HOME ABOUT US KESAKSIAN AGENDA GEREJA LINK CONTACT US



 

Derap Remaja Edisi 44
Juli-Desember 2018
Bahan Pembinaan Remaja Gereja Kristen Indonesia


Pembayaran dapat dilakukan dengan 2 cara :

1. Via Bank:
Tahapan BCA no. 0372999053, an. Wisnu Sapto Nugroho
Segera kirimkan pemberitahuan pengiriman bank.
2. Via Pos Wesel:
dengan cara memakai blangko yang dilampirkan dalam surat pengantar.
Pdt. Wisnu Sapto Nugroho, Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Alamat Sekretariat & Distribusi DERAP REMAJA:
Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Harga per eksemplar Rp. 40.000,-

 

Juli 2018
Kesaksian Iman

 

• Mantap Beriman Kepada Kristus: Belajar dari Perpetua dan Felicitas
• Gigih Berjuang Dalam Iman Kepada Kristus: Belajar dari Athanasius
• Memaknai Masa Muda dalam Tuhan: Belajar dari Agustinus dari Hippo
• Fransiskus dari Assisi Persekutuan yang Teratur: Belajar dari Calvin

 

Fokus
_____________________

 
Masa remaja adalah masa pembentukan identitas. Salah satu yang dibutuhkan remaja adalah keteladanan tokoh-tokoh yang baik. Derap Remaja kali ini menampilkan seorang tokoh dalam sejarah kekristenan, yaitu Fransiskus Assisi (Fransiskus dari kota Assisi, Italia. 1181-1226). Ia dikenal sebagai pendiri Ordo Fransiskan yang bergerak dalam pelayanan kepada orang-orang sakit, miskin, dan tersisih. Mereka hidup dalam kesederhanaan. Melalui pelajaran ini remaja mengenal tokoh Fransiskus dari Assisi, dan menghayati keteladanan dari Fransiskus dari Assisi, terutama berkaitan dengan kesaksian dan pelayanan bagi sesama dan seluruh ciptaan Allah.
 

Penjelasan Teks
_____________________


Matius 25:31-46 yang diberi judul "Penghakiman Terakhir" atau "The Last Judgment" sering menimbulkan ketakutan.Apalagi lukisan Michael Angelo di kapel Sistine,Vatican, yang dilukis tahun 1534-1541, semakin menimbulkan ketakutan itu (lihat gambar di halaman berikut atau di https://www.michelangelo.org/the-last-judgement.jsp).
Karena takut, orang malah jadi lupa akan inti Matius 25:31-46, yaitu tentang memberi makan kepada yang lapar, memberi minum kepada yang haus, memberi tumpangan kepada orang asing, memberi pakaian kepada orang yang telanjang, melawat orang yang sakit, dan mengunjungi orang yang di penjara. Perbuatan-perbuatan yang tampak sederhana dan dapat dilakukan semua orang ini menunjuk pada perbuatan yang sebenarnya dilakukan untuk Yesus,sebab Yesus menyamakan diri dengan orang yang paling hina (rendah)."Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku." (ayat 40).Demikian pula sebaliknya,"Sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku." (ayat 45). Jadi jelaslah bahwa Matius 25:31- 46 lebih banyak berbicara tentang apa yang semestinya dilakukan di dunia, bukan menceritakan tentang surga dan neraka.

