HOME KESAKSIAN DOA ABOUT US CONTACT US LINK

 
















 
Cara mendapatkan Derap Remaja

Pembayaran dapat dilakukan dengan 2 cara :
1. Via Bank:
Tahapan BCA no. 0372999053, an. Wisnu Sapto Nugroho
Segera kirimkan pemberitahuan pengiriman bank.
2. Via Pos Wesel:
dengan cara memakai blangko yang dilampirkan dalam surat pengantar.
Pdt. Wisnu Sapto Nugroho, Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Alamat Sekretariat & Distribusi DERAP REMAJA:
Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281
Telp. (0274) 514721 Fax(0274) 543001

Harga per eksemplar Rp. 40.000,-
 

DERAP REMAJA EDISI 45
Januari - Juni 2019
Bahan Pembinaan Remaja Gereja Kristen Indonesia



Yesus Anak Tukang Kayu | Yesus Blusukan | Yesus Memilih Rakyat Jelata | Yesus Memberi Makan |
The Compassion of Christ |
 

   

Yesus
di tengah
Masyarakat


  The Compassion of Christ
 

fokus
Kehidupan zaman now yang individualis membuat remaja fokus pada diri mereka sendiri. Kepedulian yang mereka miliki dalam hati mereka tidak terlatih karena banyak hal yang tampak dalam hidup mereka adalah sesuatu yang di permukaan dan tidak mendalam. Generasi ini mengalami pendangkalan makna dan yang lebih sering dilihat adalah sesuatu yang mengagungkan popularitas, materialisme dan pengakuan pada individu yang banyak ditampakkan melalui media sosial remaja. Melalui pelajaran ini, remaja diajak untuk memahami makna pembangkitan anak muda di Nain dan bagaimana remaja mengembangkan belas kasih terhadap sesama yang membutuhkan dukungan.

penjelasan teks
Injil Lukas ditulis oleh Lukas yang adalah seorang dokter. Dalam Lukas 7:10 kata yang diterjemahkan 'benar-benar sembuh' adalah istilah medis, sementara dalam Lukas 7:15 kata yang digunakan untuk 'duduk' adalah istilah teknis untuk seorang pasien yang duduk di tempat tidur.
Peristiwa ini terjadi di Nain, sebuah kota yang berjarak sehari perjalanan dari Kapernaum, terletak antara Endor dan Sunem yang dalam Perjanjian Lama adalah tempat di mana Elisa membangkitkan seorang anak laki-laki (2 Raja-raja 4:18-37). Peristiwa ini menceritakan seorang janda yang kehilangan putra tunggalnya dan juga memiliki kemiripan dengan kisah Elia yang membangkitkan anak janda dari Sarfat.

 

Pada masa itu nasib janda sangat bergantung pada pria. Saat ditinggal suaminya, seorang janda kehilangan pelindung dan penopang ekonomi dari pihak laki-laki (suami, anak-anak lelaki, ataupun saudara-saudara). Seorang janda yang mempunyai anak lelaki masih memiliki harapan akan masa depan. Dengan adanya anak lelaki maka harta waris suami jatuh kepada anak lelakinya. Anak lelakinya ini nanti yang akan mengurus hidupnya. Maka sungguh suatu kepedihan bagi janda yang kehilangan anak lelaki tunggalnya.
Seandainya janda itu tidak memiliki anak lelaki, maka harta warisnya akan jatuh kepada anak perempuannya, namun bila sama sekali tidak memiliki anak, maka harta waris suami berturut-turut jatuh kepada saudara lelaki suaminya, saudara ayah dari suaminya, atau keluarga dari suaminya (Bil. 27:8-11). Di Israel seorang janda sama sekali tidak ikut menjadi ahli waris suaminya. Jadi, bila dia tidak memiliki anak, maka harta waris suami kembali kepada keluarga suami.
 (http://www.imankatolik.or.id/janda_dalam_alkitab_didik_bagiyowinadi_pr.html) Maka peristiwa kematian anak tunggal janda ini menjadi suara kesedihan. Prosesi pemakaman ini menjadi suara kepedihan kehidupan manusia yang dinyatakan dengan jeritan kesedihan yang melengking, "Dia adalah putra tunggal ibunya dan dia adalah seorang janda." Kesedihan yang dalam ini menyentuh dan menggerakkan hati Yesus yang kemudian menyatakan belas kasih-Nya. Melalui peristiwa ini kita dapat melihat dua hal, yaitu:
 

