HOME KESAKSIAN DOA ABOUT US CONTACT US LINK

 

















 
Cara mendapatkan Derap Remaja

Pembayaran dapat dilakukan dengan 2 cara :
1. Via Bank:
Tahapan BCA no. 0372999053, an. Wisnu Sapto Nugroho
Segera kirimkan pemberitahuan pengiriman bank.
2. Via Pos Wesel:
dengan cara memakai blangko yang dilampirkan dalam surat pengantar.
Pdt. Wisnu Sapto Nugroho, Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Alamat Sekretariat & Distribusi DERAP REMAJA:
Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281
Telp. (0274) 514721 Fax(0274) 543001

Harga per eksemplar Rp. 40.000,-
 

DERAP REMAJA EDISI 46
Juli - Desember 2019
Bahan Pembinaan Remaja Gereja Kristen Indonesia


 
Keluarga yang Saling Memaafkan
Kejadian 45:1-15
| Keluarga yang Saling Mengingatkan 1 Korintus 4:14-17 |
Keluarga yang Saling Menghargai
Efesus 5:20-21,6:1-4
| Keluarga yang Saling Berkomunikasi Kejadian 37:1-11
 
  Kesaksian dan Pelayanan dalam Keluarga

    Keluarga yang Saling Menghargai   Minggu Ketiga : 20 Oktober 2019
Bacaan : 
Efesus 5 : 20-21, 6 : 1-4
Bahan yang diperlukan :
 

fokus
Salah satu gaya hidup yang menjamur di tengah generasi milenial saat ini adalah gaya hidup individualisme. Gaya hidup ini menggambarkan masalah sosial, ekonomi, politik sebagai sesuatu yang bersifat personal dan individual, karenanya dapat dipecahkan pada taraf personal. Pada gilirannya, gaya hidup ini membentuk seseorang untuk tidak peduli pada keberadaan orang lain, tidak menghargai dan merasa tidak memerlukan kehadiran orang lain untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi. Sebagai pengikut Kristus, remaja Kristen justru diajak untuk menghargai sesama, saling membantu ketika menghadapi persoalan dan menjadikan dirinya juga berharga kala hadir bagi sesama, termasuk ketika hadir di tengah keluarga. Pelajaran hari ini mengajak remaja bersedia untuk saling menghargai dalam keluarga.


 

penjelasan teks
Bacaan kali ini merupakan salah satu bagian dari nasihat penulis surat Efesus terhadap keluarga (termasuk hamba) yang dimulai dari Efesus 5:22 sampai 6:10. Setelah menasihati suami isteri, sekarang Paulus menasihati para orang tua tentang bagaimana mereka harus mendidik anak-anaknya dan menasihati anak-anak untuk bersikap kepada orangtua mereka.
Konteks pada zaman itu di seluruh jajahan Romawi berlaku hukum patria potestas, yaitu hukum yang menyatakan betapa tingginya kuasa ayah. Sejak seorang anak lahir, seorang ayah Romawi bisa dengan sesuka hati mengakuinya sebagai anaknya atau membuangnya (jadi "anak gampang" - liar). Kalau seorang anak diakui ayahnya, maka sang ayah akan mendidiknya dengan keras, dapat mengikat dan menyesah anaknya sesuka hati bahkan menjualnya sebagai budak belian dan memberi wewenang untuk hukuman mati bagi anaknya. Tujuan kerasnya pendidikan anak itu adalah supaya si anak tumbuh menjadi orang yang berguna, unggul secara fisik maupun mental.

Nasihat penulis surat Efesus sungguh bernada lain,"Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan." Frasa "jangan membangkitkan amarah" di sini adalah suatu tindakan sengaja dan dilakukan terus menerus (kata Yunani: parorgizete, kata kerja imperfek = suatu pekerjaan yang belum selesai dikerjakan, dan dilakukan secara berulang-ulang). Salah satu tugas orang tua adalah mendidik anak¬anaknya di dalam ajaran dan nasihat Tuhan, tapi saat mendidik itu orang tua tidak menyebabkan kemarahan atau kebencian dalam diri anak-anak, melainkan untuk membuat anak-anak tumbuh sebagai orang yang mengenal jalan Tuhan. Jadi, penulis surat Efesus melarang para orang tua mendidik anak-anak secara sengaja dengan maksud menyakiti hati dan fisik anak-anak. Mendisiplinkan dan mendidik tidak pernah dimaksud oleh Allah untuk menimbulkan dendam dan luka batin dalam hati anak-anak. Justru, sebenarnya anak-anak diharapkan merasakan kasih di balik tindakan itu.
Sementara kepada anak-anak diberikan perintah untuk menaati dan menghormati orang tua mereka di dalam Tuhan. "Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian" (ayat 1). Hal ini sesuai perintah kelima dalam Dasa Titah: "Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya panjang umurmu di tanah yang diberikan Tuhan, Allahmu, kepadamu" (Keluaran 20:12). Kalau kepada para orangtua dituntut untuk mendidik anak dalam nasihat dan ajaran Tuhan - bukan berdasarkan sekehendak dan sesuka hati, maka di sisi lain anak-anak dituntut taat pada orangtua dalam kaitan dengan ketaatan di dalam Tuhan. Kata "taat" di sini dalam bahasa Yunani dipakai kata hupakouo, yang secara harfiah diartikan mendengarkan dengan penuh perhatian, memerhatikan dan menyesuaikan diri pada suatu perintah atau otoritas. Itu berarti anak-anak dalam sebuah keluarga diminta di dalam Tuhan mendengarkan dan memerhatikan nasihat orangtuanya.
Sementara anak-anak dalam keluarga Romawi menghargai dan menghormati orangtua karena takut akan besarnya kuasa sang ayah, maka anak-anak dalam keluarga Kristen menghormati dan taat pada orang tua karena takut akan Tuhan. Orang tua menjadi wakil kehadiran Tuhan yang memelihara dengan penuh kasih, sehingga anak-anak diajak untuk merespons dengan ketaatan. Ajakan kepada orang tua dan anak-anak itu dilandasi relasi yang saling menghargai satu sama lain. Saling menghargai itu dimulai dengan keinginan untuk merendahkan diri satu sama lain. Dalam bagian sebelum perikop yang mengatur hubungan suami-istri, orang tua-anak, tuan-hamba ini penulis surat Efesus mengingatkan agar relasi yang dibangun didasari keinginan saling merendahkan diri satu sama lain di dalam takut akan Tuhan (Ef. 5:21).

