HOME ABOUT US KESAKSIAN AGENDA GEREJA LINK CONTACT US



 

Derap Remaja Edisi 44
Juli-Desember 2018
Bahan Pembinaan Remaja Gereja Kristen Indonesia


Pembayaran dapat dilakukan dengan 2 cara :

1. Via Bank:
Tahapan BCA no. 0372999053, an. Wisnu Sapto Nugroho
Segera kirimkan pemberitahuan pengiriman bank.
2. Via Pos Wesel:
dengan cara memakai blangko yang dilampirkan dalam surat pengantar.
Pdt. Wisnu Sapto Nugroho, Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Alamat Sekretariat & Distribusi DERAP REMAJA:
Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Harga per eksemplar Rp. 40.000,-

 

November
Pembinaan Iman

 

•Katekisasi • Life Group • Prayer • Gereja yang Bernyanyi

 

Fokus
_____________________

 
Dunia saat ini semakin mengutamakan kepentingan egoisme, materialisme dan invidualisme. Remaja adalah generasi yang paling mudah untuk menjadi korban dari apa yang ditawarkan oleh dunia ini. Remaja mudah sekali dibuat bingung akan makna kebenaran Allah dan bagaimana mereka harus hidup. Di usia remaja ini, mereka juga tidak dapat memisahkan diri dari kehidupan berkelompok. Penerimaan dan pengakuan mereka banyak didasari oleh kehidupan kelompok mereka. Namun tidak jarang juga kelompok-kelompok yang ada bukan membangun namun merusak pribadi dan moral remaja Kristen. Dalam kondisi seperti ini, remaja membutuhkan kelompok dan komunitas yang dapat bertumbuh bersama, yang tidak eksklusif namun membuka diri mereka untuk menerima dan menjadi berkat bagi orang lain. Komunitas ini disebut life group, yang menunjukkan dinamika kehidupan dan pertumbuhan bersama.
 

Penjelasan Teks
_____________________


Latar belakang kota Korintus
Kota Korintus memiliki 400.000 penduduk dan merupakan kota utama Yunani yang menjadi pusat perdagangan dunia saat Paulus mengunjunginya. Penduduknya adalah orang Yunani,Yahudi, Italia dan orang-orang campuran dari mana-mana. Pelaut, pedagang, petualang dan pengungsi dari seluruh dunia memadati kota ini, membawa serta banyak kejahatan dari setiap negara, yang melaluinya timbul banyak bentuk degradasi manusia.Agama dan filsafat digunakan untuk kepentingan dan keuntungan pribadi dan golongan. Kehidupan intelektual diletakkan di atas kehidupan moral, dan mereka berfokus pada kehidupan masa kini yang penuh dengan foya-foya serta kesenangan duniawi, sementara kehidupan masa depan mereka tolak dan abaikan.

Gereja di Korintus didirikan oleh Paulus pada perjalanan misionaris kedua (Kis 18: 1-18). Semangatnya dalam mendirikan gereja terlihat dalam I Kor. 2: 1-2. Sementara di sana Paulus membuat rumahnya bersama Aquila dan Priskila, orang-orang Yahudi yang telah dikeluarkan dari Roma (Kis. 18: 2-3) namun sekarang menjadi anggota gereja.Apolos berkhotbah kepada gereja ini dan membantu dalam ketidakhadiran Paulus (18:24-28; 19:1). Kedua surat kabar tersebut penuh dengan informasi tentang kondisi gereja dan banyak masalah yang harus dihadapi dari waktu ke
waktu. Pada waktu itu Korintus adalah salah satu kota yang paling dipenuhi kejahatan pada masa lalu dan bahwa gereja dikelilingi oleh adat istiadat dan praktik yang tidak mempercayai Tuhan. Banyak anggota gerejanya yang baru beralih dari agama nenek moyang ke agama Kristen.
Salah satu persoalan besar dari jemaat di Korintus adalah usahanya untuk mengalami berkat Allah sementara mereka tetap menolak untuk memisahkan dirinya dari cara-cara dunia yang jahat. Para gembala sidang dan pemimpin gereja di Korintus mengizinkan orang yang mengaku diselamatkan bergabung dengan jemaat tanpa rneninggalkan perbuatan jahat mereka. Jemaat di Korintus membiarkan perpecahan yang mementingkan diri (I Kor 11:18), filsafat dunia menguasai gereja (I Kor 1:18-25; I Kor 3:19), iri hati dan pertengkaran (I Kor 3:3), kesombongan (I Kor 3:21; 4:7), percabulan (I Kor 5:1), perkara-perkara hukum yang sepele (I Kor 6:1-8), kehadiran dalam pesta pora penyembahan berhala (pasal I Kor 8:1-13; 10:1-33), dan penolakan pengajaran rasuli (I Kor 14:36-37). Karena jemaat di Korintus gagal untuk mengerti bahwa kebenaran rasuli, kasih, dan standar rohani itu mutlak perlu (I Kor 6:9-10:13), maka mereka menyalahgunakan karunia Roh (pasal I Kor 12:1-31; 14:1-40) dan "Perjamuan Tuhan" (1 Kor 11:20-34), dan memutarbalikkan berita Injil (I Kor 1:18-31). Gereja Korintus sangat jauh dari kata ideal.

