HOME ABOUT US KESAKSIAN AGENDA GEREJA LINK CONTACT US


 

Derap Remaja Edisi 41
Bahan Pembinaan Remaja Gereja Kristen Indonesia


Pembayaran dapat dilakukan dengan 2 cara :

1. Via Bank:
Tahapan BCA no. 0372999053, an. Wisnu Sapto Nugroho
Segera kirimkan pemberitahuan pengiriman bank.
2. Via Pos Wesel:
dengan cara memakai blangko yang dilampirkan dalam surat pengantar.
Pdt. Wisnu Sapto Nugroho, Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Alamat Sekretariat & Distribusi DERAP REMAJA:
Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Harga per eksemplar Rp. 40.000,-
 

     
YESUS SAHABAT ORANG BERDOSA
Lukas 7:18-35
 
  1
SAHABAT YANG BERKURBAN NYAWA
yohanes 15:9-17, Amsal 17:17
 
  2
YESUS MEMAHAMIKU
Yohanes 8:2-11
 
  3
TUHAN YESUS SAHABATKU
Kidung Agung 2:1-2: Mat 6:28-29: Mazmur 27:1: Yoh 6:32-35,51
  4

 

2017

Maret
Minggu 3
 



 

 YESUS MEMAHAMIKU

 
 Bacaan:
Yohanes 8:2-11
 Bahan yang diperlukan: Botol kccil, pasir, kertas merah jambu 
 berbentuk potongan hati.


 

FOKUS



Remaja adalah pribadi yang sedang berproses menuju kedewasaan. Salah satu hal penting yang dibutuhkan supaya proses itu berjalan dengan baik adalah penerimaan dari orang-orang yang ada di sekitarnya. Remaja yang tumbuh di lingkungan yang memberi penerimaan (seperti sikap yang hangat, cinta yang tulus, penghargaan/pujian) akan memiliki citra diri yang positif. Ia akan dapat menerima dirinya sendiri dan juga orang lain, baik kelebihan maupun kekurangannya. Ia akan mampu memandang hidup, sekalipun bagian yang sulit, bukan sebagai sesuatu yang celaka dan patut untuk disesali, melainkan untuk dijalani dengan penuh semangat dan harapan. Sebaliknya, remaja yang sering mengalami penolakan (seperti tidak pernah dipuji, ditertawakan, dibanding-bandingkan dengan saudara/orang lain, dipersalahkan) akan memiliki citra diri yang negatif. Ia cenderung menilai dan memperlakukan diri sendiri dan orang lain secara negatif pula. Selain itu, di kemudian hari akan muncul berbagai masalah psikologis, seperti nilai diri yang rendah, perilaku agresif dan kekerasan, suka menghakimi/menyalahkan orang lain, keinginan bunuh diri, hingga disorientasi seksual.

Melalui pelajaran hari ini remaja diajak untuk mempercayakan diri pada Yesus sebagai Pribadi yang tidak akan pernah menolaknya, melainkan mau menerimanya tanpa syarat, sehingga citra diri yang positif dapat terbangun.
 

PENJELASAN TEKS


Pada saat Yesus. sedang mengajar di Bait Allah, orang Farisi dan ahli Taurat membawa seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah ke hadapan Yesus. Mereka menempatkannya di tengah-tengah orang banyak yang sedang mendengarkan ajaran Yesus. Mereka meminta Yesus menghakiminya atas dosa yang telah dilakukannya. Mereka berkata, "Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu? " (ayat 5). Dalam hukum Yahudi memang perzinahan dipandang sebagai dosa yang serius sehingga patut mendapat hukuman mati (lihat Imamat 20:10, Ulangan 22:22-24). Namun tujuan sebenarnya dari para pemimpin agama itu bukanlah untuk menegakkan hukum Taurat ataupun mendengarkan pendapat Yesus, melainkan mau menjebak Yesus agar mereka mendapat alasan untuk mempersalahkan-Nya (ayat 6). Jika Yesus menyatakan tidak setuju, maka Ia akan dipersalahkan dengan alasan tidak menaati hukum Taurat dan mendukung perbuatan dosa. Tetapi jika Yesus menyatakan setuju, maka Ia akan dipersalahkan sebagai orang melanggar ajaran-Nya sendiri, yakni ajaran cinta kasih dan pengampunan (bandingkan dengan Matius 9:13 yang menuliskan, ".......Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa. ").

