HOME KESAKSIAN DOA ABOUT US CONTACT US LINK

 

















 
Cara mendapatkan Derap Remaja

Pembayaran dapat dilakukan dengan 2 cara :
1. Via Bank:
Tahapan BCA no. 0372999053, an. Wisnu Sapto Nugroho
Segera kirimkan pemberitahuan pengiriman bank.
2. Via Pos Wesel:
dengan cara memakai blangko yang dilampirkan dalam surat pengantar.
Pdt. Wisnu Sapto Nugroho, Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Alamat Sekretariat & Distribusi DERAP REMAJA:
Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281
Telp. (0274) 514721 Fax(0274) 543001

Harga per eksemplar Rp. 40.000,-
 

DERAP REMAJA EDISI 46
Juli - Desember 2019
Bahan Pembinaan Remaja Gereja Kristen Indonesia


 
Keluarga yang Saling Memaafkan
Kejadian 45:1-15
| Keluarga yang Saling Mengingatkan 1 Korintus 4:14-17 |
Keluarga yang Saling Menghargai
Efesus 5:20-21,6:1-4
| Keluarga yang Saling Berkomunikasi Kejadian 37:1-11
 
  Kesaksian dan Pelayanan dalam Keluarga

    Keluarga yang Saling Mengingatkan   Minggu Kedua : 13 Oktober 2019
Bacaan : 
1 Korintus 4 : 14-17
Bahan yang diperlukan :
 

 

fokus
Setiap manusia tidak luput dari salah. Supaya kesalahan tidak terulang lagi maka harus ada yang mengingatkan. Sayangnya kadang orang tidak mau mengingatkan karena sungkan atau kuatir relasi menjadi renggang. Hal ini kadang terjadi pada orang yang mempunyai hubungan dekat, seperti sahabat atau keluarga. Namun tetap saja hal itu tidak dapat dibenarkan. Tidak benar jika karena ingin menghindari gesekan lalu masing¬masing mengelak untuk mengingatkan jika memang terdapat anggota keluarga yang keliru. Makin dekat dan akrab relasi seseorang, seharusnya makin saling mengingatkan. Jika tidak demikian, maka bisa jadi relasi itu hanya relasi semu yang tidak ada kasih di dalamnya. Melalui pelajaran hari ini remaja diharapkan memahami bahwa saling mengingatkan termasuk tindakan kasih kepada keluarga. Remaja juga diharapkan berani mengingatkan jika ada anggota keluarga yang melakukan kesalahan.

penjelasan teks
Perikop hari ini adalah bagian dari perikop 1 Korintus 4 yang berisi peringatan Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus atas kesombongan rohani mereka. Kesombongan rohani itu muncul dari kenyataan bahwa mereka kaya akan berbagai macam pengetahuan dan karunia (1 Korintus 1:5-6). Kekayaan rohani jemaat Korintus semakin lengkap dengan kenyataan bahwa mereka memiliki banyak pendidik rohani selain Paulus. Alkitab menyebutkan di antaranya adalah Apolos dan Kefas (1 Korintus 3:22). Masalahnya kemudian adalah jemaat merasa bahwa pemimpin yang satu lebih unggul daripada pemimpin yang lain. Jemaat pun menjadi terpecah-belah karena saling menyombongkan diri bahwa pemimpinnya adalah yang paling hebat. Tidak berhenti sampai di situ, mereka mulai membanding-bandingkan pemimpin yang satu dengan yang lain dalam hal kesuksesan hidup duniawinya. Mereka melihat bahwa Paulus hidupnya berbeda dari para pemimpin yang lain.Ia kerapkali menderita (1 Korintus 4:11-13), punya kelemahan fisik (2 Korintus 12:7), dan menghidupi diri dengan pekerjaan tangan yang berat dan relatif kasar, yakni sebagai tukang kemah (1 Korintus 4:12, Kisah Rasul 18:3). Mereka mempermasalahkan bagaimana seorang pelayan Tuhan memiliki sedemikian banyak kelemahan. Apalagi dibandingkan mereka yang memiliki banyak karunia dan berkat. Maka mereka pun meremehkan Paulus.
Paulus memperingatkan jemaat Korintus untuk mengoreksi pemahaman mereka yang keliru tentang kehidupan seorang pelayan Tuhan. Kemegahan seorang pelayan Tuhan tidaklah terletak pada kesusksesan duniawi yang dimilikinya. Paulus menyampaikan peringatannya pertama-tama dengan bahasa sindiran: kami bodoh-kamu arif, kami lemah-kamu kuat, kamu mulia-kami hina (1 Korintus 4:10). Sindiran ini bertujuan untuk menyadarkan jemaat Korintus bahwa manusia yang rohani dan menerima karunia dan i Allah serta bermegah atas karunia tersebut justru adalah manusia yang bersedia menjadi pelayan (hamba). Kalau sebagai seorang hamba Paulus pernah mengalami lapar, haus, telanjang, dipukul, hidup mengembara, dan dianggap sebagai sampah dunia (1 Korintus 4:11-12), maka justru itulah kemegahannya. Kemegahan karena boleh mengalami kondisi Kristus yang menderita dan dihina saat hidup di dunia. Demikian juga saat menyikapi penderitaan. Bagi Paulus hamba haruslah meneladan Kristus, seperti perkataannya: kalau kami dimaki, maka kami memberkati; kalau kami dianiaya, maka kami sabar; kalau kami difitnah, maka kami tetap menjawab dengan ramah (1 Korintus 4:12-13).

