HOME KESAKSIAN DOA ABOUT US CONTACT US LINK

 

















 
Cara mendapatkan Derap Remaja

Pembayaran dapat dilakukan dengan 2 cara :
1. Via Bank:
Tahapan BCA no. 0372999053, an. Wisnu Sapto Nugroho
Segera kirimkan pemberitahuan pengiriman bank.
2. Via Pos Wesel:
dengan cara memakai blangko yang dilampirkan dalam surat pengantar.
Pdt. Wisnu Sapto Nugroho, Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Alamat Sekretariat & Distribusi DERAP REMAJA:
Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281
Telp. (0274) 514721 Fax(0274) 543001

Harga per eksemplar Rp. 40.000,-
 

DERAP REMAJA EDISI 46
Juli - Desember 2019
Bahan Pembinaan Remaja Gereja Kristen Indonesia




 

Maria, Sang Introduktor
Yohanes 2:1-11 | Perempuan Samaria, Pemberita Injil Yohanes 4.6-26, 39-42 |Tabita Rasul Penderma Kisah Para Rasul 9:36-42 |Ananias Rasul Pemulih Kisah Para Rasul 9:10-19a
 
 

Kesaksian dan Pelayanan Para Murid Kristus


    Perempuan Samaria
Pemberita Injil
 
Minggu Kedua :
14 Juli 2019
Bacaan : 
Yohanes 4 : 6-26, 39-42
Bahan yang diperlukan :
--
 
 

fokus
Injil berarti kabar baik. Jadi pemberita Injil berarti pemberita kabar baik. Injil atau kabar baik memiliki arti yang luas, baik tentang Yesus Juruselannat, maupun kasih Tuhan kepada dunia ini. Maka pemberita Injil dapat memberitakan Yesus, dapat pula memberitakan kasih Tuhan kepada dunia. Untuk menjadi pemberita Injil, seseorang harus terlebih dahulu mengalami dan merasakan Injil itu. Dalam perikop Yohanes 4 perempuan Samaria menjadi pemberita Injil setelah ia bertemu dan bercakap-cakap dengan Yesus, mengenal Yesus, dan percaya bahwa Ia adalah Juruselamat. Demikian pula remaja, jika ingin menjadi pemberita Injil, maka remaja harus terlebih dahulu mengenal dan percaya kepada Yesus. Melalui pelajaran ini remaja mengenal tokoh perempuan Samaria sebagai pemberita Injil, dan remaja pun bersedia untuk menjadi pemberita Injil.


penjelasan teks

Orang seperti apakah perempuan Samaria dalam Yohanes 4 ini? Seringkali orang langsung mengatakan bahwa dia adalah perempuan yang tidak baik, bahkan Pekerja Seks Komersial (PSK), karena ia mempunyai lima suami lalu hidup bersama seorang laki-laki yang bukan suaminya. Apakah gambaran ini masuk akal? Seorang perempuan pada zaman Yesus memiliki lima suami dan seorang pacar pada waktu yang sama? Pasti tidak mungkin. Dalam masyarakat patriarkhal tak ada laki-laki mau dimadu dengan lima laki-laki lainnya. Jadi pasti lima suami itu tidak dalam waktu bersamaan, melainkan berurutan. Jadi dia menikah lima kali dan setiap kali berakhir dengan perpisahan — entah karena suaminya meninggal, atau karena perempuan itu dicerai. Pada zaman Yesus hanya suami yang dapat menceraikan istrinya, dan tidak sebaliknya. Bahkan seringkali suami menceraikan istri tanpa surat, sehingga status istri menjadi tidak jelas dan sulit untuk menikah kembali. Jadi perempuan Samaria ini adalah seorang yang mengalami penderitaan dalam relasi dengan pasangan, hingga lima kali, yang menyebabkan ia trauma untuk menikah dengan laki-laki keenam, maka ia memilih untuk hidup bersama tanpa ikatan pernikahan. Seorang dalam posisi seperti itu tidak hanya mengalami penderitaan batin dalam dirinya, namun juga rasa malu kepada orang-orang lain yang mungkin memandang rendah penuh penghakiman kepadanya. Mungkin ada orang-orang yang menyalahkan perempuan Samaria itu dan menuduhnya sebagai pihak yang bersalah. Betapa berat beban hidupnya.

