HOME ABOUT US KESAKSIAN AGENDA GEREJA LINK CONTACT US



 

Derap Remaja Edisi 42
Juli-Desember 2017
Bahan Pembinaan Remaja Gereja Kristen Indonesia


Pembayaran dapat dilakukan dengan 2 cara :

1. Via Bank:
Tahapan BCA no. 0372999053, an. Wisnu Sapto Nugroho
Segera kirimkan pemberitahuan pengiriman bank.
2. Via Pos Wesel:
dengan cara memakai blangko yang dilampirkan dalam surat pengantar.
Pdt. Wisnu Sapto Nugroho, Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Alamat Sekretariat & Distribusi DERAP REMAJA:
Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Harga per eksemplar Rp. 40.000,-

 

Oktober 2017
Keluarga Anugerah Tuhan

 
74 Keluargaku Surgaku   1

80 Tuhan Kepala Keluarga

  2
86 Pray, Eat, Love
  3

92 Supporting

  4

98 Saling Mengampuni

  5

Oktober 2017 Minggu III

Pray, Eat, Love
Bacaan: Kisah Para Rasul 2:41-47
Bahan yang diperlukan: Makanan untuk kegiatan makan bersama
 

 

Fokus


Judul Pray, Eat, Love mirip judul sebuah film yang dibintangi Julia Roberts (salah satu pengambilan gambarnya di Pulau Bali) yang dirilis pada tahun 2010, yakni Eat, Pray, Love. Jika cerita dalam film itu mengenai seorang penulis yang berusaha mencari makna hidupnya dan relasi dengan sesama melalui kesenangan (Eat), ketenangan batin (Pray), dan cinta (Love), maka dalam pelajaran ini remaja diajak untuk menghayati kembali pentingnya makan bersama (Eat) dalam keluarga yang diawali dengan doa (Pray) sebagai wujud persekutuan kasih (Love).

Penjelasan Teks

Bacaan hari ini menceritakan cara hidup jemaat (gereja) perdana. Jemaat ini terbentuk dari orang¬orang Yahudi yang menjadi percaya kepada Yesus setelah mendengar khotbah Petrus di hari Pentakosta. Mereka bukan berasal dari Yerusalem, melainkan dari berbagai negeri. Mereka adalah "orang Portia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia, Frigia dan Pomfilia, Mesir dan "daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene, pendatang-pendatang dari Roma, baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orong Kreta dan orang Arab." (Kis. 2:9-11). Mereka berbicara dalam bahasa yang berbeda. Meskipun demikian, karena kuasa Roh Kudus, mereka dapat mendengarkan kesaksian Petrus dalam bahasa mereka masing-masing. Karena kuasa Roh Kudus pula, mereka dipersatukan menjadi keluarga Allah. Mereka lalu memberi diri dibaptis. Alkitab mencatat bahwa jumlah mereka yang dibaptis mencapai tiga ribu orang. Jumlah yang fantastis.

Meski demikian, yang menarik dari komunitas baru ini bukanlah jumlahnya yang fantastis, melainkan cara hidup kesehariannya, yakni:

1 . Bertekun dalam pengajaran para rasul (ay. 42).
Artinya, setelah percaya mereka mendalami ajaran Kristus dengan sungguh-sungguh. Hal ini menunjukkan bahwa Firman Tuhan menjadi dasar hidup berkomunitas (bergereja).

2. Bersekutu di rumah-rumah untuk memecahkan roti dan berdoa serta makan bersama setiap hari (ay. 42, 46).
Tindakan memecahkan roti dan berdoa adalah wujud persekutuan jemaat dengan Tuhan; sementara persekutuan dengan sesama diwujudkan dengan tindakan makan bersama. Kedua persekutuan tersebut bukanlah dua hal yang terpisah. Persekutuan dengan Tuhan menghantar orang untuk mengalami persekutuan dengan sesama, dan sebaliknya persekutuan dengan sesama menghantar orang untuk menghayati persekutuan dengan Tuhan. Dalam tradisi Yahudi sendiri, makan bersama adalah wujud persekutuan. Oleh karenanya, makan bersama ini bukanlah acara bersenang-senang dan memuaskan diri dengan makanan sebagaimana acara makan di sebuah pesta.