Sekalipun tindakan memberi makan kepada yang lapar, memberi minum kepada yang haus, memberi tumpangan kepada orang asing, memberi pakaian kepada orang yang telanjang, melawat orang yang sakit, dan mengunjungi orang yang di penjara tampaknya sederhana dan mudah dilakukan, namun dalam realita saat itu tidaklah mudah:
• memberi makan kepada yang lapar dan memberi minum kepada yang haus: pada zaman Yesus banyak orang miskin, sehingga untuk memenuhi kebutuhan pokok makan dan minum pun mereka mengalami kesulitan.
• memberi tumpangan kepada orang asing: pada zaman Yesus tidak semua Kota punya tempat penginapan; Jadi orang diharapkan mau memberikan tumpangan kepada orang asing yang kemalaman di perjalanan (termasuk makan, tidak hanya tidur); inilah yang disebut hospitalitas atau keramahtamahan.
• memberi pakaian kepada orang yang telanjang: bukan sekadar memberikan pakaian, melainkan membayar hutang orang yang tidak dapat membayar hutang hingga pakaian yang melekat pada badannya disita pemberi hutang. Pada zaman Yesus banyak orang terpaksa berhutang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari seperti makan, minum, pakaian, berobat. melawat orang yang sakit: bukan sekedar mengunjungi tapi menolong untuk berobat.
• mengunjungi orang yang di penjara: bukan karena perkara kriminal, melainkan dipenjara karena tidak dapat membayar hutang yang telah dipakainya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari¬hari.
Dengan demikian Matius 25:31- 46 menekankan perbuatan baik atau perbuatan kasih yang semestinya dilakukan murid-murid atau pengikut-pengikut Yesus, dan bukan bertujuan menghakimi. Jadi tidak tepat jika perikop ini dipakai untuk menghakimi siapa kambing dan siapa domba.Tidak benar menyamakan domba dengan orang Kristen dan kambing dengan bukan orang Kristen.Atau posisi kanan (domba) dan kiri (kambing). Bukan pula untuk menunjukkan domba lebih baik dari kambing (bukankah Yesus memberikan perumpamaan domba yang hilang, bukan kambing yang hilang?). Bahkan perikop ini juga tidak berbicara tentang perbedaan spesies kambing dan spesies domba seperti dalam zoologi (ilmu hewan).
Matius 25:31-46 sangat mengilhami Fransiskus Assisi (Fransiskus dari kota Assisi, Italia) yang hidup pada abad pertengahan (1181-1226) untuk mendirikan ordo yang menekankan hidup sederhana dan menolong orang-orang sakit, miskin, dan tersisih.

Riwayat Hidup Fransiskus Assisi


Fransiskus dilahirkan di kota Assisi, Italia pada tahun 1181 dengan nama asli Giovanni Bernardone. Ia lahir dalam keluarga yang kaya raya.Ayahnya adalah seorang pedagang kain bernama Pietro Bernardone, dan ibunya bernama Donna Pica.Tahun 1202 pecah perang antara Perugia dan Assisi. Fransiskus yang bertempur di pihak Assisi menjadi tawanan perang di penjara Perugia. Fransiskus sakit keras dan beristirahat cukup lama untuk memulihkan kesehatannya.Akhir 1204 atau awal 1205, Fransiskus bergabung dengan pasukan Walter de Brienne untuk ikut perang ke Apulia (Italia Selatan). Di Spoleto (kota dekat Assisi), tempat mereka berhenti untuk bermalam, ia memperoleh penglihatan. Dalam mimpi, ia mendengar suatu suara yang mengatakan kepadanya untuk kembali ke Assisi. Inilah awal mula pertobatannya. Setelah itu Fransiskus mendapat perintah dari Kristus yang tersalib di San Darniano"Fransiskus, pergilah dan perbaikilah gereja-Ku yang nyaris roboh ini."Tidak hanya memperbaiki gedung-gedung gereja, Fransiskus dengan mengenakan pakaian pertapa merawat penderita lepra di Gubbio.Tahun 1208 Fransiskus mendengar Injil tentang kemiskinan yang dibacakan untuk Pesta St. Matius. Ia mengambil petikan Injil itu sebagai aturan hidup. Sebelas teman bergabung dengan Fransiskus, dan akhirnya membentuk Ordo Fransiskan pada tahun 1209. Mereka banyak melayani orang-orang sakit dan miskin, di samping memberitakan Injil.

Banyak kisah tentang Fransiskus yang dapat berkomunikasi dengan binatang-binatang: burung, serigala, ikan, dan kelinci. Fransiskus dan pengikut-pengikutnya sedang dalam perjalanan ke Lembah Spoleto dekat kota Bevagna.Tiba-tiba Fransiskus melihat serombongan besar burung-burung dari berbagai jenis. Ia meninggalkan teman-temannya di pinggir jalan dan berlari mengejar rombongan burung yang dengan sabar menunggu kedatangannya. Kata Fransiskus kepada mereka,"Saudara dan saudari burung, hendaklah kalian memuji Penciptamu dan mengasihi-Nya selalu. Ia memberimu bulu bulu sebagai mantel, sayap untuk terbang dan memenuhi segala kebutuhanmu.Tuhanlah yang menjadikan engkau mulia di antara segala makhluk, menjadikan udara yang halus bersih sebagai rumahmu.Tanpa menabur atau pun menuai, kalian memperoleh bimbingan dan perlindungan dari Tuhan." Mendengar kata-katanya, burung-burung itu mengepak-ngepakan sayap mereka, seakan bersukacita memuji Tuhan. Kemudian Fransiskus berjalan di tengah-tengah burung-burung itu, menyentuh kepala dan badan burung-burung itu, dan memberkati mereka dengan membuat tanda salib.

