HOME KESAKSIAN DOA ABOUT US CONTACT US LINK

 
















 
Cara mendapatkan Derap Remaja

Pembayaran dapat dilakukan dengan 2 cara :
1. Via Bank:
Tahapan BCA no. 0372999053, an. Wisnu Sapto Nugroho
Segera kirimkan pemberitahuan pengiriman bank.
2. Via Pos Wesel:
dengan cara memakai blangko yang dilampirkan dalam surat pengantar.
Pdt. Wisnu Sapto Nugroho, Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Alamat Sekretariat & Distribusi DERAP REMAJA:
Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281
Telp. (0274) 514721 Fax(0274) 543001

Harga per eksemplar Rp. 40.000,-
 

DERAP REMAJA EDISI 45
Januari - Juni 2019
Bahan Pembinaan Remaja Gereja Kristen Indonesia


Gereja adalah Kita | Oikoumene | Gereja di Tengah Dunia | Bangga
Menjadi GKI
   

Gereja di Tengah
Masyarakat
 


  Oikoumene
 

fokus
Kenyataan bahwa ada banyak denominasi (kelompok) dalam kekristenan itu sudah disadari sejak lama. Bahkan sejak zaman Rasul-rasul pun, banyak orang sudah
merasakan kecenderungan untuk "warna-warni" atau kepelbagaian dalam pembentukan jemaat-jemaat Kristen. Apakah kepelbagaian denominasi jemaat Kristen atau gereja itu menjadi hal yang memprihatinkan? Atau warna-warni itu merupakan suatu kenyataan alamiah tak terhindarkan yang justru seharusnya dirayakan dalam semangat satu persekutuan tubuh Kristus? Pelajaran hari ini membahas topik tentang kepelbagaian dalam gereja-gereja Kristen dan upaya merayakan satu persekutuan Kristen di tengah dunia masa kini. Upaya itu dikenal dengan istilah 'Gerakan Oikoumene'. Apa itu sebenarnya Gerakan Oikoumene? Apakah Gerakan Oikoumene itu terbatas pada urusan relasi antar-gereja? Apa hakikat 'oikoumene'? Pertanyaan-pertanyaan ini dibahas dalam pelajaran ini dengan tujuan agar remaja memahami makna 'oikoumene' dan `Gerakan Oikoumene', serta dapat berpartisipasi dalam Gerakan Oikoumene' tersebut.

penjelasan teks
Mazmur 150 merupakan sebuah doksologi puncak dari kitab Mazmur. Yang dimaksudkan dengan doksologi adalah pujian dan penyembahan kepada Allah.


Memang, Mazmur yang terdiri atas enam ayat ini memuat seruan untuk memuji Allah: 10 kali adalah seruan langsung (memakai kata 'pujilah', lihat ay. 1-5), 1 kali seruan tidak langsung (ay. 6). Dalam bahasa Ibrani, kata 'memuji' adalah hallel (ditulis sebanyak 13 kali dalam Mazmur ini). Ditambah dengan akhiran `Ya' yang menunjuk pada nama TUHAN: Yahweh, kata hallel akhirnya menjadi halleluya, artinya `pujilah TUHAN'. Dari sini, LAI memberi judul Mazmur 150: Haleluya.

Menarik, dalam enam ayat yang ditulis, Pemazmur 150 menyusun mazmur sebagai berikut:
1. Ayat 1 berkaitan dengan tempat memuji Allah, yaitu "dalam tempat kudus-Nya" dan "dalam cakrawala-Nya yang kuat". Jika dicermati, ada dua tempat yang disinggung oleh Pemazmur yang menunjuk kepada tempat Allah hadir, yaitu baik di surga maupun di bumi. Dengan demikian, Pemazmur ingin mengungkapkan bahwa Allah itu tidak terbatasi ruang apapun. Oleh karena itu, untuk memuji-Nya, orang tidak perlu mengeksklusifkan tempat tertentu.
2. Ayat 2 berkaitan dengan alasan memuji Allah, yaitu "karena segala keperkasaan-Nya" dan "sesuai dengan kebesaran-Nya yang hebat". Di sini Pemazmur menegaskan bahwa pujian atau penyembahan kepada Allah tidak lepas dari pengakuan bahwa Allah itu Mahakuasa dan Mahabesar.
3. Ayat berkaitan dengan cara memuji Allah, yaitu "dengan tiupan sangkakala", "dengan gambus dan kecapi", "dengan rebana dan tari-tarian", "dengan permainan kecapi dan seruling". "dengan ceracap yang berdenting dan ceracap yang berdentang." Cara memuji Allah yang disebutkan
di sini tidak lepas dari dunia musik dan tarian. Tentu saja di sini unsur suara (vokal), gerak (tarian), dan musik menjadi instrumen-instrumen untuk memuji Allah. Pemazmur menyebutkan unsur-unsur ini untuk menegaskan bahwa ada rupa-rupa cara orang memuji Allah. Dengan perkataan lain, orang seharusnya tidak memutlakkan satu cara tertentu sebagai yang paling baik untuk memuji Allah.
4. Ayat 6 berkaitan dengan subjek yang memuji Allah, yaitu "segala yang bernafas". Di sini Pemazmur tidak menyebutkan secara khusus subjek yang seharusnya memuji Allah. Ia menggunakan kata `segala yang bernafas' untuk menunjuk pada `segala ciptaan Allah yang hidup'. Jadi, dalam keyakinan Pemazmur, subjek atau pelaku doksologi itu bukan hanya manusia, tetapi juga makhluk hidup lainnya.

