HOME ABOUT US KESAKSIAN AGENDA GEREJA LINK CONTACT US



 

Derap Remaja Edisi 43
Januari-Juni 2018
Bahan Pembinaan Remaja Gereja Kristen Indonesia


Pembayaran dapat dilakukan dengan 2 cara :

1. Via Bank:
Tahapan BCA no. 0372999053, an. Wisnu Sapto Nugroho
Segera kirimkan pemberitahuan pengiriman bank.
2. Via Pos Wesel:
dengan cara memakai blangko yang dilampirkan dalam surat pengantar.
Pdt. Wisnu Sapto Nugroho, Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Alamat Sekretariat & Distribusi DERAP REMAJA:
Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Harga per eksemplar Rp. 40.000,-

 

Mei 2018
Pribadi Ilahi Roh Kudus
 

 

- Janji tentang Penghibur - Menantikan Roh Kudus
- Roh Kudus Roh Pemersatu - Roh yang Menghidupkan

 

Mei 2018 Minggu III

Kisah Para Rasul 10:34-48
Bahan yang diperlukan: -

 

Fokus
_____________________

 
Alkitab memberikan kesaksian bahwa Allah yang Maha Segala (ultra eksklusif) justru hadir-membaur (inklusif) kepada segala ragam ciptaan-Nya untuk berbagi Cinta yang menyelamatkan. Ke-Maha-an Allah, melalui karya Roh-Nya, muncul melalui fenomena Kasih Illahi yang melampaui perbedaan dan keberagaman. Perbedaan, dalam "kacamata" Kasih Allah, bukanlah suatu penyimpangan atau produk gagal. Malahan, perbedaan adalah ruang kreasi Allah untuk menghadirkan keselamatan bagi semua ciptaan. Melalui bahan ini, remaja diharap dapat menjelaskan betapa dinamisnya kreativitas karya Roh Kudus untuk mempersatukan semua orang percaya kepada keselamatan dalam Kristus. Oleh karena itu, remaja juga diharap dapat mempercayakan hidupnya, yang ada di tengah perbedaan, untuk dipersatukan oleh Roh Kudus.
 

Penjelasan Teks
_____________________


Kisah Para Rasul 10:34-48 merupakan paruh kedua dari kisah perjumpaan Petrus dengan Kornelius yang telah dikisahkan sejak ayat 1. Ayat-ayat ini seolah menjadi tujuan utama dari perjumpaan mereka berdua. Mengapa perjumpaan mereka menjadi suatu berita atau kesaksian yang penting, sehingga harus di catat dalam Alkitab?

Pertama, pengalaman perjumpaan antara Petrus dan Kornelius terjadi sebagai hasil dari karya Allah yang juga disebut sebagai Roh Kudus, sehingga memungkinkan semua bangsa di muka bumi mengenal karya keselamatan Allah dalam Tuhan Yesus Kristus.
Kedua, pengalaman perjumpaan antara Petrus dan Kornelius memberikan dampak perubahan yang mendasar (fundamental) bagi hidup iman mereka berdua.
Ketiga, pengalaman perjumpaan antara Petrus dan Kornelius menjadi model keteladanan sikap hidup beriman bagi semua orang percaya hingga saat ini.

