HOME ABOUT US KESAKSIAN AGENDA GEREJA LINK CONTACT US


 

Derap Remaja Edisi 39
Bahan Pembinaan Remaja Gereja Kristen Indonesia


Pembayaran dapat dilakukan dengan 2 cara :

1. Via Bank:
Tahapan BCA no. 0372999053, an. Wisnu Sapto Nugroho
Segera kirimkan pemberitahuan pengiriman bank.
2. Via Pos Wesel:
dengan cara memakai blangko yang dilampirkan dalam surat pengantar.
Pdt. Wisnu Sapto Nugroho, Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Alamat Sekretariat & Distribusi DERAP REMAJA:
Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Harga per eksemplar Rp. 40.000,-
 

mei 2016    

kala aku jatuh dalam kesalahan
mazmur 51
  1

kala aku merasa tak mampu
keluaran 3:7-14,4:1-13
 
  2
kala aku dalam masalah
roma 8:19-25
 
  3
kala aku merasa ditinggalkan
mazmur 22:1-22
 
  4
saat hampa menyapa hidup
I raja-raja 19:1-8
  5

 
Bacaan:
Keluaran 3:7-14,4:1-13

Bahan yang diperlukan:
- Kertas
- Alat menggambar

 


Kala Aku Merasa Tak Mampu
 
 


FOKUS


Dari dulu hingga sekarang Tuhan memanggil orang-orang untuk mengambil bagian dalam misi-Nya di tengah dunia ini. Respons yang diberikan setiap orang berbeda-beda terhadap panggilan-Nya.Ada yang menerima dengan sukacita.Ada juga yang menerima dengan terpaksa. Bahkan ada yang berusaha untuk menolak panggilan tersebut. Itulah respons Musa dalam bacaan hari ini, yaitu menolak karena merasa tidak mampu. Pelajaran hari ini mengajak remaja untuk tidak berfokus pada perasaan tidak mampu saat menghadapi sebuah tugas, melainkan percaya bahwa Allah sanggup memampukannya melakukan tugas tersebut.
 

PENJELASAN TEKS


Bangsa Israel telah lama menjadi budak di Mesir. Mereka menjadi budak sejak Mesir diperintah oleh seorang raja baru yang tidak mengenal jasa Yusuf. Sebagai budak, mereka diperlakukan dengan kejam dan dipaksa untuk bekerja berat. Bahkan raja Mesir memerintahkan para bidan untuk melemparkan setiap bayi laki-laki yang lahir dari orang Israel ke Sungai Nil. Bangsa Israel sangat menderita sehingga mereka mengeluh dan berseru meminta tolong kepada Allah. Allah pun memperhatikan seruan mereka. Dia memilih Musa untuk membebaskan Bangsa Israel dari Mesir. Namun Musa merasa tidak mampu melaksanakan tugas tersebut. Alasannya:

1. Aku bukanlah orang yang penting (3:11)
"Siapakah aku ini?" demikianlah jawab Musa saat Allah mengutusnya untuk membawa orang Israel keluar dari Mesir. Musa merasa bahwa dia bukanlah siapa-siapa bagi orang sebangsanya. Akan hal ini Musa mempunyai pengalaman saat mencoba melerai dua orang sebangsanya yang sedang bertikai. Alih-alih menyadari kebenaranaran perkataan Musa, mereka malah marah dan menantang Musa dengan berkata, "Siapakah yang mengangkat engkau menjadi pemimpin dan hakim atas kami?" (2:14). Maka Allah menjawab keraguan Musa dengan sebuah kepastian. "Bukankah Aku akan menyertai engkau?" (ayat 12). Allah memastikan bahwa saat ia mengutus seseorang, yang terpenting bukanlah pertanyaan, "Siapakah aku?" melainkan kepastian bahwa Allah menyertai siapapun orang yang diutus-Nya.

