HOME ABOUT US KESAKSIAN AGENDA GEREJA LINK CONTACT US



 

Derap Remaja Edisi 43
Januari-Juni 2018
Bahan Pembinaan Remaja Gereja Kristen Indonesia


Pembayaran dapat dilakukan dengan 2 cara :

1. Via Bank:
Tahapan BCA no. 0372999053, an. Wisnu Sapto Nugroho
Segera kirimkan pemberitahuan pengiriman bank.
2. Via Pos Wesel:
dengan cara memakai blangko yang dilampirkan dalam surat pengantar.
Pdt. Wisnu Sapto Nugroho, Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Alamat Sekretariat & Distribusi DERAP REMAJA:
Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Harga per eksemplar Rp. 40.000,-

 

Juni 2018
Gereja

 

- Gereja Sebagai Persekutuan Umat Allah - Gereja: Kudus dan Rasuli
- Gereja: Satu dan Am - House of Prayer

 

Juni 2018 Minggu II

Yohanes 17:12-19
Bahan yang diperlukan: -

Fokus
_____________________

 
Hidup remaja sangat dekat dengan dunia modern. Budaya popular (pop culture), semangat instan dan individualisme sangat erat berkaitian dan bersentuhan dengan mereka. Namun sayangnya, hal ini tidak mengutamakan nilai moral yang baik dan mengagungkan kebebasan yang tidak dibatasi oleh apapun juga. Seks bebas, kehidupan pesta pora dan dugem, persaingan yang tidak sehat, dan konsep YOLO (You Only Live Once) menjadi ciri dunia kaum muda saat ini. Di lain pihak, gereja memiliki kecenderungan untuk menjaga kekudusan dengan mengasingkan diri dari dunia, sehingga perbedaan dunia dengan gereja menjadi tajam, padahal tugas gereja adalah untuk menggarami dunia. Dalam pelajaran kali ini remaja akan diajak untuk memahami makna gereja yang kudus dan rasuli, serta bagaimana peran mereka di dalamnya.
 

Penjelasan Teks
_____________________


Pengudusan di dalam Kristus Yesus menjadikan murid-murid-Nya menjadi kudus (ay. 19). Kalimat ini menyatakan bahwa Yesuslah yang memiliki inisiatif, bahwa Ialah yang kudus, bukan karena usaha para murid Yesus. Kita menjadi kudus karena la kudus. Hal ini berbicara mengenai karya Allah dalam kita, bukan pada penilaian seseorang terhadap orang lain atau dirinya sendiri, sehingga tidak ada satupun orang yang dapat menjadi kudus karena usahanya sendiri. Kekudusan menjadi kasih karunia bagi kita maupun bagi gereja-Nya.
Kekudusan kita tidak serta merta didapatkan begitu saja, namun karena hidup Yesus dan pengorbanan¬Nya di kayu salib sehingga barangsiapa yang percaya dan beriman kepada-Nya menjadi kudus, sama seperti Bapa dan Yesus adalah kudus. Oleh karena itu maka kekudusan ini mengandung sifat komunal, bahwa kekudusan tidak bicara hanya pada orang-orang tertentu saja, melainkan pada seluruh pengikut¬Nya. Kekudusan yang Yesus berikan kepada pengikut-Nya bersifat inklusif. Hal ini berarti tidak ada seorang Kristen yang lebih rohani daripada yang lain. Tidak ada gereja yang lebih kudus dibanding lainnya. Selama gereja berfokus pada Kristus maka gereja adalah kudus.

