HOME KESAKSIAN DOA ABOUT US CONTACT US LINK

 
















 
Cara mendapatkan Derap Remaja

Pembayaran dapat dilakukan dengan 2 cara :
1. Via Bank:
Tahapan BCA no. 0372999053, an. Wisnu Sapto Nugroho
Segera kirimkan pemberitahuan pengiriman bank.
2. Via Pos Wesel:
dengan cara memakai blangko yang dilampirkan dalam surat pengantar.
Pdt. Wisnu Sapto Nugroho, Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Alamat Sekretariat & Distribusi DERAP REMAJA:
Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281
Telp. (0274) 514721 Fax(0274) 543001

Harga per eksemplar Rp. 40.000,-
 

DERAP REMAJA EDISI 45
Januari - Juni 2019
Bahan Pembinaan Remaja Gereja Kristen Indonesia



Yesus Anak Tukang Kayu | Yesus Blusukan | Yesus Memilih Rakyat Jelata | Yesus Memberi Makan |
The Compassion of Christ |
 

   

Yesus
di tengah
Masyarakat


  Yesus Memberi Makan
 

fokus
Belas kasih (compassion) merupakan ungkapan empatik dan kepedulian terhadap orang lain melalui niat dan perbuatan nyata. Belas kasih diwujudkan melalui perkataan dan perbuatan. Belas kasih dalam diri seseorang tidak akan hilang dalam situasi apapun. Kisah Yesus memberi makan 5000 laki-laki (tidak termasuk perempuan dan anak-anak) menunjukkan belas kasih Yesus terhadap orang-orang yang kelaparan. Dalam situasi itu. Yesus mengajak para murid untuk berbelas kasih kepada orang-orang itu. Ajakan Yesus itu juga disampaikan bagi remaja Kristen. Pelajaran hari ini dirancang dengan maksud agar remaja memahami peristiwa Yesus memberi makan 5000 orang. Selain itu, remaja diharap mampu bersikap belas kasih dalam kehidupan sehari-hari.

penjelasan teks

Injil Matius 14:13-21 menceritakan tindakan yang dilakukan Yesus dan murid-murid-Nya ketika melihat banyak orang mengalami kelaparan. Mereka adalah orang-orang yang ingin mendengar khotbah-khotbah Yesus. Rupanya khotbah-khotbah Yesus membawa harapan baru bagi semua orang, sehingga ke manapun Yesus pergi, mereka mengikuti-Nya. Injil menceritakan bahwa setelah Yesus mengetahui Yohanes Pembaptis dibunuh, menyingkirlah Yesus ke tempat yang sunyi dengan menggunakan perahu. Ia menyingkir ke tempat sunyi bukan karena takut terhadap orang-orang yang memusuhi-Nya.
 