Kornelius: seorang tentara eksklusif yang bersikap sangat inklusif
Kornelius adalah seorang perwira (pemimpin) yang saleh (Yun.: eusebes — penuh tanggung jawab) dari barisan pasukan yang disebut sebagai Pasukan Italia (ayat 1). Melalui penelusuran bahasa Alkitab Perjanjian Baru (PB), diberitakan bahwa istilah perwira tersebut diambil dari kata berbahasa Yunani: hekatontarche, yang berarti pemimpin (arche) pasukan yang beranggotakan 100 (hekaton) tentara Roma. Barisan ini, mungkin, merupakan barisan tentara elite (dengan keahlian yang terseleksi secara khusus) yang mengemban tugas khusus atau karena jasa-jasanya sehingga mendapat julukan sebagai Pasukan Italia. Sebagai seorang pemimpin dari barisan tentara elite, sikap patuh pada otoritas yang lebih tinggi telah menjadi "DNA" atau jiwa yang mendarah-daging dalam diri seorang tentara macam Kornelius. Model kepemimpinan Kornelius yang kuat nampak terpancar dari kepatuhan orang-orang yang selalu bersama-sama dengan dia (ay. 7). Di hadapan masyarakat Yahudi, posisi sosial-politis Kornelius (sebagai pemimpin dari pasukan penjajah Romawi) tentu tergambar dengan tegas, sangat eksklusif dan dominan.
Alih-alih menjadi seorang yang arogan, Kornelius malah tidak mengedepankan dominasi kekuasaan militernya atas masyarakat Yahudi. Kornelius memilih untuk hidup berbaur (inklusif) dengan masyarakat Yahudi: bahkan bersedia tunduk pada otoritas ilahi Allah Israel. Lebih jauh lagi, Kornelius menundukkan diri dengan sikap hormat, takut dan gentar (Yun.: Phobos) kepada Allah Israel sesuai dengan adat istiadat agama orang Yahudi yang sangat mengikat (ay. 2). Spiritualitas Kornelius yang inklusif terhadap masyarakat Yahudi ia wujudkan pula bersama seisi rumahnya dengan memberi banyak sedekah kepada umat Yahudi (yang waktu itu sedang dijajah Romawi). Model gaya hidup dan beriman macam Kornelius ini oleh masyarakat Yahudi disebut sebagai model hidup kaum proselit. Artinya. model gaya hidup orang asing yang ingin menjadi simpatisan dari "satu-satunya" barisan umat pilihan Allah, yaitu Israel. Tapi, benarkah Bangsa Israel adalah satu-satunya barisan umat pilihan Allah?

Petrus: seorang umat eksklusif yang belajar memahami inklusivitas Allah
Di sisi yang lain dari kisah ini, pada saat yang hampir bersamaan, hadirlah sosok Petrus. Sebagaimana masyarakat Yahudi pada umumnya, Petrus juga menjunjung tinggi identitas ke-Yahudi-annya yang sangat eksklusif sebagai satu-satunya umat pilihan Allah di muka bumi. Sejak Allah menetapkan keturunan Abraham, Ishak, dan Yakub sebagai para pewaris janji Allah, maka semua bangsa lain — dengan sendirinya — bukanlah umat terjanji dan bukan umat kesayangan Allah. Penghayatan masyarakat Yahudi ini disebut sebagai paham Yudaisme. Paham Yudaisme ini sangat melekat kuat di kalangan masyarakat Yahudi seolah bak "DNA", yang secara turun-menurun dipelihara dengan amat ketat sejak zaman para bapa leluhur dan nenek moyang Israel.

Oleh karena paham Yudais yang ultra-nasionalis itu, masyarakat Yahudi seringkali memandang rendah bangsa lain dengan sebutan bangsa kafir, bangsa najis, bangsa yang pada gilirannya hanya akan dibinasakan oleh Tuhan. Untuk mempertahankan statusnya sebagai umat pilihan, masyarakat Yahudi berusaha dengan ketat melakukan Taurat Tuhan dan menjauhi larangan-Nya. Demikian pula dalam situasi bangsa Israel yang terjajah (oleh Roma), ketaatan untuk menjauhi larangan Tuhan menjadi semakin menguat berkali-kali lipat (band. Ul 28 tentang berkat dan kutuk). Oleh karena itu, Petrus mengungkapkan penolakan dengan amat tegas untuk menjamah yang najis dan tidak tahir hingga tiga kali, bahkan terhadap perintah Tuhan sekalipun (Kis.10:11-16).