Yesus berdoa agar mereka dikuduskan dalam kebenaran. Kata kudus dalam bahasa Yunani adalah hagiazein (Ibr.: Qahal) berarti diasingkan atau disendirikan. Dalam konteks rohani bisa secara moral berarti disucikan atau secara ritual berarti dikhususkan. Maka hagiazein memiliki dua makna. Makna pertama biasanya diganti dengan "dikuduskan dari", sedangkan yang kedua dengan "dikuduskan untuk". Dengan kata lain, "kudus" dapat bermakna "dipisahkan dari" atau "dikhususkan untuk". Dengan demikian maka gereja diberikan suatu keadaan tertentu untuk suatu tugas yang khusus, yaitu dipisahkan dari dunia dan dosa, serta dikhususkan untuk pelayanan kepada Allah.
Hagiazein juga memiliki makna untuk melengkapi manusia dengan kualitas hati dan pikiran dan karakter yang dibutuhkan untuk tugas tersebut. Jika seseorang atau gereja adalah untuk melayani Tuhan, maka ia harus memiliki kebaikan dan karakter Tuhan di dalamnya. Semua yang terpanggil melayani Tuhan yang kudus haruslah juga kudus. Kekudusan murid-murid Yesus dinyatakan dalam ayat 14-16. Di sini Yesus sendiri menyatakan bahwa Ia menjadikan mereka sama dengan diri-Nya, yaitu bukan dari dunia, sehingga mereka berbeda dari dunia. Untuk itulah maka pola hidup merekapun harus berbeda dengan dunia yang tidak mengenal Tuhan. Gereja sebagai umat pilihan Tuhan harus selalu terikat dalam kekudusan-Nya. Tuhan tidak hanya memilih berdasarkan kekhususan tertentu. namun Ia juga melengkapi mereka dengan kualitas yang dibutuhkan untuk kekhususan itu.
Tetapi perbedaan dengan dunia ini bukanlah menjadikan gereja sebagai suatu komunitas ataupun institusi yang eksklusif, melainkan gereja memiliki tugas untuk diutus di dalam dunia (ay. 18), sama seperti Yesus yang diutus ke dalam dunia. Yesus tidak meminta para murid¬Nya agar diambil atau diasingkan dari dunia. Dia tidak pernah berdoa agar mereka mengucilkan atau melarikan diri dari dunia, namun justru menemukan kemenangan atas dunia (ay. 15).

Para murid Yesus kemudian disebut sebagai rasul, yaitu mereka-mereka yang diutus oleh-Nya (Yun.: apostolos). Merekalah yang kemudian melanjutkan misi Kristus yang telah menyatakan apa yang Dia katakan, apa yang telah Dia lakukan. bagaimana Dia menggenapi kehendak Bapa-Nya, apa yang telah Dia letakkan sebagai tugas manusia kepada orang-orang atau secara pribadi kepada mereka yang secara khusus sangat dekat dengan-Nya. Para Rasul ini bersaksi tentang iman mereka kepada Yesus dan mendirikan gereja-gereja di setiap kota. Dengan demikian, gereja-gereja ini identik dengan Gereja rasuli perdana dari mana mereka semua berasal.

Keidentikan dan kesatuannya terletak dalam persekutuan di antara mereka, persekutuan yang dibentuk atas dasar persaudaraan dan janji untuk saling melayani .
(sumber: http://vicosj.blogspot.co.id/2011/02/gereja-rasuli-sejati.html).
Pada masa-masa awal banyak ajaran-ajaran yang berbeda-beda mengenai siapa Yesus yang menyebabkan kebingungan dari pengikut-pengikut Kristus pada waktu itu. Untuk itulah kemudian para Bapak Gereja memutuskan bahwa ajaran gereja harus mendekati ajaran para rasul agar apa yang diajarkan oleh Yesus tetap dapat terjaga dengan baik dan tidak menyimpang. Gereja mendapat tugas penerusan kepemimpinan dari para Rasul, para Rasul dari Kristus, dan Kristus dari Allah.

Pengenaan
_____________________


Sebagai pengikut Kristus, panggilan remaja adalah untuk tidak serupa dengan dunia ini tetapi berubah sesuai pembaruan budi agar dapat membedakan kehendak Allah, apa yang baik dan berkenan kepada Allah dan yang sempurna (Rm. 12:2). Hal ini diperlukan untuk menggarami dunia. Untuk dapat melakukan perubahan maka diperlukan sesuatu yang berbeda ,dan untuk itulah maka remaja perlu untuk menjaga kekudusan hidup, dimulai dari pikiran, perkataan, perbuatan, dan gaya hidup. Perbedaan dari dunia ini sesuai dengan Kristus yang bukan dari dunia ini. Tetapi bagi remaja, "perbedaan" ini bisa membuat mereka dianggap yang aneh dan mengalami pengasingan dari teman-temannya. Kerap jika ingin diterima oleh teman-temannya maka remaja harus "serupa" dengan teman-temannya. Pada akhirnya kondisi ini seringkali ditanggapi dengan pemisahan, hitam-putih, duniawi-rohani. Panggilan hidup kudus bukanlah berarti mengasingkan diri dari dunia untuk sekedar menjadi berbeda dan diam. Kekudusan yang diidentikkan dengan pengasingan diri dari dunia memiliki kecenderungan untuk melihat diri mereka lebih baik dari orang lain di luar mereka. Pada akhirnya konsep ini tidak berhasil melaksanakan tugas Kristus untuk menjadi berkat bagi sesama. Hal ini juga membuat remaja seperti terputus dari dunia yang mereka hidupi. Di ekstrim yang lain, mengikut Kristus tanpa kekudusan juga tidak akan berhasil menyatakan misi Kristus. karena kekudusan mengikat hubungan remaja dengan Kristus yang kudus. Oleh karena itu remaja membutuhkan pimpinan Roh Kudus dan belajar mengenai kebenaran Allah menjadi sesuatu yang sangat penting bagi mereka untuk dapat hidup seturut dengan kehendak-Nya.
 

