayat 47). Selain karena Yesus masih muda, bahkan baru berusia dua belas tahun, kecerdasan Yesus juga istimewa. Kecerdasan-Nya bukan sekadar hafal semua pengetahuan, melainkan memahami pengetahuan yang dikuasai-Nya. Hal itu nampak dari bahasa asli yang dipakai untuk istilah kecerdasan di sini, yakni sunesis (=memahami). Pemahaman-Nya juga nampak dari pertanyaan dan jawaban yang diberikan Yesus. Sekaligus hal ini menunjukkan bahwa Yesus bukanlah pelajar sembarangan. Ia tidak asal-asalan belajar: asal bisa, asal hafal, melainkan paham akan apa yang dipelajari-Nya. Jika ada yang tidak dipahami, maka Ia akan bertanya sampai benar-benar paham. Sebagai seorang murid, Yesus dengan sadar mempersiapkan dan memperlengkapi diri-Nya dengan pembelajaran akan Firman Tuhan. Semua itu menjadi bagian dari pertumbuhan pribadi Yesus dalam memasuki kehidupan pelayanan demi Injil Kerajaan Allah.
 

PENGENAAN


Belajar merupakan hal yang berkaitan erat dengan hakikat hidup manusia. Bagi sebagian orang, khususnya siswa sekolah atau mahasiswa perguruan tinggi, belajar justru dipandang sebagai suatu momok yang menjengkelkan. Tony Buzan, seorang psikolog dari Inggris dan penulis The Mind Map Book (1993) mengadakan penelitian tentang asosiasi seseorang terhadap kata 'belajar'. Kepada responden ditanyakan kesan apa yang muncul di benak mereka saat mendengar kata 'belajar'. Ternyata sebagian besar jawabannya "membosankan". Jawaban lainnya adalah "ujian", "pekerjaan rumah","buang-buang waktu","suatu hukuman", "tidak relevan","tahanan","benci dan takut."

Dapat disimpulkan bahwa belajar dianggap sebagai hal yang sulit dan tidak menyenangkan. Bobbi De Porter dan Mike Hernacki dalam bukunya Quantum Learning (1992) menawarkan solusi agar belajar menjadi lebih mudah, yakni dengan mengenali gaya belajar. Ada tiga gaya belajar orang, yakni gaya belajar visual (belajar dengan cara melihat), gaya belajar auditorial (belajar dengan cara mendengar), dan gaya belajar kinenstetik (belajar dengan cara bergerak, bekerja, dan menyentuh). Jika seseorang mengetahui apa gaya belajarnya, maka ia akan terbantu untuk belajar lebih efektif, lebih cepat, dan lebih mudah. Contoh: seseorang baru saja membeli sebuah alat elektronik yang belum dirakit dan memiliki buku petunjuk. Orang visual akan langsung membaca instruksi atau mengikuti ilustrasi yang ada dalam buku petunjuk. Orang auditori akan meminta orang lain untuk menerangkan caranya. Sementara orang kinestetik akan mulai merangkai bagian-bagiannya tanpa melihat buku petunjuk.

Seorang pelajar yang mampu menemukan jenis gaya belajarnya akan sangat terbantu dalam belajar sehingga belajar tidak lagi menjadi sesuatu yang dianggap sulit dan tidak menyenangkan. Hasil belajar pun menjadi maksimal. Sebagaimana bacaan Alkitab hari ini, Yesus mengenal bagaimana gaya belajar diri-Nya. Ia duduk, mendengarkan, bertanya, dan berdiskusi. Itulah sebabnya Yesus betah berlama-lama belajar di Bait Allah dan menikmati belajar itu sendiri.
 

LANGKAH-LANGKAH PENYAMPAIAN


1. Awali dengan menyampaikan ilustrasi kepada remaja (lihat bagian Ilustrasi), tetapi tidak menceritakan lebih dulu bagian akhirnya (bagian tes psikologi sampai selesai). Ajak remaja berdiskusi: apa pendapat mereka mengenai masalah Valent dalam belajar. Beri tahu bagian akhir Ilustrasi.
2. Sampaikan bahwa belajar oleh sebagian orang dianggap sebagai sesuatu yang sulit dan tidak menyenangkan. Jangankan menikmati, mendengar kata 'belajar' saja sudah menjadi momok (lihat Pengenaan paragraf l).Tanyakan apakah remaja mengalami hal itu.
3. Sampaikan bahwa belajar sebenarnya dapat dinikmati dan menyenangkan sebagaimana yang dialami Yesus. Masuklah dalam Penjelasan Teks. Inti penjelasan adalah bagaimana Yesus yang masih berusia dua belas tahun begitu menikmati belajar. Ia duduk, mendengarkan, bertanya, dan berdiskusi.
4. Sampaikan bahwa remaja juga perlu mengenai gaya belajarnya supaya dapat belajar dengan lebih mudah dan cepat. Belajar pun menjadi lebih menyenangkan dan memberi hasil yang maksimal (lihat Pengenaan).
5. Akhiri dengan mengajak remaja melakukan Kegiatan.
 

KEGIATAN



Bagikan fotokopi Tabel Gaya Belajar (lihat Lampiran) dan ajak remaja menemukan gaya belajarnya.
 
