HOME ABOUT US KESAKSIAN AGENDA GEREJA LINK CONTACT US


 

Derap Remaja Edisi 40
Bahan Pembinaan Remaja Gereja Kristen Indonesia


Pembayaran dapat dilakukan dengan 2 cara :

1. Via Bank:
Tahapan BCA no. 0372999053, an. Wisnu Sapto Nugroho
Segera kirimkan pemberitahuan pengiriman bank.
2. Via Pos Wesel:
dengan cara memakai blangko yang dilampirkan dalam surat pengantar.
Pdt. Wisnu Sapto Nugroho, Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Alamat Sekretariat & Distribusi DERAP REMAJA:
Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Harga per eksemplar Rp. 40.000,-
 

september 2016    

Alkitab dan Pengilhaman
2 Timotius 3:14-17
 
  1
Mengapa Berbeda?
Lukas 1:1-4
 
  2
Firman-Mu Pelita Bagi Kakiku Terang Bagi Jalanku
Mazmur 119:1-9
 
  3
Penyebaran Alkitab
Kisah Para Rasul 1:6-8
 
  4

 

Penyebaran Alkitab


 
 Bacaan:
 
Kisah Para Rasul 1:6-8
 Bahan yang 
 diperlukan:

 - gambar Alkitab 
   bahasa daerah
- kutipan Yoh.3:16
  dalam bahasa Dayak 
  Ngaju
 
 

FOKUS



Alkitab yang hadir dalam kehidupan manusia merupakan karya anugerah Allah yang sangat berarti bagi manusia dan dunia ini. Tanpa firman Allah yang tertulis dalam rangkaian huruf-huruf yang dipahami manusia itu dan yang dihidupi oleh manusia itu sendiri dalam persekutuan dengan Roh Kudus, maka manusia sulit, bahkan tidak mungkin, tiba pada "Jalan, Kebenaran, dan Hidup". Manusia mampu mengenal karya kasih Allah di dalam Yesus Kristus melalui pembacaan, pemahaman, dan penghayatan teks-teks Alkitab. Oleh karena itu, kehadiran Alkitab dalam kehidupan manusia patut disyukuri dan dipelihara, serta disebarluaskan kepada banyak orang di berbagai tempat atau wilayah. Demikianlah umat Kristen di Indonesia patut bersyukur dengan kehadiran Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) yang telah berperanserta dalam penerjemahan dan penyebaran Alkitab ke berbagai pelosok daerah di Indonesia. Melalui pelajaran ini, remaja diajak untuk memahami dan menghayati arti penting dari penyebaran Alkitab demi pemberitaan Injil Kerajaan Allah. Selain itu, melalui pelajaran ini remaja pun diajak untuk mengenal kiprah LAI yang turut berperan serta dalam misi Allah.
 

PENJELASAN TEKS


Teks Kis. 1:6-8 merupakan bagian dari paparan awal Lukas, penulis kitab Kisah Para Rasul ini, tentang peristiwa Yesus terangkat ke surga. Teks ini adalah kelanjutan dari percakapan Yesus yang bangkit dengan murid-murid-Nya dalam perjamuan makan bersama. Pada Kis 1:4-5 Lukas menuliskan bahwa Yesus menghendaki agar murid-murid-Nya tetap tinggal di Yerusalem untuk menantikan janji Bapa, yaitu Roh Kudus. Terhadap perkataan Yesus ini, para murid menanggapi dengan sebuah pertanyaan yang menyiratkan pengharapan kuat, "Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?" (ayat ke-6). Ini bukanlah tanggapan yang asal-asalan, melainkan tanggapan berdasarkan pemahaman bahwa jika Roh Allah itu bekerja, maka tentulah terjadi pemulihan atas kehidupan yang buruk atau rusak. Artinya, para murid sungguh percaya pada perkataan Yesus mengenai Roh Kudus yang dijanjikan oleh Allah itu, walaupun tindak lanjut dari kepercayaan itu masih berupa pemahaman harfiah tentang pemulihan kerajaan bagi Israel. Ungkapan "pemulihan kerajaan bagi Israel" (basilean to israel) dari murid-murid pada dasarnya menunjuk pada pengharapan akan terwujudnya kerajaan Israel yang merdeka dari kekuasaan penjajah, yaitu Romawi. Para murid tampaknya menaruh harapan,Yesus mau memerdekakan Israel dari penjajahan pada masa itu juga.