1. Yesus menyatakan belas kasih-Nya kepada orang yang sebatang kara, yang tidak lagi memiliki harapan dan masa depan seperti janda ini. Ia mendengarkan relung kesedihan dan penderitaannya. Ia menjadi Tuhan yang peduli pada kondisi manusia tanpa diminta. Dalam cerita ini kita melihat bahwa sang janda tidak perlu meminta dan memohon kepada Yesus untuk membangkitkan anaknya atau mengeluarkannya dari kesedihan dan kepedihannya. Yesus sendiri yang mengambil inisiatif karena belas kasih-Nya. Ia mengetahui apa yang dirasakan oleh janda tersebut tanpa sang janda perlu berkata apa-apa. Dia tidak bertanya tentang apa penyebab kematian anak muda itu tetapi Yesus langsung menaruh belas kasih kepada janda itu (hal yang sama juga dilakukan Elia kepada janda Sarfat, 1 Raj. 17:19), dan ia menghiburnya sambil mengatakan "Jangan menangis".

2. Belas kasihlah yang membuat Yesus menyatakan kekuatan-Nya. Ia menyentuh usungan dan berkata "Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!". Yesus memiliki kekuatan yang ada pada-Nya dalam sebuah kalimat sederhana yang memiliki otoritas dan kekuatan, tanpa ritual ataupun doa-doa tertentu yang biasa dilakukan oleh tabib-tabib pada masa itu.

Melalui kuasa-Nya anak muda itu pun bangkit dan reaksi yang ditunjukkan oleh semua orang yang ada pada saat itu (ay. 16) adalah kekaguman sambil dipenuhi oleh katakutan oleh karena "kematian" itu telah ditaklukkan oleh Yesus di hadapan mereka pada saat itu, sehingga kata-kata untuk mengagungkan Allah keluar dari mulut mereka (ay. 17). Mukjizat yang dilakukan Yesus menunjukkan bahwa Kristus adalah Tuhan dan melalui belas kasih-Nya "Yesus mengklaim sebagai milik-Nya sendiri apa yang telah ditangkap oleh kematian sebagai mangsanya". Melalui belas kasih¬Nya, Yesus menyatakan bahwa ia bukan hanya Tuhan atas kehidupan, namun juga Tuhan atas kematian yang mana Ia sendiri kalahkan. Belas kasih memiliki kekuatan yang luar biasa.

pengenaan
Zaman yang semakin individualis membuat remaja lebih banyak berfokus pada dirinya sendiri, karena itulah yang terus didengungkan oleh "pemasaran" global. Identity, customization, personality menjadi bahasa yang sering sekali didengungkan untuk menonjolkan individualisme. Kekhasan identitas dan karakter memang sangat dibutuhkan bagi setiap orang, namun kecenderungan individualisme ini membawa remaja untuk tidak mementingkan orang lain, padahal dalam diri dan hatinya, setiap manusia memiliki belas kasih.
Belas kasih yang ada dalam setiap remaja inilah yang perlu diangkat melalui pengalaman-pengalaman dan refleksi yang mendalam agar remaja dapat memahami dan menyadari belas kasih Yesus yang mereka alami dalam hidup mereka. Pengalaman-pengalaman ini berguna untuk menggugah hati mereka akan keadaan yang ada di sekeliling mereka. Pengalaman dan pembelajaran akan hal-hal baru sangat diperlukan dalam kehidupan remaja agar mereka memiliki wawasan yang luas dan hati yang besar sehingga tidak terpaku pada teori-teori ataupun hal-hal yang sifatnya akademis (yang mereka kejar atau takutkan). Remaja perlu banyak belajar melihat belas kasih Yesus yang menggerakkan hati mereka untuk menyatakan belas kasih-Nya.

langkah-langkah penyampaian
1. Bukalah dengan menanyakan pada remaja apa yang mereka pahami dengan 'belas kasih'.
2. Lalu bacalah perikop Alkitab dan dilanjutkan dengan Penjelasan Teks. Gunakanlah Ilustrasi untuk membantu remaja mengerti mengenai teks dan mengapa Yesus melakukan mukjizat. Berilah penekanan pada 2 poin penting di bagian penjelasan teks sebagai pengenalan akan Yesus yang berbelas kasih.
3. Masuklah pada Kegiatan. Ajaklah mereka untuk melakukan Learn from Others project. Ajaklah mereka untuk melakukannya dengan bersungguh-sungguh. Jika memungkinkan, persiapkanlah pendamping-pendamping kelompok yang dapat mengarahkan project ini.
4. Ajaklah mereka untuk membagikan pengalaman mereka dalam project ini.

