HOME ABOUT US KESAKSIAN AGENDA GEREJA LINK CONTACT US



 

Derap Remaja Edisi 42
Juli-Desember 2017
Bahan Pembinaan Remaja Gereja Kristen Indonesia


Pembayaran dapat dilakukan dengan 2 cara :

1. Via Bank:
Tahapan BCA no. 0372999053, an. Wisnu Sapto Nugroho
Segera kirimkan pemberitahuan pengiriman bank.
2. Via Pos Wesel:
dengan cara memakai blangko yang dilampirkan dalam surat pengantar.
Pdt. Wisnu Sapto Nugroho, Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Alamat Sekretariat & Distribusi DERAP REMAJA:
Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Harga per eksemplar Rp. 40.000,-

 

Juli 2017    
8 Sabat
 
  1
14 Sobat
 
  2
18 Educare
 
  3
22 Life Skill
 
  4
26 I am Malala
 
  5

 Juli 2017

Minggu 4


Life Skill
Bacaan:
1 Raja-raja 3:4-28
Bahan yang diperlukan: Klip video SD Kanisius Eksperimen Mangunan (https://www.youtube.com/watch?v=BBR40Jq2e3M)
Kertas dan alat tulis (atau kertas dan alat menggambar, atau malam/was)
sebanyak remaja yang hadir


Fokus


Seringkali pendidikan difokuskan hanya pada pengetahuan kognitif dan kurang memperhatikan life skill (kecakapan hidup). Padahal dalam kehidupan sehari-hari, bahkan untuk menunjang kesuksesan dalam kerja, orang membutuhkan life skill. Misalnya bagaimana berelasi dengan orang lain, berkomunikasi, menghargai orang lain, menyelesaikan masalah, mengerjakan pekerjaan-pekerjaan kecil sehari-hari, dan sebagainya. Melalui pelajaran ini remaja diajar memahami pentingnya life skill, dan bersedia mengembangkan diri untuk memiliki life skill yang dibutuhkan untuk kehidupan sehari¬hari dan masa depan mereka.
 

Penjelasan Teks

Perikop I Raja-raja 3:4-28 menggambarkan awal dari pemerintahan Salomo sebagai raja. menggantikan Daud ayahnya. Salomo mengasihi Tuhan dengan hidup menurut ketetapan Daud. Waktu itu belum ada bait suci, sehingga Salomo mempersembahkan kurban sembelihan (berupa hewan) dan ukupan (wewangian) kepada Tuhan di bukit-bukit pengurbanan (ayat 3).
Ayat 4- 1S. Salah satu bukit pengurbanan yang besar adalah Gibeon. Salomo mempersembahkan 1000 kurban bakaran di mezbah-mezbah. Saat Salomo tidur,Tuhan datang dalam mimpi dan bertanya apa yang mau ia minta dari Tuhan sebagai bekal untuk menjadi raja. Salomo memiliki kesempatan minta apa saja, termasuk kekayaan dan kemasyhuran. Namun ternyata ia minta kebijaksanaan: hati yang paham menimbang perkara untuk menghakimi umat Tuhan dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat (ayat 9). Sebab kebijaksanaanlah yang sangat dibutuhkan sebagai bekal untuk menjadi raja yang harus memimpin dan mengadili rakyat yang bersengketa. Apalagi Salomo sadar bahwa dirinya masih muda dan belum berpengalaman, harus memimpin suatu bangsa yang besar. Karena Salomo tidak meminta kekayaan, kemasyhuran, nyawa musuh, atau umur panjang, Tuhan memuji Salomo. Tuhan memberikan kepadanya hati yang penuh hikmat dan pengertian (ayat 12), atau hati yang penuh kebijaksanaan. Bahkan Tuhan memberikan lebih dari itu: kekayaan dan kemuliaan, serta umur yang panjang, jika ia taat kepada Tuhan (ayat 13-14).

