|HOME |ABOUT US |KESAKSIAN | AGENDA GEREJA | LINK |


Membina Diri

Bahan  Pembinaan Remaja Gereja Kristen Indonesia

Edisi 34

Derap Remaja Edisi 34
Pembayaran dapat dilakukan dengan 2 cara :

1. Via Bank:
Tahapan BCA no. 0372999053, an. Wisnu Sapto Nugroho
Segera kirimkan pemberitahuan pengiriman bank.
2. Via Pos Wesel:
dengan cara memakai blangko yang dilampirkan dalam surat pengantar.
Pdt. Wisnu Sapto Nugroho, Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Alamat Sekretariat & Distribusi DERAP REMAJA:
Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Harga per eksemplar Rp. 30.000,-

 

Nopember 2013


Sihir Televisi
Amsal 17:24

Humor: Menyegarkan Jiwa
Amsal 16:24

Artifisial
Matius 15:1-20

Mental Keong
Kejadian 12: 10-20
 


Humor: Menyegarkan Jiwa
Bacaan: Amsal 16:24
Bahan yang diperlukan: -

 

 


Fokus

Dalam obrolan-obrolan di kalangan masyarakat kerap muncul cerita-cerita lucu atau guyonan yang dapat mencairkan suasana, membuat keadaan menjadi lebih hangat dan akrab. Guyonan atau humor memang disenangi oleh banyak orang. Acara televisi juga banyak yang bermaterikan humor, baik dikemas dalam bentuk grup lawak, maupun dalam bentuk stand up comedy. Acara-acara seperti ini memang diminati masyarakat di tengah penatnya permasalahan hidup. Orang membutuhkan humor untuk menyegarkan diri. Namun tidak jarang humor yang ditampilkan atau guyonan yang diungkapkan bisa juga menimbulkan masalah yang dapat menyinggung perasaan teman, orang lain atau kelompok tertentu. Mungkin masih segar dalam ingatan kita, Olga Syahputra beberapa kali terkena teguran dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) karena lawakannya dianggap melanggar norma-norma kesusilaan. Humor memang perlu, namun tentu ada batasnya. Melalui pelajaran ini, remaja dapat memahami makna humor yang sehat.
 

 


Penjelasan Teks
Amsal dalam bahasa Ibrani adalah masyal, artinya secara harfiah adalah "misal" atau "perumpamaan". Kalau kita memerhatikan isi kitab Amsal, kita akan memahaminya sebagai kumpulan misal, contoh atau umpama yang disampaikan sebagai bentuk dari sebuah karya seni dengan menggunakan bahasa dan gambaran yang menyenangkan. Apa saja yang disampaikan penulisnya? Dalam Amsal hendak disampaikan perintah, nasihat dan didikan.
Semuanya diungkapkan dengan tujuan agar tiap orang bersikap sesuai dengan peran masing-masing.

Amsal menjadi pedoman dalam hidup yang diyakini sebagai berkat Tuhan. Teologi yang terkandung dalam kitab Amsal hampir mirip dengan teologi kitab Ulangan:
• berkat akan diterima mereka yang berlaku setia kepada Allah, sementara hukuman diberikan bagi mereka yang tidak setia
• orang fasik dikontraskan dengan orang benar
Amsal 16 termasuk dalam Amsal-amsal Salomo (Amsal 10:1-22:16). Kumpulan ini terdiri dari 375 amsal lepas-lepas, melingkupi hampir semua perilaku dalam hubungan sosial. Ucapan mengenai suatu topik, seperti perkataan yang baik, tidak dikelompokkan, melainkan tersebar dalam seluruh kumpulan. Begitu pula dengan topik-topik lain. Biasanya Amsal-amsal Salomo ini dibagi menjadi dua bagian: (1). Pasal 10-15 berisi pembedaan antara orang benar dan orang fasik; (2). Pasal 16-22 berisi nasihat praktis tentang bagaimana menjadi sukses atau berhasil dalam hidup.

Amsal 16:24 menyatakan bahwa perkataan yang menyenangkan adalah seperti sarang madu, manis bagi hati dan obat bagi tulang-tulang.
1. Perkataan yang menyenangkan adalah seperti sarang madu
Dalam bahasa Ibrani dipakai kata emer no'am yang secara harfiah berarti: kata-kata yang pantas, mulia, indah, menyenangkan, sedap didengar dan dapat diterima karena mendatangkan manfaat bagi yang mendengarnya. Ada bermacam-macam perkataan yang dapat dikategorikan dengan "perkataan yang menyenangkan" ini, yaitu: nasihat, didikan, bahkan kritikan dan teguran, termasuk juga humor di dalamnya.
Perkataan yang menyenangkan itu seperti "sarang madu". Apa artinya? Sarang madu adalah tempat dikumpulkannya madu oleh lebah-lebah. Sarang itu menjadi sumber madu yang bisa dipanen oleh petani madu. Perkataan yang menyenangkan menjadi sumber kekuatan, kegunaan dan manfaat seperti halnya madu.