ILUSTRASI

Valent adalah seorang siswa kelas tiga SD. Orang tuanya menganggap bahwa Valent tidak sungguh-sungguh dalam belajar. Orang tuanya mengeluh bahwa Valent tidak fokus saat belajar. Gurunya pun mengatakan hal yang sama. Pada saat penjelasan disampaikan Valent tampak seperti tidak mendengarkan. Ia melempar perhatian ke sana kemari. Misalnya ketika diminta untuk menghafalkan perkalian, Valent malah memainkan alat tulis atau memegang dan memainkan peralatan yang ada di sekitarnya. Akibatnya ia tidak segera hafal perkalian tersebut. Orang tuanya sering tidak sabar mengajari dan menjadi marah, kadang membentak-bentak.Valent pun menangis.

Sebenarnya Valent bukan anak yang bodoh. Hal itu ditunjukkan dari hasil rapornya. Hasil rapornya cukup bagus, bahkan beberapa mata pelajaran nilainya di atas nilai rata-rata kelas. Orang tuanya menjadi bingung dan tidak tahu apa sebenarnya masalah Valent. Sampai akhirnya saat sekolah Valent mengadakan tes psikologi, termasuk aspek gaya belajar di dalamnya, ternyata Valent adalah anak yang memiliki gaya belajar kinestetik. Hal ini menjadi masukan bagi orang tua Valent untuk menyesuaikan pola asuhnya.
                                                                                                                                                                                                                   

LAMPIRAN


Dikutip dengan penyesuaian seperlunya dari buku Quantum Learning karya Bobbi De Porter dan Mike Hernacki terbitan Penerbit Kaifa.

                         

CIRI ORANG DENGAN GAYA BELAJAR VISUAL

CIRI ORANG DENGAN GAYA BELAJAR AUDITORIAL

CIRI ORANG DENGAN GAYA BELAJAR KINESTETIK

Menyerap informasi dengan cara melihat. Menyerap informasi dengan cara mendengar. Menyerap informasi dengan cara bergerak, bekerja, dan menyentuh.
Ketika merangkai sesuatu: mengikuti ilustrasi / membaca instruksi. Ketika merangkai sesuatu: meminta orang lain mengatakan caranya. Ketika merangkai sesuatu: mulai mengerjakannya sendiri.
Berbicara dengan cepat. Berbicara kepada diri sendiri saat bekerja. Berbicara dengan perlahan.
Biasanya tidak terganggu oleh keributan. Mudah terganggu oleh keributan. Selalu berorientasi pada fisik dan banyak bergerak.
Perencana dan pengatur jangka panjang yang baik. Menggerakan bibir dan mengucapkan tulisan di buku ketika membaca. Berpikir lebih baik ketika bergerak atau berjalan.
Rapi dan teratur, teliti terhadap detil. Senang membaca dengan keras dan mendengarkan. Menyentuh orang untuk mendapatkan perhatian mereka.
Mementingkan penampilan, baik dalam hal pakaian maupun presentasi. Dapat mengulangi kembali dan menirukan'nada, birama, dan warna suara. Menanggapi perhatian fisik (misalnya: saat ditepuk pundaknya)
Seringkali mengetahui apa yang harus dikatakan namun tidak pandai memilih kata-kata. Tidak pandai bercerita. Merasakan kesulitan untuk menulis, tetapi hebat dalam bercerita. Berdiri dekat ketika berbicara dengan orang.
Mengingat apa yang dilihat daripada yang didengar (misalnya: lebih suka melihat peta daripada mendengar penjelasan). Berbicara dalam irama yang berpola. Belajar melalui praktik dan mencoba-coba sendiri.
Mengingat dengan asosiasi visual. Biasanya pembicara yang fasih. Menghafal dengan cara berjalan dan melihat.
Mempunyai masalah untuk mengingat instruksi verbal, kecuali jika ditulis. Lebih suka berbicara daripada menulis. Menggunakan jari sebagai penunjuk ketika membaca.
Pembaca cepat dan tekun, pengerja yang baik. Belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan daripada yang dilihat. Banyak menggunakan isyarat tubuh.
Lebih suka membaca daripada dibacakan. Suka berbicara, suka berdiskusi, dan menjelaskan sesuatu panjang lebar. Tidak dapat duduk diam untuk waktu lama.
Membutuhkan pandangan dan tujuan yang menyeluruh dan bersikap waspada sebelum secara mental merasa pasti tentang suatu masalah atau proyek. Mempunyai masalah dengan pekerjaan-pekerjaan yang melibatkan visualisasi, seperti memotong bagian-bagian hingga sesuai satu sama lain. Mempunyai perkembangan awal otot-otot yang besar.
 
Mencoret-coret tanpa arti selama berbicara di depan telepon dan dalam rapat. Lebih pandai mengeja dengan keras daripada menuliskannya.  
Lupa menyampaikan pesan verbal kepada orang lain. Lebih suka gurauan lisan daripada yang berupa bacaan.  
Sering menjawab pertanyaan dengan jawaban singkat: ya atau tidak. Lebih menyukai ceramah atau seminar daripada membaca buku.  
Lebih suka seni daripada musik. Lebih suka musik daripada seni.  
Lebih suka melakukan demonstrasi daripada berpidato.    


 

Sahabat Surgawi,
 Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja antar denominasi OnLine
www.sahabatsurgawi.net - webmaster@sahabatsurgawi.net, Copyright 1999