Burung-burung itu pun kembali beterbangan di udara dan Fransiskus dengan penuh sukacita berterima kasih kepada Tuhan, lalu melanjutkan perjalanannya.
Pada kesempatan yang lain, ketika Fransiskus tinggal di kota Gubbio, ada seekor serigala yang sangat ganas, yang memangsa binatang dan manusia. Orang-orang yang mencoba menangkap dan membunuh serigala itu selalu kalah dan mati. Maka penduduk menjadi sangat takut dan tidak berani keluar dari tembok kota. Fransiskus merasa iba kepada penduduk kota dan memutuskan untuk pergi menemui serigala. Penduduk mencegahnya dengan sangat, tetapi Fransiskus bersikeras bahwa Tuhan akan menjaganya. Fransiskus dan seorang rahib mulai berjalan.Tiba-tiba serigala, dengan rahangnya ternganga, muncul dari hutan dan datang menyerang kedua biarawan itu. Fransiskus membuat tanda Salib ke arah serigala. Dengan kuasa Tuhan, serigala itu segera memperlambat larinya dan mengatupkan rahangnya. Kemudian Fransiskus berteriak:"Datanglah kepadaku, Saudara Serigala. Dalam nama Yesus, aku memerintahkan kamu untuk tidak lagi menyakiti siapa pun." Maka pada saat itu juga serigala menundukkan kepalanya dan datang berbaring di bawah kaki St. Fransiskus. Serigala itu menjadi jinak seperti seekor anak domba. St. Fransiskus menjelaskan kepada serigala bahwa serigala telah menakutkan penduduk kota, karena ia tidak saja memangsa binatang, tetapi juga manusia yang diciptakan seturut gambaran Allah."Saudara Serigala," kata Fransiskus,"aku ingin mengadakan perdamaian antara kamu dan penduduk Gubbio. Mereka tidak akan menyakiti kamu dan kamu juga tidak boleh lagi menyakiti mereka. Semua kejahatan di masa lampau harap dimaafkan:' Serigala menyatakan persetujuannya dengan menggoyang-goyangkan badannya dan menggangguk-anggukkan kepalanya. Fransiskus mengulurkan tangannya, dan serigala mengulurkan kaki depannya serta meletakkannya di atas tangan orang kudus itu. Kemudian, Fransiskus mengajak serigala itu masuk ke kota dan mengadakan perjanjian damai dengan penduduk kota. Penduduk berjanji akan menyediakan makanan untuk serigala itu, dan serigala berjanji tidak akan memangsa hewan dan manusia di kota itu. Serigala itu tinggal di kota Gubbio selama dua tahun sebelum akhirnya mati karena sudah tua.

Suatu hari seorang Ia menasehati kelinci agar lebih berhati-hati di waktu yang akan datang, kemudian dikeluarkannya kelinci dari dalam perangkap dan diletakkannya di atas tanah supaya ia pergi.Tetapi kelinci itu kembali dan melompat ke atas pangkuan Fransiskus, berharap agar ia boleh tinggal di dekatnya. Fransiskus membawa kelinci itu ke sebuah hutan dan melepaskannya kembali.Tetapi kelinci itu kembali lagi ke tempat di mana Fransiskus duduk dan melompat ke atas pangkuannya lagi! Akhirnya Fransiskus meminta salah seorang rahibnya untuk membawa kelinci masuk ke dalam hutan dan melepaskannya. Kali ini usahanya berhasil.

Ikan-ikan juga patuh pada Fransiskus. Setiap kali seekor ikan tertangkap dan Fransiskus berada di sekitar tempat itu, ia akan melepaskan ikan itu kembali ke air sambil memperingatkannya agar berhati-hati supaya tidak tertangkap lagi. Sering terjadi, ikan akan tinggal di sekitar perahu Fransiskus untuk mendengarkannya berkhotbah sampai Fransiskus mengijinkannya untuk pergi. Barulah mereka berenang pergi. Setiap ciptaan Tuhan, demikianlah Fransiskus menyebut semua makhluk hidup, akan memuji Sang Pencipta yang terkasih.

