HOME ABOUT US KESAKSIAN AGENDA GEREJA LINK CONTACT US


 

Derap Remaja Edisi 39
Bahan Pembinaan Remaja Gereja Kristen Indonesia


Pembayaran dapat dilakukan dengan 2 cara :

1. Via Bank:
Tahapan BCA no. 0372999053, an. Wisnu Sapto Nugroho
Segera kirimkan pemberitahuan pengiriman bank.
2. Via Pos Wesel:
dengan cara memakai blangko yang dilampirkan dalam surat pengantar.
Pdt. Wisnu Sapto Nugroho, Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Alamat Sekretariat & Distribusi DERAP REMAJA:
Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Harga per eksemplar Rp. 40.000,-
 

juni 2016    

I am not a bystander
amos 5:7-13
 
  1

words of wisdom
amsal 2:1-22
 
  2

kindness in pictures
kisah para rasul 9:36-42
 
  3

oversharing
kolose 4:5-6

 

  4

 


Bacaan:
Amos 5:7-13


Bahan yang diperlukan:
- Tongsis

 


I Am Not A Bystander
 


FOKUS


"Kejahatan yang paling kejam adalah kita tidak peduli terhadap penderitaan orang lain." Demikian kata-kata bijak yang diucapkan sebagai ajakan untuk peduli terhadap penindasan yang dilakukan kepada sekelompok masyarakat. Indonesia 'kaya' dengan berbagai kasus sosial yang menyengsarakan rakyat. Salah satunya adalah kasus lumpur lapindo yang merugikan masyarakat Sidoarjo. Remaja sebagai bagian dari masyarakat Indonesia perlu belajar untuk menunjukkan kepedulian yang merugikan saudara sebangsanya yang mengalami kekerasan sosial. Pelajaran ini bertujuan mengasah kepedulian sosial menyatakan sikap untuk berjuang melawan ketidakadilan dan kekerasan. Perjuangan ini membuat remaja bukan menjadi orang yang diam saja melihat ketidakadilan dan kekerasan.
 

PENJELASAN TEKS


Kitab Amos adalah kitab yang khas menyuarakan keadilan sosial terhadap mereka yang tertindas. Seolah Amos dipanggil oleh Allah yang memberikan kritik tajam terhadap praktek penindasan yang dilakukan oleh sebagian rakyat Israel yang mempunyai status sosial bergengsi (pemerintah, orang-orang kaya, pemimpin agama) terhadap mereka yang miskin dan tak berdaya.

Dalam Amos 5:11 dijelaskan penindasan yang telah dilakukan oleh mereka yang menindas: menginjak-injak orang yang lemah dan mengambil pajak gandum. Kemungkinan tindakan tersebut dilakukan oleh para orang kaya yang mengambil begitu saja tanah milik orang-orang miskin. Sedangkan pajak gandum dilakukan oleh pejabat pemerintah yang mengutip pajak yang seharusnya tidak dikenakan kepada para petani gandum. Hal ini dijelaskan di ayat 12.

Perlakuan orang-orang yang menindas disebut Amos sebagai tindakan yang membalikkan kebenaran dan keadilan. Seolah mereka melakukan ketidakadilan dan ketidakbenaran sebagai tindakan biasa saja. Namun sebenarnya tindakan tersebut adalah racun yang mematikan mereka yang ditindas. Mereka 'memaksa' orang yang tertindas tidak mempunyai daya untuk dirinya sendiri.

Di ayat 10 dan 12 ada kata yang menarik yaitu "pintu gerbang." Istilah "pintu gerbang" dalam budaya Yahudi merujuk pada aktivitas pengadilan, pengambilan keputusan penting dan bisnis orang-orang Yahudi dilakukan di sekitar pintu gerbang kota. Beberapa catatan Alkitab berkisah tentang aktivitas ini. Misalnya, ketika Boas menebus kembali tanah Elimelek dengan memutuskan untuk menikahi Rut (Rut 4: 1). Atau saat Absalom menggunakan taktik licik menfitnah Daud dengan mengadili rakyat yang mempunyai masalah (2 Sam. 15: 2). Namun di tempat keadilan dan keputusan dilakukan para penindas melakukan kejahatan dengan mengabaikan teguran dari orang-orang yang dengan tulus memberitahukan kesalahan mereka. Seolah Amos ingin kembali menegaskan kejahatan mereka selain mereka mengambil paksa hak orang lain.
Bagian penting lainnya dari kritik Amos adalah tindakan Tuhan kepada para penindas. Amos menyebutkan Tuhan akan membalas perbuatan mereka. Di sini Amos menggunakan wibawanya sebagai nabi Tuhan yang bersuara atas nama Tuhan. Suara dan kritik Amos menjadi wujud nyata dari sikap Tuhan yang tidak berpihak pada ketidakadilan.