Beberapa prinsip soal saling mengingatkan yang dapat dipelajari dari Paulus:
Peringatan bukan untuk mempermalukan (ayat 14). Tujuan dari peringatan adalah untuk membuat orang yang diperingatkan menyadari kesalahannya dan kembali ke jalur yang benar. Kadang orang tidak tahu kalau ia sudah berbuat salah dan keluar dari jalur yang benar. Kadang tidak ada orang yang memperingatkannya dengan berbagai alasan sehingga terjadilah pembiaran. Oleh karena itu dibutuhkan orang yang bersedia memperingatkan. Itulah yang Paulus lakukan. Ia tidak mempermalukan, melainkan menunjukkan bahwa sebuah kesalahan, apalagi berkaitan dengan kehidupan rohani, tidak boleh dibiarkan terus terjadi. Jika demikian maka orang akan terus berkubang dalam kesalahan yang sama dan mengulanginya lagi di lain waktu.

Peringatan keluar dari hati yang mengasihi (ayat 14-15). Seorang bapa yang mengasihi anaknya tidak mungkin membiarkan anaknya jatuh dalam jurang kesalahan tanpa berusaha untuk memperingatkannya. Bagaimanapun caranya sang bapa akan mencegahnya supaya anaknya tidak celaka. Paulus dengan jelas mengatakan bahwa peringatannya kepada jemaat Korintus berdasarkan rasa kasihnya seperti rasa kasih seorang bapa kepada anaknya.

Peringatan bukan sekadar kata-kata, namun disertai dengan teladan hidup (ayat 16). Paulus mengatakan "turutilah teladanku." Dengan kata lain Paulus mengatakan "Jangan hanya melakukan apa yang saya katakan, tetapi lakukan seperti yang saya sudah lakukan." Teladan hidup berbicara jauh lebih efektif daripada sekadar kata-kata belaka.

Pendampingan berkelanjutan (ayat 17). Setelah memperingatkan, Paulus mengutus Timotius untuk mendampingi jemaat Korintus agar kehidupan rohaninya senantiasa terjaga lurus. Timotius adalah "anak rohani" Paulus yang setia kepada Tuhan. Walaupun Timotius masih muda, namun ia dewasa di dalam iman. Memang lazimnya nasihat diberikan dari orang yang lebih tua kepada orang yang lebih muda. Namun seorang pendamping rohani tidak harus seseorang yang lebih tua usianya, sebab bisa saja orang yang sudah dewasa usianya tetapi tidak dewasa di dalam imannya. Paulus percaya bahwa ia tidak salah mengutus Timotius kepada jemaat Korintus untuk mendampingi kehidupan rohani mereka agar terjaga tetap lurus.