Tidak hanya berdamai dengan binatang, Fransiskus juga mengupayakan damai antar manusia. Fransiskus hidup pada masa Perang Salib.Tahun 1219 ia berlayar ke Mesir dan berjumpa dengan Sultan Malik al Kalam. Sekalipun perdamaian tidak berhasil diwujudkan, dan Perang Salib masih berlanjut, setidaknya sudah ada perjumpaan, dialog, dan sikap saling menghormati di antara keduanya. Sekembali dari pertemuan, Fransiskus menganjurkan pengikutnya agar hidup damai dengan umat Muslim jika memang ingin mengabarkan injil di dunia Arab.Anjuran ini tidak diterima, dan dilupakan begitu saja.
Kisah perjumpaan Fransiskus dan Sultan pun terlupakan, dan baru pada abad 21 ini Paul Moses melakukan penelitian sejarah dan menuliskannya dalam buku yang berjudul "Saint and the Sultan:The Crusades, Islam, and Francis of Assisi's Mission Peace"), yang diterbitkan tahun 2009.
Buku ini sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dengan judul "Santo dan Sultan: Kisah Tersembunyi Tentang Juru Damai Perang Salib," yang diterbitkan oleh Pustaka Alvabet, tahun 2013.
Tahun 1225 Fransiskus mengalami sakit mata yang parah. Upaya pengobatan tidak membawa basil. Fransiskus meninggal dunia pada usia 45 tahun, pada tanggal 3 Oktober 1226, dan dimakamkan pada tanggal 4 Oktober 1226.

Ia meninggal dengan adanya stigmata (luka-luka Kristus) di tubuhnya. Pada tahun 1228 ia dikanonisasi menjadi Santo. Santo Fransiskus adalah santo pelindung binatang dan anak-anak. Pestanya dirayakan setiap tanggal 4 Oktober.

Sumber, saduran, dan kutipan tentang riwayat hidup Fransiskus dari Assisi diambil dari:
http://ofm.orid/kronologi-riwayat-hidup-st-fransiskus-assisi/ http://mydiarylusia.blogspot.co.id/2015/08/biografiriwayat-hidup-santo-fransiskus.html

Pengenaan
____________________

 

Selain kelompok teman sebaya, yang sangat mempengaruhi remaja dalam pembentukan identitas adalah idola. Seorang idola memberikan inspirasi tentang kehidupan. Kebanyakan remaja memiliki idola selebritis, baik dalam dunia entertainment maupun olah raga. Namun ada juga remaja yang memiliki idola tokoh politik, pendidikan, dan sebagainya, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Memperkenalkan tokoh Fransiskus Assisi bukan sekadar bertujuan menjadikannya idola remaja, namun menjadikannya inspirasi bagi remaja dalam mengisi hidup ini. Hidup bukanlah sekadar untuk diri sendiri, melainkan menjadi berkat bagi sesama dan seluruh ciptaan Tuhan. Dengan terinspirasi dari tokoh Fransiskus dari Assisi. remaja dapat mengembangkan diri menjadi pembawa damai, atau menjadi sahabat seluruh ciptaan Tuhan.
 

Langkah-langkah Penyampaian
___________________________


1. Tunjukkan kepada remaja lukisan Michelangelo berjudul The Last Judgment yang diambil dari https://www.michelangelo.org/the-last-judgement.jsp.Tanyakan kepada remaja bagaimana perasaan mereka tentang lukisan ini.
2. Tanyakan kepada remaja apakah lukisan ini mengingatkan pada suatu perikop dalam Alkitab.Ajak remaja membaca Matins 25:3 1-46.
3. Jelaskan kepada remaja jika orang terpaku pada lukisan tadi, maka inti dari Marius 25:31-46, yaitu perbuatan baik kepada orang-orang miskin dan tertindas, dapat menjadi kabur (pakailah Penjelasan Teks).
4. Perkenalkan kepada remaja tokoh Fransiskus Assisi yang hidup sesuai dengan Matius 25:31-46, baik secara lisan atau dengan memakai video riwayat hidup Fransiskus Assisi:
https://www.youtube.com/watch?v=TdGHsILneTA
https://www.youtube.com/watch?v=TNDFJJvI77E
5. Tanyakan kepada remaja inspirasi apa yang didapat dari riwayat hidup Fransiskus dari Assisi, dan apa yang akan mereka lakukan sesuai dengan inspirasi itu.Arahkan kepada kesaksian dan pelayanan bagi sesama dan seluruh ciptaan Allah.
6. Masuk dalam kegiatan.
 

