HOME ABOUT US KESAKSIAN AGENDA GEREJA LINK CONTACT US



 

Derap Remaja Edisi 43
Januari-Juni 2018
Bahan Pembinaan Remaja Gereja Kristen Indonesia


Pembayaran dapat dilakukan dengan 2 cara :

1. Via Bank:
Tahapan BCA no. 0372999053, an. Wisnu Sapto Nugroho
Segera kirimkan pemberitahuan pengiriman bank.
2. Via Pos Wesel:
dengan cara memakai blangko yang dilampirkan dalam surat pengantar.
Pdt. Wisnu Sapto Nugroho, Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Alamat Sekretariat & Distribusi DERAP REMAJA:
Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Harga per eksemplar Rp. 40.000,-

 

Juni 2018
Gereja

 

- Gereja Sebagai Persekutuan Umat Allah - Gereja: Kudus dan Rasuli
- Gereja: Satu dan Am - House of Prayer

 

Juni 2018 Minggu IV

Matius 21:12-16
Bahan yang diperlukan: -

Fokus
_____________________

 
Gereja seringkali dikenal oleh remaja sebagai gedung atau tempat melaksanakan kebaktian, yang di dalamnya terdapat tindakan ritual dan liturgi. Padahal gereja tidak hanya itu. Gereja juga memiliki fungsi-makna penting lainnya. Salah satunya adalah sebagai rumah doa. Rumah doa adalah tempat yang dikenal sebagai tempat berkumpulnya orang-orang untuk berdoa bersama. Fungsi ini menjadi sesuatu yang diingat dan dihayati secara otomatis oleh setiap orang saat mereka ingin berdoa. Sebuah tempat yang mereka tahu adalah tempat yang aman bagi siapapun di mana mereka dapat memanjatkan doa mereka karena mengandung nilai kesakralan. Oleh karena itu gereja disebut rumah doa karena diperuntukkan bagi siapa saja untuk berdoa. Rumah Doa ini juga bisa ada dalam diri setiap orang, yaitu di hati, tempat yang aman dan sakral untuk mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Pada pelajaran kali ini remaja diajak untuk mengenali dan memahami fungsi dan peran rumah doa sebagai bagian dari kehidupan spiritual mereka.
 

Penjelasan Teks
_____________________


Dalam Perjanjian Baru, ada dua kata - yaitu bait Allah dan bait Suci - yang dapat diterjemahkan sebagai bait Allah. Tetapi ada perbedaan yang cukup besar dari dua kata ini. Bait Allah sendiri dalam bahasa Yunani disebut Naos, sebuah tempat kecil yang dibagi menjadi Tempat Kudus dan Ruang Maha Kudus di mana hanya para imam besar saja yang dapat memasukinya. Di luar tempat kecil ini terdapat suatu halaman besar yang terbagi dalam beberapa bagian. Bagian pertama disebut dengan halaman bagi kaum non Yahudi yang dapat dimasuki oleh siapa saja. Kemudian halaman para wanita, di mana terdapat gerbang indah yang menjadi pintu masuk bagi orang Israel. Setelah itu terdapat halaman bagi orang Israel, dengan gerbang Nikanor, gerbang perunggu di sebelah timur yang menghubungkan halaman untuk orang-orang bukan Yahudi dengan halaman untuk para perempuan. Di dalamnya terletak Tempat kudus yang hanya dapat dimasuki para imam, dan di dalamnya terdapat sebuah mezbah persembahan. Di belakangnya terdapat Naos yang disebut sebagai bait Allah. Menariknya, keseluruhan area yang disebutkan di atas juga disebut sebagai bait Allah (Yun. Hieron) dalam Alkitab Revised Standard Version. Jadi bait Allah disebut Naos dan juga Hieron.

Peristiwa Yesus menghardik dan mengusir para penjual-beli yang terjadi dalam perikop ini adalah di bait Allah di Yerusalem pada halaman non Yahudi di mana semua orang dapat memasukinya. Daerah ini selalu ramai dan pada saat masa Paskah, area ini tumpah ruah oleh peziarah yang mengunjungi bait Allah untuk memberikan persembahan pada Allah. Di sini terdapat dua jenis transaksi. Orang Yahudi harus membayar pajak bait Allah sebanyak satu setengah syikal, orang Yahudi dari Galilea membayar setengah syikal ( 1 syikal= 14 sen) dan dibayarkan mendekati hari Paskah. Kebanyakan peziarah yang berasal dari tempat-tempat yang jauh membayarkan pajaknya di sini, dan harus dengan mata uang tertentu yang dapat digunakan di daratan Palestina.
Masalah timbul karena penukar uang meminta lebih dari harga normal untuk setiap penukaran uang. Bahkan menambahkan biaya untuk setiap kelebihan penukaran. Setiap penukaran dikenakan 1 sen, dan setiap kelebihan penukaran dikenakan lagi 1 sen. Jadi setiap orang Yahudi harus membayar 9 syikal setiap kali ke Yerusalem (bandingkan dengan gaji mereka yang sebesar 3 sen/hari). Ide awal untuk membantu peziarah berubah bernilai bisnis untuk mengeruk keuntungan yang berlipat lipat. Peziarah yang datang untuk beribadah diperas oleh penukar uang bait Allah.

