HOME ABOUT US KESAKSIAN AGENDA GEREJA LINK CONTACT US



 

Derap Remaja Edisi 42
Juli-Desember 2017
Bahan Pembinaan Remaja Gereja Kristen Indonesia


Pembayaran dapat dilakukan dengan 2 cara :

1. Via Bank:
Tahapan BCA no. 0372999053, an. Wisnu Sapto Nugroho
Segera kirimkan pemberitahuan pengiriman bank.
2. Via Pos Wesel:
dengan cara memakai blangko yang dilampirkan dalam surat pengantar.
Pdt. Wisnu Sapto Nugroho, Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Alamat Sekretariat & Distribusi DERAP REMAJA:
Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Harga per eksemplar Rp. 40.000,-

 

Juli 2017    
8 Sabat
 
  1
14 Sobat
 
  2
18 Educare
 
  3
22 Life Skill
 
  4
26 I am Malala
 
  5

 Juli 2017

Minggu 5



I am Malala

Bacaan:
Markus 10:13-16
Bahan yang diperlukan:
Alat-alat untuk membuat poster (kertas manila, spidol,
cat air atau pensil warna)

Fokus


Pendidikan merupakan hal yang sangat penting dalam pengembangan diri seseorang. Bahkan pendidikan adalah hak seorang anak. Namun dari zaman dahulu seringkali anak perempuan mendapat pendidikan yang lebih rendah dari anak laki-laki, bahkan kadang tidak mendapatkan pendidikan sama sekali. Pada masa Perjanjian Lama, hanya anak laki-laki yang wajib bersekolah Taurat di beth hasyefer. Anak perempuan tidak bersekolah; mereka menerima pendidikan di rumah saja. Di Indonesia, pada zaman Kartini (1879-1904), anak-anak perempuan tidak bersekolah. Maka Kartini mengadakan sekolah untuk anak-anak perempuan di kota Rembang. Pada masa yang sama, pada tahun 1875 sudah ada sekolah untuk anak perempuan di Minahasa, Sulawesi Utara. Pada masa kini, di Indonesia hak bersekolah anak perempuan sama dengan anak laki-laki. Semua wajib sekolah 12 tahun (sekalipun dalam praktik masih ada anak perempuan yang tidak cukup tinggi bersekolah). Keadaan di Indonesia jauh lebih baik dibandingkan dengan keadaan di wilayah Pakistan yang dikuasai kelompok Taliban: anak-anak perempuan dilarang bersekolah. Seorang anak perempuan, Malala Yousafzai, memperjuangkan hak anak-anak perempuan untuk bersekolah. Akibatnya ia pernah ditembak dan hampir mati. Untunglah nyawanya tertolong, dan ia kembali berjuang setelah sembuh. Melalui pelajaran ini remaja mengenal tokoh dan perjuangan Malala untuk pendidikan bagi anak perempuan, dan terinspirasi tokoh Malala untuk memperjuangkan pendidikan bagi semua anak.
 

Penjelasan Teks

Markus 10:13-16 menggambarkan sikap Yesus terhadap anak-anak, baik laki-laki maupun perempuan. Seringkali kita membayangkan anak-anak yang dibawa kepada Yesus adalah anak-anak yang manis, bersih, sehat, pintar, wangi, dst. Apakah gambaran itu tepat? Kalau kita mempelajari situasi masyarakat kebanyakan pada zaman Yesus, justru keadaannya memprihatinkan. Mayoritas masyarakat adalah orang-orang miskin. Sekalipun mereka memiliki mata pencaharian (kebanyakan sebagai petani dan nelayan), namun tingginya bermacam-macam pajak yang harus mereka bayar menyebabkan mereka menjadi miskin. Karena kemiskinan itu, kemungkinan besar anak-anak yang dibawa kepada Yesus juga anak-anak yang miskin, kotor, kurang sehat, kurang gizi, sampai terkena busung lapar!Mengapa anak-anak dibawa kepada Yesus? Ada dua alasan. Yang pertama, barangkali anak-anak itu mau masuk sekolah.

Menurut kebiasaan orang-orang Yahudi, anak-anak yang mau masuk sekolah dibawa kepada seorang guru atau rabi untuk meminta berkat.Yesus adalah seorang rabi; maka anak¬anak itu dibawa oleh orang tua mereka untuk diberkati oleh Yesus.Yang kedua, barangkali anak-anak itu sakit atau terkena busung lapar. Yesus adalah seorang tabib yang sudah menyembuhkan banyak orang sakit.Maka anak-anak itu dibawa kepada Yesus untuk diberkati agar menjadi sehat dan tetap bertahan hidup sampai dewasa.

