HOME

HOME

ABOUT US

KESAKSIAN

AGENDA GEREJA

LINK

CONTACT US

     
 
Pemahaman Alkitab

Pemahaman Alkitab (PA)
  
                                                                                                    Agustus 2019 (II)
Bulan Pembangunan GKJW

Bacaan: Matius 20 : 20 – 28
Tema Liturgis : Membangun Diri Dalam Kasih Menuju Kemandirian dan Menjadi Berkat
Tema PA : Menjadi Hamba yang Berguna

Keterangan Teks :
Jika kita melihat secara menyeluruh pada Injil Matius yang kita baca pada saat ini, maka kita akan dapat melihat bahwa Injil Matius sangatlah berwarna Yahudi. Hal ini dapat dipahami, sebab perhatian utama dari sang penulis kitab ini ialah bagaimana ia menghadirkan sosok Yesus dari Nazaret, dalam lingkup tradisi umat pilihan Allah. Namun tidak berhenti pada titik itu saja, sang penulis Injil Matius pun juga ingin menunjukkan kepada para pembacanya, bagaimana Tuhan Yesus memperbarui ikatan dengan tradisi-tradisi tersebut, yang membawa kepada pemenuhannya. Dari permulaan sampai akhir, kita akan disajikan dengan berbagai ketegangan yang terjadi antara tradisi dan pembaruan yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Tidak ada bagian dari ketegangan itu yang terabaikan. Interaksi antara keduanya melahirkan kehidupan dan pandangan baru yang segar.

Secara khusus pada bagian teks yang kita baca, kita dapat melihat bagaimana pembahasan mengenai status dalam Kerajaan Allah yang akan datang, kembali dimunculkan oleh sang penulis Injil Matius (lih. 18:1-5). Nampaknya status dalam kerajaan Allah tersebut, sangatlah penting menurut para murid (lih. 18:1-5), ibu anak-anak Zabedeus beserta anak-anaknya (lih. 20:20-28). Mereka seakan-akan begitu mendambakan kehormatan, kekuasaan, kenyamanan, dsb. Dimana menurut pemikiran mereka – serta di dalam struktur sosial yang berlaku pada saat itu – hal tersebut hanya akan bisa didapatkan, dengan cara menempati posisi yang cukup tinggi/lebih spesial dibandingkan dengan yang lain.

Namun bagi Tuhan Yesus, justru siapapun yang ingin menjadi yang terbesar di antara yang lain, maka hendaklah ia menjadi pelayan (lih. 20:26). Barangsiapa yang ingin menjadi yang paling terkemuka di antara yang lain, maka hendaklah ia menjadi hamba (lih. 20:27). Kata “pelayan” pada 20:26 dalam bahasa Yunani memakai kata υπηρέτης (Baca: Huperetes) yang berarti penolong, pelayan, atau asisten yang menjalankan tugas atas mandat atau otoritas atasannya. Kemudian pada 20:27 disusul dengan kata “hamba” yang dalam bahasa Yunani menggunakan kata δοῦλος (Baca: Doulos), mengisyaratkan penekanan khusus yang begitu mendalam, dibanding kata sebelumnya.

Kata Doulos itu sendiri berarti budak belian yang terikat seumur hidup dengan sang tuannya. Dimana tujuan hidup utamanya adalah untuk melayani sang tuan, menjadi alat bagi sang tuan, untuk mengerjakan segala pekerjaan yang dipandang baik oleh sang tuan. Seorang hamba/budak, tidak lagi mementingkan kepentingan dirinya sendiri. Namun segala keberadaan dirinya, telah ia serahkan kepada sang tuan, semenjak sang tuan berkenan untuk membayar/menebus dirinya.

Realitas Kehidupan Masa Kini dan Penerapannya:
Pelayanan diakonia memang menjadi suatu hal yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan bergereja di tengah-tengah dunia. Keberadaan Gereja sudah seharusnya dapat memberikan manfaat kehidupan yang baik, dengan mau memberi diri bagi sesama manusia. Hal ini Gereja lakukan, dengan cara mencontoh kerasnya perjuangan hidup, dari Tuhan Yesus Sang Guru Agung. Selama Tuhan Yesus hidup, Ia selalu dikelilingi oleh kaum miskin, lemah dan tersingkirkan, serta mau berjuang untuk kehidupan mereka. Ia begitu peduli pada kehidupan manusia serta mau membangun solidaritas dengan cara melepaskan segala keagungan dan kemuliaan yang dimilikinya, untuk melayani mereka yang miskin dan tersingkirkan. Ia tidak lagi berada di tempat yang begitu tinggi dan tak terjangkau, namun berada begitu dekat dengan mereka yang membutuhkan.

Jika Tuhan Yesus saja mau untuk melepaskan segala keagungan dan kemuliaannya, maka ini bukan hanya terbatas dan berhenti pada diri-Nya saja. Namun hal ini juga patut dipahami sebagai sebuah ajakan Tuhan Yesus kepada para muridnya agar mau untuk bertindak serta beraksi bagi sesama, persis seperti yang ia lakukan dan perjuangkan selama ini (lih. 20:28).

Jika Tuhan Yesus saja mau melepaskan segala keagungan dan kemuliaannya, lalu merendahkan diri-Nya untuk melayani, maka maukah para pengikutnya pada masa kini, juga melakukan hal yang sama seperti yang Ia lakukan? Yakni menjadi pelayan dan bahkan hamba/budak untuk melayani orang lain. Ajakan untuk mau melepaskan kehormatan, keegoisan diri dan kemuliaan yang dimiliki, bukan berarti menurunkan derajat diri, melainkan suatu sikap yang mau duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan mitra yang dilayani.

Sikap inilah yang perlu dimiliki oleh setiap pengikut Tuhan Yesus, agar dalam melakukan pelayanan kita tidak kehilangan orientasi. Terkadang karena kita terlalu sering memikirkan dan mengejar penghormatan dari yang lain, kita menjadi lupa bahwa posisi kita sebenarnya bukan berada jauh diatas, dengan segala kemewahan atau kehormatannya. Namun posisi kita sebenarnya berada di bawah, sejajar dengan mereka yang kita layani.

Dalam dunia masa kini, Gereja yang notabene adalah murid dari Sang Guru Agung, benar-benar dituntut peran aktifnya dalam memberikan manfaat bagi kehidupan manusia. Terlebih lagi dengan fokus perhatian yang terutama yaitu kepada mereka yang kecil, lemah, miskin, dan tersingkirkan. Sekalipun dalam hal ini, juga tidak bermaksud menyisihkan mereka yang diberkati Tuhan dengan kecukupan materi dan kedudukan yang tinggi.

Pertanyaan Diskusi:
1.Langkah konkret apa yang bisa kita lakukan, agar kita dapat benar-benar menjadi hamba Allah di tengah-tengah masyarakat tempat kita tinggal?
2.Apakah program-program diakonia yang ada di GKJW (setempat) pada saat ini sudah cukup memadai untuk menolong mereka-mereka yang membutuhkan bantuan?
3.Sejauh mana warga masyarakat yang berlainan agama/kepercayaan, namun benar-benar membutuhkan bantuan, dapat merasakan pelayanan yang kita lakukan? (YA).

                                                                       
                                                    
Sumber: https://gkjw.or.id

| A R S I P |

 

 

Copyright © 1999 www.sahabatsurgawi.net
All rights reserved.