Itu sebabnya ada penafsir yang mengatakan bahwa karena rasa malu atau terkucil dari masyarakat, maka ia datang ke sumur untuk menimba air pada siang hari, untuk menghindari perjumpaan dengan perempuan-perempuan lain yang biasanya mengambil air pada pagi hari. Namun dalam konteks Injil Yohanes, pukul 12 siang yang terang benderang justru dapat dikontraskan dengan Yohanes 3 di mana Nikodemus datang kepada Yesus pada malam hari yang gelap. Kontras terang dan gelap dalam Injil Yohanes memiliki arti simbolis tentang hati yang gelap (belum percaya) dan hati yang terang (terbuka untuk percaya).
Saat pertama kali Yesus berjumpa dengan perempuan Samaria ini, Yesus sudah tahu siapa dia. Sangat menarik bahwa Yesus memulai percakapan dengan meminta air. Yesus tidak bertanya mengapa perempuan itu mengambil air pada siang hari. Yesus tidak menghakimi perempuan itu. Yesus memulai percakapan dengan kerendahan hati. Padahal Yesus adalah orang Yahudi dan biasanya orang Yahudi memandang rendah orang Samaria yang merupakan bangsa campuran antara Yahudi dan bangsa-bangsa lain yang dibuang ke wilayah Samaria pada zaman penjajahan Asyur (abad
ke-8 SM). Kitab Suci orang Samaria adalah lima kitab Torah, yaitu Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan. Jadi berbeda dari Kitab Suci orang Yahudi yang terdiri dari Torah, kitab nabi-nabi, dan sastra kebijaksanaan (Torah, Neviin, Khetubim). Orang Samaria menyembah Allah di Gunung Gerizim, sedangkan orang Yahudi di Yerusalem.
Terhadap perempuan yang menderita dalam relasi dengan pasangan, dan secara etnis direndahkan, Yesus tahu apa yang dibutuhkannya. Maka percakapan itu pun berkembang ke arah pengenalan akan Yesus. Yesus meminta air minum kepada perempuan itu, namun Yesus dapat memberikan air hidup kepadanya. Setelah tanya jawab yang cepat dan mendalam tentang perbandingan agama Yahudi dan Samaria, akhirnya perempuan itu percaya kepada Yesus, bahwa Ia adalah Mesias atau Kristus (artinya: 'yang diurapi'), dan memiliki air hidup itu di dalam dirinya.

Setelah perempuan Samaria itu memiliki air hidup, ia tergerak untuk menjadi pemberita Injil kepada kawan-kawan sekampungnya. Realita ini membuat para penafsir lain meragukan adanya pengucilan terhadap perempuan itu. Kalau benar ia dikucilkan, mestinya tak ada orang sekampungnya yang mau mendengar kata-kata atau pemberitaan Injilnya tentang Yesus. Kenyataannya mereka menyambut berita Injil itu, lalu datang kepada Yesus, bahkan mengundang Yesus untuk tinggal beberapa hari agar mereka semakin mengenal Yesus dan percaya kepada-Nya. Yesus tinggal dua hari, dan orang-orang Samaria menjadi percaya bahwa Yesus adalah Juruselamat. Indah sekali membaca ayat 41-42: "Dan lebih banyak lagi orang yang menjadi percaya karena perkataan-Nya, dan mereka berkata kepada perempuan itu: Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu, bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia."

pengenaan

Sama seperti perempuan Samaria yang menjadi pemberita Injil, remaja juga terpanggil untuk menjadi pemberita Injil. Yang harus dilakukan terlebih dahulu adalah remaja mengenal dan percaya bahwa Yesus adalah Juruselamat. Kalau remaja tidak percaya, bagaimana mungkin ia dapat memberitakan Injil kepada orang-orang lain. Maka remaja perlu terus menerus belajar untuk mengenal dan percaya kepada Yesus. Kemudian remaja mencari kesempatan untuk dapat memberitakan Injil, kepada orang-orang lain, baik dalam bentuk langsung (langsung memberitakan siapa Yesus dan mengajar orang untuk percaya), maupun tidak langsung (terlebih dahulu memperhatikan, menolOng, dan melakukan perbuatan baik kepada orang lain, baru kemudian menceritakan bahwa Yesus yang menjadi pendorong mereka melakukan semua itu).

