HOME ABOUT US KESAKSIAN AGENDA GEREJA LINK CONTACT US



 

Derap Remaja Edisi 42
Juli-Desember 2017
Bahan Pembinaan Remaja Gereja Kristen Indonesia


Pembayaran dapat dilakukan dengan 2 cara :

1. Via Bank:
Tahapan BCA no. 0372999053, an. Wisnu Sapto Nugroho
Segera kirimkan pemberitahuan pengiriman bank.
2. Via Pos Wesel:
dengan cara memakai blangko yang dilampirkan dalam surat pengantar.
Pdt. Wisnu Sapto Nugroho, Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Alamat Sekretariat & Distribusi DERAP REMAJA:
Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Harga per eksemplar Rp. 40.000,-

 

Oktober 2017
Keluarga Anugerah Tuhan

 
74 Keluargaku Surgaku   1

80 Tuhan Kepala Keluarga

  2
86 Pray, Eat, Love
  3

92 Supporting

  4

98 Saling Mengampuni

  5

Oktober 2017 Minggu I

Keluargaku Surgaku
Bacaan:
Mazmur 128
Bahan yang diperlukan: -

 

 

Fokus


Keluargaku surgaku adalah gambaran keluarga yang menyenangkan, nyaman, bahagia, dan sejahtera. Setiap orang pasti menginginkannya. Bukan berarti bahwa keluarga ibarat surga itu bebas masalah. Yang dimaksudkan adalah sebuah keluarga yang sehat secara emosional, yang setiap anggota keluarganya saling menyayangi, saling menghargai, dan saling bertanggung jawab. Keluarga yang memiliki orang tua yang mampu membawa seluruh anggota keluarga mengarungi kesulitan dan kebahagiaan bersama-sama. Keluarga yang memiliki anak-anak yang bahagia, merasa nyaman dan terlindung di dalam keluarga. Keluarga yang demikian tentu tidak terjadi dengan tiba-tiba, melainkan harus diupayakan oleh setiap anggotanya. Upaya yang paling dasar adalah upaya untuk memiliki sikap hidup yang takut akan Tuhan. Sikap hidup yang takut akan Tuhan akan menuntun setiap anggota keluarga (suami, isteri, anak) menjalankan perannya masing-masing dengan bertanggung jawab sesuai dengan prinsip-prinsip firman Tuhan. Jika takut akan Tuhan menjadi dasar utama hidup berkeluarga, maka setiap anggotanya pasti saling menyayangi, menghargai, dan bertanggung jawab. Maka, keluargaku surgaku bukanlah mimpi semata, melainkan kenyataan yang dapat diraih. Hal ini berlaku juga bagi keluarga dalam arti yang lebih luas, seperti "keluarga" gereja, "keluarga" sekolah, atau "keluarga" masyarakat. Pelajaran hari ini mengajak remaja untuk ikut serta mewujudkan surga di dalam keluarga.

Penjelasan Teks

Mazmur 128 adalah mazmur ziarah. Mazmur ziarah adalah mazmur yang dinyanyikan oleh orang Yahudi dalam perjalanan berziarah ke Yerusalem untuk beribadah di Bait Allah. Mazmur ini berbicara mengenai kebahagiaan di dalam keluarga yang akan diperoleh jika keluarga hidup dengan takut akan Tuhan. Banyak penafsir yang mengatakan bahwa mazmur ini juga dinyanyikan bagi pasangan baru dalam acara pernikahan menurut tradisi Yahudi.
Mazmur 128 diawali dengan pernyataan,"Berbahagialah setiap orang yang takut akan Tuhan...." Kalimat "orang yang takut akan Tuhan" dijelaskan kemudian sebagai orang yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya. Artinya, orang yang takut akan Tuhan tidak berjalan menurut keinginannya sendiri ataupun menuruti nasihat yang tidak benar. Sekalipun jalan Tuhan tidak selalu mudah, ia tetap memilih berjalan di jalan Tuhan. Ia akan menghindari jalan yang sesat dan menuju kebinasaan. Dengan kesadaran penuh ia hidup taat kepada Tuhan.