Makan bersama ini adalah perjamuan kasih, di mana tiap orang membawa makanannya sendiri untuk kemudian disatukan dengan makanan orang lain dan dinikmati bersama. Ada yang membawa banyak, ada yang membawa sedikit, sesuai dengan kemampuan masing-masing. Dengan demikian setiap orang makan sambil menghayati nilai-nilai cinta kasih, saling peduli, dan saling berbagi. Di dalam acara makan bersama orang juga dapat berbincang-bincang sehingga menjadi lebih akrab dan lebih memerhatikan satu dengan yang lain. Itulah sebabnya mereka bisa mengetahui lebih jauh kondisi sesamanya dan siap membantu apabila dibutuhkan, Mereka menjadi komunitas yang saling peduli.

3. Saling mempedulikan (ay. 44-45).
Sikap saling mempedulikan memberikan kesadaran kepada jemaat, bahwa segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama (ay. 44). Bukan berarti orang percaya tidak boleh memiliki milik pribadi, melainkan apa yang menjadi milik pribadi dengan sukarela dibagi dengan yang membutuhkan, bahkan mereka rela jika harus berkorban dengan menjual harta benda lalu membagikan hasilnya dengan saudaranya yang membutuhkan (ay. 45). Semua itu dilakukan dengan gembira dan tulus hati (ay. 46)

4. Berkumpul tiap hari dalam Bait Allah (ay. 46)
Artinya ibadah kepada Tuhan tidak hanya dilakukan pada hari-hari raya tertentu saja sebagaimana tradisi Yahudi selama ini, melainkan setiap hari. Persekutuan dengan Allah yang terus dipelihara seimbang dengan persekutuan dengan manusia akan menjaga api semangat hidup berjemaat tetap menyala.


Cara hidup jemaat perdana tersebut memberi suasana "at home" bagi setiap orang yang ada di dalamnya dan orang lain yang ada di sekitarnya, meskipun mereka tidak mengenal Allah. Pada ayat 47 disebutkan bahwa semua orang menjadi suka pada mereka.

Pengenaan

 
Makan bersama nampaknya menjadi sesuatu yang langka di zaman ini. Kebiasaan "bersibuk ria" dengan diri sendiri menjadi gaya hidup yang dianggap lumrah. Orang bisa menghabiskan sebagian besar waktunya di luar rumah. Pada umumnya itu terjadi di kota-kota besar. Kesibukan masing¬masing anggota keluarga menjadi alasan sulitnya anggota keluarga bertemu untuk makan bersama. Orang tua sibuk dengan pekerjaannya, sementara generasi muda sibuk dengan studi, kehidupan pribadi, dan teman-temannya. Bahkan saat seluruh anggota keluarga berada di rumah, belum tentu mereka makan bersama; atau bisa makan bersama namun tanpa penghayatan apapun, alias bersama¬sama makan. Bisa jadi mereka sibuk dengan gadget masing-masing.

Pelajaran hari ini mengingatkan bahwa makan bersama sesungguhnya merupakan wujud penghayatan kebersamaan di dalam keluarga. Kebiasaan makan bersama jemaat perdana menjadi inspirasi keluarga masa kini. Tak perlu dengan menu yang mewah, yang penting makan bersama dihayati sebagai persekutuan cinta kasih. Diawali dengan doa ucapan syukur serta saling memberi perhatian antara anggota keluarga yang satu dengan yang lain. Sesibuk apapun, adalah baik jika setiap anggota keluarga (termasuk remaja) mau mencoba meluangkan waktu untuk makan bersama.

Makan bersama dengan seluruh anggota keluarga juga memberikan banyak manfaat. Waktu untuk makan bersama dapat dimanfaatkan untuk berbincang-bincang. Misalnya orang tua dapat mengajarkan anak untuk mensyukuri berkat-berkat Tuhan bagi keluarga, anak dapat menceritakan pengalamannya hari ini, atau orang tua dan anak dapat bersama merencanakan sebuah kegiatan seru. Dengan demikian, persekutuan cinta kasih terwujud dalam komunikasi yang akrab di antara anggota keluarga.
Makan bersama sebagai wujud persekutuan cinta kasih juga dapat diberlakukan di gereja sebagai sebuah keluarga besar. Kegiatan dapat diadakan misalnya di Bulan Keluarga, usai Pemahaman Alkitab, atau jika memungkinkan diadakan setiap bulan sekali saat usai kebaktian. Anggota jemaat dapat diajak untuk sejenak menikmati makan bersama. Acara diawali dengan doa (pray) lalu dilanjutkan dengan makan bersama (eat). Anggota jemaat dihimbau untuk tidak makan dengan tergesa-gesa dan cepat-cepat pulang, melainkan meluangkan waktu untuk berbincang-bincang sehingga tercipta keakraban antar anggota jemaat.