pengenaan
Saling mengingatkan perlu dilakukan dalam sebuah keluarga apabila ada anggota keluarga yang salah. Mengingatkan harus ada prinsip-prinsip yang diperhatikan, yakni bukan untuk mempermalukan, keluar dari hati yang mengasihi, bukan sekadar kata-kata namun disertai teladan hidup. Ketiga hal tersebut sebenarnya sudah cukup, namun akan lebih baik lagi jika disertai dengan pendampingan berkelanjutan.
Di era digital ini kadang orang mengingatkan tidak lagi secara langsung, melainkan secara tidak langsung dengan menggunakan media sosial, misalnya dengan menggunakan aplikasi WhatsApp atau memberi komentar di laman media sosial orang lain. Sisi negatifnya, hal tersebut kadang dilakukan dengan tujuan mempermalukan orang yang diperingatkan. Hal ini jelas tidak benar. Mempermalukan seseorang di depan orang lain tidak akan membuat orang yang diperingatkan menjadi lebih baik atau lebih benar, melainkan menjadi sakit hati atau menutup diri.
Kadang-kadang orang juga mengingatkan bukan untuk tujuan baik, tetapi untuk menyindir. Ini juga tidak benar. Saling mengingatkan yang semacam itu tidak berdasarkan hati yang mengasihi. Misalkan seorang ayah memberikan ayat dari Efesus 6:1 kepada anaknya, "Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian." Lalu si anak membalas dengan ayat Efesus 6:4, "Dan kamu, bapa-bapa,janganiah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu,..." Menyindir jelas berbeda dengan mengingatkan. Menyindir dapat berdampak pada psikologi seseorang yang akhirnya menimbulkan kebencian.
Terkait hal orang yang mengingatkan, lazimnya orang yang lebih tua kepada mengingatkan orang yang lebih muda. Tetapi ketika remaja menyadari bahwa apa yang dilakukan orang tua tidak baik dan tidak benar, mereka juga perlu diingatkan, tetapi tetap dengan sikap hormat
Bagi orang-orang yang yang diingatkan sebaiknya menerimanya dengan hati terbuka. Sebab nasihat yang baik dapat berdampak menjadikan hidup menjadi lebih benar dan lebih baik. Mengabaikan peringatan yang baik bisa berakibat fatal. Contohnya Raja Firaun yang mengabaikan peringatan Musa dan mengakibatkan seluruh rakyat Mesir menanggung akibatnya.

langkah-langkah penyampaian

1. Awali dengan melakukan permainan (lihat Kegiatan I). Setelah selesai tanyakan kepada remaja apakah sulit atau tidak menuliskan sebuah saran untuk temannya. Tanyakan juga bagaimana perasaan remaja yang mendapatkan saran seperti itu.
2. Sampaikan Fokus bahwa saling mengingatkan itu penting namun kadang orang tidak melakukannya karena sungkan atau alasan lainnya. Padahal peringatan adalah salah satu bentuk kasih kepada orang lain, sebab peringatan bertujuan mencegah sesuatu yang lebih buruk terjadi pada orang yang diperingatkan (lihat Fokus).
3. Jelaskan bahwa Paulus juga pernah memperingatkan jemaat Korintus. Mereka diperingatkan karena memiliki persepsi yang salah tentang bagaimana kehidupan seorang pemimpin jemaat. Mereka menilai bahwa seorang pemimpin yang hebat pastilah mereka yang juga sukses secara duniawi. Lantas mereka yang berada di bawah pimpinan "orang-orang sukses" ini sombong rohani. Paulus memperingatkan dengan tegas bahwa itu adalah pemahaman yang keliru. Paulus mengingatkan bahwa kemegahan seorang pemimpin jemaat adalah karena boleh mengalami kondisi Kristus yang menderita dan dihina saat hidup di dunia. Peringatan Paulus disampaikan dengan tegas namun dengan tujuan baik, bukan untuk mempermalukan mereka (lihat Penjelasan Teks).
4. Sampaikan bahwa salah satu bentuk kasih kepada anggota keluarga adalah memperingatkan jika ada yang melakukan kesalahan atau hal yang tidak benar (lihat Pengenaan). Memperingatkan dapat dilakukan dengan memperhatikan prinsip-prinsip yang dipelajari dari Paulus saat memperingatkan jemaat Korintus (lihat Penjelasan Teks). Tegaskan bahwa peringatan diberikan untuk tujuan baik dan bukan untuk mempermalukan. Singgung soal peringatan tidak langsung melalui media sosial yang sering dilakukan orang di era digital ini. Kadang-kadang orang menggunakannya secara salah, yakni untuk mempermalukan ataupun menyindir. Tegaskan bahwa itu bukan cara memperingatkan yang benar (lihat Pengenaan).
5. Ceritakan sinopsis film "Keluarga Cemara" (lihat Ilustrasi). Kaitkan dengan tema hari ini, yakni bahwa saling mengingatkan diperlukan dalam sebuah keluarga supaya kesalahan tidak semakin menjadi-jadi atau persoalan menjadi semakin pelik.
6. Akhiri dengan Kegiatan 2.

