HOME ABOUT US KESAKSIAN AGENDA GEREJA LINK CONTACT US


 

Derap Remaja Edisi 41
Bahan Pembinaan Remaja Gereja Kristen Indonesia


Pembayaran dapat dilakukan dengan 2 cara :

1. Via Bank:
Tahapan BCA no. 0372999053, an. Wisnu Sapto Nugroho
Segera kirimkan pemberitahuan pengiriman bank.
2. Via Pos Wesel:
dengan cara memakai blangko yang dilampirkan dalam surat pengantar.
Pdt. Wisnu Sapto Nugroho, Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Alamat Sekretariat & Distribusi DERAP REMAJA:
Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Harga per eksemplar Rp. 40.000,-

 

Mei 2017    
MARILAH DAN LIHATLAH
Yohanes 1:35-51
 
  1
MENJADI SAKSI
Yohanes 20: 11 - 18
 
  2
MEMBAWA DAMAI
Roma 12:17-21
 
  3
ECO-FRIENDLY
Kejadian 2: 1 - 7
 
  4

 

2017

Mei
Minggu 3
 



 

 Membawa Damai


 Bacaan: Roma 12:17-21
 Bahan yang digunakan:


 

FOKUS



Perdamaian adalah dambaan semua orang. Namun ternyata mewujudkannya bukanlah hal yang mudah. Berulang kali sejarah mencatat begitu banyak kekerasan yang dilakukan, juga dalam nama Tuhan. Ironis memang, sebab tugas agama, sebagaimana yang terlihat dalam teks-teks suci, adalah membawa damai ke muka bumi ini. Dalam praktik, kekerasan atas nama agama justru paling banyak menelan korban jiwa. Pelajaran ini dirancang agar remaja mampu melihat betapa kekerasan tidak dapat dibiarkan. Pembiaran kekerasan justru akan menciptakan kekerasan lain. Untuk memutus kekerasan dibutuhkan cara hidup yang diwarnai oleh cinta kasih.
 

PENJELASAN TEKS


Roma 12:17-21 adalah bagian dari nasihat dari Paulus untuk hidup saling mengasihi. Setelah uraian teologis Roma pasal 1 sampai dengan pasal 11, Paulus masuk pada nasihat-nasihat praktis. Uraian teologis yang panjang itu diakhiri Paulus dengan pernyataan iman: "Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama¬lamanya!" (Rm 11:36). Justru karena pernyataan iman semacam itu, umat diminta untuk hidup dalam cara yang baru (Paulus bahkan mengatakan: "Janganlah hidup menjadi serupa dengan dunia ini" dalam Roma 12:2). Uraian cara hidup yang baru itu dituliskan Paulus secara lepas sekalipun ada benang merah, yaitu menjadikan kasih yang Yesus ajarkan sebagai pedoman perilaku umat di masa kini. Agaknya atas dasar itu, LAI memberi judul bagian ini dengan "Nasihat untuk Hidup dalam Kasih."
Pada bagian ini, Paulus berbicara tentang bagaimana perlakuan umat pada "musuh." Kata musuh identik dengan lawan. Pada gereja perdana, lawan banyak dihadapi oleh komunitas kristen. Di tengah menghadapi lawan, yang umumnya pasti dipenuhi kebencian, Paulus justru mengajak umat menebarkan semangat perdamaian. Paulus menegaskan: "Dan pihakmu, berusahalah sedapat mungkin untuk hidup damai dengan semua orang" (ay. 18 BIMK). Terjemahan ini lebih menunjuk pada upaya dari pihak umat Tuhan untuk berjuang mewujudkan perdamaian. Tafsiran klasik Th. van den End menyatakan adalah kurang pas jika teks ini dipahami dalam pemahaman perdamaian menyiratkan dua belah pihak. Jadi kalau pihak lain tidak mau berdamai, ya sulit menciptakan perdamaian. Bagi van den End, pihak umat Tuhan tidak boleh diam demi tidak terjadinya konflik. Justru perjuangan umat adalah bersedia mengambil resiko dibenci bahkan dibunuh demi kedamaian. Sekaligus juga ditegaskan bahwa umat Tuhan tidak boleh melemahkan makna damai dengan sekadar mengalah!
Perdamaian juga mengingatkan bahwa tidak akan terwujud jikalau terjadi aksi balas membalas. Itulah sebabnya ia menyatakan agar umat tidak membalas. Bahkan dengan mengutip Ul 32:35, Paulus menegaskan bahwa pembalasan adalah hak Tuhan. Bukankah segala sesuatu dari Tuhan? (Rm 11:36). Selain itu, umat juga dinasihati untuk tetap melakukan kebaikan, misalnya dengan cara memberikan makan dan minum (ay. 20). Kebaikan semacam itu perlu diperlihatkan untuk memberikan semacam contoh nyata yang baik bagi semua orang (ay. 17). Cara semacam ini dikatakan Paulus seperti "menumpukkan bara api di atas kepalanya" (ay. 20). Penafsir mengaitkan makna kalimat ini dengan kebiasan hukuman di Mesir kuno. Orang yang bersalah, jika mengaku salahnya, akan menempatkan bara api di atas kepalanya. Hal itu bermakna penyesalan amat sangat. Bagi Paulus, pada akhirnya itulah yang akan terjadi ketika umat Tuhan menaburkan kebaikan.
 