2. Apa yang harus aku katakan? (3:13)
Setelah pertanyaan, "Siapakah aku?", sekarang yang dikuatirkan Musa adalah apa yang harus dikatakannya kepada Bangsa Israel? Secara khusus jika mereka bertanya, "Siapakah yang mengutusmu? Siapa namanya?" Memang bagi bangsa Israel nama adalah penting sebab nama dapat menunjukkan siapakah seseorang, bagaimana pribadinya, dan bahwa pribadi itu benar-benar ada dan hadir. Baru setelah itu mereka akan berani mempercayakan diri kepada-Nya dan kepada Musa sebagai utusan-Nya. Namun di balik itu sebenarnya Musa bukan sekadar mempersoalkan nama, melainkan otoritas. Jika Musa bisa menjawab siapa yang mengutusnya dengan menyebutkan nama, maka orang Israel akan mengakui otoritas yang diberikan Allah kepada Musa. Maka Allah memberi jawab, "AKU adalah AKU". Jawaban ini menunjukkan bahwa Allah mau dikenal sebagai pribadi yang hadir dan aktif. Allah yang ada bersama umat-Nya hari lepas hari. Allah yang mau memperhatikan dan menebus umat-Nya serta hidup dalam persekutuan dengan mereka.

3. Bagaimana jika mereka tidak mendengarkan aku (4:1)
Hati Musa masih dipenuhi keraguan, yakni bagaimana jika ia sudah melakukan semua seperti yang Tuhan perintahkan, namun tidak berhasil meyakinkan bangsanya maupun Firaun. Maka Allah memberi kemampuan kepada Musa untuk mengadakan mukjizat yakni tongkatnya dapat menjadi ular dan tangannya menjadi kusta jika dimasukkan ke dalam baju dan pulih kembali saat dikeluarkan dari baju. Tanda-tanda tersebut menguatkan penyertaan Tuhan dan kuasa-Nya yang dahsyat atas Musa dan bahwa Musa memiliki otoritas Ilahi untuk melaksanakan misi yang Tuhan percayakan kepada dia.

4. Aku bukan seorang pembicara yang baik (4:10)
Musa beralasan bahwa ia tidak pandai bicara. Sebenarnya ini hanya dalih sebab Musa masih segan menerima perutusan Allah. Allah pun meyakinkan Musa bahwa Ia akan menyediakan apa yang diperlukan Musa untuk dapat berbicara. Allah akan menyertai lidah Musa dan akan menaruh perkataan dalam mulutnya (4:12). Allah meyakinkan bahwa ketika Ia mengutus seseorang, Ia tidak akan membiarkannya tanpa bekal apa-apa. Ia akan menyediakan apa yang diperlukan orang tersebut untuk melaksanakan tugas perutusannya.

5. Utuslah orang lain yang lebih pantas daripada aku (4:13)
Pada puncaknya Musa meminta Tuhan untuk mengutus orang lain. Ini sudah bukan berdalih lagi melainkan terang-terangan menolak Allah. Perasaan tidak mampu telah membuat Musa berfokus pada keterbatasan dan kekurangannya. Akibatnya Musa tetap dikuasai keraguan meskipun Allah sudah memberikan janji penyertaan-Nya.

Semua alasan yang disampaikan Musa selalu dijawab Allah dengan janji penyertaan-Nya. Namun pada saat itu Musa gagal melihat bahwa Allah berkuasa dan sanggup memampukannya melakukan tugas perutusan. Perasaan tidak mampu bukanlah hal yang boleh dimaklumi dan dibiarkan berlarut-larut sebab itu akan membuat seseorang menjadi pribadi yang cenderung melarikan diri dan melemparkan tanggung jawab kepada orang lain saat menghadapi sebuah tugas. Ini bukanlah karakter yang dikehendaki Allah bahkan dapat menimbulkan murka Allah (4:14).

Allah tahu bahwa Musa adalah orang yang tepat untuk diutus-Nya. Allah akan memampukannya untuk melakukan tugas perutusannya. Alkitab memberi kesaksian bahwa Allah sungguh memenuhi semua janji penyertaan-Nya ketika akhirnya Musa menerima tugas perutusannya. Musa dimampukan untuk melakukan tugas perutusan dengan segala tantangan dan hambatannya hingga akhir hayatnya. Musa wafat sebagai hamba yang berkenan di hadapan Tuhan dan sebagai nabi yang namanya senantiasa dihormati dan dikenang oleh Bangsa Israel.
 