Atas pengharapan murid-murid-Nya yang berdasarkan pemahaman harfiah mereka itu, Yesus pun menegaskan bahwa Bapa menurut kuasa-Nya tentu sudah berencana atas Israel. Tentang rencana Bapa atas umat-Nya, Yesus menyatakan bahwa hal itu tidak perlu diketahui oleh para murid kapan persisnya dilaksanakan. Kata Yesus, "Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu (kronous he kairous) yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya" (ayat ke-7). Dengan demikian, hal mengetahui kapan persisnya, atau masa dan waktu, pelaksanaan rencana Bapa bukanlah hal yang paling penting dan perlu bagi kehidupan para murid. Yang paling penting adalah para murid tetap menantikan Roh Kudus dan membuka diri bagi kuasa dan karya Roh Kudus. "Kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi," demikian kata Yesus (ayat ke-8).

Menarik dicermati perkataan Yesus berkaitan dengan panggilan menjadi saksi-Nya, yaitu "menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi". Agaknya Lukas menuliskan perkataan ini berdasarkan urutan paparan tulisannya tentang penyebaran Injil Tuhan Yesus dari Yerusalem (Kis. 1 -7), lalu ke daerah-daerah Yudea dan Samaria (Kis. 8-10), dan akhirnya sampai ke daerah-daerah yang dipandang sebagai ujung-ujung bumi (Kis. 11-28). Terlepas dari maksud Lukas yang berkaitan dengan paparan tulisannya, perkataan Yesus itu dapat dipahami sebagai penegasan tentang panggilan Yesus kepada para murid-Nya untuk menyebarluaskan kabar baik (Injil) Kerajaan Allah dari wilayah yang dekat (daerah sekitar) sampai dengan wilayah yang jauh (daerah-daerah pelosok).

Tentu saja pada masa para rasul, upaya penyebarluasan Injil yang dapat dilakukan adalah melalui karya kesaksian dan pelayanan, serta persekutuan dari para murid Kristus. Pada masa itu belum ada mesin cetak yang mampu memperbanyak tulisan-tulisan kesaksian Injil. Cara memperbanyak tulisan-tulisan kesaksian Injil adalah dengan membuat salinan secara tertulis. Oleh karena itu, penyebaran Injil pada masa para rasul bersifat langsung dalam kehadiran para saksi Injil di tengah kehidupan masyarakat. Cara seperti ini tentu masih berlanjut hingga masa sekarang sebagaimana dilakukan oleh para pekabar Injil di pelosok-pelosok daerah. Namun, pada masa sekarang penyebarluasan Injil Kristus juga dapat dilakukan melalui tulisan-tulisan yang diperbanyak dengan mesin-mesin cetak. Alkitab sebagai satu kesaksian Injil yang dipandang paling berwibawa sudah dapat diperbanyak dan disebarkan ke berbagai pelosok daerah. Oleh karena itu, upaya penyebaran Alkitab, yang didahului oleh upaya penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa-bahasa daerah yang dituju, merupakan salah satu cara untuk penyebarluasan Injil Kerajaan Allah. Kehadiran Alkitab tentu berarti bagi umat yang dapat membacanya. Namun, pada dasarnya kalau hanya Alkitab yang hadir di tengah kehidupan umat, tanpa Roh yang menghidupkan dan tanpa murid Kristus yang turut bersaksi, maka semua tidak berarti apa-apa.Tulis 2Kor. 3:6,"sebab hukum yang tertulis mematikan, tetapi Roh menghidupkan."
 