Ayat 16-28. Kebijaksanaan Salomo terbukti dari caranya mengadili dua perempuan yang memperebutkan anak yang masih hidup. Kedua perempuan itu tinggal di satu rumah, dan masing-masing baru saja melahirkan anak. Suatu hari salah satu anak itu meninggal karena ibunya tidak sadar telah menidurinya. Lalu ia menukar anaknya yang sudah mati itu dengan anak perempuan lain yang masih hidup. Kini mereka memperebutkan anak yang masih hidup itu. Dengan kebijaksanaannya Salomo berkata bahwa ia akan memenggal anak yang masih hidup itu menjadi dua, lalu memberikannya kepada kedua perempuan itu, masing-masing setengah. Menanggapi kata-kata raja itu ketahuanlah siapa ibu yang sesungguhnya dari anak yang masih hidup itu. Ibu yang sejati tidak mengizinkan anaknya dipenggal; ia rela memberikan anaknya kepada perempuan satunya, asal anaknya itu tetap hidup. Ibu yang palsu setuju anak itu dipenggal, karena ia bukan anaknya. Salomo pun memberikan anak yang masih hidup itu kepada ibu yang sejati. Karena kebijaksanaan yang dimilikinya, Salomo pun menjadi raja yang terkenal.

Pengenaan

Sama seperti Salomo membutuhkan kebijaksanaan untuk menjadi raja, remaja juga membutuhkan kebijaksanaan untuk hidup di dunia ini. Remaja perlu meminta kebijaksanaan dari Tuhan dan mengasahnya melalui pendidikan di sekolah. Remaja perlu memahami untuk apa ia sekolah: bukan sekedar untuk mendapatkan kepandaian, tetapi untuk mendapatkan conation/konasi atau wisdom, kebijaksanaan, dan keterampilan hidup (life skill). Jika seseorang bersekolah hanya untuk mendapatkan kepandaian, maka dalam hidup sehari-hari ia tidak tahu bagaimana cara berelasi dengan orang lain, menghargai perbedaan, menyelesaikan masalah, atau mengerjakan pekerjaan sehari-hari. Dengan memiliki konasi seseorang dapat mengembangkan diri secara utuh: tidak hanya kepandaian, tapi juga keterampilan untuk hidup.



 

Langkah-langkah Penyampaian


1. Tanyakan kepada remaja, pernahkah mereka berpikir atau bertanya: untuk apa aku sekolah? Apakah sekolah hanya untuk mendapatkan ijazah yang berguna untuk mencari pekerjaan? Apakah sekolah sekadar menjadi kewajiban? Apakah sekolah hanya untuk membuat seseorang pintar? Cukupkah kepintaran di sekolah dipakai untuk bekal kehidupan? Apakah seorang yang pintar di sekolah selalu sukses datum pekerjaan? Pakailah Ilustrasi 1.

2. Putar klip video tentang Sekolah Dasar Kanisius Eksperimen Mangunan (lihat Ilustrasi 2). Tanyakan kepada remaja: apakah sebenarnya tujuan sekolah? Jawabannya: untuk memiliki keterampilan hidup (life skill). Dalam ilmu filsafat pendidikan, tujuan pendidikan adalah untuk konasi (conation) atau kebijaksanaan (wisdom).
3. Ajak remaja membaca I Raja-raja 3:4-28. Jelaskan bahwa raja Salomo memiliki kesempatan minta apa saja kepada Tuhan, termasuk kekayaan dan kemasyhuran, namun ia justru minta kebijaksanaan. Mengapa? Sebab kebijaksanaan sangat dibutuhkan dalam tugasnya sebagai raja. Seorang raja pada waktu itu harus mengadili rakyat yang bersengketa. Kebijaksanaanlah yang dapat membuat seorang raja memerintah dengan adil. Kebijaksanaan Salomo terbukti pada caranya menyelesaikan masalah perebutan anak yang terjadi pada dua ibu (pakailah Penjelasan Teks).
4. Ajak remaja kembali membicarakan tujuan sekolah dan membandingkan dengan permintaan raja Salomo untuk memiliki kebijaksanaan. Sudahkah remaja menyadari bahwa tujuan pendidikan adalah untuk kebijaksanaan/wisdom/konasi, untuk memiliki life skill? Jika belum, pelajaran apakah yang dipetik remaja dari pemberitaan Firman hari ini? Maukah remaja mengubah sikapnya, sehingga tujuannya bersekolah adalah untuk mendapatkan kebijaksanaan dan life skill?
5. Tanyakan kepada remaja apakah yang akan mereka lakukan untuk melaksanakan Firman Tuhan hari ini.Rencanakan secara konkret. Masuklah dalam kegiatan.
 

