PERGUMULAN PANJANG
 

 
 


Syalom.
Tahun 1970, bunda berpacaran dengan ayah yang belum mengenal Tuhan Yesus.
Awalnya ayah mau ikut beribadah di Gereja, tetapi satu waktu ayah
berkesimpulan bahwa Pendeta di Gereja itu sangat menghargai jemaat yang kaya
tetapi tidak terlalu peduli kepada jemaat yang hidupnya pas-pasan. Sejak
itu, ayah antipati terhadap Pendeta, Gereja, Kristen ataupun hal-hal terkait
dengan itu semua.

Mereka menikah tahun 1972, hidup damai sejahtera, memiliki 3 orang anak dan
membangun keluarga di luar Tuhan Yesus. Anak-anak tumbuh besar tanpa doa
bersama, tanpa Alkitab. Kami tidak datang ke rumah ibadah manapun.

Dalam kondisi itu, ternyata bunda diam-diam berdoa dan berusaha agar
anak-anak mengenal Tuhan Yesus. Bunda kadang-kadang mengirim kami untuk
berakhir pekan di rumah kakak /adiknya agar bisa ikut ke Gereja. Bunda pun
dapat meyakinkan ayah untuk menyekolahkan anak-anak di Sekolah Katolik
dengan alasan mutu pendidikannya baik. Kami pun bisa punya Alkitab dengan
alasan buku tersebut bagian dari pelajaran Agama, dan nilainya tidak boleh
merah agar bisa naik kelas.

35 tahun berlalu, anak-anak tumbuh dewasa, meninggalkan rumah, dan 2 orang
sudah menikah di Gereja. Bunda mulai rutin datang ke Gereja meskipun hal itu
kadang membuat ayah marah.

Tahun 2010, kami mulai patah semangat. Bunda berpikir, sudah tidak mungkin
kami bisa beribadah di Gereja yang sama. Bunda, anak, mantu dan cucunya
beribadah di Gereja yang berbeda, ada yang Katolik, Advent, GSJA dan GPdI.
Banyak pendeta, teman dan saudara yang datang ke rumah untuk
meng-kristen-kan ayah, tidak ada yang berhasil. Tetapi saat teringat Firman
yang menyatakan Tuhan akan menuntut kita atas jiwa-jiwa yang terhilang di
sekitar / dalam keluarga kita, semangat bunda dan anak-anak kembali bangkit
untuk mendoakan ayah.

Akhir tahun 2011, sungguh di luar dugaan, ayah yang sudah berumur 80 tahun,
mau datang ke Kebaktian Natal. Ayah merasa bosan dan kesepian. Di rumah,
hanya tinggal berdua. Teman sebaya, adik kandung dan sepupu sebagian besar
sudah meninggal.

Awal tahun 2012, bunda berkata, "Jangan terlalu senang dulu, nanti kecewa,
seperti bunda 40 tahun yang lalu. Kita lihat berapa bulan ayah mau ke Gereja
sebelum akhirnya ayah kecewa dan kembali sinis."


Puji Tuhan, s.d. kesaksian ini ditulis, ayah tetap rajin ke Gereja dan
percaya Tuhan Yesus. Lagu-lagu duniawi yang sudah lebih dari 60 tahun
mengisi waktu luangnya diganti lagu-lagu rohani. Ia pun ikut bernyanyi.

Mohon bantu dalam doa, agar ayah bersedia dibaptis tahun ini.

Terima kasih, Tuhan memberkati.

Elza Boenyati

 


   
Sahabat Surgawi,
 Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja antar denominasi OnLine
www.sahabatsurgawi.net - webmaster@sahabatsurgawi.net, Copyright 1999