HOME

HOME

ABOUT US

KESAKSIAN

AGENDA GEREJA

LINK

CONTACT US

     
 
Pemahaman Alkitab

PEMAHAMAN ALKITAB                 
 
                                                                                       April 2019 (I)
Bacaan: Ibrani 2: 1-18.

Penjelasan Teks
Bab 2 dimulai dengan nasehat pertama dari nasehat-nasehat pengkhotbah kepada jemaatnya. Bahaya yang mereka hadapi adalah “hanyut dibawa arus”. Kita tidak diberi tahu secara persis apa artinya, tetapi kita akan melihat bahwa ini terkait dengan meninggalkan iman dan terutama pengharapan, akhirnya adalah tidak lagi menjadi orang Kristen sejati. Nasehat ini memberikan kesimpulan dari bab pertama: karena Putra lebih tinggi daripada malaekat, pesan keselamatan yang Ia bawa harus ditaati daripada hukum Musa, yang sampai melalui para malaekat. Ayat 3, jelas menyiratkan bahwa Ibrani ditulis dalam generasi kedua atau ketiga jemaat, tetapi generasi yang telah mengalami mukjizat-mukjizat dan karunia Roh Kudus sebagai bukti yang mendukung pesan itu (ay. 4).

Pengarang sekali lagi mengambik argumen bahwa Kristus lebih tinggi daripada malaekat, tetapi dari sudut lain. Dalam bab 1, Kristus lebih tinggi sebagai Putra Allah; di sini Ia lebih tinggi karena Ia adalah manusia. Argumen ini berdasar pada Alkitab seperti ayat 6-8, yang mengutib Mazmur 8: 5-7, tetapi kali ini pengarang secara jelas menfasirkan teks yang ia kutib. Dua ciri dari penafsirannya penting. Pertama, ia memahami kutiban itu sebagai mengacu bukan pada kemanusiaan pada umumnya melainkan kepada Yesus manusia. Dan kedua, ia membalikkan makna dari mazmur asli, yang mengatakan bahwa Allah menciptakan umat manusia “sedikit lebih rendah daripada malaekat”. Bagi Ibrani, Yesus manusia adalah lebih tinggi daripada malaekat tetapi yang dibuat “untuk waktu singkat sedikit lebih rendah” daripada mereka dalam hal bahwa Ia menderita maut (ay. 9). Takluknya semua hal kepada Kristus masih merupakan hal yang akan datang, tetapi prosesnya telah mulai dengan peninggian Yesus ke surga sesudah kematian-Nya.

Apa yang paling menarik bagi pengarang dalam menjelaskan kemanusiaan sejati dari Yesus adalah kenyataan bahwa Ia mengambil bagian dalam seluruh umat manusia, yang dalam ay. 13, disebut anak-anak Allah. Supaya kematian Yesus bagi semua merupakan pembebasan dari perbudakan kepada kuasa maut (ay. 14-15). Yesus memgambil bagian dalam kodrat kemanusiaan secara penuh. Ayat 12-13, mengutib Mazmur 22: 23 dan Yesaya 8: 17-18, dengan pengandaian bahwa Kristus mengucapkan firman yang diilhamkan. Ia adalah saudara umat manusia, dan seperti mereka Ia mumuji dan menyerahkan diri kepada Bapa (ay. 11). Solidaritas Yesus dengan manusia juga membuat mereka mempunyai asal-usul yang sama dalam Bapa (ay. 11), mengambil bagian dalam tubuh dan darah (ay. 14), dan terutama mengambil bagian dalam kemtian sendiri.

Ayat terakhir dari bab ini mengemukakan peranan khas Ibrani, menampilkan tema-tema baru. Yesus harus mengambil bagian penuh dalam kemanusia karena Ia harus mengambil peranan sebagai Imam Besar mengurbankan diri bagi dosa-dosa sesama manusia manusia (ay. 17). Terutama Ia adalah Imam Besar yang penuh belas kasih dan setia. Sifat belas kasih-Nya, yang sudah diisyaratkan dalam ay. 18, akan diungkapkan lagi dalam bab 5, kesetiaan-Nya merupakan pokok dari bab berikutnya.

Pertanyaan untuk Digumuli

1. Kesengsaraan, penderitaan entah lahir maupun batin, memang merupakan kejutan yang dahsyat bagi setiap orang. Bagi yang tertimpa musibah sulit untuk tengadah melihat arah. Bagi yang berada di sekelilingnya dan bukan orang yang tak ambil pusing, penderitaan itu mencengangkan. Akhirnya orang bertanya-tanya mengapa ada penderitaan? Lebih-lebih bila penderitaan itu terjadi pada orang yang menurut pandangan orang lain saleh. Mengapa harus terjadi demikian?
2. Apakah kita diperbolehkan menyembah malaekat?

                                                                         

Sumber: https://gkjw.or.id

| A R S I P |

 

 

Copyright © 1999 www.sahabatsurgawi.net
All rights reserved.