PENGENAAN


Manusia seringkali mengukur segala sesuatu berdasarkan kemampuan sendiri, tidak terkecuali remaja.Jika ia berpikir bahwa ia mampu melakukan sesuatu, maka ia menjadi tenang. Namun jika ia berpikir bahwa ia tidak dapat melakukan sesuatu, maka ia pun menjadi ragu. Cara pandang semacam ini tidak seharusnya diterapkan kepada Tuhan. Saat Tuhan memberikan sebuah tugas kepada seseorang.Tuhan tahu bahwa ia adalah orang yang tepat untuk tugas tersebut. Kemampuan bukanlah segala-galanya, sebab Tuhan sanggup memampukan siapa pun yang Ia pandang layak. Saat merasa tidak mampu seharusnya manusia percaya bahwa Tuhan akan menolong sehingga tidak perlu melarikan diri dari tanggung jawab atau melemparkannya kepada orang lain.
 

LANGKAH-LANGKAH PENYAMPAIAN


1. Awali dengan kegiatan I bagian 1-3.
2. Sampaikanlah bahwa perasaan tidak mampu kadang-kadang muncul saat remaja menghadapi sebuah tugas tertentu.
3. Sampaikanlah bahwa Musa pun merasa tidak mampu ketika hendak diutus Tuhan. Masuklah dalam penjelasan teks. Bahas alasan yang diberikan Musa kepada Tuhan.
4. Sampaikan meskipun Musa selalu beralasan,Tuhan pun selalu memberi janji penyertaan dan janji itu terbukti (lihat Penjelasan Teks).
5. Lakukan Kegiatan I bagian 4-6. Beri pengantar bahwa manusia sering mengukur segala sesuatu berdasarkan kemampuan sendiri, padahal selalu ada cara untuk mengatasinya (lihat Pengenaan). Tuhan akan memampukan orang yang sudah dipilih-Nya.Tegaskan dengan Ilustrasi.
6. Akhiri dengan Kegiatan 2.
 

KEGIATAN



Kegiatan I

1. Bagikanlah kepada remaja selembar kertas kosong dan sebuah alat tulis.
2. Minta remaja menuliskan hal yang menurutnya tidak mampu ia lakukan. Jangan lupa minta remaja menuliskan nama atau menggambar sebuah simbol sebagai pengganti nama.
3. Kumpulkan kertas berisi tulisan tersebut.
4. Bagikan secara acak kertas berisi tulisan remaja.
5. Mintalah kepada remaja untuk menuliskan solusi atau cara untuk mengatasi hal yang dianggap tidak mampu dilakukan yang telah tertulis di dalam kertas tersebut.
6. Kumpulkan kembali kertas yang sudah bertuliskan solusi dan minta pada remaja untuk mengambil kertasnya masing-masing dan membaca solusi yang sudah diberikan.

Kegiatan 2 - Permainan Menggambar dengan Kaki


1. Minta remaja berkelompok. Setiap kelompok terdiri atas 4-5 orang (menyesuaikan kondisi setempat).
2. Bagikan selembar kertas kosong dan alat gambar kepada remaja.
3. Minta remaja untuk memikirkan sebuah tema pelayanan (misalnya perkunjungan) dan menuangkannya dalam sebuah gambar. 
4. Sampaikan bahwa kelompok hanya boleh memakai kaki untuk menggambar.
5. Beri waktu sekitar 15 menit kepada remaja untuk melakukan tugasnya.
6. Setelah selesai, setiap kelompok menunjukkan dan menjelaskan tentang gambar yang mereka buat.