pengenaan
Relasi orang tua dan anak remaja yang ada dalam masa pubertas seringkali diwarnai dengan suasana "permusuhan". Orang tua memandang anak remajanya, masih seperti anak kecil yang perlu diatur sedemikian rupa. Sementara remaja melihat orang tua sebagai pihak yang mengekang kebebasannya dalam mengekspresikan diri. Apalagi ditambah gaya hidup individualisme yang makin kurang memberi tempat pada kehadiran dan peran orang lain, maka tidak sedikit remaja yang makin kurang menghargai kemampuan dan peran orang tuanya. Akibatnya konflik antara orang tua dan anak kerap terjadi, yang kemudian kian memudarkan rasa saling menghargai di antara keduanya.
Sekalipun secara umum ada hal seperti itu terjadi dalam hubungan remaja dan orang tua, remaja Kristen diajak melakukan sesuatu yang berbeda, yaitu menghargai orang tuanya di dalam Tuhan. Landasan menghargai dan taat pada orangtua bukan karena para remaja itu ketakutan pada kuasa besar yang kadang disertai tindakan keras dari orang tua. Remaja menaati orang tua karena takut akan Tuhan. Orang tua menjadi wakil kehadiran Tuhan yang memelihara dan mengasihi para remaja. Oleh karena itu sebagai remaja Kristen, ajakan untuk menaati orangtua perlu diwujudkan dengan mendengarkan dan memerhatikan apa yang orang tua ajarkan atau nasihatkan.

langkah-langkah penyampaian

1. Awali dengan meminta musing-musing remaja menuliskan bentuk penghormatan mereka kepada orangtua. Jika mungkin, minta beberapa remaja untuk membagikannya di kelompok besar.
2. Masuk dalam Penjelasan Teks. Paparkan latar belakang konteks hubungan orangtua (ayah) dengan anak pada budaya Romawi. Hubungan orangtua dan anak dipenuhi ketimpangan dan ketakutan. Jelaskan tentang hubungan orangtua dan anak dalam keluarga kristiani menurut penulis surat Efesus. Semua dilakukan di dalam Tuhan: orangtua mendidik anak-anak dalam ajaran dan nasihat Tuhan, sementara anak-anak diminta menaati orangtua di dalam Tuhan. Keduanya melakukan hal itu atas dasar saling menghargai dan dikerjakan dengan saling merendahkan diri di dalam kasih Kristus.
3. Pada bagian Pengenaan, ingatkan arti hupakouo atau taat kepada orang tua. Upaya menghargai orang tua dapat dikerjakan dengan mendengarkan dan memerhatikan apa yang diajarkan dan dinasihatkan orang tua. Mendengarkan dengan penuh perhatian ini membawa remaja pada keadaan mau menerima dan menghargai orang Yang berbeda sudut pandang dalam melihat suatu persoalan; sesuatu yang saat ini justru sulit dilakukan oleh generasi milenial.
4. Masuk dalam Kegiatan. Mintalah remaja menuliskan tekad untuk menghargai orang tua lewat hal-hal sehari-hari di tengah keluarga.
5. Akhiri dengan Ilustrasi. Ajak remaja untuk menghargai kehadiran dan kerja keras orang tua selagi masih ada kesempatan lewat hal-hal sederhana dalam keseharian.

kegiatan
 

-Tekadku-

  Aku mau menghargai orang tua dengan cara:
1.
2.
3.
4.


ilustrasi

Video: I Didn't Like My Father
(https://www.youtube.com/watch?v=ynSdkDZw2FQ)
 

 

   


 

A R S I P  
| derap desember 0118 | derap desember 0218 | derap desember 0318 |
| derap desember 0418 | derap desember 0518 | derap januari 0119 | derap januari 0219 | derap januari 0319 | derap januari 0419 |
| derap februari 0119 | derap februari 0219 | derap februari 0319 | derap februari0419 |
| derap maret 0119 | derap maret 0219 | derap maret 0319 | derap maret 0419 | derap maret 0519 |
| derap april 0119 | derap april 0219| derap april 0319 | derap april 0419 |
| derap mei 0119 | derap mei 0219 | derap mei 0319 | derap mei 0419 |
| derap juni 0119 | derap juni 0219 | derap juni 0319 | derap juni 0419 | derap juni 0519 |
| derap juli 0119 | derap juli 0219 | derap juli 0319 | derap juli 0419 |
|derap agustus 0119 | derap agustus 0219 | derap agustus 0319 | derap agustus 0419 |
| derap september 0119 | derap september 0219 | derap september 0319 | derap september 0419 | derap september 0519 |
| derap oktober 0119 | derap oktober 0219 |
 


Sahabat Surgawi
,
 Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja antar denominasi OnLine
www.sahabatsurgawi.net - webmaster@sahabatsurgawi.net, Copyright © 1999