HOME ABOUT US KESAKSIAN AGENDA GEREJA LINK CONTACT US



 

Derap Remaja Edisi 43
Januari-Juni 2018
Bahan Pembinaan Remaja Gereja Kristen Indonesia


Pembayaran dapat dilakukan dengan 2 cara :

1. Via Bank:
Tahapan BCA no. 0372999053, an. Wisnu Sapto Nugroho
Segera kirimkan pemberitahuan pengiriman bank.
2. Via Pos Wesel:
dengan cara memakai blangko yang dilampirkan dalam surat pengantar.
Pdt. Wisnu Sapto Nugroho, Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Alamat Sekretariat & Distribusi DERAP REMAJA:
Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Harga per eksemplar Rp. 40.000,-

 

Juni 2018
Gereja

 

- Gereja Sebagai Persekutuan Umat Allah - Gereja: Kudus dan Rasuli
- Gereja: Satu dan Am - House of Prayer

 

Juni 2018 Minggu I

Efesus 1:22-23
Bahan yang diperlukan: -

Fokus
_____________________

 
Remaja pada dasarnya memiliki kecenderungan hidup "bersekutu". Remaja senang berkumpul dan menikmati kebersamaan dengan teman-temannya. Komunitas teman sebaya mempunyai pengaruh yang kuat dalam dinamika hidup para remaja. Di samping itu, perkembangan kehidupan sosial juga memberi banyak ruang dan tempat berkumpul yang semakin "menciptakan" eksistensi dan aktualisasi kelompok-kelompok sosial dengan bidikan kepada kaum muda (dan remaja). Dalam posisi dan situasi demikian, peran dan juga kehadiran gereja sebagai sebuah persekutuan patut menjadi sorotan. Adakah gereja sebagai persekutuan yang hangat dan akrab menempati posisi yang dirindukan oleh para remaja? Ataukah gereja hanya menjadi sebatas tempat/bangunan sebagaimana masih banyak dipahami remaja, malahan sebagai bangunan, gereja adalah tempat yang juga tidak seberapa diminati oleh mereka?
Pelajaran ini mengajak remaja untuk memahami makna gereja sebagai persekutuan umat Allah. Di dalam makna persekutuan tersebut, remaja menemukan keberagaman dalam berbagai perbedaan untuk dihargai, dikasihi, dan dirayakan sebab di sanalah nyata karya Allah yang mempersekutukan umat-Nya. Sedikit kontras namun sangat menarik, terlebih jika selama ini makna "sekutu" dalam konteks remaja identik dengan kekerabatan dalam kesamaan, kesenangan, status sosial dan pilih-pilih pertemanan.
 

Penjelasan Teks
_____________________


Gambaran mengenai gereja yang disampaikan oleh Paulus kepada Jemaat Efesus yang kita lihat dalam bacaan Efesus 1:22-23 ialah Tubuh Kristus, di mana Dia adalah Kepala dan kepenuhan atas segala. Metafor kesatuan tubuh untuk hakikat gereja tentu tidak asing bagi kita; bagian ini telah sebelumnya disampaikan Paulus secara lebih khusus dan terinci dalam I Korintus 12. Pertanyaannya apakah pesan di Efesus sama dan mengulang topik Korintus?

Pertama, mari kita mengajak remaja mengenal siapa Jemaat Efesus. Gereja ini merupakan hasil pelayanan Paulus bersama dengan Priskila dan Akwila dalam perjalanan misi yang ke-2 sekitar tahun 52 M (Kis. 18:19). Efesus menjadi jemaat yang teguh dan giat dalam pelayanan. Malah, sekalipun Paulus tidak menetap lama di Efesus (Kis. 18:20-21), ia memuji jemaat ini. Maka dari itu dalam Efesus 1:15¬16. Paulus mengawali suratnya dengan kalimat, "aku mendengar tentang iman dan kasihmu, aku tidak berhenti mengucap syukur, dan selalu mengingatmu dalam doaku."

Kedua, proses pertumbuhan jemaat di Efesus menjadi gereja harus juga dilihat dengan keadaan di sana pada waktu itu. Dan ternyata tidaklah mudah! Efesus berada di wilayah Asia Kecil yang penduduknya lekat dengan penyembahan para dewa. Kota Efesus identik dengan dewi Artemis, yaitu dewi kehidupan orang-orang Efesus, dan kekuatan sihir yang hebat (dalam waktu-waktu kemudian disamakan dengan dewi Artemis orang Yunani).