Kegiatan

Alternatif 1: Minta remaja mendiskusikan tekad mereka dalam kelompok kecil (3-4 orang).

Alternatif 2: Minta remaja menuliskan tekad masing-masing pada kertas yang dibagikan.

Alternatif 3: Minta remaja membuat simbol untuk menyatakan tekad masing-masing (bisa dengan menggambar, membuat sesuatu dari malam/was).
Ilustrasi

I . Thomas J. Stanley, dalam bukunya yang berjudul The Millionaire Mind (diterbitkan oleh Andrews McMeel Publishing tahun 2001), p. 34 menggambarkan hasil penelitiannya terhadap 1000 orang di Amerika Serikat tentang faktor-faktor kesuksesan seseorang. Menurut 733 responden, urutan faktor-faktor kesuksesan itu dari yang paling kuat pengaruhnya adalah:
1. Bersikap jujur kepada semua orang
2. Menjadi orang yang disiplin
3. Pintar bergaul
4. Memiliki pasangan hidup yang mendukung
5. Bekerja lebih keras daripada orang-orang kebanyakan
6. Mencintai karier/bisnis
7. Memiliki kualitas kepemimpinan yang kuat
8. Memiliki semangat/kepribadian yang sangat kompetitif
9. Menjadi orang yang teratur dengan sangat baik
10. Memiliki kemampuan untuk menjual ide atau produk
11. Melakukan investasi yang bijaksana

12. Melihat peluang yang tidak dilihat oleh orang lain
13. Menjadi bos atas diri sendiri
14. Bersedia mengambil resiko keuangan bila memberikan hasil yang baik
15. Memiliki mentor-mentor yang baik
16. Memiliki hasrat untuk menjadi figur yang dihormati
17. Berinvestasi pada bisnisnya sendiri
18. Menemukan peluang yang menguntungkan
19. Memiliki energi yang luar biasa
20. Sehat secara fisik
21. Memiliki IQ yang tinggi/ superior secara intelektual
22. Mengambil spesialisasi
23. Masuk sekolah yang top
24. Mengabaikan kritik yang tidak berguna
25. Hidup hemat
26. Memiliki iman keagamaan yang kuat
27. Beruntung
28. Berinvestasi di perusahaan publik yang baik
29. Memiliki penasehat investasi yang baik
30. Lulus dengan nilai terbaik/hampir terbaik
Sumber: https://books.google.co.id/books?
id=XcOqZ_SaiEkC&pg=PA31&source=gbs_toc_r&cad=4#v=onepage&q&f=false

Dari urutan tersebut, tampak bahwa kepandaian, ranking di sekolah, dan bersekolah di sekolah yang top merupakan faktor kesuksesan ke 21, 23, 30. Sedangkan sebagian besar faktor kesuksesan yang lain (yang lebih kuat pengaruhnya) merupakan life skill.

2. Romo Mangunwijaya (1929-1999) mendirikan sebuah sekolah untuk anak-anak miskin, yaitu SDKE (Sekolah Dasar Kanisius Eksperimen) di kampung Mangunan, Yogyakarta. Beliau mengatakan banyak anak miskin yang hanya bisa bersekolah pada jenjang SD, lalu mereka harus bekerja. Maka SDKE mendidik para siswa untuk memiliki life skill, yakni cara berpikir kritis yang terkait dengan realita dan keterampilan hidup sehari-hari yang menjadi bekal para siswa seumur hidup. Klip video SDKE dan konsep pendidikan Romo Mangun dapat diunduh dari https:// www.youtube.com/watch?v=BBR40Jq2e3M

                                                                                                   


 

Sahabat Surgawi,
 Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja antar denominasi OnLine
www.sahabatsurgawi.net - webmaster@sahabatsurgawi.net, Copyright © 1999