Penglihatan yang baru saja dialami Petrus betul-betul bertolak belakang dari penghayatan dasar iman yang selama ini ia bangun dan pertahankan (band. Kis.10:28) sebagai orang Yahudi. Bagi Petrus, yang diyakininya sebagai kebenaran utama. Sejak dalam kandungan, masyarakat Yahudi (termasuk Petrus) telah mengakui Allah sebagai Allah Abraham, Ishak dan Yakub — Allah yang menjumpai moyang mereka untuk memilih mereka secara khusus sebagai umat pilihan. Kini, identitas keyahudian Petrus yang eksklusif mengalami gegar dan hancur berkeping-keping di hadapan perintah Roh Kudus yang menyatakan bahwa bangsa lain pun adalah bangsa yang dipilih Allah untuk diselamatkan. Petrus mengalami kegalauan akut, sebagaimana mungkin halnya seseorang yang sedang bertanya-tanya dalam hati: "Apakah aku adalah anak kandung dari ibu-bapaku?" "Dan ketika Petrus sedang berpikir tentang penglihatan itu, berkatalah Roh: "Ada tiga orang mencari engkau. Bangunlah. turunlah ke bawah dan berangkatlah bersama-sama dengan mereka, jangan bimbang, sebab Aku yang menyuruh mereka ke mari." (Kis 10:19-20). Kegalauan akut Petrus segera lenyap, sebab pada waktu yang bersamaan sabda Roh Kudus benar-benar terbukti melalui kehadiran tiga utusan Kornelius.

Pembuktian ini sudah cukup bagi Petrus untuk meyakinkan dirinya bahwa ia harus membongkar pemahaman dasar imannya tentang Rencana Kasih Allah. Petrus harus belajar membangun dasar iman baru bahwa melalui Tuhan Yesus Kristus, Allah menghendaki:
• Setiap orang percaya tidak membeda-bedakan orang (Kis. 10:34b); sehingga tidak sepatutnya para murid Kristus menyebut orang najis atau tidak tahir (Kis. 10:28).
• Setiap orang dari bangsa manapun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya (Kis. 10:35); identitas umat pilihan Allah pun memperoleh arti/makna yang baru.
• Setiap orang yang percaya kepada Kristus beroleh pengampunan dosa dan diselamatkan.
Karya Roh Kudus menunjukkan, baik kepada Petrus maupun Kornelius bahwa Ke-Maha-an Kasih Allah untuk menyelamatkan manusia bukan saja dicurahkan tanpa batas hanya kepada umat Yahudi, melainkan juga kepada semua bangsa, melampaui semua perbedaan asal, budaya, dan kelompok. Roh Kudus hadir, baik kepada para Yahudi maupun non-Yahudi, yang percaya dan untuk percaya kepada keselamatan dalam Kristus. Hasil dari karya Roh Kudus itu, semua orang dipersatukan untuk memuliakan Allah dengan penuh sukacita ( 10:46).
Karya Roh Kudus membuat Petrus dan semua orang Yahudi yang percaya kepada Kristus tidak membatasi Karya Keselamatan Kristus berdasarkan asal-muasal suku bangsa. Baik Yahudi maupun Non-Yahudi adalah satu kesatuan umat pilihan Tuhan. Pun bagi Kornelius dan semua orang asing yang "senasib" dalam hal suku bangsa, mereka bukan lagi warga yang terpinggirkan.
 

Kornelius dan semua orang yang perca7ya kepada Kristus, oleh buah karya Roh Kudus, adalah warga inti dari Kerajaan Sorga. Mereka juga adalah warga inti, sesama saudara, dari Kerajaan Sang Empunya Semesta (10:42).
Lalu, apa yang sepatutnya dilakukan oleh warga inti dari Kerajaan Sang Empunya Semesta? Tak lain adalah memuliakan Allah, Sang Empunya Semesta, dengan jalan mewartakan kabar sukacita keselamatan ini ke seantero semesta. Tindakan yang paling sesuai dengan sukacita persaudaraan di dalam Tuhan mereka terapkan melalui tindakan Kornelius untuk menerima Petrus dan kawan-kawan selama beberapa hari di rumahnya. Sebaliknya, Petrus dan kawan-kawan pun menerima undangan keluarga Kornelius (Kis. 10:48).