Selanjutnya, dikatakan bahwa orang yang takut akan Tuhan akan berbahagia. Kata "berbahagialah" dalam bahasa aslinya adalah 'esher yang berarti "diberkatilah." Artinya, kepada orang yang takut akan Tuhan, jaminan berkat diberikan; dan berkat itu akan membuat ia berbahagia. Berkat tersebut dijabarkan dalam ayat-ayat berikutnya, yakni:

1 . Apabila engkau memakan hasil jerih payah tanganmu, berbahagialah engkau dan baiklah keadaanmu! (ay. 2)
Tuhan memberkati pekerjaan orang yang takut akan Dia. Jelas di sini bahwa orang yang takut akan Tuhan tidak hidup bermalas-malasan, melainkan bekerja. Pekerjaannya akan diberkati Tuhan sehingga ia dapat menikmati hasil keringatnya itu dengan penuh sukacita. Harta benda yang diperoleh dari hasil kerja keras dan dengan cara yang benar akan dapat dinikmati oleh seisi rumah dengan bahagia. Keluarganya akan hidup makmur dan sejahtera (terjemahan BIMK).

2. Isterimu akan menjadi seperti pohon anggur yang subur di dalam rumahmu... (ay. 3)
Anggur merupakan bahan pangan yang penting bagi orang Yahudi. Selain memberikan kesegaran, zat besi dan mineral-mineral pokok yang terkandung di dalam buah anggur menjadi sumber gizi yang baik untuk kesehatan. Oleh karena itu pohon anggur akan dirawat dengan baik oleh pemiliknya supaya dapat tumbuh subur serta menghasilkan buah yang lebat dan manis. Jika masa panen tiba, buah anggur akan dituai dengan penuh sukacita, diiringi nyanyian dan sorak-sorai. Pohon anggur yang subur akan terus menghasilkan buah yang dapat dipanen berulang kali. Dalam bahasa lambang, pohon anggur merupakan lambang kemakmuran dan damai sejahtera bagi orang Yahudi. Ketersediaan anggur di dalam rumah orang Yahudi menjadi jaminan kesejahteraan seluruh anggota keluarga. Kiasan seorang istri seperti pohon anggur yang subur di dalam rumah menggambarkan keberadaannya di dalam rumah memberikan kesegaran, sukacita, serta menjamin kesejahteraan seluruh anggota keluarga.

3. ... anak-anakmu seperti tunas pohon zaitun sekeliling mejamu! (ay. 3)
Pohon zaitun merupakan salah satu pohon yang berharga bagi orang Yahudi. Pohonnya kokoh dan berbuah lebat. Bila tidak ada gangguan yang berarti, usia pohon zaitun bisa mencapai beberapa abad. Kegunaannya sangat banyak. Cabang-cabangnya digunakan untuk membangun pondok-pondok pada hari raya bulan ketujuh. Kayunya dapat dipergunakan untuk membuat perkakas rumah tangga. Buahnya dapat dimakan. Minyaknya multi manfaat seperti: dipakai dalam peribadatan bersamaan dengan persembahan korban, untuk membuat roti, sebagai bahan dasar salep, untuk merias rambut, untuk bahan bakar lampu minyak, juga berfungsi sebagai obat. Jika pohon zaitun hampir mati atau ditebang, maka tunas baru akan tumbuh. Jumlahnya bisa sampai lima batang pohon baru yang bermunculan di seputar pohon induk. Penggambaran "anak-anakmu seperti tunas pohon zaitun sekeliling mejamu" melambangkan anak-anak dari orang yang takut akan Tuhan kelak akan tumbuh kokoh dan kuat serta memiliki kedekatan dengan orang tua. Kelak saat orang tua menjadi renta, anak-anaknyapun dapat ganti memberi perlindungan kepada orang tuanya.

Semua berkat di atas akan tercurah di dalam keluarga di mana kepala keluarganya hidup dengan takut akan Tuhan. "Sesungguhnya demikianlah akan diberkati orang laki-laki yang takut akan TUHAN" (ay. 4), demikian tulis pemazmur. Mengapa laki-laki? Dalam budaya patriarkat, peranan seorang laki-laki sangat penting di dalam keluarga, di masyarakat, dan juga di bidang keagamaan.