langkah-langkah penyampaian

1I. Tanyakan kepada remaja apakah mereka pernah mendengar istilah pemberita Injil, dan apakah artinya. Tanyakan juga apakah remaja pernah memberitakan Injil. Minta remaja menceritakan pengalamannya memberitakan Injil, entah kepada teman, orang tua/ keluarga, atau orang-orang yang tak dikenal. Apakah pemberitaan itu diterima dengan baik atau penuh curiga.
2. Ajak remaja menganalisis mengapa ada pemberitaan Injil yang dicurigai dan ditolak. Misalnya adanya isu kristenisasi, kristen supermi dsb. Bahkan bantuan dari orang Kristen saat bencana alam pun bisa dicurigai dan ditolak. Mungkin memang ada orang Kristen yang bermaksud melakukan kristenisasi. Namun ada pula yang murni mau memberikan pertolongan dan pelayanan, namun sudah dicurigai dan ditolak bahkan sebelum pelaksanaan.
3. Ajak remaja membaca Yohanes 4:6-26, 39-42. Jelaskan siapa 'perempuan Samaria itu, baik latar belakang pribadi maupun latar belakang etnis/ agamanya yang menyebabkan ia direndahkan. Lalu jelaskan bagaimana percakapan Yesus dan perempuan Samaria itu, yang berakhir pada pengenalan akan Yesus dan iman kepada Yesus. Maka perempuan Samaria itu pun menjadi pemberita Injil bagi orang-orang sekampungnya. Pakailah Penjelasan Teks.
4. Kembali pada pengalaman remaja dalam memberitakan Injil. Ajak remaja untuk memikirkan sikap apakah yang harus dimiliki remaja dalam memberitakan Injil:
• Mengenal Yesus
• Percaya Yesus adalah Juruselamat
• Mencari dan menemukan saat yang tepat untuk memberitakan Injil
• Memberitakan Injil dengan cara yang simpatik dan rendah had, membuka percakapan dengan tepat, dan melanjutkan percakapan tanpa pemaksaan dan ancaman (menakut-nakuti).
5. Pakai ilustrasi lalu masuk dalam kegiatan.

kegiatan

1. Minta remaja membicarakan apakah mereka sudah mengenal Yesus dan percaya Yesus adalah Juruselamat. Jika belum, apa yang menghalangi dan bagaimana mengatasinya?
2. Minta remaja membicarakan bagaimana cara mencari waktu dan kesempatan yang tepat untuk memberitakan Injil.
3. Minta remaja membicarakan bagaimana memberitakan Injil dengan cara yang simpatik dan rendah hati, mulai dari membuka percakapan dengan tepat, dan melanjutkan percakapan tanpa pemaksaan dan ancaman (menakut-nakuti).
4. Minta remaja berkomitmen melakukan pemberitaan Injil dan menjadi pemberita Injil.
5. Minta remaja merencanakan pemberitaan Injil secara langsung dan tidak langsung (seperti dalam Pengenaan).
 

ilustrasi
Seorang ilmuwan Inggris bernama Thomas Huxley (1825-1895) sangat giat rnendukung teori evolusi, sehingga ia mendapat sebutan "anjing buldognya Darwin". Sebagai seorang agnostik, ia percaya bahwa agama adalah takhayul yang berbahaya.
Pada suatu hari Huxley bertanya kepada seorang kristiani yang sangat taat, "Apa arti imanmu bagimu?" Orang itu tahu kalau Huxley adalah orang yang skeptis. Ia diam sejenak, kemudian menjawab, "Anda sangat berpendidikan, dan Anda bisa menentang apa pun yang saya katakan."
Huxley terus mendesaknya untuk menjelaskan mengapa ia menjadi seorang kristiani. Maka dengan tulus hati, orang itu menceritakan arti Yesus bagi dirinya. Huxley begitu tersentuh sehingga ia tidak mampu mendebatnya. Ia berkata dengan sungguh dan tulus, "Saya kagum akan iman Anda kepada Yesus."

Sumber: https://alkitab.sabda.org/illustration.php?topic=109

 


 

A R S I P  
| derap desember 0118 | derap desember 0218 | derap desember 0318 |
| derap desember 0418 | derap desember 0518 | derap januari 0119 | derap januari 0219 | derap januari 0319 | derap januari 0419 |
| derap februari 0119 | derap februari 0219 | derap februari 0319 | derap februari0419 |
| derap maret 0119 | derap maret 0219 | derap maret 0319 | derap maret 0419 | derap maret 0519 |
| derap april 0119 | derap april 0219| derap april 0319 | derap april 0419 |
| derap mei 0119 | derap mei 0219 | derap mei 0319 | derap mei 0419 |
| derap juni 0119 | derap juni 0219 | derap juni 0319 | derap juni 0419 | derap juni 0519 |
| derap juli 0119 |
 


Sahabat Surgawi
,
 Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja antar denominasi OnLine
www.sahabatsurgawi.net - webmaster@sahabatsurgawi.net, Copyright 1999