HOME KESAKSIAN DOA ABOUT US CONTACT US LINK

 
















 
Cara mendapatkan Derap Remaja

Pembayaran dapat dilakukan dengan 2 cara :
1. Via Bank:
Tahapan BCA no. 0372999053, an. Wisnu Sapto Nugroho
Segera kirimkan pemberitahuan pengiriman bank.
2. Via Pos Wesel:
dengan cara memakai blangko yang dilampirkan dalam surat pengantar.
Pdt. Wisnu Sapto Nugroho, Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Alamat Sekretariat & Distribusi DERAP REMAJA:
Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281
Telp. (0274) 514721 Fax(0274) 543001

Harga per eksemplar Rp. 40.000,-
 

DERAP REMAJA EDISI 45
Januari - Juni 2019
Bahan Pembinaan Remaja Gereja Kristen Indonesia


Gereja adalah Kita | Oikoumene | Gereja di Tengah Dunia | Bangga
Menjadi GKI
   

Gereja di Tengah
Masyarakat
 


  Bangga Menjadi GKI
 

fokus
Kebanggaan terhadap kelompok merupakan sesuatu yang umum ada di masa remaja. Kebanggaan itu kadang memunculkan sikap eksklusif, yang membuat remaja menutup diri dan tidak mau membangun relasi dengan yang lain. Kebanggaan yang benar terhadap diri atau kelompok semestinya membuat seseorang justru punya keberhargaan diri dan membuka diri untuk menjadi berkat bagi sekitarnya. Pelajaran kali ini disusun agar remaja memiliki rasa cinta dan kebanggaan yang sehat sebagai bagian dari GKI dan itu ditunjukkan dengan sikap aktif dalam persekutuan, kesaksian dan pelayanan nyata di tengah masyarakat.

penjelasan teks
Perikop ini dimulai dengan kalimat: "Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis...."
Jumlah mereka yang percaya hari itu bertambah 3000 jiwa. Dari situ kemudian mereka menjadi persekutuan yang khas dan disukai semua orang.
Apa latar belakang yang membuat mereka menerima perkataan para rasul?
Di ayat 37 disebutkan bahwa mereka yang telah mendengar kabar baik itu kemudian bertanya: "Apa yang harus kami perbuat?"
 

Itulah titik awal mereka menjadi persekutuan yang unik dan khas untuk memenuhi panggilan menjadi saksi Kristus.
Selain itu di bagian sebelumnya disebutkan bahwa "hati mereka sangat terharu" setelah mendengarkan khotbah Petrus. Alkitab NIV memakai istilah "they were cut to the heart". Untuk kata *terharu' di sini digunakan kata Yunani katanyssomai untuk menggambarkan penyesalan yang dalam akan masa lalu mereka dan sekaligus kerinduan untuk apa yang harus mereka lakukan di masa depan. Karenanya frasa "apa yang harus kami perbuat" mewakili perasaan mereka saat itu: menyesal dengan kesalahan yang mereka lakukan di masa lalu (menolak Yesus), namun sekaligus ada kerinduan di masa kini untuk berbuat sesuatu dan mau berubah. Salah satu perubahan yang tampak nyata adalah dalam hal hidup bersama yang lain. Mereka menjadi pribadi-pribadi yang peduli dan mau berbagi dalam sebuah persekutuan yang erat.

Berkumpul untuk bersekutu
Di ay. 42 dan 46 dikatakan mereka selalu berkumpul untuk bertekun dan sehati dalam pengajaran para rasul, memecahkan roti dan berdoa. Ibadah di rumah Tuhan itu kemudian dilanjutkan dengan ibadah keluarga di rumah. Ada persekutuan (koinonia) yang dibina, baik di tempat ibadah maupun di tengah keluarga. Bersekutu di sini bukan sekadar berkumpul untuk mendapatkan apa yang menjadi kepentingan diri sendiri. Bersekutu di sini dalam rangka ibadah (Ibr. abodah): bentuk pengabdian untuk memberi yang terbaik, bukan sekadar datang untuk menikmati dan memuaskan kepentingan diri. Mereka bertekun dalam pengajaran para rasul dan dalam doa.