PENGENAAN
 


Dom Helder Camara seorang imam dari Brazil merefleksikan kekerasan yang terjadi di sekitarnya. Hasil refleksi itu menjadi apa yang kemudian disebut dengan teori spiral kekerasan (spiral of violence). Secara sederhana, Camara melihat bahwa tindak ketidakadilan sosial adalah awal dari kekerasan. Ini sering disebut sebagai kekerasan level pertama yang bersifat personal. Kekerasan ini pada gilirannya akan menghasilkan perlawanan dalam bentuk pemberontakan. Pemberontakan itu adalah kekerasan level kedua yang disebut sebagai kekerasan institusional. Pemberontakan yang terjadi mendapatkan perlawanan dari penguasa. Konflik kekerasan terjadi. Pada tahap ini kekerasan disebut sebagai kekerasan struktural. Demikianlah kekerasan terus terjadi tanpa pernah henti.
Belajar dari pengalaman Dom Helder Camara, tampaklah bahwa kekerasan yang dibiarkan makin hari makin mengental hingga kekerasan tidak lagi terasa seperti kekerasan. Kata-kata kasar, makian, dan sebagainya sudah dianggap biasa. Remaja yang ingin menjadi duta damai perlu belajar untuk memotong spiral kekerasan. Tentu saja itu dapat dimulai dari level yang pertama, yaitu kekerasan personal. Lawan kekerasan bukanlah sekadar tidak melakukan kekerasan, tetapi menebarkan perilaku cinta kasih pada semua orang.
 

LANGKAH-LANGKAH PENYAMPAIAN
 


Masuklah dalam ilustrasi. Minta komentar para remaja tentang film itu (sila mencari film lain).
2. Sampaikan penjelasan teks. Tegaskan bahwa komunitas umat percaya dipanggil untuk hidup dalam nilai yang berbeda. Nilai itu adalah perdamaian.
3. Jelaskan sukarnya menciptakan perdamaian, karena adalah penting untuk memutus lingkaran kekerasan. Pakailah bagian pengenaan untuk menunjukkan hal tersebut.
4. Minta peserta menyebutkan apa saja yang bisa dilakukan orang untuk menjadikan perdamaian sebagai gaya hidup
5. Akhiri persekutuan dengan kegiatan di bawah.

                                                                                                   
KEGIATAN


Diskusi Berita:
Intan Olivia Marbun (2 tahun), korban bom di pelataran Gereja Oikumene, Sengkotek, Samarinda Kalimantan Timur, Minggu 13 November 2016 akhirnya meninggal dunia pada hari Senin, 14 November 2016. Duka mendalam dirasakan mereka yang punya hati. Banyak bentuk dukungan disampaikan, salah satunya berbentuk surat ini.
 

  Halo Intan, salam kenal, namaku Aksara Adisti. Akhir bulan ini umurku pas tiga tahun. Ya, kita seumuran. Kalau sekolah nanti mungkin kita seangkatan. Kebetulan aku juga cewek sama seperti kamu, mungkin juga kita bisa jadi sahabat.

Aku memang belum kenal kamu. Orangtuaku yang sejak kemarin banyak cerita tentang kamu. Katanya kamu sempat masuk rumah sakit karena dilempar botol yang ada apinya. Sampai akhirnya kamu tidak sanggup lagi bertahan dan sekarang lagi menuju surga.

Aku tidak paham kenapa ada orang yang tega melakukan itu. Jahat banget ya.. Tapi satu yang aku paham, kamu cuma pengin sesuatu yang sederhana biar kamu senang. Main boneka atau sepedaan sama teman, bercanda sama bapak, belajar baca juga lihat gambar¬gambar hewan sama ibu, dan hal sederhana lainnya pasti sudah cukup untuk bikin kamu bahagia.

Intan, kita seumuran dan aku tahu rasanya perasaan itu. Kamu tahu, setiap ikut salat orangtuaku aku mengucapkan doa kepada Tuhan. "Ya Allah semoga Adis pintel, cepet gede, boleh makan pelmen kalet," begitu doaku. Sederhana ya...