Penjualan merpati lebih parah lagi. Persembahan adalah sesuatu yang wajib dilakukan oleh setiap yang datang ke bait Allah. Dan merpati digunakan untuk persembahan bagi perempuan yang baru melahirkan, atau bagi orang lepra yang ingin disembuhkan. Persembahan hewan harus melalui inspeksi (pemeriksaan) di dalam bait Allah dan dalam keadaan paling baik. Hewan yang dibawa oleh peziarah dari daerah asal mereka akan ditolak karena tidak lagi dalam keadaan prima dan mereka diharuskan membeli hewan yang dijual di bait Allah. Yang menjadi masalah adalah harga yang diberikan sebesar 4 sen untuk setiap merpati yang dijual di luar bait Allah, dan 75 sen di dalam bait Allah. Tempat penjualan ini dimiliki oleh keluarga dari Imam besar dan menjadi monopoli mereka. George Adam Smith berkata "pada masa itu setiap imam pastilah juga penjual hewan kurban atau penukar uang". Hal ini menjadi praktik eksploitasi kaum miskin yang datang ke Yerusalem untuk beribadah. Inilah yang menjadi dasar kemarahan Yesus.

Ada dua hal yang dinyatakan oleh Yesus dalam peristiwa ini:
1 . Yesus senantiasa berkata bahwa setiap orang miskin harus dikasihi, dan kemarahan Yesus menyatakan ucapannya yang membela kaum miskin dari eksploitasi ini. Yesus melindungi mereka yang lemah. Di sini Yesus juga menunjukkan kemarahannya kepada pelayan-pelayan palsu yang menggunakan nama Tuhan dan agama sebagai kedok kepentingan mereka. Yesus mengutip Yesaya 7:11 dengan mengatakan "Kamu menjadikannya sarang penyamun".
2. Yesus menyatakan bahwa "Rumahku akan disebut rumah doa" yang dikutip dari Yes 56:7. Lewat pernyataan itu Yesus hendak menyatakan bahwa rumah Tuhan adalah bagi setiap orang dari berbagai bangsa yang ingin datang dan rindu untuk menyembah-Nya. Tidak boleh ada apapun atau siapapun yang merintangi mereka yang benar-benar datang karena kerinduan mereka untuk berjumpa dengan Allah. Praktik yang dilakukan di bait Allah membuat tidak ada yang dapat datang.

Perkataan dan tindakan Yesus ini diikuti oleh tindakan berikutnya, saat Ia menyembuhkan orang-orang yang buta dan lumpuh. Dampak dari tindakan Yesus membuat orang-orang yang membutuhkan Allah kemudian dapat mengalami perjumpaan dengan-Nya dan mengalami pemulihan dan kesembuhan. Kebenaran yang dinyatakan Yesus lewat amarahnya adalah karena kasih yang mendahuluinya. Yesus tidak mengusir semua orang. Ia hanya mengusir orang-orang yang menghalangi orang-orang yang benar-benar memerlukan kasih-Nya. Inilah rumah doa yang sesungguhnya dimaksud oleh Kristus lewat perkataan dan tindakan-Nya.

Melalui Kristus terjadi perluasan makna Rumah Doa. Jika dalam Perjanjian Lama yang dimaksud dengan Rumah Doa oleh nabi Yesaya adalah bait Allah yang berbentuk fisik, maka Rumah Doa dalam Perjanjian Baru adalah Yesus sendiri, yang tidak lagi dibatasi oleh bangunan fisik, maupun persembahan fisik seperti yang dilakukan oleh orang-orang di bait Allah di Yerusalem tanpa mengurangi makna yang telah ada sebelumnya. Melalui Yesus pernyataan Rumah Doa menjelma menjadi hubungan antara Tuhan dan manusia yang bersifat personal tanpa tembok-tembok pemisah dan aturan-aturan yang membatasi perjumpaan dengan Tuhan.
Rumah Doa dapat terjadi di dalam gereja maupun di mana saja. Rumah Doa menjadi suatu tempat di mana hati yang tertuju pada Allah akan bertemu dengan-Nya.