Acara tersebut bisa juga menjadi sarana untuk lebih mengenal anggota baru, atau menjadi sarana untuk mempedulikan satu dengan yang lain. Kepedulian itu bahkan mungkin bisa berlanjut hingga kemudian hari sebagaimana yang terjadi dalam persekutuan jemaat perdana, di mana mereka saling berbagi dengan yang membutuhkan (love). Baik juga apabila ditambahkan keterlibatan kaum muda untuk menampilkan band dengan lagu-lagu gereja sehingga suasana menjadi semakin nyaman.   

                                           

Langkah-langkah Penyampaian


1. Tanyakan kepada remaja apakah keluarga mereka mempunyai kebiasaan makan bersama? Jika ada yang menjawab "ya" mintalah remaja tersebut men-sharing-kan pengalamannya.
2. Sampaikanlah bahwa makan bersama mungkin jarang dijumpai di zaman sekarang ini (tunjukkanlah gambar Ilustrasi — kelihatannya makan bersama namun sibuk sendiri-sendiri alias bersama-sama makan saja). Padahal makan bersama sebenarnya merupakan wujud persekutuan cinta kasih sebagaimana yang terjadi pada jemaat perdana.
3. Jelaskan kebiasaan makan bersama dalam ,kehidupan jemaat perdana, yakni bahwa mereka membawa makanan masing-masing untuk disantap bersama (eat) setelah terlebih dahulu mensyukurinya dalam doa (pray). Kemudian dalam makan bersama itu mereka juga berbincang¬bincang dan saling berbagi sehingga membuahkan kepedulian berupa pelayanan kepada anggota jemaat yang membutuhkan (love) (lihat Penjelasan Teks)
4. Sampaikan bahwa kebiasaan makan bersama baik dan bermanfaat untuk dihidupkan di dalam keluarga sebagai wujud persekutuan cinta kasih. Baik juga bila makan bersama dapat dihidupkan di gereja sebagai sebuah keluarga besar sehingga dapat menjadi sarana untuk saling mengakrabkan diri dan lebih mempedulikan antar anggota jemaat. Jangan lupa untuk terlebih dahulu berdoa mensyukuri berkat Tuhan (pray), lalu dilanjutkan dengan makan bersama (eat), dan saling berbagi dan mempedulikan (love) (lihat Pengenaan).
5. Akhiri dengan Kegiatan.

                                                        

Kegiatan


Perjamuan Kasih
Langkah Kegiatan
v Bawalah makanan untuk dimakan bersama-sama (jika memungkinkan acara makan bersama dapat diatur sehingga remaja dapat membawa makanannya masing-masing).
v Mintalah remaja duduk melingkar.
v Libatkanlah remaja untuk menata dan menghidangkan makanan di tengah lingkaran.
v Ajaklah remaja berdoa (pray) mensyukuri makanan yang terhidang.
v Mulailah makan bersama (eat) disertai ajakan untuk saling berbincang dan mengakrabkan diri (love). Sesekali arahkanlah topik perbincangan pada hal-hal yang berhubungan dengan kepedulian terhadap sesama, misalnya:"Eh, ngomong-ngomong Si A sudah lama tidak kelihatan di persekutuan kita ya. Bagaimana kalau kita kunjungi dan bawain oleh-oleh untuknya?

 

Ilustrasi

                                                                                         


A R S I P
| derap januari 0117 | derap januari 0217 | derap januari 0317 |
| derap januari 0417 |derap januari 0517 | derap februari 0117 | derap februari 0217 |
| derap februari 0317 | derap februari 0417 | derap maret 0117 |derap maret 0217 |
| derap maret 0317 | derap maret 0417 | derap april 0117 | derap april 0217 | derap april 0317 |
| derap april 0417 | derap april 0517 | derap mei 0117 | derap mei 0217 | derap mei 0317 |
| derap mei 0417 | derap juni 0117 | derap juni 0217 | derap juni 0317 | derap juni 0417 |
| derap Juli 0117 | derap juli 0217 | derap juli 0317 | derap juli 0417 | derap juli 0517 |
| derap agustus 0117 | derap agustus 0217 | derap agustus 0317 | derap agustus0417 |
| derap september 0117 | derap september 0217 | derap september 0317 | derap september 0417 |
| derap oktober 0117 | derap oktober 0217 |

 

Sahabat Surgawi,
 Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja antar denominasi OnLine
www.sahabatsurgawi.net - webmaster@sahabatsurgawi.net, Copyright © 1999