Hal ini dapat dilacak dari keberadaan kuil Artemis dengan kisah seputar patung sang dewi yang dipercaya jatuh dari langit (Kis. 19:35). Paulus sendiri menggambarkan pelayanan di Efesus sebagai hal yang banyak mencucurkan air mata, banyak percobaan dan usaha pembunuhan dari pihak orang Yahudi (Kis. 20:19).
 

Dari kedua konteks inilah kemudian kita dapat memahami Efesus 1:22-23. Kepenuhan sebagai kesatuan tubuh Kristus ialah bahwa Allah menundukkan semua kuasa di bawah kaki Kristus! Bahkan Allah telah menebus dan memilih umat-Nya menjadi sebuah persekutuan. Artinya tidak sama persis dengan metafora tubuh dalam surat Korintus, melainkan penegasan akan karya dan kuasa Allah sendiri yang melahirkan gereja, bahkan Ia mempersekutukan diri dengan manusia untuk menjadi umat-Nya: satu kesatuan tubuh.
 
"Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya" (lih. Ef. 1:4-5, 7-10, 19-21).

Pengenaan
_____________________


Kata Persekutuan diterjemahkan dari bahasa latin Communio. Kata ini dekat dengan "Komuni" dalam gereja Katolik yang berarti Ekaristi dan persatuan dengan Tubuh Kristus. Communio juga kemudian terserap dalam kata komunitas. Dan sebagaimana rumusan pesan dan pengajaran Paulus kepada jemaat Efesus, kita dapat langsung mengerti bahwa jelaslah gereja adalah persekutuan di dalam Allah dan oleh Karya Kristus. Gereja bukan persekutuan atas hobi dan kemauan orang-orang di dalamnya, tetapi ANUGERAH Allah.

Sebab jika kehendak pribadi atau sekelompok oranglah yang menjadi "pengakuan" atas keberadaan gereja bisa berakibat pisahnya/bubarnya persekutuan itu ketika kemauan dan kesamaan kehendak tidak lagi sejalan! Maka ungkapan dan bahkan rumusan iman gereja sebagai "persekutuan orang Kudus" (termasuk dalam salah satu butir Pengakuan Iman Rasuli) harus selalu dipandang sebagi tugas yang masih dan harus diperjuangkan dan hal ini senantiasa mempunyai arti yang konkret dalam kenyatan hidup di dunia ini.

Persekutuan, Tempat dan Komunitas
Kembali dalam kaitan dan kenyataan konteks kehidupan remaja, gaya hidup berkomunitas sudah tidak perlu diragukan dan diajarkan. Pertanyaannya adakah gereja mendapat posisi di dalam daftar komunitas mereka? Atau sebagaimana konteks kota Efesus dengan dewi Artemis sebagai sumber kehidupan, yang untuk itu Paulus berdoa agar Jemaat Efesus terus mengalami pengertian dan kepenuhan akan Kristus; apakah gereja sekarang ini tidak lagi dipandang sebagai komunitas yang memberi kehidupan dan warna dalam kepribadian remaja? Apakah kehidupan mereka lebih diisi dan ditentukan oleh komunitas-komunitas yang mereka minati dan aneka tempat yang memang menarik untuk didatangi? Ironis memang namun harus diakui hal ini mulai menjadi kenyataan umum di banyak tempat di gereja-gereja kita.

Namun firman Tuhan dan pelajaran hari ini kembali menegaskan makna Tubuh sebagai hakikat inti gereja. Tubuh itu adalah kehidupan! Hal ini memiliki arti yang tegas bahwa gereja bukan soal satu dari sekian banyak tempat, atau pun salah satu opsi dari sekian banyak komunitas, tetapi gereja adalah BASIS komunitas dan kehidupan manusia (baca: remaja). Pemaknaan ini sendiri akan menyegarkan kita dan membangun keyakinan untuk terus menghidupi dan memperjuangkan kehidupan bersama dalam komunitas gerejawi!
 

 

Malah lebih lanjut hal yang aktual dan relevan dalam persekutuan tubuh, tentunya kesatuan dalam keragaman serta kerjasama antar satu dengan lainnya. Dalam hal ini surat Efesus juga memberi pesan yang indah, yakni Efesus 2:19-20. Dari sanalah kemudian gereja perlu dihidupi dan terus dikelola menjadi tempat yang nyaman dan bertumbuh, menjadi umat yang tekun dan giat layaknya gereja Efesus.
Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru.