PENGENAAN
 

Remaja masa kini pada kenyataannya lebih akrab dengan Alkitab elektronik versi Android dengan aneka bahasa yang dapat diunduh daripada Alkitab versi percetakan seperti Alkitab LAI. Kehadiran Alkitab versi Android ini - istilah yang mungkin lebih tepat adalah "Teks Suci Elektronik" karena kata 'Alkitab' mengandung pengertian 'kitab' atau buku cetakan - tentu patut disyukuri sebagai satu berkat Tuhan yang makin memudahkan orang dalam memiliki dan membaca firman Allah. Namun, kehadiran Alkitab versi percetakan seharusnya tetap dipelihara dan dibutuhkan untuk membangun keakraban yang lebih langsung dengan firman Allah. Kita tahu, kalaupun orang memiliki Teks Suci Elektronik pada perangkat gadget-nya (smarthone atau komputer tablet), maka Teks Suci Elektronik itu hanyalah salah satu dari banyak program (software) di gadget-nya tersebut. Oleh karena itu, ia tidak dapat secara langsung akrab dengan Teks Suci Elektronik. Orang dapat mengatakan barang yang dipegangnya adalah Alkitab, ketika ia menunjukkan Alkitab LAI (misalnya) yang ada di tangannya. Namun, orang tidak dapat mengatakan barang yang dipegangnya adalah Alkitab atau Teks Suci Elektronik, ketika ia menunjukkan gadget-nya.

Selain untuk membangun suatu keakraban yang lebih langsung dengan firman Allah, Alkitab versi percetakan masih dibutuhkan untuk menjangkau banyak orang yang belum akrab dengan teknologi gadget masa kini. Oleh karena itu, remaja pun seharusnya menyadari kepentingan dan kebutuhan Alkitab versi percetakan ini. Remaja dibukakan wawasannya tentang makna penyebaran Alkitab versi percetakan ini dalam rangka pemberitaan Injil Kerajaan Allah ke pelosok-pelosok daerah. Untuk itu, kiprah LAI dalam penerjemahan dan penyebaran Alkitab patut diketahui remaja. Dengan mengetahui dan menghayati kiprah LAI tersebut, remaja pun tergerak untuk turut berperanserta dalam misi Allah melalui program penyebaran Alkitab.
 

LANGKAH-LANGKAH PENYAMPAIAN
 


1. Awali penyampaian dengan pertanyaan: apakah Alkitab versi percetakan (misalnya Alkitab LAI) masih diperlukan pada masa kini?
2. Sampaikan pengertian teks Kis. 1:6-8 dalam kaitan pemberitaan Injil Kerajaan Allah (lihat Penjelasan Teks).
3. Paparkan arti penting penyebaran Alkitab sebagai salah satu cara pemberitaan Injil Kerajaan Allah (lihat Penjelasan Teks dan Pengenaan).
4. Sampaikan Ilustrasi, yaitu tenta'ng kiprah LAI dalam penyebaran Alkitab. Di sini remaja pun diperkenalkan dengan beberapa Alkitab LAI yang ditujukan bagi daerah-daerah di Indonesia (lihat Lampiran).
5. Akhiri dengan Kegiatan.

                                                                                                   
KEGIATAN

        
1. Bentuk kelompok-kelompok kecil, terdiri atas 4-5 orang.
2. Mintalah masing-masing kelompok mendiskusikan bentuk partisipasi apa yang dapat mereka lakukan dalam rangka menyebarluaskan Alkitab ke pelosok-pelosok daerah di Indonesia. Usahakan bentuk partisipasi ini menjadi semacam komitmen mereka untuk kemudian diwujudkan.                                                                

 
ILUSTRASI

                                  Kiprah Lembaga Alkitab Indonesia dalam Penyebaran Alkitab

Penyebaran Alkitab di Indonesia dimulai oleh seorang pedagang VOC, yaitu Albert Cornelist Ruyl. Dengan inisiatif dan pendanaan pribadi, ia menerjemahkan dan menerbitkan Alkitab (Injil Matius dan Injil Markus) ke dalam bahasa Melayu pada 1612. Pada 4 Juni 1814 berdirilah suatu lembaga Alkitab di bawah pimpinan Letnan Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles. Lembaga Alkitab ini merupakan cabang pembantu dari Lembaga Alkitab Inggris dan dinamakan Lembaga Alkitab Jawa (Java Auxiliary Bible Society). Selanjutnya, pada 1816, Lembaga Alkitab ini diganti namanya menjadi Lembaga Aikitab Hindia-Belanda (Nederlands Oost-Indisch Bijbelgenootschap) atau dikenal dengan sebutan Lembaga Aikitab Batavia (Bataviaas Bijbelgenootschap).