kegiatan
Kegiatan 1 Permainan

1. Bagikan kepada remaja selembar kertas kecil.
2. Mintalah remaja membentuk sebuah lingkaran (atau sesuai kondisi)
3. Mintalah remaja untuk menuliskan sebuah saran pendek di dalam kertas itu dan memberikannya kepada teman di sebelah kanan/ kirinya. Saran itu harus bersifat membangun dan bernada positif, misalnya "lebih banyaklah tersenyum ;) "beranilah berkenalan ;)", "rajinlah datang ke
persekutuan ;)", dan sebagainya.
4. Buatlah kesepakatan bahwa permainan ini bertujuan positif, sehingga tidak ada yang menulis saran dengan nada negatif atau menyindir, dan bagi penerimanya tidak perlu merasa tersinggung atau sakit hati.

Kegiatan 2 - Merancang Kegiatan Pertemuan Keluarga
Ajak remaja merancang kegiatan pertemuan keluarga yang di dalamnya terdapat kesempatan untuk saling mengingatkan. Misalnya setiap anggOta keluarga diberi kesempatan untuk menyampaikan hal¬hal positif dan negatif (di sini peringatan/ saran/ nasihat dimasukkan) dari seorang anggota keluarga yang lain. Giliran bisa diatur dengan cara si A menyampaikan pendapatnya tentang si B, si B tentang si C, dan seterusnya. Atau bisa dengan cara diundi. Setiap orang menyampaikan pendapatnya tentang orang yang namanya tertulis di undian yang didapatkannya.

ilustrasi
Sinopsis film "Keluarga Cemara"


Abah, Emak, Euis dan adiknya Ara harus memulai kehidupan baru di kampung. Rumah mereka di Jakarta disita debt collector. Rumah itu dijadikan jaminan oleh Abah dan Uwak untuk modal usaha properti. Nahas, usaha tersebut bangkrut. Setelah seluruh harta mereka disita untuk melunasi utang, Seketika mereka sekeluarga jatuh miskin.
Abah terpaksa mencari pekerjaan baru. Mulanya dia mencari kerja di Jakarta tapi ditolak. Akhirnya, abah kerja serabutan, termasuk menjadi kuli bangunan. Sekuat tenaga abah berusaha memperbaiki kondisi keuangan keluarga, sampai kelelahan. Nahas kembali menghampirinya, abah mengalami kecelakaan kerja sehingga kakinya patah.
Saat Abah masih kesulitan berjalan, emak menggantikan posisinya dengan berjualan opak. Emak dibantu rekan bisnisnya Ceu Salmah dan Euis yang berjualan opak di sekolah.
Setelah pindah ke kampung, Euis punya kesempatan untuk lepas rindu dengan teman-temannya yang hendak berkunjung ke kota dekat kampungnya. Emak langsung memberinya izin, tapi abah tak setuju dan malah memarahi Euis.
Nekat, Euis pergi ke kota menemui teman-temannya selepas pulang sekolah. Namun, ternyata teman-temannya sudah menemukan pengganti dirinya. Perasaan terombang-ambing di tengah perubahan drastis hidupnya, plus kemarahan abah, membuat Euis melulu menahan kesedihannya.
Euis tak tahan dengan sikap abah yang berubah galak dan selalu menutup-nutupi krisis dalam keluarga dengan janji-janji. Bara di dadanya akhirnya terbakar dan meledak. Euis memuntahkan segala kekesalannya.