Dari uraiannya Pemazmur 150 memang tidak secara khusus membicarakan hal persekutuan umat manusia dan seluruh makhluk hidup lainnya di hadapan Sang Pencipta. Namun di balik seruan yang diungkapkannya itu hasrat persekutuan di hadapan Allah itu tersirat. Pembaca atau pendengar Mazmur dapat menangkap itu dengan memandang ayat 2 sebagai pokok alasan hasrat persekutuan, yaitu Allah yang Mahakuasa dan yang Mahabesar. Ayat-ayat lainnya (ay. 1,3-6) mengungkapkan satu persekutuan dari kepelbagaian yang ada, entah berkaitan dengan rupa-rupa tempat, cara atau subjek, di hadapan Allah Pencipta. Di sini doksologi menjadi pokok utama dalam persekutuan di hadapan Allah. Jadi, melalui dan dengan doksologi, Pemazmur berseru agar umat manusia dan makhluk hidup lainnya "yang mendiami dunia ini" (oikoumene, dari kata oikos, `rumah'; dan menein, 'diam' atau 'tinggal') hidup dalam satu persekutuan di hadapan Allah.
Satu persekutuan di hadapan Allah tidaklah meniadakan keunikan atau kekhasan yang ada. Hakikat persekutuan justru terletak pada pengakuan dan perayaan atas ragam perbedaan. Satu persekutuan tidak berarti satu uniform atau seragam. Kemuliaan satu persekutuan itu terpancar melalui kuatnya kedekatan (closeness) dalam keberlainan (the otherness), bukan dalam kesamaan (the sameness). Itulah yang menjadi kerinduan Pemazmur di hadapan Allah.

pengenaan
Kerinduan Pemazmur 150 tampaknya adalah kerinduan gereja juga. Gereja bergumul dan berjuang untuk kehidupan satu persekutuan di hadapan Allah. Pergumulan dan perjuangan gereja-gereja itu mendorong kelahiran Gerakan Oikoumene, sebuah upaya mewujudkan kehidupan persekutuan yang satu di hadapan Allah. Pada awalnya kehidupan persekutuan yang satu itu berkaitan dengan realitas kepelbagaian gereja-gereja. Jadi, dalam hal ini Gerakan Oikoumene dipahami sebagai upaya untuk mewujudkan satu persekutuan gereja-gereja. Pemahaman ini pada gilirannya berkembang. Tidak hanya dengan relasi antar-gereja, Gerakan Oikoumene juga berkaitan dengan relasi antar¬manusia, bahkan antara manusia dan ciptaan Allah lainnya.
Di Indonesia Gerakan Oikoumene semakin menjadi konkret oleh kelahiran Dewan Gereja-gereja di Indonesia (DGI) pada 25 Mei 1950 (kini menjadi PG1, Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia). Dari sini banyak gereja di Indonesia, secara khusus yang menjadi anggota PG1, merayakan bulan Mei sebagai Bulan Oikoumene. Dengan perayaan Bulan Oikoumene ini upaya-upaya mewujudkan satu persekutuan di hadapan Allah (seharusnya) semakin gigih dan canggih dikerjakan. Semua itu ditujukan hanya untuk memuji dan memuliakan Allah.
Pada kenyataannya kesadaran tentang realitas kepelbagaian semakin bertumbuh sekarang ini. Ada yang menanggapi secara negatif realitas kepelbagaian sebagai kendala atau hambatan kemajuan. Ada pula yang menanggapi hal itu secara positif, yakni sebagai kekayaan yang patut dikelola dan dirayakan. Kehidupan remaja tentu saja tak terhindarkan dari realitas kepelbagaian. Remaja Kristen seharusnya memandang dan bersikap secara positif realitas kepelbagaian itu. Dengan terus berjuang untuk mewujudkan kehidupan dalam satu persekutuan di hadapan Allah, remaja seharusnya mulai mengelola dan merayakan hal-hal yang berbeda (the otherness) secara kreatif. Melalui sentuhan kreativitas teknologi misalnya digital art, remaja dapat berpartisipasi dalam perjuangan Gerakan Oikoumene.