Ia menyingkir sebab saat kematian-Nya belum tiba. Karena keberadaan Yesus diketahui banyak orang, maka berbondong-bondonglah mereka menemui Yesus melalui jalan darat dari kota-kota mereka (Mat. 14:13).
Rupanya orang-orang yang mengikut Yesus melalui jalan darat itu telah tiba di seberang danau di mana Yesus akan mendarat. Yesus melihat mereka dengan penuh belas kasih. Ungkapan belas kasih dalam bahasa Yunani disebut dengan esplankhnisthe. Stefan Leks menafsir kata itu mengacu kepada gerak rohani kasih mendalam yang bersumberkan hati atau "rahim" seorang ibu. Belas kasih di sini bukan sekadar perasaan belaka melainkan sikap iba yang siap bertindak. Beberapa orang yang mendapat belas kasih Yesus adalah orang-orang yang pernah disembuhkan dari sakitnya. Sakit yang dimaksud di sini bukan semata sakit fisik melainkan juga sakit dalam arti tidak berdaya.
Sikap belas kasih dalam diri Yesus rupanya tidak sama dengan sikap para murid. Buktinya, di kala malam datang mereka mengatakan pada sang guru,"Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa." Rupanya para murid menganggap selagi belum malam, mereka punya kesempatan untuk pulang. Di mata Yesus, anggapan itu dinilai sebagai sikap jauh dari belas kasih atau dalam bahasa lain disebut "terlalu". Mari kita perhatikan sikap para murid yang "terlalu" itu.
• Mereka melihat hari sudah malam dan meminta Yesus agar menyuruh mereka pergi. Situasi malam kala itu berbeda dengan sekarang. Penerangan jalan tidak ada. Padahal mereka ada di tempat tersembunyi yang jauh dari rumah mereka masing-masing. Sikap para murid ini menunjukkan ketidakramahan mereka pada orang-orang yang datang pada Yesus. Mestinya para murid itu memberi layanan yang terbaik pada mereka dengan menyiapkan tempat berteduh yang nyaman sehingga bisa beristirahat. Mereka justru meminta Yesus mengusir mereka yang mestinya ditolong.
• Para murid meminta pada Yesus menyuruh orang-orang itu membeli makanan di desa-desa.
Sikap ini jauh dari belas kasih. Mereka tidak memerhatikan kondisi orang-orang itu. Tidak semua yang mengikuti Yesus adalah orang yang punya uang. Alkitab menceritakan bahwa mereka yang mengikuti Yesus adalah orang-orang miskin, tertindas, sakit, lemah, para perempuan, anak-anak dan orang-orang jompo. Jadi bisa dibayangkan kalau mereka harus pergi ke desa-desa di waktu malam dan harus membeli makanan sendiri. Mestinya para murid itu memberi mereka makan. Maka Tuhan Yesus mengatakan,"Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan" (Mat. 14:16). Dari pernyataan ini kita menemukan bahwa mestinya para murid Yesus tidak sekadar ikut Dia namun juga harus berbuat kasih. Mereka berkewajiban memberi makan orang-orang lain yang sama-sama mengikut Yesus.
• Para murid mengaku tidak punya makanan. Ketika Yesus mengatakan,"Kamu harus memberi mereka makan," mereka menjawab,"Yang kami punya di sini hanya lima roti dan dua ikan" (Mat. 14:17). Para murid ternyata punya makanan namun mereka menyimpan bagi diri sendiri. Mereka tidak mau berbagi karena jika dibagikan akan habis dan mereka lapar. Itulah cara pikir para murid. Mereka berprinsip untung dan rugi. Pola pikir ini menjadikan seseorang berprinsip kalau sudah punya jangan dibagikan sebab jika dibagikan akan merugikan. Kalau membagi pun harus lihat-lihat. Para murid itu tampak realistis. Mereka ingin orang-orang itu makan, tapi tidak mau repot-repot, maka sekalipun mereka punya makanan, mereka menyimpan makanan itu bagi diri mereka sendiri dan berlaku tega terhadap banyak orang yang membutuhkan belas kasih.

Yesus mengajarkan pada para murid untuk berbelas kasih. Permintaan Yesus pada mereka,"Bawalah ke mari kepada-Ku" merupakan tantangan dari Yesus agar mereka melepaskan diri dari egoisme dan mengalirkan belas kasih bagi sesama. Setelah semua diserahkan pada Yesus, Ia menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan membagikannya kepada murid-murid-Nya dan murid-murid itu membagikannya kepada banyak orang. Mereka semua makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti sisa, dua belas bakul. Mereka yang makan lima ribu laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak (Mat. 14:19-21).

pengenaan

Belas kasih (compassion) hanya mungkin terjadi sebagai hasil memahami orang lain, terutama memahami penyebab penderitaan, kesusahan, kesedihan orang lain. Belas kasih mengarah pada tindakan dan bukan sekadar perasaan kasihan, apalagi mengatakan: "kasihan deh elo...." ketika melihat orang lain butuh pertolongan.
Saat ini remaja diperhadapkan pada realitas di mana banyak orang membutuhkan belas kasih. Lihatlah, banyak remaja mengalami isolasi dari pergaulan dan mereka butuh kawan untuk sharing. Tidak sedikit remaja belum beruntung karena tidak dapat menikmati pendidikan yang baik. Di sekitar kita masih ada banyak cerita tentang remaja-remaja yang belum beruntung karena tidak tercukupi kebutuhan pokoknya (pangan — sandang). Mereka butuh belas kasih. Belas kasih yang mengarah pada aksi memerlukan analisa agar tindakan menjadi tepat sasaran. Oleh karena itu tindakan belas kasih memerhatikan semua aspek secara holistik (jasmani — rohani, material — spiritual).

langkah-langkah penyampaian

1. Sampaikan pada remaja realitas masa kini. Ada banyak sesama remaja membutuhkan uluran tangan karena tidak mampu mengenyam sekolah, kesepian di tengah keramaian hidup, kecanduan game dan membuat mereka tidak mampu menikmati hidup dengan baik. Melihat hal¬hal seperti itu, apa tindakan remaja?
2. Ajak remaja membaca Matius 14:13-21. Berikan penjelasan teks tentang belas kasih Yesus terhadap orang-orang yang ingin mendengar khotbah-khotbah-Nya.
3. Sampaikan pada remaja apa respons para murid saat melihat orang-orang banyak mengalami situasi sulit dan butuh belas kasih. Bandingkan sikap para murid itu dengan remaja masa kini.
4. Ajak remaja melakukan kegiatan (terlampir). Usai aktivitas, sampaikan pada remaja makna belas kasih. Selain memahami makna belas kasih, mintalah remaja membangun tekad hidup dalam belas kasih. Tindakan belas kasih diwujudkan melalui hal-hal sederhana dari sekitar kita.