Tak ada keluarga yang bebas masalah. Namun masalah tak akan berhasil memecah-belah keluarga bila tiap anggota keluarga bekerjasama menghadapinya. Pesan inilah yang ingin disampaikan film Keluarga Cemara (2019).
Fokus cerita bukan pada hidup yang kekurangan uang, melainkan usaha seluruh anggota keluarga mengatasi shock akibat perubahan hidup. Semula, keluarga Cemara merupakan kelas menengah atas yang bisa menjangkau fasilitas lengkap. Hal itu seketika berubah menjadi serba kekurangan.
Abah merasa harus memikul tanggung jawab atas segala petaka yang diterima keluarganya. Dengan memikul beban sosial sebagai kepala keluarga, ia menganggap emak, Euis, dan Ara adalah tanggungannya. Rasa bersalah dan tanggung jawab yang dirasakan abah sebetulnya tak pernah digugat oleh emak, Euis, ataupun Ara. Hal ini muncul dari dalam dirinya berkaitan dengan nilai-nilai patriarkis yang ia internalisasi, bahwa lelaki adalah kepala keluarga. Sementara dengan kondisi kaki patah dan tak bisa memberi nafkah pada keluarga, abah mengalami puncak rasa ketidakbergunaannya.
Kondisi psikologis abah yang tertekan membuatnya berubah menjadi sosok galak dan suka memarahi Euis. Kegalakan abah sampai membuat Ara tak ingin tumbuh dewasa. "Kalau Ara udah umur 13 tahun, abah pasti marah-marahin Ara kayak ke Teteh Euis sekarang," kata Ara.
Euis, anak pertama, juga mengalami pergulatan psikis. Sebagai remaja yang sedang mencari identitas, ia begitu kaget ketika seluruh kesenangan remajanya hilang begitu saja. Pahitnya hidup ia telan pelan-pelan sambil mencoba tegar. Ara yang baru masuk SD. Ara belum tahu banyak hal, bahkan tak mengerti arti kata bangkrut. Ia digambarkan selalu ceria dan mengaggap tidak ada masalah berarti dalam keluarga.
Sementara, Emak menjadi sumber kebijaksanaan keluarga. Dengan ketenangan dan kesabarannya, emak menemani tiap anggota keluarga melewati momen krisis. Dar i emaklah Euis belajar untuk menerima keadaan. Dari emak pula abah belajar bahwa kesulitan keluarga harus dihadapi bersama, bukan ditanggung sendiri oleh kepala keluarga. Pelajaran dari emak membuat abah akhirnya sadar untuk lebih mendengarkan pendapat anak dan istrinya, bukan menjadi sosok yang mau menanggung dan memutuskan semua sendiri.Seiring dengan kemauan abah mendengarkan pendapat anak dan istrinya, kebahagiaan kembali tumbuh dalam keluarga Cemara.

Dikutip dengan perubahan seperlunya dari https://historia.id/kultur/articles/romantisme-keluarga¬cemara-vVJ31)



 
   



 

 

   


 

A R S I P  
| derap desember 0118 | derap desember 0218 | derap desember 0318 |
| derap desember 0418 | derap desember 0518 | derap januari 0119 | derap januari 0219 | derap januari 0319 | derap januari 0419 |
| derap februari 0119 | derap februari 0219 | derap februari 0319 | derap februari0419 |
| derap maret 0119 | derap maret 0219 | derap maret 0319 | derap maret 0419 | derap maret 0519 |
| derap april 0119 | derap april 0219| derap april 0319 | derap april 0419 |
| derap mei 0119 | derap mei 0219 | derap mei 0319 | derap mei 0419 |
| derap juni 0119 | derap juni 0219 | derap juni 0319 | derap juni 0419 | derap juni 0519 |
| derap juli 0119 | derap juli 0219 | derap juli 0319 | derap juli 0419 |
|derap agustus 0119 | derap agustus 0219 | derap agustus 0319 | derap agustus 0419 |
| derap september 0119 | derap september 0219 | derap september 0319 | derap september 0419 | derap september 0519 |
| derap oktober 0119 |
 


Sahabat Surgawi
,
 Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja antar denominasi OnLine
www.sahabatsurgawi.net - webmaster@sahabatsurgawi.net, Copyright © 1999