Laki¬laki menjadi teladan dalam segala aspek kehidupan, sehingga ia perlu menerapkan sikap takut akan Tuhan. Nyanyian ziarah ini ditutup dengan doa pengharapan akan umur panjang bagi orang yang takut akan Tuhan, serta kebahagian bagi mereka karena melihat anak cucunya. Juga doa agar keluarganya mendapat berkat-berkat terbaik dari Allah, yang dilambangkan berkat dari Sion, karena Sion dianggap sebagai kota Allah (ay. 5). Terkandung pula keyakinan dalam doa ini bahwa keluarga yang sejahtera karena hidup dengan takut akan Tuhan, akan menjadi cikal bakal kesejahteraan bangsa (ay. 6).


Pengenaan

 
Pengenaan inti dari teks Alkitab hari ini bagi kehidupan remaja adalah pentingnya memiliki sikap takut akan Tuhan sebagai dasar perilaku hidup sesehari di dalam keluarga. Meskipun latar belakang budaya patriarkat memberi kesan seolah hanya kepala keluarga (laki-laki) saja yang harus memiliki sikap takut akan Tuhan, namun perlu dipahami bahwa sejak awal (ay. 1) teks ini berbicara kepada "setiap orang." Itu berarti, bukan hanya ayah saja yang harus hidup di dalam takut akan Tuhan, melainkan seluruh anggota keluarga, termasuk ibu dan anak-anak. Itu berarti juga bahwa jika terjadi seorang kepala keluarga tidak hidup di dalam takut akan Tuhan, setiap anggota keluarga lainnya diharapkan tetap memelihara hidup di dalam takut akan Tuhan. Berkat Tuhan tetap akan diberikan bagi setiap orang yang hidup di dalam takut akan Tuhan.

Remaja adalah bagian dari keluarga. Perilaku remaja dalam hidup sesehari sebagai anak, ikut menjadi salah satu unsur kebahagiaan di dalam keluarga. Sikap-sikap seperti menghormati orangtua, menghargai aturan keluarga, sikap terbuka dan komunikasi yang baik dengan orang tua, peduli terhadap masalah-masalah yang sedang dihadapi orang tua, toleransi terhadap perbedaan pendapat, menjauhi pergaulan yang buruk, merupakan penjabaran dari sikap hidup yang takut akan Tuhan. Hal ini tentu tidak sulit dilakukan bagi remaja yang tinggal dalam keluarga yang harmonis dan memang hidup di dalam takut akan Tuhan. Namun bukan hal yang mustahil untuk dilakukan remaja yang tidak memiliki kondisi yang sama.

Kelak pun ia akan menjadi orang tua. Menanamkan sikap takut akan Tuhan sejak awal akan menolong remaja untuk dapat menciptakan sebuah keluarga yang menjadi surga bagi setiap anggotanya, baik saat ini maupun kelak saat ia berkeluarga.

Surga bukanlah khayalan semata atau sesuatu yang berada di awang-awang (idealis) sehingga tidak dapat dicapai. Namun surga adalah real (nyata), asal manusia mau merealisasikannya. Menciptakan surga menjadi mungkin dengan cara menciptakan suasana yang aman dan menyenangkan, bak surga. Dalam lingkup yang lebih luas, remaja dapat "menciptakan surga" di gereja, di sekolah, di masyarakat, di manapun remaja berada, sebab pada hakikatnya gereja, sekolah, dan masyarakat juga merupakan keluarga besar bagi remaja. Berikut ini alternatif kegiatan yang dapat dilakukan di rumah, gereja, sekolah, dan lingkungan sekitar untuk menciptakan suasana surga:

Di rumah
V Bertutur kata baik (tidak dengan membentak, marah, kasar) kepada sesama anggota keluarga.
V Membantu meringankan pekerjaan orang tua, misalnya mencuci pakaian atau membersihkan rumah.
V Mengajak anggota keluarga berdoa bersama.

Di gereja
V Menyambut dengan hangat anggota baru (tidak dibiarkan saja)
V Memberi perhatian khusus pada remaja yang sakit, miskin, yatim-piatu, berulang tahun, dan yang telah lama tidak hadir di persekutuan.

Di sekolah
v Mau berteman dengan siapa saja (tanpa tebang pilih)
v Mau berbagi ilmu dengan teman yang membutuhkan

Di lingkungan sekitar (masyarakat).
v Tidak membuat status atau komentar di media social yang bersifat povokatif atau teror.
v Menjaga kenyamanan lingkungan, misalnya berkendara dengan hati-hati, tidak sembrono, apalagi hingga membahayakan orang lain.


