PERTOLONGAN TUHAN TIDAK PERNAH TERLAMBAT

 

Pada Desember 2006, saya mengalami keguguran ketika kehamilan saya memasuki usia 4 bulan. Itu adalah kehamilan kedua saya. Setelah selang waktu 7 bulan, saya dinyatakan positif hamil lagi oleh dokter. Perasaan sukacita, khawatir, dan takut, bercampur jadi satu dalam hati saya. Sukacita karena Tuhan telah mengabulkan doa keluarga saya agar diberi momongan lagi; khawatir karena saya seharusnya tidak boleh hamil dahulu sebelum cek darah untuk mengetahui penyebab keguguran kehamilan kedua saya; dan takut karena setiap awal kehamilan, baik yang pertama maupun yang kedua, saya selalu opname di rumah sakit karena tidak bisa makan dan minum apa pun. Namun, pada kehamilan yang ketiga ini, saya bersikeras untuk tidak opname karena ketika saya mulai ngidam, anak saya yang pertama baru pulang dari rumah sakit karena terkena radang paru-paru.

Setelah memeriksakan kehamilan saya ke dokter, dokter menyarankan agar saya "bed rest" di rumah dan tetap harus berusaha makan meskipun sedikit, agar saya memiliki kekuatan. Untuk itu, saya keluar dari pekerjaan saya dan berusaha untuk tetap makan dan minum walaupun dengan ekstra usaha. Setelah dua bulan "bed rest" di rumah, saya cek darah dan ternyata di dalam tubuh saya terdapat virus Tokso dan Rubela, dan virus-virus itulah yang menjadi penyebab keguguran pada kehamilan saya yang kedua. Menurut dokter, virus-virus tersebut harus diobati terlebih dahulu karena jika tidak, bisa mengakibatkan kelainan atau cacat pada janin. Memasuki usia kehamilan tujuh bulan, saya cek darah lagi dan puji Tuhan virus Tokso dan Rubela dalam tubuh saya sudah mendekati 0% atau normal. Semua karena doa-doa dan campur tangan Tuhan melalui pengobatan yang teratur selama ini.

Pada usia kehamilan 8 bulan 5 hari, yaitu pada hari Selasa, 15 April 2008, jam 12.00 WIB, ketuban saya tiba-tiba pecah dan mengeluarkan cairan yang banyak serta tidak bisa ditahan, meskipun perut saya tidak terasa sakit. Seketika itu juga, saya dibawa ke rumah sakit. Menurut bidan yang menangani, ternyata telah terjadi pembukaan dua. Bidan menganggap bayi harus segera dikeluarkan atau akan keracunan.

Saat itu juga, saya dan suami berpegangan tangan dan berdoa, berdoa, berdoa ... minta pertolongan Tuhan karena dalam 1 Petrus 5:6-7 dikatakan, "Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya. Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu."

Sangat beruntung saya mendapat kamar isolasi sehingga saya bisa berdoa dan menyebut nama Tuhan terus-menerus, dari siang hingga pukul 19.00. Setelah pukul 19.00, saya mulai merasa sakit. Namun pukul 22.00, ketika obat penguat terakhir diberikan, rasa sakit tidak mereda tetapi justru kontraksi menjadi lebih hebat dan saya merasa semakin kesakitan. Kami tetap berdoa berdua, sekitar pukul 01.00 dini hari, bidan memeriksa saya dan ternyata telah pembukaan 9. Saya sudah tidak kuat lagi dan merasa mau melahirkan. Bidan menelepon dokter Kartipin. Dokter minta agar saya menunggunya, tetapi anak saya tidak mau menunggu dokter sehingga dengan hanya ditemani 1 bidan dan 1 perawat, anak saya lahir hanya dengan 3 kali mengambil napas atau mengejan. Puji Tuhan ... ajaib! Anak kami tahu ketakutan orang tuanya dan Tuhan menjawab doa kami sehingga ketika dokter datang, anak kami sudah keluar. Akan tetapi, karena ari-ari saya masih lengket di dalam rahim, dokter harus mengeluarkannya. Justru saat ari-ari ini dikeluarkan, saya merasa sakit melebihi saat melahirkan. Dengan pertolongan Tuhan, anak kami lahir dengan berat hanya 2.3 kg panjang 46 cm (prematur). Anak kami lahir sehat dan selamat walaupun harus diberi oksigen dan berada dalam inkubator selama 5 hari. Dan, karena kadar bilirubin yang tinggi, anak kami harus disinar selama 100 jam, selama 2 minggu di rumah sakit.

Apa yang kami khawatirkan tentang kondisi fisik anak kami karena virus yang ada dalam tubuh saya tidak terjadi. Tuhan membuat hidup saya ajaib. Tuhan telah mengatur semuanya sejak awal persalinan sampai biaya yang kami butuhkan.

Rafael Abimanyu Hernowo kini telah 6 bulan dan tumbuh dengan sehat dan lincah. Tuhan mengaruniakan 2 anak yang sehat (Eunike Anindya Retno Sekar Rini dan Rafael Abimanyu Hernowo) dalam keluarga kami. Kasih Tuhan nyata dalam kehidupan kami dan pertolongan Tuhan tidak pernah terlambat. Amin.

Diambil dan sunting dari:
Judul buku: Apakah Tuhan Masih Bekerja Saat Ini?
Penulis: Nunik dan Yonan
Penerbit: GUPDI Jemaat Pasar Legi, Solo
Halaman: 57 -- 59



 
 

| A R S I P |


   
Sahabat Surgawi,
 Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja antar denominasi OnLine
www.sahabatsurgawi.net - webmaster@sahabatsurgawi.net, Copyright 1999