GEREJA SEL DI CHINA
" ORANG LAIN YANG MEMBERI NAMA"


Julian Foe dikenal sebagai Direktur PT Qrecetor Tata Qaracter dan PT Cakrawala Sohisindo yang aktif sebagai Pemimpin jemaat Area
Mahasiswa Pusat Abbalove Ministries. Sebagai aktivis, dia sering pergi ke Cina. BAHANA mewawancarai tokoh yang satu ini untuk melihat kehidupan "gereja sel" di Cina. Berikut petikannya.

Bagaimana perkembangan gereja sel di Cina pada umumnya?
Saya sudah tiga tahun tidak berkunjung ke Cina. Secara prinsip, gereja sel di Cina sudah jalan, hanya mereka tidak menggunakan nama gereja sel. Modelnya mereka bertemu di bawah tanah-semua berkumpul
dalam jumlah yang tidak terlalu besar. Jadi, satu hal yang membuat gereja itu meledak, mereka mendapat kesempatan pertama untuk mempraktekkan hal ini secara terbuka. Hal ini terjadi karena faktor kondisi yang pertama adalah aniaya, dan kedua karena mereka disudutkan atau dipaksa untuk melakukan konsep seperti ini. Tapi saya lihat, mereka bukan menawarkan modelnya. Kita'kan suka melihat
modelnya. Yang mereka tawarkan untuk kita pelajari sebenarnya adalah prinsipnya.
Dalam hal ini, prinsip yang dimaksud mereka itu sangat fokus pada salib, artinya bagaimana menghargai salib dan kemudian tindakan iman untuk membawa keselamatan pada orang lain. Mungkin kalau dalam bahasa sehari-hari kita, bagaimana mempunyai pengalaman pribadi dengan
Tuhan. Banyak orang yang bertahun-tahun di penjara tetap tidak mau menyangkal imannya karena mereka memiliki pengalaman iman yang kuat. Mungkin secara golongan mereka masuk golongan kharis-
matik atau menamakan diri mereka charismatic evangelical tapi pengalaman-pengalaman mereka sangat alkitabiah.
Seperti dalam Kisah Para Rasul, mereka mendapat penglihatan, ketemu malaikat, bertemu Tuhan dalam mimpi dan doa, mengalami kehadiran Tuhan. Kesimpulannya, mereka mempunyai pengalaman yang sangat kuat dengan Tuhan dan inilah yang membuat mereka berkumpul, setia dan bersekutu.

Ke depan nanti, apakah prinsip gereja sel ini masih tetap mereka butuhkan?
Saya melihat bahwa pengalaman dengan Tuhan sangat besar, maka prinsip itu harus tetap dipertahankan. Sampai ke depan, bahkan kalau bisa intensitasnya bertambah. Mengapa mereka memiliki pengalaman seperti itu?
Karena terdesak dan tidak mempunyai harapan lain lalu hanya berseru kepada Tuhan. Kalau masalah model, saya tidak melihat hal ini sebagai masalah bagi mereka. Contohnya, dulu gereja sangat ditekan mereka hidup, sekarang Cina agak terbuka tetap saja tidak berpengaruh. Bahkan ledakan terbesar terjadi waktu dikekang dan saya mendengar beberapa
pemimpin di sana sudah dilepaskan. Saya kira prinsip mereka adalah bagaimana pengalaman dengan Tuhan dan bagaimana menjadi orang
tua rohani bagi orang-orang yang "dilahirkan!" oleh mereka. jadi setiap orang Kristen yang mau menginjil harus siap menjadi orangtua rohani bagi mereka. Karena adanya figur orangtua rohani, mereka dikuatkan.

Apakah ada perubahan setelah keadaan di Cina mulai terbuka, mengingat prinsip gereja sel lahir dalam keadaan tertekan?
Pasti ada, yang kami lihat justru yang menjadi kebutuhan mereka adalah dilengkapi atau dilatih. Mereka betul-betul tertutup dan hanya bergantung pada Tuhan tapi dengan keadaan yang semakin terbuka ini seharusnya tubuh Kristus di seluruh dunia datang kepada mereka untuk membantu melengkapi. Mengapa orang Cina agak tertutup? Karena sering kali orang bule atau orang bukan Cina datang kepada mereka seperti tabib. Mereka datang memhawa resep keberhasilan lalu menyuruh mereka menjalankan prinsip itu. Ini yang sering sulit jalan karena mereka bukan sekadar butuh tabib atau dokter. Yang mereka butuhkan adalah saudara yang mengerti
kebutuhan mereka dan bersedia bekerja sama dengan mereka.. Setelah itu terserah mereka mengembangkan dengan cara mereka. Jadi bukan memaksakan suatu keberhasilan di tempat lain. Yang lebih mungkin adalah membagikan kebenarannya lalu mereka mempraktekkan sesuai dengan budaya atau cara mereka sendiri. Mereka lebih membutuhkan teman atau partner. Soal gereja sel ini, orang lain yang memberi nama buat mereka, ini alamiah saja.
Karena gereja sel sebagai sebuah prinsip, maka mereka bisa jadi tidak berasal dari satu gereja tertentu tapi prinsip ini lahir hanya karena perasaan senasib saja.
Begitukah? Mereka memang berkomitmen pada gereja lokal, namun gereja di Cina itukan jarang sekali yang menggunakan merk
denominasi seperti kita di sini. Tapi mereka mempunyai komunitas lokal tempat mereka tertanam. Mungkin di Indonesia atau negara lain kita gampang punya merk gereja tapi kalau di bawah tanah, mereka sudah tahu walaupun ada denominasi juga.
Prinsipnya, kalau mereka tertanam di situ,gaya hidup bukan ikut-ikutan atau tiru- tiru. Kira-kira mengapa muncul gaya hidup khas mereka ini?
Yang pasti secara dasariah, semua orang yang bertobat betul-betul dicek
pertobatannya. Bukan hanya diinjili lalu tugas sudah selesai. Kalau hanya sampai di sini, ini prinsip yang terlalu sederhana bagi seorang Kristen. Mengapa mereka sangat kuat dalam gaya hidup? Karena mereka sangat kuat dalam mengecek pertobatan seseorang. Mengecek bukan berarti menghakimi. Dia betul-betul harus menerima Yesus. Ada follow up yang
kuat sekali.

Bagaimana prinsip yang "berfokus pada Salib" tadi berpengaruh pada budaya lokal (adat-istiadat) mereka?
Karena orang Cina itu sangat kuat dalam budaya dan religius agamanya, jika salah seorang dari mereka bertobat lalu pindah menjadi pengikut Kristus, pasti secara agama mereka dibuang dan secara adat mereka dihina. Tapi akhirnya orang bisa melihat buah kehidupannya. Bukan
sekadar ganti kulitnya.(Sumber : Bahana)