Langkah-langkah Penyampaian


1. Tanyakanlah kepada remaja apa pendapat mereka tentang "keluargaku surgaku" (beri waktu remaja untuk menyampaikan pendapatnya).
2. Sampaikan kepada remaja bahwa keluarga ibarat surga itu tidak terjadi dengan tiba-tiba, melainkan harus ada upaya dari setiap anggotanya. Yang utama adalah memelihara sikap hidup yang takut akan Tuhan (lihat Fokus).
3. Jelaskanlah bagaimanakah hidup orang yang takut akan Tuhan dan bagaimana Tuhan akan memberkatinya (lihat Penjelasan Teks).
4. Sampaikanlah pengenaan dengan penekanan pada perlunya remaja memiliki sikap yang takut akan Tuhan. Jelaskan terlebih dahulu juga mengenai latar belakang budaya patriarki sehingga tidak muncul pemahaman yang keliru bahwa hanya kepala keluarga (laki-laki) saja yang harus hidup dalam takut akan Tuhan, melainkan seluruh anggota keluarga (lihat Pengenaan).
5. Tegaskanlah bahwa remaja dapat "menciptakan surga" dengan cara menciptakan suasana yang nyaman dan menyenangkan bak surga di manapun dia berada (keluarga, gereja, sekolah, masyarakat, lihat contohnya pada Pengenaan).
6. Sampaikanlah Ilustrasi dan maknanya.
7. Ajaklah remaja melakukan Kegiatan.
 

Kegiatan


Merencanakan Perkunjungan

Ajak remaja mendiskusikan rencana untuk mengunjungi remaja yang lama tidak hadir dalam persekutuan. Siapa saja yang perlu dikunjungi? Kapan perkunjungan dilakukan? Apa oleh-oleh sederhana yang akan dibawa? Sila mengembangkan rencana perkunjungan sesuai dengan keadaan remaja di jemaat masing-masing.
 

Ilustrasi

                                                                         Rumah Berjendela Emas

Di sebuah rumah yang sangat sederhana, hiduplah seorang anak kecil. Suatu hari, dia melihat dari balik jendela rumahnya ada sebuah rumah yang sangat besar dengan jendela yang berkilauan seperti emas.Anak itu pun ingin pergi kesana untuk menikmati semua kemewahan yang ada di dalam rumah itu.
Meskipun anak itu tumbuh di lingkukan keluarga yang penuh dengan cinta, tetapi anak kecil itu tetap ingin pergi ke rumah dengan jendela emas yang ada di seberang. Dia menyimpan semua mimpi¬mimpinya itu sampai dewasa.Anak kecil itu telah menjadi pemuda yang gagah dan dia memutuskan untuk pergi ke rumah yang dia impikan sejak kecil.
Sesampainya di rumah itu, dia menjadi sangat kecewa. Rumah itu memang besar tetapi tidak terawat. Rumahnya sangat kotor dan tidak berpenghuni. Jendelanya ternyata bukan terbuat dari emas, melainkan hanya di cat kuning emas saja. Dia pun memutuskan untuk kembali pulang. Dari tempat itu, dia melihat jauh ke seberang. Dia melihat ada rumah yang sangat baik. Rumah itu tidak besar tetapi terlihat sangat menarik.Ya, itu adalah rumah dimana dia dirawat dan dibesarkan oleh orang-orang tercinta. Rumah yang penuh dengan kehangatan dan kasih sayang. Dia baru menyadari bahwa selama ini dia telah tinggal di sebuah rumah dengan jendela "emas" sesuai yang dia impikan.

Makna:
Meskipun berjendela emas, rumah tak selalu surga bagi orang yang tinggal di dalamnya. Sebaliknya, meskipun tak berjendela emas, rumah yang diisi dengan sating mencintai adalah surga bagi setiap orang yang tinggal di dalamnya.

Dikutip dengan perubahan seperlunya dari
http://yesmaya.blogspot.co.id/2012/11/arti-berkelimpahan.html

                                                                                         


 

Sahabat Surgawi,
 Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja antar denominasi OnLine
www.sahabatsurgawi.net - webmaster@sahabatsurgawi.net, Copyright © 1999