Langkah-langkah Penyampaian
___________________________


1 . Mulailah dengan menceritakan ilustrasi mengenai Socrates dan sang pemuda. Kemudian tanyakan kepada remaja apa yang mereka pikirkan melalui cerita tersebut.
2. Bacalah perikop Alkitab dan dilanjutkan dengan Penjelasan Teks.
3. Sampaikan ilustrasi di bawah. Kaitkan dengan pesan Alkitab. Jelaskan kepada remaja bahwa untuk mendapatkan berfokus pada Allah agar tidak mudah jatuh dalam berbagai macam godaan.
4. Masuklah pada Pengenaan dan berikanlah contoh-contoh jenis-jenis kebijaksanaan.
5. Masuklah pada kegiatan 1 . Ajaklah mereka untuk mencari kutipan dengan bersungguh-sungguh.
6. Lanjutkan dengan kegiatan 2 dan berikan contoh orang yang dianggap bijak.
 

Kegiatan
_____________________

Mintalah remaja untuk mendaftarkan apa sajakah yang dapat disebut dengan kekudusan (pikiran, perasaan, dan perbuatan), lalu ajaklah mereka untuk melatih diri mereka dalam kekudusan dengan pertolongan Roh Kudus dan mintalah mereka menuliskan proses latihan mereka di dalam list ini. Latihlah mereka untuk mengikuti Filipi 4: 8-9 "Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu. Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu"
 

No.

Kekudusan

 

  Evaluasi

  Pikiran 1 . Tidak berpikir negatif  
    2.  
    3.  
  Perasaan 1. Tidak membenci  
    2.  
    3.  
  Tindakan 1. Tidak mem-bully  
    2.  
    3.  
   

Ilustrasi
_____________________


Saya dilahirkan untuk menjadi Raja

Raja Louis XVI telah digulingkan dari tahtanya dan dipenjarakan. Puteranya yang masih muda dibawa oleh para pemberontak yang telah menggulingkannya. Para pemberontak itu mengira bahwa bila mereka dapat menghancurkan moralitas sang pangeran yang juga adalah putera mahkota kerajaan Perancis, tentu ia tak akan pernah menduduki tahta agung yang sebenarnya telah dianugerahkan kepadanya.

Karena itu, mereka membawa sang pangeran ke suatu komunitas yang jauh. Di sana mereka memperlihatkan segala hal yang kotor dan memalukan kepadanya. Mereka menghadapkan segala jenis makanan yang dapat membuatnya diperbudak oleh selera makan. Mereka selalu menggunakan kata-kata memalukan setiap kali berada di dekatnya. Mereka menghadapkannya pada hawa nafsu dan wanita-wanita pelacur. Mereka menghadapkannya pada sikap tidak hormat dan tidak percaya. Dua puluh empat jam setiap harinya ia dikelilingi oleh segala hal yang dapat menyeret jiwa seorang pria serendah-rendahnya.

Selama lebih dari enam bulan pangeran itu diperlakukan demikian, tetapi tidak sekalipun ia takluk kepada tekanan. Akhirnya, setelah pencobaan yang intensif, para pemberontak itu menanyainya: "Mengapa engkau tidak takluk pada semuanya itu? Mengapa engkau tidak ikut berbuat demikian? Bukankah semuanya itu dapat memberimu kesenangan dan memuaskan hawa nafsumu?" Jawab sang pangeran: "Saya tidak dapat melakukan apa yang kamu minta, karena saya dilahirkan untuk menjadi seorang raja."

Sumber: https://paulusroi.com/2015/identitas-dan-tujuan-hidup-orang-percaya.htm

                                          
            


 

Sahabat Surgawi,
 Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja antar denominasi OnLine
www.sahabatsurgawi.net - webmaster@sahabatsurgawi.net, Copyright © 1999