Jawaban yang diberikan Tuhan Yesus sungguh di luar dugaan semua orang. Ia mengatakan, "Barangsiapa di antara kamu iidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu " (ayat 7). Kata asli Yunani yang diterjemahkan dengan "tidak berdosa" adalah anamartetos yang bukan hanya berarti tanpa dosa melainkan "tanpa suatu keinginan yang berdosa". Tentu tak ada scorangpun yang seperti Yesus maksud. Tak ada seorangpun yang tidak memiliki keinginan yang berdosa. Maka semua orang, termasuk orang Farisi dan ahli Taurat itu menjadi bungkam dan akhirnya pergi seorang demi seorang tanpa menjatuhkan hukuman apapun terhadap perempuan itu (ayat 9). Yesus tidak masuk dalam perangkap yang dipasang oleh orang Farisi dan ahli Taurat. Yesus tidak meremehkan Taurat ataupun membenarkan dosa perempuan itu, di sisi lain Ia tidak membiarkan orang banyak tersulut emosinya dan menghakimi perempuan itu. Perangkap yang telah dipasang oleh orang Farisi dan ahli Taurat justru menjerat kaki mereka sendiri. Mereka datang dengan rencana untuk mendakwa Yesus, namun ternyata mereka dipaksa untuk mendakwa diri sendiri dan mendengarkan suara hati nurani mereka sendiri apakah mereka yang pantas menjadi penghukumnya.

Sikap Yesus sungguh berbeda dengan sikap orang Farisi dan ahli Taurat. Orang Farisi dan ahli Taurat bersikap munafik dengan seolah-olah memerhatikan kebenaran, keadilan, dan kekudusan, padahal sebenarnya tidak. Yang lebih memprihatinkan, mereka tidak memanusiakan perempuan itu. Bahwa perempuan itu memiliki perasaan dan pribadi, itu bukanlah apa-apa bagi mereka. Dengan sengaja perempuan itu dijadikan korban untuk kepentingan politik mereka. Hal ini sungguh kejam sebab mereka menjadikan perempuan itu sebagai objek (barang/alat) demi kepentingan untuk menjebak Yesus.

Tidak demikian dengan Yesus. Hati-Nya penuh dengan belas kasih. Ia memandang perempuan itu dan berkata, "Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau? Jawabnya: "Tidak ada, Tuhan." Lalu kata Yesus: "Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang. " (ayat 10-11). Berbeda dengan orang Farisi dan ahli Taurat yang meng-objek-kan perempuan itu dan tidak memandangnya sebagai manusia, Yesus justru memanusiakan perempuan itu dengan memberinya kepercayaan untuk melanjutkan hidup sebagai orang yang lebih baik. Ia tahu perempuan itu berdosa, namun Yesus memahami bahwa saat ini yang dibutuhkan perempuan itu bukanlah ancaman, penghakiman, ataupun penghukuman, melainkan penerimaan, pengampunan, kepercayaan, dan kesempatan untuk menjadi lebih baik. Bukan berarti Yesus meremehkan dosa atau berkompromi dengan dosa. Dosa tetaplah dosa yang harus dihindari manusia. Yesus berpesan dengan tegas, "Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi" (ayat 11).
Bagi perempuan itu sendiri, sikap Yesus kepadanya merupakan sebuah penerimaan yang menumbuhkan semangat dan rasa percaya diri bahwa ia dapat menjadi orang yang lebih baik dari hari ini. Sikap Yesus juga memberi citra diri baru yang positif dalam dirinya. Citra diri yang tadinya sebagai seorang berdosa dan hina, diperbarui sebagai pribadi yang berharga dan layak melanjutkan hidup. Masa depannya yang tadinya gelap telah menjadi terang dan siap dijalani dengan semangat dan harapan yang baru. Namun masa depan itu hanya dapat terwujud jika ia bangkit dan tidak tinggal diam dalam keputus asaan, kekecewaan, perasaan ditolak, dan perasaan negatif lainnya; jika ia memulai hidup baru dengan cara hidup yang benar (tidak berbuat dosa lagi).
 