langkah-langkah penyampaian
1. Awali dengan menyampaikan pertanyaan tentang realitas kepelbagaian di Indonesia:
a. Sebutkan hal-hal yang menunjukkan realitas kepelbagaian di Indonesia.
b. Bagaimana pandangan remaja tentang realitas kepelbagaian itu? Apakah positif atau negatif?
2. Sampaikan pandangan Pemazmur 150 tentang kepelbagaian di balik seruannya untuk memuji Tuhan (lihat Penjelasan Teks).
3. Ajaklah remaja memahami makna luas dan i `oikoumene' dan 'Gerakan Oikoumene' (lihat Penjelasan Teks).
4. Kemukakan langkah konkret remaja Kristen di Indonesia untuk menggalakkan Gerakan Oikoumene (lihat Ilustrasi).
5. Sampaikan bahwa remaja juga dapat berpartisipasi dalam Gerakan Oikoumene (lihat Pengenaan).
6. Akhiri dengan Kegiatan.

kegiatan
1. Remaja masuk ke dalam beberapa kelompok
2. Setiap kelompok ditugaskan untuk membuat kreasi digital art, misalnya meme atau poster, tentang seruan Gerakan Oikoumene.
3. Kelompok mempresentasikan karya mereka.

ilustrasi
DEKLARASI KARANG ANYAR
Dewan Pemuda dan Remaja (DEPERA) PGI beberapa kali mengadakan konsultasi regional dalam rangka menggalakkan Gerakan Oikoumene pada pemuda dan remaja Kristen di Indonesia. Puncak konsultasi regional itu adalah penyelenggaraan Konsultasi Nasional (Konas) PGI yang berlangsung pada 28 Februari sampai dengan 3 Maret 2014 di Wisma INRI, Karang Anyar, Solo, Jawa Tengah, yang mendiskusikan dan menjawab masalah dan tantangan pemuda dan remaja gereja secara lokal, regional dan nasional. Salah satu basil dari Konas itu adalah Deklarasi Karang Anyar.

GENERAS1 OIKOUMENE
PEMUDA SEBAGAI HARAPAN GEREJA DAN MASYARAKAT

1. Kami peserta Konas meyakini bahwa pemuda dan remaja adalah warga gereja yang merupakan bagian tak terpisahkan dari gereja itu sendiri yang hidup dalam tantangan zaman. Identitas kami adalah Generasi Oikoumene.
2. Terhadap permasalahan dan tantangan zaman bagi pemuda dan remaja masa kini maka kami berkomitmen bahwa pemuda dan remaja gereja di Indonesia akan bekerja keras guna melakukan pembaruan diri dan organisasi, serta berkomitmen untuk saling bersekutu, bersaksi, dan melayani guna mewujudkan sumber daya manusia yang handal, mandiri, dan berintegritas.
3. Dalam kesadaran oikoumene yang tinggi, kami pemuda dan remaja gereja akan ikut aktif mengupayakan terwujudkan keesaan Tubuh Kristus, dalam visi, tindakan dan aksi. Kami berkomitmen diri bahwa pemuda gereja adalah agen perubahan yang dinamis, yang memiliki jiwa oikumenis yang berlandaskan kasih.
4. Kami pemuda dan remaja gereja Indonesia akan menjadi garda terdepan dalam setiap aksi pelayanan sosial di masyarakat.
5. Kami pemuda dan remaja gereja Indonesia akan meningkatkan dan memaksimalkan jaringan antarsinode dan lembaga gereja dalam upaya mewujudkan pelayanan sosial bagi gereja dan masyarakat.
6. Kami pemuda dan remaja gereja Indonesia menjunjung tinggi semangat oikoumene sebagai landasan pelayanan sosial bagi gereja dan masyarakat. 
 


 

A R S I P  
| derap desember 0118 | derap desember 0218 | derap desember 0318 |
| derap desember 0418 | derap desember 0518 | derap januari 0119 | derap januari 0219 | derap januari 0319 | derap januari 0419 |
| derap februari 0119 | derap februari 0219 | derap februari 0319 | derap februari0419 |
| derap maret 0119 | derap maret 0219 | derap maret 0319 | derap maret 0419 | derap maret 0519 |
| derap april 0119 | derap april 0219| derap april 0319 | derap april 0419 |
| derap mei 0119 |
 


Sahabat Surgawi
,
 Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja antar denominasi OnLine
www.sahabatsurgawi.net - webmaster@sahabatsurgawi.net, Copyright © 1999