Makna permainan: Pada awalnya mungkin remaja berpikir tidak mampu menggambar dengan kaki. Hal ini menyimbolkan bahwa memang ada kalanya manusia merasa tidak mampu melakukan tugasnya. Namun Tuhan dapat memakai kelemahan manusia bagi pekerjaan-Nya.                                                                 
                                                     

ILUSTRASI


Asma Nadia (Penulis): Pada Awalnya Saya Tidak Yakin Saya Bisa Menulis

Nama Asma Nadia tidak asing terdengar dalam dunia kepenulisan Indonesia, Ia adalah salah satu dari sedikit penulis best seller Indonesia yang paling produktif. Dalam kurun waktu delapan tahun, 40 judul buku dan 18 judul antologi ditulisnya. Itu belum termasuk 150-an karya yang telah ia supervisi.
 
Beberapa cerpen penulis muslimah satu ini sudah diangkat ke layar kaca dan salah satunya sukses menjadi film nasional. Berjudul "Emak Ingin Naik Haji", cerpen itu sukses menjadi film yang bertahan dari gempuran film-film Holywood di bioskop-bioskop Indonesia.

Asma Nadia telah menerima berbagai penghargaan nasional di bidang penulisan. Selain itu, ia juga diundang ke berbagai negara untuk mengisi pelatihan penulisan di Korea, Mesir, Malaysia, Hong Kong, Brunei, Jepang, Switzerland, Jerman, Inggris, Italia, dan Prancis.

Apa yang dikatakan Asma ketika pertama kali ia diminta untuk menulis cerpen? "Saya tidak yakin saya bisa menulis. Saya tidak yakin saya berbakat!"

Asma sebelumnya tidak percaya diri untuk menulis. Tetapi, kakaknya selalu mendorongnya untuk menulis. Ia pun mencoba untuk menulis. Dari seseorang yang tidak percaya diri, Asma berubah menjadi salah satu penulis best seller paling produktif di Indonesia.

Ada hal positif yang dapat diambil dari kisah Asma Nadia. Terkadang, kita terlalu sibuk berurusan dengan rasa minder sehingga tidak sadar, ada potensi diri yang tak terlihat. Pada akhirnya, dibutuhkan dorongan dari orang lain yang dengan jeli melihat potensi diri sehingga kita percaya dan mampu mengembangkannya.

Sumber:
https://www.selasar.com/gaya-hidup/5-publik-figur-yang-awalnya-merasa-tidak-berbakat    

         Tompi (Penyanyi): Pernah Merasa Sangat Terpuruk di Kelas Seni Musik

Tidak banyak penyanyi Indonesia yang mampu menjadi seorang ikon dalam bidang musik yang digelutinya.Tompi adalah sebuah pengecualian. Pada bidang musik jazz, namanya adalah jaminan mutu atas pertunjukan yang akan ditonton. Berbagai pagelaran musik jazz sudah dilakoninya dengan sukses. Siapapun akan dengan mudah mengenali karakter suaranya yang khas.

Melihat kesuksesan Tompi, kita tentu membayangkan sosoknya di masa lalu sebagai seorang bintang paduan suara di sekolah. Benarkah demikian? Sayangnya, Tompi bahkan tidak punya tempat di paduan suara. Suaranya kala itu dianggap sebagai "kaleng rombeng."

"Puncak keterpurukanku terjadi saat guru pelajaran seni musik melakukan pembagian suara untuk paduan suara. Waktu giliranku dites, dia bilang, "Wah, kalau suaranya seperti Tompi begini, sampai kapanpun tidak akan terpakai di paduan suara atau jadi penyanyi. Suaranya kayak kaleng rombeng begini. Sontak teman-teman sekelas menertawaiku. Aku merasa sedih sekali. Ya, mungkin guruku hanya bercanda, tapi itu tambah menguatkan niatku untuk tidak menyanyi lagi," katanya.

Beruntung pada tahun kuliah ketiganya, ada penyelenggaraan sebuah lomba band. Tompi yang tergabung dalam perwakilan mahasiswa turut ambil bagian dalam acara tersebut. Band-nya menang dan kepercayaan dirinya untuk bernyanyi kembali pulih.

Sumber:
https://www.selasar.com/gaya-hidup/5-publik-figur-yang-awalnya-merasa-tidak-berbakat

 


 

Sahabat Surgawi,
 Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja antar denominasi OnLine
www.sahabatsurgawi.net - webmaster@sahabatsurgawi.net, Copyright 1999