BERSAMA TUHAN PASTI BISA

 
 
  Syalom,

Saya seorang ibu dengan satu putra, single parent. Ingin berbagi kisah kehidupan/kesaksian kepada para pembaca situs ini, terutama untuk ibu ibu /single parent, agar menjadi sumber kekuatan.
20 thn yang lalu, tepatnya Januari thn 1994, saya ditinggal suami karena penyakit kanker liver. Itulah takdir saya yang pahit. Saya tidak bisa menolaknya. Sedih, sudah pasti. Hancur rasanya hati ini. Hari-hari terasa gelap. Dunia ini seperti musuh jadinya, untuk apa lagi hidup. Tiga hari lagi adalah ulangtahun pernikahan kita yang ke 3, putra kami barulah berumur 20 bulan, lagi lucu-lucunya, membutuhkan kasih sayang dan perhatian dari orang tuanya dalam masa pertumbuhannya, tetapi takdir berkata lain, putraku menjadi anak yatim pada umur 20 bln. Umur yang belum mengerti arti kehilangan, tak mampu mengungkapkan dengan kata, tapi dapat merasakan dengan jiwa. Bathinnya pasti bertanya. Bertanya, kemana ayah pergi. Kenapa ibu bersedih dan menangis. Duduk dipangkuanku, memeluk erat, sekali kali menatapku dengan tatapan bocah tapi penuh tanya. Dia melihat kesedihan ibunya setiap hari. Haruskah anakku menjalani hari-hari yang penuh dengan duka. Tidak, tidak boleh. Aku berjanji pada diriku sendiri dan bersumpah tidak akan meneteskan airmata lagi didepan putraku. Aku harus bangkit dan kuat dihadapan putraku. Putraku harus tumbuh normal, harus bahagia seperti anak-anak yang lain. Ya, putraku penyemangat hidupku, putraku memberi aku kekuatan untuk melanjutkan hidup kami. Dia bisa membuat aku tersenyum bahkan tertawa, melupakan sejenak kesedihan yang dipendam.

Bukan TUHAN. Malah TUHAN yang sudah mengambil semua kebahagiaan kami, memberi kami kesedihan, membuat saya patah hati dengan hidup ini, membuat aku terpuruk, dan ketakutan dalam menghadapi masa depan. Aku marah. Itulah perasaananku saat itu pada TUHAN. Bertanya kepada TUHAN, kenapa harus begini, apa dosa dan salah saya, kenapa.?.....kenapa. ...? Kenapa saat saya ingin menerima KRISTUS, cobaan ini datang. Sungguh dalam pergumulaan yang berat. Saya berseteru dengan-NYA saat itu. Tapi tahun 1998 saya menerima YESUS . Saat ini, setelah 20 thn dalam menjalani hidup ini sebagai single parent, dengan berbagai rintangan, yang namanya pahit getir, sudah saya rasakan. Yang ingin saya bagikan kepada para pembaca, terutama ibu-ibu single parent adalah KASIH TUHAN YESUS yang telah menemani saya selama ini. DIA yang telah menyediakan semua kebutuhan kami. KEKUATAN, PENGHIBURAN, KESEHATAN, SANDANG & PANGAN. DIA yang telah menjaga dan memelihara kami. DIA telah menyediakan sebelum saya memintanya. Pembaca dan ibu-ibu sekalian, saat ini putra saya sudah mau menginjak usia 22 thn, sebentar lagi dia sudah mau menyelesaikan pendidikan S1 nya dijurusan mesin di Singapore. Bukan saya mau menyombongkan diri karena mampu menguliahkan anak di Singapore. Tapi saya ingin mengabarkan inilah kebesaran Tuhan dengan KASIHNYA yang berkelimpahan. Saya hanyalah seorang wanita biasa, tidak punya gelar sarjana. Seorang ibu yang kebingungan dan ketakutan menghadapi masa depan. Dengan apa saya harus membesarkan putraku. Bingung dan takut. Saya teringat dengan sebuah oven/pemanggang kue. Oven ini saya minta dari suami. Tidak tanggung-tanggung, bukan oven yang kecil yang biasa dipakai ibu-ibu rumah tangga. Tapi ini oven pesanan khusus dengan ukuran 210 x 100, lengkap dengan loyang dan mixernya. Heran juga, suami bisa mengabulkan, padahal biasa dia akan cerewet nanya ini itu, apalagi selama ini saya tidak pernah membuat kue. Dan saya mulai mencoba/tahap belajar membuat kue-kue kering untuk dititipkan di toko-toko saat lebaran idul fitri tahun 1993.

Baru sekali itu saya lakukan, suami terdeteksi kena penyakit kanker liver. Hanya 8 bln pengobatan suami meninggal. Saya ingat saat masih di rumah duka, adik ipar mengatakan kepada saya, bahwa suami saya sempat mengatakan bahwa ia bisa pergi dengan tenang, karena saya pasti bisa membesarkan anak saya. Saya bisa mengandalkan usaha kue yang mau saya rintis. Puji TUHAN. TUHAN telah menyediakannya tanpa saya sadari. Dari oven itulah saya mencari nafkah. Perlahan-lahan orang mulai mengenai produk saya. Awalnya juga ditolak sana sini. Tapi saya tidak boleh patah semangat. Ada jiwa yang tak berdosa yang membutuhkan saya. Saya boleh terluka, boleh tersakiti, boleh difitnah (saat saat merintis usaha), tapi putraku harus bahagia, sama dengan anak-anak yang lain. Ibu-ibu yang terkasih, percayakanlah semua kesusahan, kecemasan kita kepadaNYA. Mohonkan selalu kepadaNYA kemampuan atas tugas yang diberikan kepada kita. Dan mohon selalu pemeliharaanNYA. Manusia tidak pernah tahu dengan rencana TUHAN, tapi melangkahlah selalu denganNYA pasti bisa, Amin.

Kesaksian: Anita Maria
 

| A R S I P |


   
Sahabat Surgawi,
 Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja antar denominasi OnLine
www.sahabatsurgawi.net - webmaster@sahabatsurgawi.net, Copyright 1999