2 Perkataan itu menghasilkan madu yang manis bagi hati dan obat bagi tulang-tulang

Madu berfungsi sebagai pemberi rasa manis pada makanan/minuman, obat untuk berbagai macam penyakit, penambah kekuatan, sumber vitamin, penawar racun. Ini menjadi semacam simbolisasi: sarang madu menjadi sumber kekuatan, sukacita, penawar kepahitan, begitu juga perkataan yang menyenangkan, termasuk humor, harus menjadi sumber penghasil kekuatan, sukacita, yang mendatangkan kesegaran bagi jiwa sekaligus menjadi obat bagi fisik.

Pengenaan
Humor dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai sesuatu yang lucu, keadaan yang menggelikan hati, kejenakaan, kelucuan. Humor bukan sekadar lawakan atau dagelan yang membuat kita tertawa. Lebih daripada itu, humor sebenarnya adalah sebuah seni berkomunikasi, seni untuk menyampaikan gagasan, ide, rencana dengan suasana menyegarkan sehingga mudah dicerna dan diterima pendengarnya. Jadi humor tujuan akhirnya bukan hanya membuat seseorang tersenyum atau tertawa terpingkal-pingkal, melainkan:
- menyegarkan dan mencairkan suasana.
- menolong orang untuk berefleksi atau becermin diri dengan menertawakan diri sendiri, termasuk di dalamnya kritik melalui humor.
- menginspirasi seseorang untuk menemukan nilai-nilai hidup yang bermakna.
Banyak di antara remaja yang menggunakan humor untuk mencairkan suasana, namun tidak sedikit humor yang disampaikan itu sekadar untuk memancing tawa teman-teman, atau punya tujuan lain untuk mengolok-olok teman. Tidak jarang demi lucunya humor yang disampaikan, ada teman yang menjadi korban lawakan. Akhirnya perkataan itu mungkin menyenangkan teman-teman yang lain, tapi menghancurkari dan menyakiti "si korban". Humor mesti jadi perkataan yang menyenangkan dan jadi seperti sarang madu yang merupakan sumber kekuatan, sukacita, penawar hati yang pahit, menyegarkan jiwa; bukan sebaliknya.

Langkah-langkah Penyampaian
1. Awali kegiatan dengan ilustrasi "Nasrudin dan Tiga Orang Bijak". Jelaskan bahwa kisah-kisah Nasrudin merupakan satire (gaya bahasa yg dipakai dalam kesusastraan untuk menyatakan sindiran terhadap suatu keadaan atau seseorang) yang dikemas dalam bentuk humor.
2. Tanyakan kepada peserta apa kegunaan dari humor. Sampaikan kepada peserta bahwa humor bukan sekadar cerita lucu yang mengundang tawa, tapi juga menjadi semacam perkataan yang menyenangkan. Ingatkan pula agar berhati-hati dengan humor yang kelewat batas yang justru bisa menimbulkan sakit hati atau kemarahan dari pihak-pihak tertentu.
3. Lanjutkan dengan bagian Penjelasan. Paparkan tentang penjelasan Amsal
16:24 mengenai "perkataan yang menyenangkan" (Ibr. emerno'am) sebagai perkataan yang pantas, mulia, indah, menyenangkan, sedap didengar dan dapat diterima karena mendatangkan manfaat bagi yang mendengarnya. Ajak remaja menyebutkan apa saja yang termasuk dalam kategori "perkataan yang menyenangkan" seperti pemahaman penulis Amsal. Tekankan bahwa humor menjadi salah satu contoh perkataan yang menyenangkan tersebut.
4. Masuk dalam Kegiatan, mintalah peserta untuk menuliskan humor yang pernah mereka dengar atau muncul dari pengalaman orisinal mereka sendiri. Mintalah beberapa peserta membagikan hasil karyanya dengan disertai penjelasan apa tujuan dari humor yang ditulisnya itu. Ajak peserta untuk menilai mana humor yang terbaik, bukan sekadar terlucu, tapi humor yang memenuhi kriteria perkataan yang menyenangkan seperti bagian Penjelasan tadi.
5. Akhiri kegiatan dengan mengingatkan kembali tujuan dari humor bukan hanya membuat orang yang mendengar atau membacanya tertawa terpingkal-pingkal, melainkan mendatangkan manfaat karena sedap didengar, pantas (tidak melanggar norma kesusilaan atau menyakiti hati sesama), mulia (dalam hal tujuannya) dan dapat diterima (sekalipun berisi kritik dan satire).