PENGENAAN
 


Penerimaan dari lingkungan merupakan salah satu faktor penting dalam proses menuju kedewasaan di masa remaja. Terutama penerimaan dari orang-orang terdekat, seperti orang tua. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Volpe (1981) terhadap delapan puluh remaja di Amerika berusia 10-24 tahun menyebutkan bahwa proses menuju kedewasaan pada diri remaja dapat berkualitas jika didukung adanya penerimaan dalam hubungan antara orang tua dan anak selain juga aspek perasaan dan penghargaan atas pribadi. Sekalipun penelitian itu telah berlangsung dalam waktu yang lama, namun sekitar 20 tahun kemudian kebutuhan remaja akan penerimaan tidak jauh berbeda. Gary Chapman dalam bukunya Lima Bahasa Kasih untuk Remaja (2003) menyebutkan bahwa penerimaan orang tua merupakan faktor penting yang turut melandasi pertumbuhan remaja menjadi pribadi dewasa yang sehat. Kini, setelah sekitar 15 tahun berlalu sejak riset yang dilakukan Chapman, di mana remaja dikenal sebagai generasi Z, penerimaan juga tetap menjadi kebutuhan remaja. Michael McQueen dalam artikelnya yang berjudul Ready or Not....Here Come Gen Z (2015) mengatakan bahwa ketakutan terbesar remaja generasi Z adalah jika mereka tidak diterima. Dapat disimpulkan bahwa penerimaan memang merupakan kebutuhan remaja sepanjang jaman.

Kenyataannya, tidak semua remaja mengalami penerimaan. Volpe menemukan bahwa kebanyakan orang tua lebih menekankan aspek pencapaian prestasi dan tuntutan lain yang sesuai dengan kemauan orang tua daripada aspek penerimaan. Chapman menemukan bahwa sekalipun 70 persen remaja hidup dalam keluarga yang masih memiliki kedekatan fisik (tinggal bersama, makan bersama minimal sekali sehari), ternyata tidak menjamin kedekatan emosional (termasuk penerimaan di dalamnya) sebab kedekatan fisik diisi dengan kegiatan pribadi, seperti menonton televisi, mendengarkan radio, membaca majalah / surat kabar / buku (mengakses gadget-kalau jaman ini). Orang tua tidak membangun kedekatan emosional dengan anak-anak. Padahal menurut Chapman sangat penting saat makan bersama itu diisi dengan doa bersama, saling menceritakan pengalaman sementara yang lain mendengarkan dengan penuh perhatian. Ini membuat remaja merasa diterima. Sementara itu, McQueen menyebutkan bahwa remaja generasi Z yang memiliki orang tua yang mencukupi segala kebutuhan fisiknya, bahkan memberi proteksi yang berlebihan pada anaknya, tidak serta merta membuat remaja .merasa dipahami dan diterima.

Jika remaja tidak mendapat penerimaan dari lingkungan terdekatnya, maka mereka akan mencari pelarian di tempat lain. Volpe menyebutkan bahwa remaja merasa lebih diterima oleh teman sebayanya. Dalam interaksi dengan teman sebaya, mereka merasa lebih merasa bahagia, dicintai, nyaman dibandingkan interaksi dengan orang tua. Di era digital ini, pelarian banyak dilakukan dengan mengakses gadget. Remaja bisa mengkabiskan waktu berjam-jam dalam sehari untuk ber-media sosial, menonton video, mendengarkan musik, dan lainnya. Baik teman sebaya maupun gadget jelas tidak dapat memenuhi kebutuhan remaja akan penerimaan. Teman sebaya, meski dapat memberi penerimaan, tetap kurang efektif mengiring remaja menuju proses kedewasaan. Sedangkan kemudahan mengakses gadget menurut Mc Queen justru membawa remaja untuk menjadi dewasa sebelum waktunya (prematurely mature), yang berarti pertumbuhan kedewasaan yang tidak sehat.