Pelayanan dilakukan

Persekutuan ini tidak hanya terbatas pada pertemuan-pertemuan doa di antara mereka, tetapi juga diwujudkan lewat pelayanan pada orang lain.
- Kata "pelayanan" dalam bahasa Yunani punya banyak padanan kata, salah satunya adalah diakonia.
- Berasal dari kata diakoneo — arti harfiah: menyediakan makanan di meja untuk majikan atau tuan; ini berarti melakukan pelayanan bagi orang yang berkedudukan lebih tinggi dari yang melayani. Namun kemudian Tuhan Yesus memberi makna baru pada kata diakoneo, yaitu melayani orang yang justru lebih rendah kedudukannya dari yang melayani (Luk. 22:27). Kemudian dalam I Petrus 4:10 kata diakoneo memiliki arti menggunakan karunia kita untuk kepentingan dan kebaikan orang lain.
Kembali ke persekutuan umat mula-mula. Apa wujud pelayanan (diakonia) mereka? Umat Tuhan ini ternyata saling peduli dan memerhatikan kebutuhan sesamanya. Segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama; bahkan yang berkelebihan membagi-bagikan hartanya kepada orang lain sesuai dengan keperluan masing-masing. Ini yang patut disebut sebagai komuni — isme (bukan komunisme dalam paham Orde Baru yang dianggap sebagai aliran Marxisme, yang mengagungkan milik bersama dan menghapus hak milik perseorangan), melainkan dalam pengertian paham yang mendorong orang untuk berbagi bersama apa yang mereka miliki. Pelayanan mereka, lewat kepedulian dan kerinduan berbagi ini, bukan pelayanan yang asalan, tapi yang diperhitungkan sesuai dengan kebutuhan.

Bersaksi lewat hidup yang berbeda
Anggota jemaat mula-mula adalah sekumpulan orang-orang biasa bahkan mungkin kurang terpelajar (kebanyakan nelayan), namun ternyata persekutuan dan pelayanan yang dilakukan orang-orang biasa tersebut menghasilkan sesuatu yang luar biasa: mereka disukai semua orang! Ini menjadi suatu sarana kesaksian yang ampuh. Orang di luar mereka melihat kitab yang terbuka dari cara hidup mereka. Lewat gaya hidup yang khas dan unik dibanding lingkungan sekitarnya, jemaat mula-mula mulai melaksanakan misi Allah di tengah dunia: mereka menyebarkan Injil atau kabar baik.
Persekutuan ini makin disukai semua orang karena persekutuan mereka khas: inklusif bukan eksklusif. Mereka tidak memisahkan diri dan menutup diri dari lingkungan, tapi justru memperbesar lingkaran kasih sehingga semakin banyak orang mengalami kepedulian dan diajak untuk ikut dalam persekutuan penuh kasih itu. Apa yang terjadi itu tentu berbeda dengan yang ada dalam kebiasaan Yudaisme. Di tengah umat Yahudi, ada pelayanan diakonia untuk janda miskin, tapi mereka harus antri tiap hari untuk mendapatkan dua peser di Bait Suci; sementara dalam persekutuan jemaat mula-mula, mereka duduk bersama dan memberi bantuan kepada mereka sesuai dengan kebutuhan masing-masing sehingga tepat sasaran.

pengenaan
Saat ini sesuatu yang khas dan unik biasanya mendapat apresiasi dan digemari oleh remaja atau kaum muda. Sebut saja resto atau kafe yang menawarkan suasana dan makanan atau minuman yang khas dan unik, dicari dan didatangi banyak orang. GKI sebagai sebuah persekutuan umat Tuhan di tengah bangsa Indonesia yang penuh keragaman ini sudah puluhan tahun berdiri, bahkan ada jemaat GKI yang umurnya sudah 160 tahun. Apa yang membuat remaja bangga sebagai bagian GKI di masa kini? Kekhasan dan keunikannya sebagai persekutuan yang inklusif mesti menjadi sesuatu yang dijaga dan dibanggakan oleh anggotanya, termasuk remaja di dalamnya. Sebagai persekutuan yang inklusif, GKI membuka diri bagi semua orang dari beragam suku, budaya, etnis, tingkat sosial, tingkat pendidikan untuk bergabung di dalamnya dan menjadi keluarga yang anggotanya saling memerhatikan satu sama lain. Ketika banyak gereja justru makin tajam menonjolkan kesukuan dan golongan secara eksklusif, GKI justru menjadi persekutuan yang meraih dan merangkul keindonesiaan. Kebanggaan menjadi bagian GKI juga dapat ditumbuhkan dengan cara berkarya sebagai gereja yang membumi, yang siap untuk ikut serta terlibat dalam berbagai persoalan di bumi Indonesia ini. Di sinilah remaja ikut aktif rnewujudkan persekutuan yang hidup beriringan dengan pelayanan dan kesaksian di tengah masyarakat sehingga kehadiran GKI dirasakan menjadi berkat bagi bangsa Indonesia.

