HOME ABOUT US KESAKSIAN AGENDA GEREJA LINK CONTACT US



 

Derap Remaja Edisi 42
Juli-Desember 2017
Bahan Pembinaan Remaja Gereja Kristen Indonesia


Pembayaran dapat dilakukan dengan 2 cara :

1. Via Bank:
Tahapan BCA no. 0372999053, an. Wisnu Sapto Nugroho
Segera kirimkan pemberitahuan pengiriman bank.
2. Via Pos Wesel:
dengan cara memakai blangko yang dilampirkan dalam surat pengantar.
Pdt. Wisnu Sapto Nugroho, Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Alamat Sekretariat & Distribusi DERAP REMAJA:
Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Harga per eksemplar Rp. 40.000,-

 

Juli 2017    
8 Sabat
 
  1
14 Sobat
 
  2
18 Educare
 
  3
22 Life Skill
 
  4
26 I am Malala
 
  5

 Juli 2017

Minggu 3



Educare
Bacaan:
Amsal 4:10-13
Bahan yang diperlukan: -


Fokus


Dalam bahasa Inggris, pendidikan disebut dengan education. Education turunan dari bahasa latin educare. Kata educare artinya melatih, menumbuhkan, dan menata. Selain educare, terdapat kata yang bisa digunakan dalam pendidikan yaitu educere (dari kata ex: keluar dan ducere: memimpin). Dengan demikian pada hakikatnya pendidikan adalah upaya mengajak, memimpin, atau membimbing peserta didik untuk keluar dari ketidaksadaran diri. Pendidikan merupakan proses penyadaran bagi peserta didik, supaya memiliki kesadaran tentang kekuatan dan kelemahan yang ada di dalam dirinya. Sebagai proses penyadaran maka pendidikan dilakukan dalam upaya menjadikan peserca didik sebagai subjek. Karena peserta didik adalah subjek, maka setiap peserta didik memiliki pengalaman yang dapat diolah bagi perkembangan hidup mereka. Hal ini seperti yang dikatakan seorang bernama John Dewey yang menuturkan bahwa pendidikan merupakan suatu proses pengalaman. Karena kehidupan merupakan pertumbuhan, maka pendidikan berarti membantu pertumbuhan batin manusia tanpa dibatasi oleh usia. Proses pertumbuhan adalah proses penyesuaian pada setiap face dan menambah kecakapan dalam perkembangan seseorang melalui pendidikan. Melalui bahan ini, remaja diharap dapat menyebutkan arti educare dan mensyukuri pendidikan yang sedang ditempuhnya.

Penjelasan Teks

Kitab Amsal berisi bahan pendidikan yang didasarkan pada konsep hikmat. Konsep hikmat itu bersumber dari pengalaman hidup bangsa-bangsa di Timur Tengah Kuno pada waktu itu. Dengan demikian, tulisan-tulisan Amsal dijadikan patokan bagi hidup bersama untuk mendidik pribadi maupun komunitas agar tujuan hidup dapat tercapai. Sebagaimana kehidupan manusia zaman ini yang menginginkan hidup lebih baik, begitu juga dengan Amsal. Kebaikan bagi kehidupan manusia dialami dalam hubungannya dengan alam, juga dalam hubungan sosial, politik, dan ekonomi. Pembelajaran diperoleh manusia jika dirinya sadar pada keberadaan dirinya. Sadar pada keberadaan diri artinya mampu memahami kelemahan dan kelebihan, serta berharap mampu mengubah hidup ke arah yang lebih baik. Dengan dasar inilah Amsal dibutuhkan oleh setiap individu karena Amsal merupakan kitab didikan yang bermanfaat bagi hidup.
Sebagai kitab pengajaran, Amsal memiliki kekhasan sastrawi. Para ahli menyebut bahwa kekhasan sastra dalam Amsal mirip dengan sastra Mesir kuno. Hal ini bisa dimengerti karena pada masa itu relasi antara bangsa Israel dan Mesir sangat dinamis. Artinya relasi berjalan dalam berbagai suasana. Kadang relasi akrab dan hangat, namun kadang diwarnai dengan ketegangan. Intinya, dalam relasi itu terjadi pertukaran pengetahuan dan pengalaman. Ciri sastra hikmat Mesir yang tampak adalah bentuk instruksi atau pengajaran. Pengajaran dalam Amsal biasanya dalam dua bentuk, yaitu perintah positif dan perintah negatif. Perintah positif terdapat dalam tulisan seperti "lakukanlah ini." Perintah negatif tampak dalam tulisan seperti "janganlah lakukan itu." Ciri lain sastra Mesir yang tampak dalam Amsal adalah bahan-bahan yang disampaikan dalam pengajaran. Bahan-bahan icu berisi nasihat dari orang yang lebih tua kepada orang muda. Biasanya orang tua akan menjadi pendidik dan anak¬anaknya menjadi peserta didik.