Kondisi anggota gereja di Korintus
Paulus berbicara mengenai perbedaan antara orang yang bersifat spiritual (pneumatikos,Yunani) yang dapat memahami kebenaran spiritual, dan orang yang duniawi (psuchikos,Yunani) yang kepentingan dan tujuannya tidak melampaui kehidupan fisik dan karena itu tidak dapat memahami kebenaran spiritual.Paulus menggunakan dua kata baru untuk menggambarkannya.

Menurut William T. Barclay, Dalam I Korintus 3: I dia memanggil mereka sarkinoi (Yunani) yang berasal dari kata sarx yang berarti daging dan berakhiran inos yang berarti dibuat dari sesuatu atau lainnya. Jadi Paulus mengatakan bahwa jemaat di Korintus terbuat dari daging. Manusia walau terbuat dari daging namun tidak boleh terus hidup dalam kedagingannya. Masalahnya adalah bahwa orang-orang Korintus tidak hanya sarkinoi tetapi adalah sarkikoi (Yunani) yang berarti tidak hanya terbuat dari daging tetapi didominasi oleh daging. Bagi Paulus daging lebih dari sekadar hal fisik. Hal ini berarti sifat manusia diluar Tuhan (baik mental maupun fisikal) adalah jembatan bagi dosa. Jadi kesalahan yang Paulus temukan dari orang-orang Korintus bukanlah karena mereka terbuat dari daging tapi mereka membiarkan sisi gelap sifat mereka mendominasi semua pandangan dan tindakan mereka.
Kehidupan kedagingan, semangat pesta, perselisihan dan eksklusivisme kelompok-kelompok di dalam gerejalah yang membuat Paulus menghardik mereka. Ini sangat penting karena kita dapat mengetahui hubungan seseorang dengan Tuhan dengan melihat huhungannya dengan sesamanya. Dalam hubungan personal maupun kelompok, jika seseorang suka bertengkar dan membuat masalah dengan sesamanya, dia mungkin seorang yang secara rajin dan rutin beribadah di gereja, dia bahkan mungkin menjadi pemimpin acara di gereja, tapi dia bukanlah pengikut Allah.Tetapi jika seseorang bersekutu dan bersehati dengan sesamanya, jika hubungannya dengan sesama ditandai dengan cinta dan persatuan dan kerukunan maka dia sedang menuju pada persekutuan sebagai pengikut Allah.

Pengakuan akan kedagingan juga terlihat pada jemaat di Korintus yang berselisih dan memperbandingan antara kelompok yang dipimpin oleh Paulus dan kelompok yang dipimpin oleh Apolos. Kehidupan kelompok-kelompok yang ada di jemaat di Korintus bukan berfokus pada Allah dan pertumbuhan rohani namun berfokus pada siapa yang lebih hebat, lebih baik dan lebih benar, tanpa menyadari bahwa siapapun pemimpinnya ataupun kelompoknya, semuanya adalah dari Tuhan dan hanya untuk Tuhan. Orang yang menanam dan orang yang mengairi berada pada satu tingkat yang sama; tidak ada yang dapat mengklaim dirinya lebih baik atau hebat dan didahulukan dari yang lain; Mereka hanyalah pelayan yang bekerjasama untuk tuannya yaitu Tuhan.

Pengenaan
____________________


Kehidupan remaja yang penuh dengan tawaran dunia seringkali membuat mereka terjebak di dalamnya. Godaan-godaan pola kehidupan yang bebas, materialistis, konsumtif, penuh dengan pesta dan pementingan diri sendiri membuat remaja semakin menjauh dari kehidupan dan komunitas gereja. Sebagian dari mereka tetap menghadiri kebaktian namun hati mereka tidak tercuju pada Tuhan, melainkan karena keterpaksaan orang tua, atau karena ritual agama belaka. Sebagian lagi mungkin taat beribadah, namun kehidupan mereka tidak mencerminkan sifat dan sikap Tuhan Yesus dalam hidup mereka.