Catatan kritis terhadap kritik Amos adalah ayat 13. Dia mengatakan "orang yang berakal budi berdiam diri pada waktu itu, karena waktu itu adalah waktu yang jahat." Tidak jelas maksud dari bagian ini. Kemungkinan Amos ingin mengingatkan rakyat Israel agar tidak ikut-ikutan melakukan kejahatan dengan para penindas. Orang bijak adalah orang yang "berdiam diri" pada waktu kejahatan tersebut dilakukan oleh para penindas. Namun apabila kita membacanya dengan kacamata keadilan, malahan tindakan "berdiam diri" merupakan "kejahatan." Artinya, apabila rakyat melihat tindakan kejahatan dilakukan di depan mereka, dan mereka diam saja, tidak melakukan apapun, sebenarnya mereka pun turut melakukan kejahatan yang sama.
 

PENGENAAN


Ada banyak kasus ketidakadilan sosial terjadi di depan 'mata' remaja Indonesia. Peristiwa hukum yang tidak adil terhadap mereka yang miskin, contohnya kasus nenek Asyani yang mencuri potongan kayu jati dan dihukum penjara satu tahun atau denda 500 juta sedangkan beberapa koruptor besar bebas dari hukuman. Atau kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak yang dilakukan oleh mereka yang lebih berkuasa daripada mereka. Peristiwa lain yang dekat dengan remaja adalah kasus-kasus bullying yang mungkin mereka terima atau lakukan di sekolah.

Semua peristiwa itu seharusnya membuat remaja terluka dan tergugah untuk melakukan sesuatu yang melawan segala bentuk ketidakadilan dan kekerasan. Namun bisa saja remaja bersikap diam saja melihat semua yang buruk itu terjadi. Ada istilah bahasa Inggris yang dipakai untuk menunjukkan orang yang ada di tengah peristiwa kekerasan dan ketidakadilan tetapi bersikap diam saja, yaitu bystander. Ada sebagian remaja yang memilih menjadi bystander, sebab sikap ini membuat mereka aman dari kekerasan, repot, bahkan perlakukan yang tidak menyenangkan lainnya.

Sebagai remaja Kristen, sayangnya remaja tidak disarankan menjadi bystander. Alasannya karena Tuhan tidak pernah berpihak kepada mereka yang melakukan penindasan terhadap sesamanya. Tuhan sendiri tidak tinggal diam melihat kekerasan dan ketidakadilan terjadi didepan mata-Nya. Karena itu Tuhan menghendaki setiap orang melakukan perbuatan baik yang melawan segala bentuk kekerasan dan ketidakadilan tersebut.

Remaja perlu belajar untuk mengkritisi kejadian-kejadian tersebut sebagai bentuk kepekaan dan kepedulian sosial mereka. Mereka perlu diajak untuk merasakan penderitaan mereka yang tertindas dengan membayangkan diri mereka sebagai pelaku atau korban. Mereka perlu juga melatih diri menajamkan mata hati dan daya kritis mereka untuk mengenali bentuk-bentuk kekerasan yang terjadi di sekitar mereka. Remaja perlu belajar menemukan bentuk-bentuk perlawanan terhadap kekerasan dan ketidakadilan dengan cara yang bijak. Di sinilah mereka berani memilih untuk tidak menjadi bystander.
 

LANGKAH-LANGKAH PENYAMPAIAN


1. Pembimbing membuka pelajaran dengan membacakan ilustrasi. Setelah ilustrasi dibacakan, mintalah mereka untuk berdiskusi tentang pendapat penulis tentang dosa yang tak terampuni.
2. Pembimbing meminta mereka untuk secara kritis menemukan jawaban apakah yang mereka harus lakukan agar tidak jatuh pada dosa yang tak terampuni tadi. Mintalah mereka untuk menyebutkan peristiwa-peristiwa ketidakadilan yang mereka ketahui terjadi di Indonesia.
3. Masuklah pada Penjelasan Teks. Berikan beberapa penekanan pada kejahatan para penindas: apa yang mereka lakukan; mengapa istilah "pintu gerbang" diulang dua kali: aktivitas apa yang terjadi dan penting di sana bagi orang Yahudi; mengapa Amos mengkritik tindakan mereka; serta apa yang Tuhan lakukan terhadap para penindas.
4. Masukkan bagian Pengenaan bahwa mereka pun harus belajar bersikap kritis terhadap kejadian-kejadian yang terjadi di Indonesia. Kekritisan mereka akan melahirkan perbuatan baik yang akan membuat mereka secara aktif melakukan perlawanan terhadap ketidakadilan dan kekerasan.
5. Lakukanlah Kegiatan sebagai puncak dari pelajaran ini.
 