Amsal 4:10-13 biasa disebut sebagai puisi didaktik. Perikop ini berisi pengajaran dari guru yang berhikmat kepada peserta didiknya. Isi pengajaran itu adalah dorongan dari guru kepada murid agar mendengarkan nasihat dari sang guru karena kata-kata sang guru adalah hikmat yang benar. Kalimat pengajaran dimulai dari ayat 10a,"Hai anakku, dengarkanlah dan terimalah perkataanku." Seruan "hai anakku" rupanya menjadi sapaan yang biasa disampaikan guru pada muridnya. Sapaan pada Amsal 4:10a dilanjutkan dengan penjelasan tentang keuntungan mendengar kata-kata hikmat dari sang guru. Dengan hikmat, tahun hidup menjadi banyak, yang digambarkan dengan kehidupan akan dilalui di jalan lurus (ay.11). Bila kehidupan dijalani di jalan lurus maka langkah kaki tidak terhambat dan tidak akan tersandung (ay. 12). Bagi orang Israel kuno, jalan merupakan lambang yang memiliki makna penting.Terkait dengan penggunaan jalan sebagai lambang, biasanya ada dua jenis jalan, yaitu lurus dan bengkok. Orang yang berhikmat adalah orang yang berperilaku lurus berdasarkan bimbingan dari guru. Pengajaran hikmat dari guru menjadi sarana penting bagi murid agar hidupnya terarah, disiplin, dan setia pada tujuan hidup. Mengapa dari guru atau orang tua? Apakah mereka pasti lebih cerdas ketimbang orang muda atau anak-anak? Guru atau orang tua memang belum tentu lebih cerdas dibandingkan dengan murid atau orang muda. Meski demikian, mereka telah lebih dulu punya pengalaman. Berdasar pengalaman itu mereka mampu hidup dan membagikan pengalaman hidup kepada murid atau orang-orang yang lebih muda. Di sinilah ditemukan kebenaran pepatah, "pengalaman adalah guru yang balk." Guru yang baik bagi siapa? Bagi mereka yang mau merefleksikan pengalaman hidup. Sementara mereka yang tidak mau merefleksikan pengalaman hidup, tidak akan melihat pengalaman itu sebagai guru yang baik.
Pada perikop ini, nasihat dari sang guru berakhir pada ayat 13 ,"Berpeganglah pada didikan, janganlah melepaskannya, peliharalah dia dengan sungguh-sungguh, karena dialah hidupmu:' Pada ayat ini tampak sekali bahwa guru memerintahkan pada muridnya agar berpegang dan memelihara pengajaran sang guru, karena itulah yang paling menentukan kehidupan murid di masa kini maupun di masa mendatang. Melalui perintah ini tampak bahwa guru memiliki hikmat. Hikmat itu dibagikan pada murid-muridnya agar memiliki hikmat pula.


Pengenaan

Hikmat adalah kemampuan membedakan mana jalan yang lurus dan mana jalan yang bengkok. Kemampuan ini perlu dimiliki oleh setiap orang. Para guru sebagai pendidik membagikan kemampuan ini kepada murid-muridnya, karena mereka sudah terlebih dulu memiliki pengalaman. Berdasar pengalaman itu, para guru berusaha melatih peserta didik agar memahami kehidupan dan bertumbuh di dalamnya. Dalam bahasa lnggris hal ini disebut dengan education. Education merupakan turunan bahasa latin educare. Doni Koesoema memaparkan bahwa educare bermakna melatih, menyuburkan. Di sini pendidikan dihayati sebagai upaya membantu menumbuhkan, mengembangkan, mendewasakan, dan membuat yang tidak tertata menjadi tertata. Education atau pendidikan dalam rangka mengembangkan, mendewasakan, dan menata perlu dilakukan dengan metode yang terencana, terukur, dan berkesinambungan. Di sini lain, para peserta didik diminta untuk berproses. Berproses berarti kesediaan diri mendengar, berefleksi diri, mengolah pengalaman, dan terus menerus belajar.

Sebagai pelajar, kita bersyukur karena berproses untuk bertumbuh dalam hikmat. Mensyukuri diri karena menjadi pelajar merupakan jalan masuk untuk mencintai pendidikan dan segala proses yang ada di dalamnya. Kecintaan berproses menumbuhkan hikmat yang bermanfaat bagi kehidupan.



 

Langkah-langkah Penyampaian


1 . Mintalah remaja menceritakan pengalaman: apa yang membanggakan, menggembirakan sebagai seorang siswa? Selain menceritakan hal itu, mintalah remaja menemukan penyebab-penyebab hal¬hal itu menjadi membanggakan dan menggembirakan.
2. Ajak remaja mendiskusikan apa harapan mereka terhadap pendidikan yang dijalani saat ini.
3. Bacalah Amsal 4: 1 0- 13 dan sampaikan uraian dalam Penjelasan Teks.
4. Berikan kesempatan bagi remaja untuk mengolah umpan balik dengan diskusi tentang makna educare bagi mereka saat ini.
5. Ajak remaja mendengar ilustrasi dan akhiri dengan kegiatan.

 

Kegiatan

Membayangkan Sekolah yang menyenangkan bagiku

Mintalah remaja membuat status Facebook tentang bayangan sekolah yang menyenangkan bagi mereka. Status yang mendapat like terbanyak mendapat hadiah.
 
Ilustrasi

Menghayati makna belajar dari tembang pucung (Nyanyian dari Jawa)

Ngelmu iku kalakone kanthi laku
(Ilmu itu hanya dapat diraih dengan cara dilakukan dalam perbuatan)
Lekase lawan kas
(Dimulai dengan kemauan)
Tegese kas nyantosani
(Artinya kemauan yang menguatkan)
Setya budaya pangekese dur angkara
(Ketulusan budi dan usaha adalah penakluk kejahatan)

Sumber: http//kesolo.com/contoh-macapat-pucung-beserta-artinya/

 

                                                                                                   


 

Sahabat Surgawi,
 Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja antar denominasi OnLine
www.sahabatsurgawi.net - webmaster@sahabatsurgawi.net, Copyright © 1999