Kegiatan
_____________________

. Bagikan kepada remaja teks doa Fransiskus dari Assisi atau teks lagu "Make Me a Channel of Your Peace."

Doa:
DOA ST. FRANSISKUS DARI ASSISI

TUHAN, jadikanlah aku pembawa damai.
Bila terjadi kebencian, jadikanlah aku pembawa cinta kasih.
Bila terjadi penghinaan, jadikanlah aku pembawa pengampunan.
Bila terjadi perselisihan, jadikanlah aku pembawa kerukunan.
Bila terjadi kesesatan, jadikanlah aku pembawa kebenaran.
Bila terjadi kebimbangan, jadikanlah aku pembawa kepastian.
Bila terjadi keputus-asaan, jadikanlah aku pembawa harapan.
Bila terjadi kegelapan, jadikanlah aku pembawa terang.
Bila terjadi kesedihan, jadikanlah aku pembawa sukacita.

Ya Tuhan Allah,
ajarlah aku untuk lebih suka menghibur daripada dihibur:
mengerti daripada dimengerti;
mengasihi daripada dikasihi;
sebab dengan memberi kita menerima;
dengan mengampuni kita diampuni,
dan dengan mati suci kita dilahirkan ke dalam Hidup Kekal.
Amin.

Lagu:
Make Me A Channel Of Your Peace
Author (attributed to): St. Francis of Assisi
Adapter: Sebastian Temple

Make me a channel of your peace,
Where there is hatred, let me bring Your love,
Where there is injury,Your pardon Lord,
And where there's doubt, true faith in You

Oh Master, grant that I may never seek,
So much to be consoled as to console,
To be understood, as to understand,
To be loved, as to love with all my soul

Make we a channel of Your peace,
Where there's despair in life let me bring hope.
Where there is darkness, only light,
And where there's sadness, ever joy

Oh Master, grant that I may never seek,
So much to be consoled as to console,
To be understood, as to understand,
To be loved, as to love with all my soul

Make me a channel of Your peace.
It is in pardoning that we are pardoned,
In giving to all men that we receive,
And in dying that we're born to eternal life.

Oh Master-, grant that I may never seek,
So much to be consoled as to console,
To be understood, as to understand,
To be loved, as to love with all my soul

2. Jika yang dibagikan adalah teks doa, minta remaja membacanya dalam hati secara perlahan-lahan agar dapat menghayati. Kemudian minta remaja masuk dalam kelompok kecil 5-6 orang untuk sharing inspirasi apakah yang mereka dapatkan dari doa itu dan apa komitmen mereka.Tutup dengan bersama-sama mengucapkan doa tersebut.
3. Jika yang dibagikan adalah teks lagu "Make Me a Channel of Your Peace," perdengarkan lagunya: https://www.youtube.com/watch?v=DFyDpc4r2zY.
Ajak remaja belajar menyanyikan lagu itu dan meresapkan kata-katanya. Kemudian minta remaja masuk dalam kelompok kecil 5-6 orang untuk sharing inspirasi apakah yang mereka dapatkan dari lagu itu dan apa komitmen mereka.Tutup dengan kembali menyanyikannya bersama-sama.
 

Ilustrasi
_____________________


Romo Mangunwijaya dalam novelnya yang berjudul "Burung-burung Manyar" menulis,"Sebelum mempelajari surga dan malaikat, mbok ya belajar dulu menjadi manusia biasa".
 

             
            
Francis and The Sultan (1901) karya Arnoldo Zoocchi
di Gereja St Joseph, Kairo-Mesir


 

Sahabat Surgawi,
 Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja antar denominasi OnLine
www.sahabatsurgawi.net - webmaster@sahabatsurgawi.net, Copyright © 1999