Pengenaan
_____________________


Kebanyakan orang akan merasa senang jika terpilih menjadi sosok yang spesial. Seiring dengan posisi perannya yang spesial, orang akan mendapat kekuasaan, serentetan fasilitas eksklusif (atau dibedakan/terpisah dari yang rata-rata) dan diperlakukan secara spesial pula. Agar status spesialnya dapat bertahan, biasanya orang tertentu akan membuat jarak dari kaum kebanyakan yang dianggap rata-rata (khususnya terhadap yang di bawah rata-rata). Dengan menjaga jarak untuk tetap eksklusif, orang berharap dapat "memenangkan" tingkat kepuasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan pencapaian yang sebelumnya atau yang pernah dicapai oleh orang lain. Demikianlah "rantai kepuasan untuk menjadi yang spesial" (chain of being special) akan segera berevolusi menjadi sebuah "lingkaran eksklusivitas" (circle of exclusivity), dan semakin bergulir menjauh (dari kaum rata-rata)..., berpusing..., semakin jauh berputar untuk menjadi makin eksklusif dan akhirnya hidup dalam dunianya sendiri secara egois. Berikut gambarannya:


Sebaliknya, bahan hari ini mengajak kita untuk menerima karya Rob Kudus yang membebaskan diri kita dari belenggu eksklusivitas sehingga menjadi pribadi yang inklusif. Seorang yang bersikap inklusif akan memiliki kepribadian terbuka terhadap segala potensi, kemungkinan positif dan perbedaan. Seorang inklusif tidak merasa kuatir saat orang lain mengenal kelemahan-kelemahannya. Ia justru memanfaatkan rekan-rekan di sekitarnya untuk membantunya memperlengkapi kekurangannya. Ia dapat tetap menjalin persahabatan sekalipun sahabatnya berbeda pendapat dengannya, dan tetap memanfaatkan segala perbedaan dari sahabatnya sebagai elemen yang mampu membangun dirinya. Demikian pula sebaliknya, ia pun dengan senang hati akan memperlengkapi perbedaan dan kekurangan Para rekannya saat dibutuhkan. Sekalipun sedang dalam posisi yang berseberangan, seorang inklusif tetap merasa bebas untuk menunjukkan jati dirinya, sebab di matanya semua orang layak menjadi sahabat.

 

Langkah-langkah Penyampaian
___________________________


1 . Mintalah remaja untuk berbagi pengalaman tentang berhadapan dengan perbedaan, diskriminasi, dan eksklusifitas yang sering menjadi sumber kekerasan sosial antar kelompok (geng-geng-an) dalam hidup sehari-hari remaja.
2. Bawalah remaja pada gambaran konteks relasi sosial keyahudian jaman Rasul Petrus. Kupaslah faktor-faktor penghambat relasi yang ada di antara masyarakat Yahudi dan Non-Yahudi yang menjadi latar budaya bagi Petrus dan Kornelius (Lihat Penjelasan Teks).
3. Ajaklah remaja untuk mengkaji peran Roh Kudus dalam menjembatani gap yang terjadi antara Petrus dan Kornelius; dan peran-Nya untuk menjadikan kisah ini menjadi keteladanan bagi tiap orang percaya sepanjang jaman (Lihat Penjelasan Teks).
4. Ajaklah remaja untuk mengadakan eksperimen: "Transformasi Subyek: Saya > Kami > Kita" yang ada dalam kolom kegiatan di bawah ini.
5. Ajaklah remaja untuk berdoa dan mensyukuri segala perbedaan yang Tuhan ciptakan di antara sesama, dimana perbedaan itu telah semakin memperlengkapi mereka.
 

Kegiatan
_____________________

Transformasi Subyek: Saya > Kami > Kita
1. Analisa Subyek Kalimat
Ajaklah remaja dengan ajakan berikut:
• Cobalah hitung ada berapa banyak kata "Saya", "Aku", "Gue" atau yang sejenisnya, yang kamu gunakan dalam kalimat percakapan sehari-hari? Atau, berapa banyak kalimat yang kamu ungkapkan, yang sedang mengarah untuk kepentingan dirimu sendiri?
• Tingginya frekuensi penggunaan kata "Saya" atau "Gue" dalam percakapan sesehari sebenarnya sedang mencerminkan fokus dari kerja pikiranmu yang cenderung berpusat untuk kepentingan ego (Bhs. Yunani yang berarti: "saya"). Maka orang semacam ini sering kita sebut dengan orang yang egois.