Mungkin kamu juga berdoa yang mirip sama aku saat di gereja bareng orangtuamu. Kamu pasti pengin pinter. Juga pengin cepet dibolehin makan permen karet, atau es krim, atau cokelat, atau main hujan di halaman rumah. Cuma itu kok yang bikin kamu, aku, juga anak-anak balita yang lain bahagia. Kamu cuma mau kumpul bermain sama teman-teman pas sekolah Minggu. Bernyanyi, berlari, tepuk tangan, kadang juga nangis kalau jatuh.

Tapi tangisanmu hari Minggu lalu itu beda. Badanmu pasti rasanya panas, perih, sakit. Aku juga pernah kok kena knalpot motor ibu. Dan itu panas juga, aku juga nangis. Tapi sekali lagi, itu belum seberapa dibandingin yang kamu rasain kemarin. Aku juga anak satu-satunya, sama kaya kamu. Kalau bapak ibuku saja sedih pas aku kena knalpot, orangtuamu pasti jauh lebih sedih. Apalagi kamu sampai dipasangi selang-selang di rumah sakit, cuma tiduran emoh maem.

Intan, jujur aku tidak tahu apa itu surga. Yang aku tahu, kamu sekarang sudah tidak bisa main-main lagi kaya dulu. Tapi aku yakin kamu bakal jauh lebih bahagia di sana. Kamu tidak merasakan panas atau sakit lagi. Kamu tetap cantik, malah lebih cantik seperti bidadari bersayap kaya di film-film kartun yang aku tonton di laptop bapak.

Kamu tidak perlu mikir kenapa ada orang tega melukai kamu dan teman-temanmu kemarin itu. Biar sekarang Tuhan yang melindungimu di sana. Aku cuma mau titip doa ya, semoga anak¬anak kaya kita di mana pun di pelosok dunia ini tidak ada lagi yang tersakiti. Semoga anak-anak kaya kita selalu bahagia. Tidak ada lagi yang merebut hak anak-anak kaya kita untuk bermain dan belajar. Walaupun aku tahu, anak-anak kaya kita tak pernah dendam meski disakiti.

Selamat jalan ya Intan. Aku mau main sepedaan dulu, kamu main sepeda juga ya di sana. Biar kita bareng-bareng main meskipun kita tidak bisa saling melihat. Tapi aku tahu, kamu sedang tersenyum di sana.

Oh iya, dapat salam dari bapak ibuku. Mereka dan semua orangtua di bumi ini sayang kamu. Peluk cium dari aku, Adisti.
 

Sumber: http://jogja.tribunnews.com/2016/11/16/selamat-jalan-intan-dari¬temanmu-adisti

Pertanyaan diskusi:
1. Mengapa kekerasan terjadi di tengah kita?
2. Apa yang harus kita lakukan jika kerabat/saudara kita mengalami kekerasan semacam itu?
3. Apa yang harus kita lakukan agar kekerasan tidak berulang?
4. Hal apa yang harus dibiasakan di kalangan remaja agar budaya damai terjadi?
 

ILUSTRASI


Film pendek Acong Joko Sitorus dalam: https://www.youtube.com/watch?v=7sE475goLD8

 

 


A R S I P
| derap januari 0116 | derap januari 0216 | derap januari 0316 |
| derap januari 0416 | derap januari 0516 | derap februari 0116 | derap februari 0216 | derap februari 0316 |
| derap februari 0416 | derap maret 0116 | derap maret 0216 | derap maret 0316 | derap maret 0416 |
 | derap april 0116 | derap april 0216 | derap april 0316 | derap april 0416 | derap mei 0116 |

 | derap mei 0216 | derap mei 0316 | derap mei 0416 |derap mei 0516 |derap juni 0116 | derap juni 0216 |
 | derap juni 0316 | derap juni 0416 |derap juli 0116 | derap juli 0216 | derap juli 0316 | derap juli 0416 |  |derap juli 0516 | derap agustus 0116 | derap agustus 0216 | derap agustus 0316 | derap agustus 0416 |
| derap september 0116 | derap september 0216 | derap september 0316 | derap september 0416 |
| derap oktober 0116 | derap oktober 0216 | derap oktober 0316 | derap oktober 0416 |
| derap oktober 0516 | derap nopember 0116 | derap nopember 0216 | derap nopember 0316 |
|derap nopember 0416 | derap desember 0116 | derap desember 0216 | derap desember 0316 |
| derap desember 0416 | derap januari 0117 | derap januari 0217 | derap januari 0317 |
| derap januari 0417 |derap januari 0517 | derap februari 0117 | derap februari 0217 |
| derap februari 0317 | derap februari 0417 | derap maret 0117 |derap maret 0217 |
| derap maret 0317 | derap maret 0417 | derap april 0117 | derap april 0217 | derap april 0317 |
| derap april 0417 | derap april 0517 | derap mei 0117 | derap mei 0217 |

 

Sahabat Surgawi,
 Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja antar denominasi OnLine
www.sahabatsurgawi.net - webmaster@sahabatsurgawi.net, Copyright © 1999