Lantas bagaimana dengan remaja yang kenyataannya tinggal di tengah lingkungan yang tidak memberi penerimaan? Kisah Injil hari ini menegaskan bahwa dalam relasi dengan Tuhan Yesus, penerimaan pasti ada, kasih dan pengampunan selalu diberi. Perempuan yang berdosa dan ditolak oleh lingkungannya mendapat penerimaan yang sejati dari Tuhan Yesus. Perlakuan dari lingkungan yang justru merusak citra diri perempuan itu sebagai seorang manusia menjadi tidak berarti dibandingkan dengan penerimaan yang diberikan oleh Tuhan Yesus. Demikian pula dengan remaja yang tinggal di lingkungan yang tidak memberi penerimaan. Remaja dapat percaya bahwa Tuhan benar-benar Pribadi yang mau memahami dan menerimanya. Tentu menerima bukan berarti setuju dengan semua perbuatan remaja, namun proses pembentukan citra diri yang positif pada remaja tetap dapat terbentuk. Kuncinya, remaja jangan terus berendam dalam perasaan kecewa, sakit hati, perasaan ditolak, dan perasaan negatif lainnya. Juga jangan melakukan pelarian di tempat yang salah, seperti melakukan kenakalan remaja bersama teman-teman yang senasib. Remaja harus berani melanjutkan hidup benar dengan semangat dan harapan bersama cinta Yesus yang mengiringinya.
 

LANGKAH-LANGKAH PENYAMPAIAN
 


1. Awali dengan menanyakan kepada remaja seberapa sering mereka menerima pujian, ekspresi kasih sayang, perkataan yang lembut dari lingkungan sekitarnya? Jelaskan bahwa semua itu adalah bagian dari penerimaan.
2. Ajak remaja melakukan Kegiatan langkah 1-3.
3. Ajak remaja untuk melihat bagaimana penerimaan yang dilakukan Tuhan Yesus kepada perempuan berdosa yang ditolak oleh lingkungannya. Masuklah ke dalam Penjelasan Teks.
4. Sampaikanlah Pengenaan. Pertegas bagian Yesus adalah Pribadi yang bersedia menerima remaja dan sanggup menolongnya untuk menjalani hidup.
5. Sampaikanlah Ilustrasi. Beri ulasan bahwa Jumaro telah membuktikan bahwa pengkhianatan, masa lalu yang kelam, serta stigma negatif masyarakat tentang mantan napi tidak menghalanginya untuk melanjutkan hidup dan menjadi orang yang lebih baik, dan malah mampu menolong orang lain yang senasib dengannya.
6. Akhiri dengan Kegiatan langkah 4 dan 5.

                                                                                                   
KEGIATAN


Mengisi Botol Cinta

Persiapan
1. Sediakanlah botol kecil sejumlah remaja yang hadir (dapat juga berupa gelas plastik).
2. Sediakanlah pasir.
3. Sediakanlah potongan kertas merah jambu berbentuk hati yang banyak (boleh juga menggunakan bahan lain, yang penting berbentuk hati).

Langkah kegiatan:
1. Bagikanlah botol kepada remaja.
2. Tanyakanlah seberapa banyak remaja merasa diterima oleh lingkungannya (terutama orang tuanya), seperti dicintai, dihargai/dipuji, diperlakukan dengan hangat, dan seterusnya. Kemudian mintalah remaja mengisi botolnya dengan pasir yang menggambarkan jumlah penerimaan itu. Mungkin ada yang mengisi banyak, mungkin ada yang mengisi sedikit.
3. Mintalah remaja melihat kembali isi botolnya. Tanyakan apa mereka benar-benar yakin bahwa jumlah isi botolnya menggambarkan kondisi yang sebenarnya?
4. Kemudian mintalah remaja memenuhi botolnya dengan potongan kertas berbentuk hati hingga penuh. Ini merupakan gambaran bahwa seberapapun penerimaan yang diterima remaja dari lingkungan, sekalipun sedikit, dapat dipenuhkan oleh cinta Tuhan Yesus yang mau menerima remaja dengan tulus.
5. Mintalah remaja merancangkan sebuah kegiatan yang bersifat memberdayakan diri sendiri dan sesama dengan inspirasi dari kisah Jumaro (lihat bagian Ilustrasi).
 

ILUSTRASI


                                         Jumaro, Mantan Napi Yang Jadi Pengusaha Sukses

Melihat kesuksesan Jumaro sekarang, mungkin tidak ada yang menyangka jika pengusaha sukses ini dulu merupakan mantan narapidana. Masa lalu Jumaro boleh dibilang kelabu, karena dia pernah menjalani sebagian dari hidupnya di sebuah lembaga pemasyarakatan di Jawa Tengah, karena didakwa melakukan penganiayaan terhadap teman kencan istrinya.