Pengenaan
_____________________

 

Gereja seringkali menjadi tempat di mana suatu ritual tidak lagi memiliki makna yang sesungguhnya. Bahkan terkadang orang-orang yang membutuhkan kasih Kristus merasa enggan untuk datang ke gereja karena penampakan orang-orangnya yang terlihat baik, atau karena batasan-batasan dan aturan¬raturan yang membuat mereka merasa bahwa mereka tidak dapat mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Hal ini dirasakan pula oleh remaja. Mereka menjadi warga jemaat yang apatis dalam ibadah, terpaku oleh tembok-tembok dalam gedung gereja dan dalam aturan-aturan yang justru membelenggu kerinduan hati mereka untuk mengalami perjumpaan dengan Allah yang penuh dengan kasih, kehangatan dan kedamaian.
Ritual ibadah di gereja juga seringkali membuat remaja berpikir bahwa perjumpaan dengan Tuhan hanya terjadi di gereja. Padahal Rumah Doa ini juga dapat terjadi dalam diri mereka, dalam persekutuan-persekutuan di manapun tempatnya. Gereja menjadi sesuatu yang fluid, tidak bergantung hanya pada gedung gereja dan aturan-aturannya, melainkan dapat terjadi di mana saja bagi siapa saja yang memiliki kerinduan untuk mengalami perjumpaan dengan Kristus. Oleh karena itu maka penting bagi remaja untuk juga memulai Rumah Doa mereka sendiri, baik secara personal, bersama dengan keluarga, atau dalam persekutuan dengan teman-teman mereka.
 

Langkah-langkah Penyampaian
___________________________


1. Bukalah dengan menanyakan kepada mereka apakah di antara mereka ada yang mengetahui arti House of Prayer (Rumah doa). Lalu jelaskan kepada mereka akan makna Rumah Doa menurut konsep perjanjian Lama.
2. Lalu Bacalah perikop Alkitab. Jelaskan apa yang dimaksud bacaan tersebut dengan menggunakan Penjelasan Teks.
3. Gunakanlah ilustrasi untuk membantu remaja mengerti dengan jelas denah bait Allah pada masa Yesus beserta setiap bagian dan fungsinya.
4. Masuklah pada pengenaan dan jelaskan perluasan makna Rumah Doa yang dinyatakan oleh Yesus.
5. Masuklah pada kegiatan. Ajaklah mereka untuk bersungguh-sungguh mendoakan concern yang dimiliki dalam kelompok. Jika memungkinkan, persiapkanlah pembimbing dapat mengarahkan sharing doa ini.
6. Ajaklah mereka untuk memberikan komitmen dengan melanjutkan kegiatan Doa selama sebulan.
 

Kegiatan
_____________________

Mintalah remaja untuk berkumpul dalam kelompok-kelompok, lalu ajaklah mereka untuk mencari pokok doa yang menjadi concern dan kekuatiran mereka (bisa soal ulangan, narkoba, kesatuan bangsa, dan lain lain). Lalu mintalah mereka untuk mendoakan pokok doa itu bersama sama. Ajaklah mereka juga untuk membentuk grup doa dengan mendoakan hal-hal yang menjadi concern mereka selama 1 bulan. Mereka dapat menyepakati waktu untuk berdoa bersama dalam masa waktu tersebut. Metoda doa yang dilakukan dapat bervariasi sesuai dengan warna spiritualitas masing-masing.

Contoh:
Grup sembilan
 
No. Nama Pokok Doa Waktu Doa
1  Anton  Semangat belajar

Setiap Rabu pukul 21.00.

2  Samuel  Tekanan teman di sekolah  
3  Siska  Suasana negara  
4  Adi  Nilai  
5  Elisa  Teman yang patah hati  

Setiap minggu mereka dapat mendoakan pokok doa yang sama atau berbeda sesuai dengan kebutuhan dan concern setiap anggota kelompok. Lanjutkanlah setiap minggu, dan berikanlah kesempatan bagi mereka untuk berdoa bersama di gereja pada saat ibadah setiap minggu.

 

Ilustrasi
_____________________


 

                                          
            


 

Sahabat Surgawi,
 Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja antar denominasi OnLine
www.sahabatsurgawi.net - webmaster@sahabatsurgawi.net, Copyright © 1999