Memasuki masa kemerdekaan, bersamaan dengan diterimanya Republik Indonesia menjadi anggota Perserikatan Bangsa Bangsa, beberapa tokoh Kristiani mulai memprakarsai berdirinya Lembaga Alkitab Indonesia pada 1950. Sejalan dengan aspirasi kemerdekaan bangsa dan negara, timbullah keinginan untuk berdikari dan bertanggung jawab penuh terhadap pengadaan serta penyebaran Aikitab. Upaya ini berhasil. Pada 9 Februari 1954, Lembaga Aikitab Indonesia (LAI) resmi berdiri.

LAI mengkhususkan diri di bidang penerjemahan dan penyebaran Aikitab di Indonesia. Lembaga itu mewakili Gereja-gereja Protestan dan memiliki sebuah departemen penerjemahan khusus. Lembaga itu memiliki juga percetakan sendiri di Jawa Barat Hampir semua Aikitab yang kini beredar di Indonesia dicetak oleh LAI, juga Alkitab yang dipakai oleh umat Katolik di Indonesia.

Kerjasama antara Lembaga Alkitab Indonesia dan Gereja Katolik diprakarsai oleh Pastur Cletus Groenen, OFM dari Lembaga Biblika Indonesia Saudara-Saudara Dina (LBSSD yang kemudian menjadi Lembaga Biblika Indonesia atau LBI) asuhan ordo Fransiskan. Tim dari LBSSD ini telah memulai penerjemahan seluruh Perjanjian Lama ke dalam bahasa Indonesia sejak 1956 dan pada 1968 mulai diterbitkan oleh Percetakan Arnoldus di Ende, Flores. Berkat Pastor Groenen serta dukungan MAWI, sejumlah ahli Kitab Suci Katolik diikutsertakan dalam proyek penerjemahan Alkitab yang ditangani LAI. Pada 1975 umat Katolik Indonesia memiliki terjemahan Alkitab yang sama dengan umat Protestan.

Dalam menyebarkan Alkitab, LAI menghadapi tantangan yang berkaitan dengan daya beli masyarakat Indonesia. Kebutuhan membaca Firman Allah yang begitu besar tidak sejalan dengan daya beli masyarakat. Masyarakat tingkat ekonomi bawah tidak memungkinkan untuk membeli Alkitab. Oleh karena itu, diadakanlah program Satu Dalam Kasih (SDK). SDK adalah program yang menjembatani kebutuhan akan Alkitab di daerah-daerah terpencil yang karena kondisi geografis, ekonomi, dan sosial tak mampu membeli dan memiliki Alkitab. SDK dilaksanakan tiap tahun dengan mempertimbangkan daerah yang benar-benar membutuhkan Alkitab berdasarkan surat-surat permohonan yang diterima LAI. Caranya, seseorang dapat memberikan dukungan dengan menentukan jumlah Alkitab yang akan disumbangnya.
Tantangan LAI lainnya dalam menyebarkan Alkitab adalah keragaman suku di Indonesia. Negara Indonesia selain memiliki satu bahasa nasional, bahasa Indonesia, juga memiliki lebih dari 700 bahasa daerah.

LAI pun terdorong untuk menerjemahkan Alkitab dalam bahasa-bahasa daerah. Tentu saja, ini membutuhkan dana yang besar. Menerjemahkan kata dalam bahasa Indonesia ke dalam bahasa daerah dibutuhkan kemampuan yang baik dan benar agar firman Tuhan tepat arti dan makna. Belum lagi tantangan geografis dalam membawa Alkitab-alkitab yang sudah diterjemahkan itu ke daerah masing-masing. Kerjasama dan kepedulian semua murid-murid Tuhan di Indonesia sangat diharapkan agar LAI dapat menyelesaikan tugasnya. Penyebaran Alkitab di Indonesia adalah tugas kita bersama.

Sumber:
http://www.sabda.org/sejarah/artikel/terbitan_alkitab_di_indonesia    

LAMPIRAN


                                            
                                         Beragam Alkitab terbitan LAI dalam Bahasa Daerah



 

Sahabat Surgawi,
 Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja antar denominasi OnLine
www.sahabatsurgawi.net - webmaster@sahabatsurgawi.net, Copyright 1999