KEGIATAN



                                                               Meme dan/atau Dance Anti Kekerasan


Pilihlah dua alternatif kegiatan.

1. Meme Anti Kekerasan
• Pembimbing membentuk beberapa kelompok dari seluruh peserta remaja yang hadir.
• Pembimbing meminta setiap kelompok untuk memilih bentuk-bentuk ketidakadilan dan • kekerasan yang mereka jumpai di masyarakat.
• Lalu mintalah tiap kelompok untuk membuat meme dari perlawanan terhadap bentuk-bentuk ketidakadilan dan kekerasan tersebut. Meme tersebut didokumentasikan (bisa dalam bentuk film pendek atau foto) oleh kelompok.
• Setelah itu setiap kelompok meng-upload hasil dokumentasi tersebut di media sosial milik mereka masing-masing dan komisi remaja dengan judul:"We Are Not Bystander."

2. Dance Anti Kekerasan
• Ajaklah remaja untuk belajar gerakan-gerakan tarian anti kekerasan. Lihat gerakannya:" One Billion Rising 2015"
• https://www.youtube.com/watch?v=YpNDrPesIbl
• Setelah berlatih beberapa kali. Ajaklah mereka untuk melakukan bersama tarian tersebut dengan iringan lagu yang sudah disiapkan.
• Mintalah salah satu peserta untuk merekamnya di smartphone, kemudian video tersebut di upload di media sosial. Berilah judul pada video tersebut: "We, Komisi Remaja GKI ...... Are Not Bystanders.
                                                                                                       

ILUSTRASI


Ellie Wiesel, salah seorang dosen saya di Boston University, School of Theology, yang terkenal dengan bukunya, Night, mengarang buku lain yang berjudul The Town Beyond the Wall. Buku ini merupakan sebuah novel sekaligus autobiografinya. Tokoh novel ini bernama Michael, seorang survivor tragedi Holocaust, yang melakukan perjalanan berbahaya ke kota asalnya di Hungaria.Apa yang hendak dicarinya, setelah pengalaman mengerikan di Holocaust itu? Wiesel menulis, Michael, dengan cara yang aneh, memahami kebrutalan para penyiksa dan penjaga penjara, namun apa yang menghantuinya dan apa yang sungguh-sungguh membuat ingin kembali ke kota asalnya adalah sesuatu yang tak dapat dipahaminya. Ada seorang pria yang tinggal di seberang jalan di depan Sinagogenya. Pria ini mengintip lewat tirai jendelanya, hari demi hari, sementara ribuan orang Yahudi diarak ke dalam gerbong kereta maut. Ia menampilkan wajah tanpa belas kasihan, tanpa rasa senang, tanpa kejutan, dan bahkan kemarahan atau minat. Impassive, dingin, impersonal.

Wiesel lantas melanjutkan bahwa di dalam. diri Michael terdapat ikatan antara penyiksa yang brutal dan para korban, sekalipun ikatan yang negatif. Setidaknya mereka berada di semesta yang sama. Namun tidak dengan si pengintip ini. "Ia sungguh-sungguh hidup di dunia seberang. Melihat tanpa dilihat, hadir tanpa diketahui." Lantas, Wiesel menyimpulkan, "Menjadi orang yang tak acuh, untuk alasan apa pun, berarti menolak keabsahan keberadaan kita, namun juga keindahannya. Berkhianatlah dan engkau tetap seorang manusia, siksalah sesamamu, engkau masih seorang manusia. Kejahatan adalah manusiawi. Kelemahan adalah manusiawi. Ketidakacuhan sama sekali tak manusiawi."

Sumber:
Pdt. Joas Adiprasetya, "The Town Beyond the Wall" karya Ellie Wiesel - http://gkipi.org/tujuh-dosa-yang-mematikan-seven-deadly-sins/

 

 


 

Sahabat Surgawi,
 Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja antar denominasi OnLine
www.sahabatsurgawi.net - webmaster@sahabatsurgawi.net, Copyright 1999