langkah-langkah penyampaian
1. Awali dengan pertanyaan "Mengapa kamu jadi anggota GKI?" Ajak remaja terbuka dan jujur dengan alasan yang membuat mereka menjadi anggota GKI. Tanyakan juga apakah mereka bangga menjadi bagian GKI? Apa yang membuat mereka bangga atau malah tidak bangga? Bisa jadi ada yang tidak bangga atau minimal merasa biasa saja cenderung datar menjadi anggota GKI karena tidak ada yang khas dan unik dalam hidup bergereja di GKI.
2. Paparkan Ilustrasi tentang komunitas Taize sebagai sebuah contoh mengenai persekutuan umat Tuhan yang punya kekhasan sehingga disukai banyak orang.
3. Masuk ke dalam Penjelasan Teks. Sampaikan soal jemaat mula-mula yang memiliki kekhasan dalam hal persekutuan yang hangat, pelayanan yang bertanggung jawab yang dapat dilihat dan dirasakan manfaatnya oleh orang-orang di sekitar mereka sehingga selain menimbulkan kerinduan besar untuk bersekutu di gereja maupun di tengah keluarga, mereka juga dipenuhi kepedulian satu sama lain.
4. Di bagian Pengenaan, ingatkan bahwa kebanggaan menjadi bagian suatu kelompok, termasuk jadi bagian GKI, tidak boleh membuat remaja eksklusif dan menutup diri dalam berelasi dengan yang lain. Justru kebanggaan akan kekhasan dan keunikan diri dan gereja menjadi modal untuk menjadi berkat bagi sesama.
5. Lanjutkan dengan melakukan Kegiatan.
6. Akhiri dengan ajakan untuk mencintai Tuhan Yesus Sang Kepala gereja dengan bangga menjadi bagian GKI yang diwujudkan melalui persekutuan yang hangat dan pelayanan yang bertanggungjawab bagi lingkungan sekitar.

kegiatan
• Mengumpulkan kisah-kisah karya yang membanggakan yang telah dan sedang GKI kerjakan (#banggajadiGKI)
• Menyiapkan proyek yang dapat dikerjakan oleh peserta untuk membuat rasa bangga sebagai GKI dan mewujudkan kepedulian bagi sesama.

ilustrasi
Taize: sebuah "Perumpamaan Persaudaraan"
Hari ini, Komunitas Taize terdiri atas sekitar seratus bruder, yang berasal dari tradisi gereja Katolik dan beragam tradisi Gereja Protestan, datang dar i sekitar tiga puluh negara. Dalam keberadaannya yang paling hakiki, komunitas Taize adalah sebuah "perumpamaan persaudaraan" dan ingin mengungkapkan bahwa kehidupan komunitas Taize adalah tanda rekonsiliasi antara umat Kristiani serta bangsa-bangsa yang terpisah-pisah.
Kehidupan para bruder bergantung hanya kepada hasil kerja mereka. Mereka tidak menerima sumbangan dalam bentuk apapun. Dalam hal yang sama, mereka tidak menerima warisan pribadi bagi diri mereka sendiri; komunitas Taize memberikan semuanya itu kepada para kaum miskin.
Beberapa bruder tinggal di beberapa tempat yang kurang beruntung di dunia, di sekitar penduduk yang sedang menderita. Kelompok-kelompok kecil para bruder ini, baik mereka yang tinggal di Asia, Afrika dan Amerika Selatan, berbagi situasi kehidupan dengan orang-orang yang tinggal di sekeliling mereka. Mereka bertekad untuk menjadi tanda kehadiran kasih di tengah-tengah kaum miskin, anak-anak jalanan, para narapidana, mereka yang berada dalam sakratul maut serta mereka yang terluka karena hubungan yang terputus atau karena penolakan.
Di tahun-tahun yang telah berlalu, kaum muda datang ke Taize dalam jumlah yang terus meningkat; mereka datang dari berbagai benua untuk ambil bagian dalam pertemuan mingguan. Para suster dari konggregasi Santo Andreas, sebuah komunitas Katolik internasional yang didirikan sekitar tujuh abad yang lalu, lalu Suster-suster Ursulin dari Polandia dan Suster-suster Santo Vincentius a Paulo ikut mengemban tanggung jawab dalam bidang penyambutan kaum muda.
Para pemimpin Gereja juga datang ke Taize. Komunitas Taize telah menyambut Paus Yohanes Paulus II, empat Uskup Agung Canterbury. para Metropolit Ortodoks, empat belas Uskup Gereja Lutheran dari Swedia dan para pendeta dar i seluruh penjuru dunia yang tak terhitung jumlahnya.

(Disadur dan: http://www.taize.fr/id_article9891.html)
 


 

A R S I P  
| derap desember 0118 | derap desember 0218 | derap desember 0318 |
| derap desember 0418 | derap desember 0518 | derap januari 0119 | derap januari 0219 | derap januari 0319 | derap januari 0419 |
| derap februari 0119 | derap februari 0219 | derap februari 0319 | derap februari0419 |
| derap maret 0119 | derap maret 0219 | derap maret 0319 | derap maret 0419 | derap maret 0519 |
| derap april 0119 | derap april 0219| derap april 0319 | derap april 0419 |
| derap mei 0119 | derap mei 0219 | derap mei 0319 |
 


Sahabat Surgawi
,
 Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja antar denominasi OnLine
www.sahabatsurgawi.net - webmaster@sahabatsurgawi.net, Copyright 1999