Kegiatan
- Menuliskan atau membuat karya orisinal dengan topik humor tentang ibadah-pelayanan, sekolah, hubungan orang tua-anak, pertemanan.
- Menilai hasil karya untuk menentukan humor terbaik dalam kegiatan hari itu.
- Memasang humor terbaik dalam Mading (majalah dinding).

Ilustrasi
Nasrudin dan Tiga Orang Bijak

Ada tiga orang bijak yang terkenal pandai berkeliling negeri untuk menguji para penduduk. Mereka mempunyai pertanyaan yang sulit yang tidak dapat dijawab oleh rakyat, sekaligus mereka ingin menyombongkan kehebatan dan kebijakan yang mereka punyai.
Suatu kali ketiga orang bijak ini tiba di desa Nasrudin. Seluruh penduduk desa minta Nasrudin untuk menghadapi dan menjawab pertanyaan ketiga orang bijak itu. Melihat penampilan Nasrudin yang kumuh, ketiga orang bijak itu yakin bahwa pertanyaan mereka tidak akan dapat dijawabnya.
Orang bijak pertama bertanya, "Nasrudin, di manakah pusat bumi?" Nasrudin menjawab, "Di sinilah pusat bumi, tepat di bawah kakiku." Orang itu terkejut dan berkata, "Bagaimana kamu bisa membuktikan jawabanmu?" "Jika kau tidak percaya padaku, ukurlah dan tentukan sendiri," kata Nasrudin. Kembali orang bijak pertama bertanya, "Mengapa bukan engkau sendiri yang mengukur dan menentukannya?" "Oh, itu tidak perlu, karena aku percaya pada diriku sendiri," jawab Nasrudin.
Orang bijak pertama tidak dapat lagi mendebat jawaban Nasrudin, ia mengakui kebenaran jawabannya. Maka majulah orang bijak kedua dan mengajukan pertanyaan, "Berapa banyak bintang di langit?" Nasrudin menjawab dengan segera, "Jumlahnya sama dengan jumlah bulu keledaiku." "Bagaimana kamu dapat membuktikan jawabanmu?" kata orang bijak itu. Nasrudin menjawab, "Jika kau tidak percaya pada jawabanku, hitung sendiri bulu keledaiku, dan kamu akan tahu bahwa aku benar!" Mendengar jawaban Nasrudin itu, orang bijak kedua menjadi marah dan berkata, "Itu jawaban yang menggelikan dan bodoh, bagaimana mungkin seseorang dapat menghitung jumlah bulu keledai." Nasrudin balik menjawab, "Baik, jika jawabanku adalah jawaban yang tolol, maka pertanyaanmu adalah pertanyaan yang lebih tolol dan menggelikan, bagaimana mungkin seseorang dapat menghitung jumlah bintang di angkasa!"
Orang bijak kedua tidak dapat memrotes lebih jaun, ia mengaku kalah. Kini tiba waktunya pertanyaan dari orang bijak ketiga, ia berkata, "Saudaraku, engkau tampak begitu akrab dengan keledaimu, saya yakin engkau tahu segala sesuatu tentang keledaimu." "Ya begitulah," jawab Nasrudin. "Kalau begitu, coba sebutkan ada berapa helai rambut yang ada di ekornya?" tanya orang bijak ketiga itu. Nasrudin terdiam beberapa saat dan tampak berpikir keras. Beberapa saat kemudian ia berkata, "Aku tahu jumlahnya secara tepat. Jumlahnya sama persis dengan jumlah rambut jenggotmu!" Orang bijak itu segera menukas, "Kau harus membuktikan jawabanmu, Saudara!" "Ah itu gampang sekali," jawab Nasrudin. "Kau mencabut satu rambut ekor keledaiku, maka aku akan cabut satu rambut jenggotmu. Akhirnya jika keduanya sama-sama habis, maka terbukti jawabanku benar, bagaimana bisa kita mulai sekarang untuk membuktikannya?" kata Nasrudin sambil bersiap-siap mencabut rambut jenggot orang itu.
Tentu saja, orang bijak ketiga menolak untuk melakukan hal itu. Akhirnya ketiga orang bijak itu pergi dengan malu. Mereka kena batunya kali ini ketika berhadapan
dengan Nasrudin orang yang sejak semula sudah mereka remehkan.

Catatan:
Cerita tentang Nasrudin merupakan sebuah kisah satire yang dikemas dalam bentuk humor. Ceritanya kerapkali mengundang tawa atau minimal membuat kita tersenyum. Saat kita tertawa sebenarnya kita sedang menertawakan diri sendiri karena cerita humor Nasrudin itu menjadi cermin yang memantulkan diri kita sendiri apa adanya.


 

A R S I P


 

Sahabat Surgawi,
 Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja antar denominasi OnLine
www.sahabatsurgawi.net - webmaster@sahabatsurgawi.net, Copyright 1999