Namun murid-murid Yesus menghalang-halangi orang tua yang membawa anak-anak mereka kepada Yesus. Mengapa? Apakah karena mereka melindungi Yesus yang sedang lelah? Tentu saja tidak. Yesus sudah terbiasa lelah dan selalu menerima orang-orang yang datang kepada-Nya. Sikap Yesus serius: Ia memarahi murid-murid yang menghalang-halangi anak-anak itu. lnilah satu-satunya perikop yang memakai kata Yesus "marah" dengan sungguh-sungguh. Biasanya orang mengkonotasikan apa yang dilakukan Yesus ketika menyucikan bait Allah sebagai marah, padahal tidak ada kata marah pada perikop itu. Hanya pada perikop Yesus memberkati anak-anak inilah Yesus marah, yaitu marah kepada murid-murid-Nya yang menghalang-halangi anak-anak itu. Yesus marah karena bagi-Nya anak-anak itu penting dan berharga. Yesus marah, juga karena sikap menghalang-halangi itu menunjukkan bahwa murid-murid tidak mengakui Yesus sebagai guru dan tabib.
Yesus menerima dan memberkati anak-anak itu, baik laki-laki maupun perempuan.Yesus mengasihi dan memerhatikan anak-anak. Ia memeluk anak-anak itu, dan meletakkan tangan-Nya ke atas mereka untuk memberi berkat.

Pengenaan


Sikap Yesus kepada anak-anak menjadi dasar mengapa anak-anak menerima pendidikan.Anak-anak itu penting, dan harus menerima pendidikan untuk pengembangan diri mereka. Dengan demikian mereka dipersiapkan untuk akhirnya memasuki dunia orang dewasa dengan kesiapan, sehingga dapat berpartisipasi dan berkontribusi dalam masyarakat. Kisah Malala menjadi inspirasi remaja untuk memperjuangkan hak pendidikan bagi anak-anak, terutama anak-anak perempuan.
 


 

Langkah-langkah Penyampaian


1. Tanyakan kepada remaja, tahukah mereka tokoh Malala Yousafzai. Jika remaja belum mengenalnya, jelaskan riwayat hidup Malala. Jika ada yang sudah tahu, minta remaja itu menjelaskan tentang Malala. Jika perlu, tambahkan atau koreksi penjelasan remaja tentang Malala tersebut.Tekankan bahwa perjuangan Malala adalah untuk pendidikan bagi anak-anak perempuan.
2. Jelaskan bahwa larangan bagi anak perempuan untuk bersekolah merupakan sikap zaman dulu (misalnya Perjanjian Lama dan zaman Kartini). Pada masa kini di Indonesia sudah sangat jarang. Namun di wilayah Pakistan yang dikuasai Taliban hal ini masih terjadi. Minta remaja membayangkan andaikan saat ini mereka dilarang bersekolah, bagaimanakah rasanya? (beri waktu yang cukup) Kemudian ajak remaja mensyukuri kesempatan mereka bebas bersekolah.
3. Ajak remaja membaca Markus 10:13-16. Jelaskan mengapa anak-anak dibawa kepada Yesus, bagaimana sikap murid-murid Yesus, dan bagaimana reaksi Yesus terhadap murid-murid yang menghalang-halangi anak-anak itu (Pakailah Penjelasan Teks).
4. Minta remaja masuk dalam kelompok kecil untuk membicarakan inspirasi apakah yang mereka terima melalui riwayat hidup Malala. Kemudian hubungkan inspirasi itu dengan sikap Yesus kepada anak-anak.
5. Lakukan kegiatan.

Kegiatan

Minta remaja dalam kelompok kecil membicarakan apa yang akan mereka lakukan untuk memperjuangkan hak anak-anak perempuan mendapat pendidikan.

Contoh:
• Jika masih ada masyarakat yang menolak anak-anak perempuan bersekolah, remaja akan menyadarkan orang tua anak-anak itu melalui perkunjungan.
• Membuat poster untuk mengkampanyekan hak anak-anak perempuan mendapat pendidikan, sama seperti anak laki-laki.
Ilustrasi

Pada zaman dahulu ada orang tua memiliki prinsip tentang anak perempuan: setinggi-tingginya anak perempuan bersekolah, akhirnya jatuh ke dapur juga.Artinya: walaupun anak perempuan bersekolah tinggi, akhirnya ia akan menjadi ibu rumah tangga — jadi percuma saja sekolah. Apakah pada zaman sekarang masih ada yang memiliki prinsip seperti itu?

                                                                                           
 

                                              Riwayat Hidup Malala Yousafzai

Malala lahir pada tanggal 12 Juli 1997 di Mingora, sebuah kota kecil di wilayah Swat, barat laut Pakistan.Ayahnya, Ziauddin Yousafzai, menamai putrinya Malala, yang diambil dari nama seorang pahlawan, Malalai.
Ziauddin, yang selalu suka belajar, memiliki sebuah sekolah di daerah Swat. Ia dikenal sebagai pembela pendidikan di Pakistan, negara yang memiliki jumlah anak sekolah drop out terbesar kedua di dunia. Ia juga menjadi penantang yang berani terhadap Taliban yang berusaha untuk menghentikan pendidikan bagi anak-anak perempuan.