Di luar hari Minggu, mereka tetap dalam kehidupan yang jauh dari Kristus dan lebih mengikuti kedagingan mereka, apalagi ditambah dengan tekanan hidup kaum muda zaman sekarang. Kelompok¬kelompok yang mereka miliki tidak jarang bukannya membangun tetapi merusak seperti kelompok yang kompak namun destruktif, atau kelompok yang hobinya bergosip dan membicarakan orang lain belaka.Adanya kelompok dan komunitas yang mengajak hidup bertumbuh dalam Kristus dan mempraktekkan ajaran Kristus menjadi sesuatu yang sangat penting bagi mereka. Kelompok dan komunitas ini harus hadir untuk membangun kasih Kristus bagi kaum remaja dan melalui kaum remaja. Namun terkadang kelompok-kelompok ini terjebak dalam ekskulsivisme, yang sangat mudah terjadi di kalangan kaum muda. Generasi milenial sangat mencari zona nyaman dan saat mereka menemukan zona nyaman tersebut kecenderungannya adalah mereka akan berdiam disitu. Oleh karena itu kelompok dan komunitas Life Group harus dijaga untuk tetap inklusif dan terbuka bagi orang lain untuk hidup dan bertumbuh bersama agar tidak terjadi seperti kelompok-kelompok di Korintus yang terbelah menjadi kubu-kubu yang berbeda.
 

Langkah-langkah Penyampaian
___________________________


1. Tanyakan pada remaja nilai-nilai hidup apa yang mereka lihat di kehidupan dunia pada saat ini (mintalah mereka untuk menyebutkan apa yang dekat dengan kehidupan mereka sehari hari).
2. Lalu tanyakan pada mereka hal-hal apa saja yang menjadi godaan mereka yang sulit mereka lawan.
3. Tanyakan pula bagaimana mereka menghadapi tantangan dan godaan duniawi itu.Apakah mereka memiliki kelompok atau komunitas yang dapat menjawab tantangan-tantangan dan godaan duniawi itu bersama-sama.
4. Masuklah dalam penjelasan teks. Jelaskan kepada mereka kondisi gereja di Korintus dengan segala tantangan yang mereka hadapi.
5. Tautkan dengan kehidupan mereka pada saat ini dalam pengenaan.
6. Jelaskan kepada mereka pentingnya memiliki kelompok inklusif yang bertumbuh bersama dalam iman.
7. Jelaskan mengenai konsep kursi kosong sebagai bentuk inklusivitas.

Kegiatan
_____________________

Kursi Kosong

Ajaklah remaja untuk membentuk kelompok-kelompok kecil (Life Group) yang didasari oleh kerinduan untuk bertumbuh bersama dalam pengenalan akan iman dan karakter dalam Kristus. Mintalah remaja untuk membangun identitas Life Group masing-masing.Ajaklah mereka untuk membangun kesepakatan bersama (yang tidak dipaksakan oleh pemimpin/pendamping) mengenai apa saja yang menjadi harapan mereka melalui kelompok kecil ini. Nilai apa yang hendak ditumbuh¬kembangkan bersama dalam kelompok kecil ini. Lalu buatlah jadwal pertemuan berkala dengan pendamping-pendamping yang lebih senior. Dalam pertemuan Life Group ini, jelaskan pada mereka mengenai konsep kursi kosong. Konsep kursi kosong adalah konsep dimana mereka secara rutin akan memikirkan orang-orang tertentu yang rindu untuk mereka ajak terlibat dalam kelompok ini. Setiap orang yang terbayang dalam pikiran mereka didoakan sehingga mengerucut menjadi 1 orang dalam periode tertentu (bisa 1 orang tiap bulan, 2 bulan, 3 atau lebih). Konsep ini hendak mengajarkan kepada mereka bahwa kelompok Life Group ini haruslah selalu mengingat orang lain untuk menerima kasih dan berkat yang Tuhan berikan melalui Life Group mereka sehingga kelompok ini tidak menjadi eksklusif dan hanya berpusat pada kelompok saja. Orang lain yang akhirnya diajakpun adalah hasil dari doa bersama sama, bukan karena keinginan pribadi semata.

Contoh:
Life Group OkeCoy!
Anggota: Bono, Daud, Linda, Matius, Ninda, Olivia, Putri
Kursi Kosong
 
No Bulan Didoakan Diundang Keterangan
1 Januari Adi, Benny, Cynthia, Donny, Erika Cynthia  
2 Februari Adi, Benny, Fransiska, Gondo, Herman Herman  
3 Maret Benny, Fransiska, Indah, Juan, Karina Benny  
4 April      


 

Ilustrasi
_____________________

 
I said NO... but then I say YES

https://www.youtube.com/watch?v=I-E9HBd_aZ4

 


 

Sahabat Surgawi,
 Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja antar denominasi OnLine
www.sahabatsurgawi.net - webmaster@sahabatsurgawi.net, Copyright © 1999