Langkah-langkah Penyampaian
___________________________


1. Awali dengan Kegiatan I.
2. Sampaikanlah bahwa hal berkomunitas menjadi identitas yang melekat dalam kehidupan remaja. Namun pertanyaannya di manakah dan bagaimana dengan gereja? Apakah gereja sudah menjadi komunitas yang melekat dalam diri remaja? (lihat Fokus).
3. Ajaklah remaja memahami kisah dan konteks mengenai gereja Efesus guna mendapatkan pemaknaan yang utuh dari perikop yang dibaca (lihat Penjelasan Teks).
4. Kemukakanlah bahwa remaja dapat menghidupi gereja sebagai basis komunitas karena Allah yang mempersekutukan kita sebagai umat-Nya dan menjadi satu Tubuh yang esa dalam Kristus (lihat Pengenaan).
5. Akhiri dengan ilustrasi.
 

Kegiatan
_____________________

Kegiatan ini berkaitan dengan lagu "Dalam Roh Yesus Kristus" (NKB 191) yang dapat dibagi ke dalam 2 tahap kegiatan (awal dan akhir pelajaran). Bahwa remaja diajak memahami makna persekutuan melalui lirik lagu ini (Namun jika pembimbing merasa lebih baik kegiatan langsung dituntaskan. maka dapat dilakukan sebagai penutup dan penegasan di akhir pelajaran).

[TAHAP SATU]
Merangkai Lirik Lagu
Remaja dibagi ke dalam minimal 3 kelompok.
Kelompok dibagi menurut identitas tertentu, misal bulan kelahiran (Januari-April, Mei-Agustus, September-Desember).
Setiap kelompok diberi potongan kata-kata yang merupakan lirik lagu (remaja tidak diberitahu judul lagunya).
Pembimbing dapat melakukan beberapa variasi untuk membuat kegiatan lebih menarik dan semakin menegaskan makna persekutuan baik dalam masing-masing kelompok maupun secara keseluruhan kelompok besar.

[TAHAP DUA]
Menyanyikan (atau jika dimungkinkan: kreasi lagu/musik kreatif)

Contoh Pembagian 3 Kelompok: A, B, dan C
(pembimbing dapat menyesuaikan bahkan dimungkinkan sampai dengan 5 kelompok)
 
Kelompok A (bait 1 dan 2)
Dalam Roh Yesus Kristus kita satu tetap, mendoakan semua jadi satu kelak Kita jalan bersama bergandengan erat, menyiarkan berita bahwa Tuhan dekat

Kelompok B (bait 3 don 4)
Kita bahu-membahu melayani terus, kita saling membela dalam kasih kudus Puji Bapa sorgawi, Pemberi kurnia! Puji Roh, Pemersatu dalam kasih baka!

Kelompok C (refrein)
Biar dunia tahu bahwa kita murid-Nya dalam kasih tubuh Kristus yang esa.
 

Ilustrasi
_____________________


Seorang menulis surat kepada Editor sebuah surat kabar dan mengeluhkan kepada para pembaca bahwa dia merasa sia-sia pergi ke gereja setiap minggu.
Tulisnya, "Saya sudah pergi ke gereja selama 30 tahun dan selama itu saya telah mendengar 3000 khotbah. Tapi selama hidup, saya tidak bisa mengingat satu khotbah pun. Jadi saya rasa saya telah memboroskan begitu banyak waktu-demikian pun para hamba Tuhan itu telah memboroskan waktu mereka dengan khotbah-khotbah itu."
Surat itu menimbulkan perdebatan yang hebat dalam kolom pembaca. Perdebatan itu berlangsung berminggu-minggu sampai akhirnya ada seseorang yang menulis demikian: "Saya sudah menikah selama 30 tahun. Selama ini istri saya telah memasak 32.000 jenis masakan. Selama hidup saya tidak bisa mengingat satu pun jenis masakan itu yang dilakukan istri saya. Tapi saya tahu bahwa masakan¬masakan itu telah memberi saya kekuatan yang saya perlukan untuk bekerja. Seandainya istri saya tidak memberikan makanan itu kepada saya, maka saya sudah lama meninggal."
Sejak itu tak ada lagi komentar tentang khotbah. Dan perlu untuk kita renungkan juga: perlukah kita ke gereja?

Sumber: http://zadrackganda.blogspot.co.id/2011/09/perlukah-ke-gereja.html

                                          
               
   
 


 

Sahabat Surgawi,
 Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja antar denominasi OnLine
www.sahabatsurgawi.net - webmaster@sahabatsurgawi.net, Copyright © 1999