kegiatan
Lakukan dan Hindari
 
 Peristiwa  Lakukan
 Apa yang akan dilakukan?
 Hindari
 Apa yang harus dihindari?
 Nenek -nenek menyeberang  
 jalanan ramai
 Membantu menyeberangkan  Menertawakan. Memotret dan
 mencemooh di medsos.
 Pengemis di pintu rumah    
 Teman meminjam uang untuk beli
 paket data
   
 Teman meminjam uang untuk
 membayar SPP
   

Setelah mengisi hal-hal yang harus dilakukan dan harus dihindari, mintalah remaja berdialog tentang alasan melakukan atau menghindari tindakan-tindakan tertentu berdasar peristiwa dalam tabel.

ilustrasi

Startup Pilihan Tempo: Garda Pangan, Menyelamatkan Makanan Sisa

TEMPO.CO, Jakarta -Ibarat bank, Garda Pangan punya nasabah. Mereka adalah lima katering, satu restoran, dan satu penjual roti di Surabaya, Jawa Timur. Para "nasabah" ini menyetor nasi, lauk¬pauk, hingga roti yang tersisa saban malam Minggu.
Garda Pangan adalah komunitas dan startup food bank yang diinisiasi Dedhy Bharoto Trunoyudho di Surabaya pada April 2017 lalu. Rintisan ini berawal dari keresahan Dedhy melihat banyaknya makanan yang terbuang di Kota Pahlawan itu. Kebanyakan berasal dari restoran dan hotel. Hal ini ironis lantaran masih banyak warga yang kelaparan.
"Dengan gerakan food bank, akan banyak sekali potensi makanan dari industri hospitality yang bisa dimanfaatkan untuk mengatasi kerawanan pangan, sekaligus mengurangi kerusakan lingkungan," kata dia.
Dedhy dan koleganya mengumpulkan makanan sisa di sebuah gudang. Para relawan di komunitas ini kemudian mengecek kualitasnya. Makanan yang masih bagus dikemas ulang dan dibagikan ke panti asuhan ataupun warga lain yang membutuhkan. Yang tidak.layak konsumsi dijadikan kompos dan biogas.

Kini, Garda Pangan memantau ketersediaan pasokan melalui aplikasi berbasis website secara real time. Sistem serupa dipakai untuk menaksir pasokan dan kebutuhan. Sejauh ini, kata Dedhy, mereka sudah mengumpulkan 3.429 paket makanan sisa ke 3.103 penerima dan mengolah 857 kilogram makanan basi menjadi biogas.
"Mulai Oktober hingga saat ini, kami berhasil mendonasikan 5.139 porsi makanan kepada 4.589 penerima manfaat di Surabaya. Atau setara dengan 771 kilogram potensi sampah. Itu hanya dari tiga mitra kerja, restoran, dan bakery," ujarnya.
Karena upayanya itu, Garda Pangan terpilih sebagai satu di antara 20 startup terbaik dalam ASEAN Young Sociopreneur Program. Namun Dedhy dan koleganya merasa hal itu tak cukup, karena mereka bermimpi bisa menjangkau seluruh Indonesia.
Tempo Media Group menyerahkan penghargaan "Startup Pilihan Koran Tempo 2017" di Gedung Siola, Genteng, Surabaya, Senin, 18 Desember 2017. Penghargaan ini diterima oleh 16 usaha rintisan atau startup yang memenuhi beberapa kriteria, dari aspek bisnis hingga dampak sosial.

(Sumber https://bisnis.tempo.co/read/1043543/startup-pilihan-tempo-garda-pangan¬menyelamatkan-makanan-sisa/full&Paging=0tomatis)
 

 


 

A R S I P  
| derap desember 0118 | derap desember 0218 | derap desember 0318 |
| derap desember 0418 | derap desember 0518 | derap januari 0119 | derap januari 0219 | derap januari 0319 | derap januari 0419 |
| derap februari 0119 | derap februari 0219 | derap februari 0319 | derap februari0419 |
| derap maret 0119 | derap maret 0219 | derap maret 0319 |
 


Sahabat Surgawi
,
 Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja antar denominasi OnLine
www.sahabatsurgawi.net - webmaster@sahabatsurgawi.net, Copyright © 1999