kegiatan
Learn from Others Project
Remaja diajak untuk mengerjakan sebuah proyek Compassion dengan belajar dart kehidupan orang lain yang tidak seberuntung mereka. Proyek ini dapat dilakukan dalam 1 minggu atau sebulan, tergantung dari kemampuan komitmen peserta. Langkah-langkah yang mereka harus lakukan adalah:
1. Membentuk kelompok-kelompok (jumlah anggotanya sebaiknya maksimal 4-5 remaja).
2. Memilih salah seorang subyek (bisa tukang jualan gorengan, supir angkot, pemulung, dll).
3. Mengadakan survey subyek dan membuka komunikasi.
4. Percakapan difokuskan pada perkenalan dan "ngobrol" bukan wawancara tertulis.
5. Kunjungilah kediaman tokoh, ajak makan bersama dalam suasana yang santai.
6. Dalamilah kehidupan sang tokoh sebagai subyek dan bukan obyek. Perbedaan antara subyek dengan obyek adalah subyek memfokuskan dirinya pada kepentingan tokoh (mengenal, mendengar karena keingintahuan), sementara obyek memfokuskan diri pada kepentingan kelompok (demi tugas).
7. Buatlah video singkat mengenai kehidupan subyek. Perlu diperhatikan bahwa fokusnya adalah tokoh tersebut, sehingga dalam video yang dibuat lebih banyak membahas dan menampilkan tokoh ketimbang anggota kelompoknya.
8. Buatlah refleksi akan pengalaman ini (bisa tertulis, sharing ataupun dalam bentuk video).

ilustrasi
WALTER and COMPASSION
Salah satu kenangan paling dalam dari masa mudaku berkaitan dengan seekor kambing kecil yang diberikan oleh ayahku untuk dirawat selama tahun terakhir Perang Dunia II. Nama kambing itu adalah Walter. Saya berumur tiga belas tahun waktu itu, dan kami tinggal di bagian Belanda yang diisolasi oleh sungai-sungai besar dari pasukan lawan. Orang-orang mati kelaparan.
Saya mencintai kambing kecil saya. Saya menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengumpulkan biji pohon ek untuknya, mengajaknya berjalan-jalan, dan bermain-main dengan dia pada tempat kedua tanduknya tumbuh. Saya menggendongnya di lengan saya, membangun kandang kecil untuknya di garasi, dan memberinya sebuah kereta kayu kecil untuk ditarik. Begitu saya bangun di pagi hari, saya memberinya makan, dan segera setelah saya kembali dari sekolah, saya memberinya makan lagi, membersihkan kandangnya, dan berbicara kepadanya tentang segala macam hal. Walter adalah sahabat terbaik saya.
Suatu hari, pagi-pagi sekali ketika saya memasuki garasi, saya menemukan kandang itu kosong. Walter telah dicuri. Saya tidak ingat pernah menangis begitu keras dan begitu lama sebelumnya. Saya terisak dan menjerit karena kesedihan. Ayah dan ibu saya hampir tidak tahu bagaimana menghibur saya. Ini adalah pertama kalinya saya belajar tentang cinta dan kehilangan pada waktu yang bersamaan.

Bertahun-tahun kemudian, ketika perang usai dan kami mendapat cukup makanan lagi, ayah saya memberi tahu saya bahwa tukang kebun kami telah membawa Walter dan menjadikannya makanan untuk keluarganya yang tidak memiliki apapun untuk dimakan. Ayah saya tahu bahwa dia yang telah mengambil Walter tetapi dia tidak pernah memarahinya ataupun menuntutnya meskipun dia melihat kesedihan saya. Saya sekarang,menyadari bahwa baik Walter dan ayah saya mengajari saya sesuatu tentang belas kasih.

(Sumber: Henri J. M. Nouwen, Here and Now, Crossroad, 1994, pp. 62-63)
 


 

A R S I P  
| derap desember 0118 | derap desember 0218 | derap desember 0318 |
| derap desember 0418 | derap desember 0518 | derap januari 0119 | derap januari 0219 | derap januari 0319 | derap januari 0419 |
| derap februari 0119 | derap februari 0219 | derap februari 0319 | derap februari0419 |
| derap maret 0119 | derap maret 0219 | derap maret 0319 | derap maret 0419 |
 


Sahabat Surgawi
,
 Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja antar denominasi OnLine
www.sahabatsurgawi.net - webmaster@sahabatsurgawi.net, Copyright © 1999