Namun, masa lalu yang suram itu tidak menjadikan pria kelahiran Solo, 3 Januari 1972, itu patah semangat. Pemuda tamatan STM Solo jurusan Listrik itu kemudian mulai merintis industri kerajinan tangan dari limbah akar bambu dan pepohonan lainnya.

Dengan menyebut dirinya adalah "limbah" masyarakat, dia merasa lebih pas jika mengelola limbah yang ada di masyarakat. Dia juga sama sekali tidak merasa menyesal pernah mendekam di penjara selama kurang-lebih tiga bulan pada 1994. Pengalamannya selama di penjara itu justru menimbulkan sebuah ide bagi Joko untuk mengembangkan usaha yang bisa menampung dan mempekerjakan mantan narapidana.

"Selama ini kami dianggap sebagai limbah masyarakat. Masyarakat selalu takut jika bertemu dengan kami. Saya ingin membuktikan bahwa kami juga bisa berharga," kata Jumaro.
 Setelah dinyatakan bebas dari penjara, Joko memulai usaha nya dengan dibantu oleh ketiga teman serta istri keduanya. Berbekal modal Rp 500 ribu, dia menyusuri sungai-sungai yang ada di Malang, Jawa Timur. Bersama tiga rekannya, dia berburu sesuatu yang selama ini oleh masyarakat dianggap sebagai limbah. Dengan menggunakan alat sederhana, seperti golok dan pisau, Jumaro menggali tanah dan mengambil akar-akar bambu yang ada di pinggir sungai.

Dengan bakat seninya, dia mulai menggarap limbah itu menjadi sebuah barang kerajinan yang memiliki nilai seni sangat tinggi, seperti kerajinan berbentuk bebek atau lampu hias berbentuk kupu-kupu.

Melihat usahanya mulai berkembang, Jumaro mulai merekrut karyawan yang tidak lain adalah mantan napi dan pengamen jalanan. Dia ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa limbah masyarakat itu juga bisa mendatangkan hasil yang berharga. Waktu telah membuktikan bahwa kegigihan dan semangat mantan napi ini telah membuahkan hasil. Limbah itu telah berhasil menghidupi dirinya sekeluarga serta 46 karyawannya. Kini, dia telah mengembangkan lima cabang usaha di Malang.

Dikutip dengan perubahan seperlunya dari: http://www.mantannapi.com/2016/02/kumpulan-kisah-sukses-para-mantan-napi.html

                                           
                                                                                                       


A R S I P
| derap januari 0116 | derap januari 0216 | derap januari 0316 |
| derap januari 0416 | derap januari 0516 | derap februari 0116 | derap februari 0216 | derap februari 0316 |
| derap februari 0416 | derap maret 0116 | derap maret 0216 | derap maret 0316 | derap maret 0416 |
 | derap april 0116 | derap april 0216 | derap april 0316 | derap april 0416 | derap mei 0116 |

 | derap mei 0216 | derap mei 0316 | derap mei 0416 |derap mei 0516 |derap juni 0116 | derap juni 0216 |
 | derap juni 0316 | derap juni 0416 |derap juli 0116 | derap juli 0216 | derap juli 0316 | derap juli 0416 |  |derap juli 0516 | derap agustus 0116 | derap agustus 0216 | derap agustus 0316 | derap agustus 0416 |
| derap september 0116 | derap september 0216 | derap september 0316 | derap september 0416 |
| derap oktober 0116 | derap oktober 0216 | derap oktober 0316 | derap oktober 0416 |
| derap oktober 0516 | derap nopember 0116 | derap nopember 0216 | derap nopember 0316 |
|derap nopember 0416 | derap desember 0116 | derap desember 0216 | derap desember 0316 |
| derap desember 0416 | derap januari 0117 | derap januari 0217 | derap januari 0317 |
| derap januari 0417 |derap januari 0517 | derap februari 0117 | derap februari 0217 |
| derap februari 0317 | derap februari 0417 | derap maret 0117 |derap maret 0217 |

 

Sahabat Surgawi,
 Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja antar denominasi OnLine
www.sahabatsurgawi.net - webmaster@sahabatsurgawi.net, Copyright 1999