Malala mengikuti jejak ayahnya yang suka belajar dan bersekolah. Pada tahun 2009, saat tentara Taliban semakin menguasai Swat, Malala mulai menulis sebuah blog untuk BBC Urdu dengan memakai nama sarnaran, mengenai ketakutannya jika sekolahnya diserang oleh aktivitas militer di Swat yang semakin kuat.Televisi dan musik dilarang, perempuan dilarang pergi berbelanja, dan kemudian Ziauddin diberitahu bahwa sekolahnya harus ditutup.
Malala dan ayahnya menerima ancaman pembunuhan, namun mereka terus berbicara tentang hak anak untuk mendapatkan pendidikan. Pada saat itulah Malala tampil dalam sebuah dokumen yang dibuat untuk koran The New York Times, dan disebut sebagai penulis blog BBC.

Pada tahun 2011 Malala menerima penghargaan National Youth Peace Prize di Pakistan, dan dinominasikan oleh Archbishop Desmond Tutu untuk penghargaan the International Children's Peace Prize. Menghadapi kenyataan semakin meningkatnya popularitas Malala dan semakin terkenalnya ia secara nasional, para pemimpin Taliban bermaksud untuk membunuhnya.
Pada tanggal 9 Oktober 2012, saat Malala dan kawan-kawannya dalam perjalanan pulang ke rumah sehabis sekolah, seorang bertopeng yang membawa pistol memasuki bis sekolah mereka dan memanggil nama Malala. Secara spontan teman-temannya memandang ke arah Malala, sehingga dengan mudah orang itu menembak Malala dengan sebutir peluru, yang mengenai kepalanya, tembus ke leher dan bahu. Dua temannya juga terluka dalam serangan ini.

Malala selamat dalam serangan ini, dalam keadaan yang sangat kritis. ia dipindahkan ke rumah sakit yang khusus merawat militer yang terluka di Birmingham, Inggris. Di sana ia dirawat selama beberapa bulan, dan seluruh anggota keluarganya bisa menyusul.
Usaha Taliban untuk membunuh Malala dikutuk dunia, dan menimbulkan protes di seluruh Pakistan. Dalam beberapa minggu sesudah serangan itu, lebih dari dua juta orang menandatangani petisi hak anak untuk mendapatkan pendidikan, dan Majelis Nasional mensahkan undang-undang mengenai hak untuk mendapatkan pendidikan yang bebas dan wajib.
Malala menjadi pembela secara global bagi jutaan anak-anak perempuan yang tidak bisa bersekolah secara formal karena faktor-faktor sosial, ekonomi, hukum, dan politik. Pada tahun 2013 Malala dan Ziauddin mendirikan the Malala Fund untuk menyadarkan adanya dampak sosial dan ekonomi dari pendidikan untuk anak-anak perempuan, dan untuk memampukan anak-anak perempuan bersuara, agar dapat mengembangkan potensi mereka dan menuntut adanya perubahan.

Malala menerima hadiah Nobel perdamaian pada tanggal 10 Desember 2014, bersama seorang pembela hak dan pendidikan anak dari India, Kailash Satyarthi. Malala menyumbangkan seluruh hadiahnya yang bernilai lebih dari US$500,000 untuk membangun sebuah sekolah menengah bagi anak-anak perempuan di Pakistan.
Pada tahun 2015, dalam rangka merayakan ulang tahunnya yang ke 18, Malala meresmikan pembukaan sekolah untuk anak-anak perempuan di Lebanon, dekat perbatasan dengan Syria, bagi lebih dari 200 anak-anak perempuan Syria yang tinggal di camp pengungsian dan terpaksa putus sekolah. Di Lebanon, the Malala Fund memberikan bantuan untuk LSM lokal the KAYANY Foundation yang menyediakan pendidikan keterampilan bagi sekitar 200 anak-anak perempuan pengungsi dari Syria yang berusia 14-18 tahun.

Sumber: https://www.malala.org/malalas-story

Riwayat hidup dan perjuangan Malala dituliskan dalam sebuah buku berjudul I am Malala: The Girl Who Stood Up for Education and Was Shot by the Taliban (2013). Malala berkeyakinan "satu anak, satu guru, satu pena, dan satu buku dapat mengubah dunia."
 

 

                                                                                                   


 

Sahabat Surgawi,
 Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja antar denominasi OnLine
www.sahabatsurgawi.net - webmaster@sahabatsurgawi.net, Copyright © 1999