HOME

HOME

ABOUT US

KESAKSIAN

AGENDA GEREJA

LINK

CONTACT US

     
 
Pemahaman Alkitab

PEMAHAMAN ALKITAB                   
Juli 2019

                                                                  Pemahaman Alkitab (PA) Juli 2019 (II)

Bulan Keluarga

Bacaan :
Lukas 8:4-10
Tema Liturgis :
Kehadiran Kristus Di Tengah Keluarga yang Membawa Keselamatan
Tema PA :
Menjadi Tanah yang Baik


Keterangan Teks
Makna dari perumpamaan dalam bacaan kita telah dijelaskan oleh Yesus dalam bacaan selanjutnya. Kepada banyak orang yang berbondong-bondong mengikutinya, Yesus menegaskan mengenai firman Tuhan yang tinggal dalam kehidupan manusia. Dengan menggunakan dunia pertanian yang akrab dengan kehidupan pada saat itu, Tuhan Yesus memberikan pelajaran yang diasumsikan akan mudah dimengerti oleh banyak orang. Melalui perumpamaan ini, seolah menegaskan bahwa Firman Tuhan itu memiliki posisi sentral dan penting dalam kehidupan, sebagaimana benih yang ditabur menjadi tumbuh dan akhirnya berbuah lebat serta berguna bagi kehidupan manusia.

Keberlangsungan kehidupan benih itu tidak hanya bergantung pada kualitas benihnya, namun juga kondisi tanahnya. Tiga jenis tanah di awal : pinggir jalan, berbatu dan semak duri merupakan kondisi yang tidak siap menjadi lahan benih itu bertumbuh subur dan akhirnya berbuah. Kesemuanya berakhir dengan kematian benih sekalipun ada yang bisa bertahan sebentar karena ”dimakan sampai habis, dihimpit sampai mati, layu dan menjadi kering”. Sementara, jenis tanah terakhir memungkinkan benih itu untuk tumbuh dengan suburnya dan berbuah. Inilah tanah yang memang sejak semula telah siap untuk ditaburi benih. Tanah yang sudah steril dari batu, semak dan kering / padat oleh injakan orang. Tanah yang gembur dan telah diolah sehingga siap menerima benih-benih yang diharapkan tumbuh dan berbuah.

Keluarga dipanggil untuk hidup sebagaimana tanah yang siap menjadi lahan benih-benih ditaburkan. Bagaimana hal itu mungkin? Ya, dengan menyingkirkan segala hal yang menganggu seperti batu-batu dan semak duri, maupun menggemburkan tanah supaya tidak padat seperti diinjak orang. Itulah gambaran keluarga yang terbuka terhadap firman Tuhan, mengerti dan menerjemahkan firman itu menjadi tindakan. Keluarga yang terbuka untuk terus belajar mengenal diri dan berusaha memperbaiki di bawah terang Firman Tuhan.

Realitas Kehidupan Masa Kini dan Penerapanya :
Tantangan setiap keluarga berbeda-beda, bahkan semakin bertambahnya usia perkawinan akan menghadapi pergumulan yang berbeda. Ada keluarga yang bisa melewati pergumulan itu dengan baik dan penuh perjuangan yang ia lakukan dengan sabar karena keyakinan bahwa Tuhan menemaninya berjuang. Namun, ada juga keluarga yang menyerah menghadapi segala tantangan yang datang. Firman Tuhan yang menguatkan perjuangan setiap orang dalam situasi sulit bagaikan buah dari benih yang ditaburkan dan jatuh ke tanah yang baik. Keluarga sejatinya menjadi lahan gembur yang terbuka terhadap benih firman Tuhan yang ditaburkan pada anggota keluarga dan disirami setiap saat sejak kecil sampai dengan dewasa.
Sering dijumpai relasi anggota keluarga yang kering dan hubungan yang penuh syarat karena di satu sisi orang tua merasa menjadi pihak yang paling tahu dan menuntut kepatuhan anak-anaknya. Di sisi lain, anak-anak yang bertumbuh dewasa merasa jauh lebih tahu sehingga relasi orang tua dan anak-anak mengalami ketegangan. Pada titik ini, sebenarnya anak-anak dan orang tua menjadi pribadi yang terus belajar untuk mengerti dan menjadikan firman Tuhan sebagai dasar semua tindakan. Perilaku hidup anggota keluarga tidak didasarkan pada pemahaman bahwa orang tua selalu benar dan anak harus manut apa kata orang tua apapun alasannya ataupun sebaliknya, namun seluruh anggota keluarga (anak dan orang tua) menundukkan diri di bawah kebenaran Firman Tuhan sebagai dasar tindakannya. Orang tua punya tanggung jawab untuk meyakinkan anak-anak dan menjadi teladan bahwa sebuah tindakan yang benar harus diperjuangkan karena dengan cara itulah mereka menerjemahkan pemahaman dan pengertiannya akan Firman Tuhan.
Di tengah kesibukan keluarga-keluarga Kristen sekarang, upaya menggemburkan tanah supaya subur dan siap menjadi lahan tumbuhnya taburan benih supaya subur dan berbuah adalah sebuah panggilan yang tidak boleh ditunda. Kegiatan menggumuli Firman Tuhan bersama keluarga tidak bisa digantikan dengan cukup berbagi ayat Alkitab melalui media sosial (WA, FB, dll.). Keluarga perlu serius membekali diri menghadapi segala tantangan dengan sungguh-sungguh menyediakan waktu untuk mengerti dan belajar Firman Tuhan serta berusaha melakukannya setiap waktu.

Pertanyaan Reflektif :
1. Kesibukan anggota keluarga dengan berbagai urusan seringkali membuat waktu membaca Firman Tuhan menjadi terlewatkan. Menurut saudara, bagaimana cara yang mungkin diupayakan dalam menerima dan menggumuli Firman Tuhan itu? Bagikan pengalaman yang mungkin sudah saudara lakukan selama ini!
2. Apa yang bisa keluarga lakukan supaya ia menjadi keluarga sebagai lahan yang siap ditaburi benih?

Penutup
Keluarga merupakan tempat pertama dan utama Firman Tuhan ditanamkan dan diterjemahkan dalam laku keseharian. Orang tua dan anak-anak adalah pribadi yang bersama-sama tumbuh dalam Firman Tuhan dan siap berbuah oleh karenanya. Karena itu, di tengah situasi istimewa yang terjadi pada masing-masing keluarga, orang tua sebagai pihak yang dihadirkan Tuhan ke dunia lebih dahulu sebaiknya secara sungguh-sungguh merencana langkah khusus dan khas keluarganya supaya aktivitas menggumuli Firman Tuhan sebagai benih yang ditaburkan itu tetap terjaga. Dengan latihan mengerti dan belajar mengungkapkan dalam perilaku benih itu diharapkan akan berbuah berlipat kali ganda dalam laku kehidupan. (KRW)

                                                      

Sumber: https://gkjw.or.id

| A R S I P |

 

 

Copyright © 1999 www.sahabatsurgawi.net
All rights reserved.