2. Proses Transformasi: Saya > Kami
Ajaklah remaja dengan ajakan berikut:
• Cobalah sadari penggunaan kata "Saya" dalam setiap kalimat percakapan sesehari dan ubahlah menjadi kata "Kami". Tundalah keinginanmu untuk berbicara dengan menggunakan kata "Saya" (kecuali memang benar-benar perlu). Atau jika kamu benar-benar merasa harus berbicara, susunlah kalimatmu sehingga kata "Kami" cocok digunakan di dalamnya. Cermati perubahan subyek
kalimatmu, dan rasakan efek dari perubahan subyek kalimat ini. BEGITU MENGAGUMKAN...!!
• Saat kamu terbiasa menggunakan kata "Kami" dalam percakapan sehari-hari, maka (tanpa kamu sadari) kamu telah mengubah cara berpikirmu yang cenderung berorientasi/berpusat pada dirimu (ego), menjadi orang yang sedang berproses melibatkan orang-orang lain untuk masuk/terlibat dalam hidupmu, sehingga mereka menjadi kelompokmu. Kamu tidak lagi sendirian. Kamu jarang (hampir-hampir tidak pernah) merasa kesepian.

3. Proses Transformasi Lanjutan: Kami>Kita
Ajaklah remaja dengan ajakan berikut:
• Bagian paling sulit sudah kita lewati dengan mudah! Proses transformasi selanjutnya akan terasa semakin menggugah dan inspiratif.
• Sekarang, pikirkanlah suatu hal atau kegiatan yang cocok untuk disandang oleh kata "Kita" dalam kalimatmu. Misal: Untuk mempersiapkan peringatan Hari Anak Nasional (23 Juli), kami (Komisi Remaja) akan mengajak Komisi Anak untuk mengadakan lomba origami. Dari lomba tersebut, kami berharap agar kita dapat saling berkenalan dengan para guru sekolah minggu dan adik-adik kami. Lomba kita pasti akan seru!
4. Latihlah terus proses di atas. Niscaya, berjuta kemungkinan dan kesempatan mengagumkan yang tak terduga akan memberi warna-warna indah dalam hidupmu.


Ilustrasi
_____________________


Berikut sebagian tuturan Yuniar Kartika Hapsari menjadi lebih inklusif setelah mengikuti program SITI (Studi Intensif Tentang Islam) yang diadakan oleh PSAA UKDW dan LPP Sinode (Wahyu Nugroho dan Djoko Prasetyo Adi Wibowo (eds.) Menuju Perjumpaan Otentik Islam-Kristen, Yogyakarta: TPK¬PSAA, 2016, hal. 207).

Di pondok pesantren Nurul Ummahat, Kotagede, saya tersentuh oleh ketaatan para santri yang begitu rajin dan bersemangat dalam menjalankan kegiatan-kegiatan keagamaan. Bangun di pagi buta, melakukan salat subuh kemudian mengaji. Ketika adzan maghrib berkumandang, mereka bersama¬sama menuju Mushola, melakukan Salat bersama dan mengaji. Kegiatan tersebut dilakukan bersama¬sama setiap hari, sungguh luar biasa. Relasi antara Kyai-santri pun begitu erat, tidak seperti guru dan murid, tetapi seperti orangtua-anak. Loyalitas santri terhadap Kyai sungguh terpelihara dengan baik, Kyai menjadi sosok yang penting dalam kehidupan pesantren dan para santri-santrinya. Di sana saya juga belajar tentang kesederhanaan, keprihatinan, dan bagaimana bersyukur sekalipun dalam keterbatasan. Hal ini membuat saya berefleksi, banyak hal yang dapat saya pelajari, kemudian saya tularkan bagi jemaat di mana saya melayani.                                   

                                           
                  
          
 


 

Sahabat Surgawi,
 Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja antar denominasi OnLine
www.sahabatsurgawi.net - webmaster@sahabatsurgawi.net, Copyright © 1999